
Bu Linda begitu terpukau melihat penampilan Nindy yang tampak berbeda dari sebelumnya, bibirnya tidak henti- henti memuji kecantikan sang menantu.
"Kamu cantik banget, sayang" Puji bu Linda saat melihat penampilan Nindy yang berbeda dengan potongan rambut barunya.
"Terima kasih ma" Nindy merasa tersanjung mendapat pujian dari mertuanya.
"Mama yakin, Rafael akan semakin klepek- klepek jika dia melihat penampilanmu saat ini".
Nindy tersipu malu, ia tidak dapat membayangkan apa yang akan di lakukan oleh Rafael saat melihat penampilannya.
'Bukan klepek- klepak lagi ma, tapi dia pasti akan mengurungku seharian di dalam kamar' Batinnya.
Nindy sudah hafal betul bagaimana sosok Rafael yang sesuangguhnya, suaminya itu sedang dalam mode over over posesif terhadap dirinya. Rafael tidak pernah membiarkan Nindy untuk tampil cantik di depan orang lain terlebih di depan laki- laki. Jika seandainya Nindy harus menghadiri sebuah pertemuan ataupun pesta yang mengharuskannya berdandan cantik, maka Rafael tidak akan membiarkan dirinya lepas dari pandangannya, Rafael akan terus menempeli sang istri seperti perangko.
"Tidak sia- sia kita menghabiskan waktu berjam- jam di salon, karena hasilnya sungguh sangat memuaskan" Ucap bu Linda.
Nindy mengangguk setuju, selama berjam- jam di dalam salon, Nindy merasa menjadi seorang putri. Ia di manjakan dengan berbagai perawatan terbaik untuk tubuhnya, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Jadi tidak heran jika saat ini penampilan Nindy tampak sangat berbeda dari sebelumnya bahkan kecantikannya bertambah berkali- kali lipat.
"Tunggu sebentar sayang, mama akan memotretmu" Bu Linda mengeluarkan ponsel untuk memotret Nindy.
Nindy jadi salah tingkah saat ibunya mertuanya ingin memotret dirinya.
"Ok, ayo kita mulai. Satu dua ti gaaa,,,," Beberapa pose- pun berhasil di abadikan.
"Coba lihat, cantikkan" Bu Linda menunjukkan hasil fotonya kepada Nindy.
Nindy mengangguk sambil menyunggingkan senyum manis, ia tidak percaya jika gambar itu adalah gambar dirinya.
"Bagus ma" Ucapnya.
"Ya pasti bagus dong, cantik lagi. Menantu siapa dulu" Bu Linda kembali memuji Nindy.
"Ah, mama bisa saja. Aku jadi malu" Nindy kembali tersipu malu.
Bu Linda tertawa saat melihat wajah merona sang menantu.
"Sebentar, mama akan kirim foto ini pada Rafael".
Tanpa meminta persetujuan dari Nindy, bu Linda langsung mengirimkan foto Nindy kepada Rafael. Dan dalam hitungan detik, sebuah pesan singkat langsung masuk kedalam ponsel bu Linda.
"Coba lihat, langsung di balas" Ucap bu Linda.
Bu Linda membaca pesan yang di kirimkan oleh Rafael sambil terkikik.
"Jaga istriku baik- baik ma. Jangan sampai istriku tergores sedikitpun. Dan jngan biarkan laki- laki lain mendekatinya. Titik.
Bu Linda menunjukkan pesan Rafael kepada Nindy dan Nindy langsung tertawa ngakak.
"Rafael benar- benar posesif ma" Ucap Nindy.
__ADS_1
"Iya, kamu benar. Dia benar- benar takut jika ada laki- laki lain yang merebut kamu darinya" Sahut bu Linda.
Keduanya tertawa bersama.
"Kamu lapar nggak sayang? Kita cari makanan yuk" Ajak bu Linda.
"Boleh ma, aku juga sudah lapar banget" Sahut Nindy.
Bu Linda mengangguk, lalu mengandeng tangan Nindy untuk mencari restoran yang akan mereka singgahi untuk makan siang. Saat memasuki sebuah restoran, Nindy di kejutkan dengan lambaian tangan dari seseorang yang sepertinya ia kenal.
"Kak Shella" Nindy terkejut saat melihat kakak ipar yang telah lama di rindukannya muncul di sana.
Tanpa Nindy ketahui sebelumnya, ternyata bu Linda dan Shella sudah janjian untuk bertemu di restoran.
"Hai, adik ipar" Shella bangkit dari tempat duduknya dan langsung memeluk Nindy dengan erat untuk melepaskan kerinduannya.
"Aku kangen banget sama kamu" Ucapnya.
"Aku juga. Aku juga kangen banget sama kakak ipar" Sahut Nindy sambil membalas pelukan Shella.
"Apa kabar, sayang?" Tanya Shella saat pelukan mereka terlepas.
"Baik kak, sangat baik" Jawab Nindy.
"Kakak sendiri gimana kabarnya?" Nindy balik bertanya.
Keduanya tertawa bersama lalu kembali saling memeluk. Karena sangking rindunya, keduanya sampai tidak sadar jika pelukan mereka terlalu erat hingga tiba- tiba Shella mengaduh sakit di perutnya.
"Aww" Shella melepaskan pelukannya lalu mengusap perutnya dengan lembut.
Nindy ikut terkejut saat mendengar suara jeritan Shella. Dan ia kembali di buat terkejut saat melihat perut kak iparnya yang membuncit.
"Kak Shella hamil?" Tanya Nindy.
Shella tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.
"Iya, kakak hamil anak ketiga" Sahut Shella dengan raut wajah bahagia.
"Dan apa kamu tahu,,,!".
"It's baby girl" Ucap Shella girang.
"Hah,,,! Benarkah? Selamat ya" Nindy kembali memeluk kakak ipar dengan lebih lembut dari sebelumnya.
Tanpa di sadari, kedua meloncat kegirangan.
"Jangan loncat- loncat" Sergah bu Linda.
Bu Linda mendekati Nindy dan Shella, tanpa di duga kedua tangganya menyentuh perut kedua menantunya secara bersamaan.
__ADS_1
"Mama nggak mau calon cucu mama sampai kenapa- kenapa" Ucap bu Linda.
"Kamu sedang hamil Nin?" Tanya Shella.
Nindy menggelengkan kepalanya.
"Tidak" Sahut Nindy cepat.
"Belum, jangan pernah menjawab tidak" Sanggah bu Linda.
Nindy mengangguk, lalu memperbaiki jawabannya "Belum kak".
"Mungkin kemarin memang belum, tapi siapa yang tahu jika sekarang sudah jadi" Sela bu Linda.
"Kenapa mama bicara seperti itu? Memangnya mama tahu dari mana jika Nindy sudah hamil?" Tanya Shella.
"Iya" Nindy ikut menyahut.
"Memangnya mama tidak tahu apa yang kalian lakukan tadi pagi. Mama tahu jika kalian habis membuatkan cucu untuk mama kan" Ucap bu Linda.
Blush
Pipi Nindy langsung merona saat mendengar ucapan ibu mertuanya. Ia benar- benar malu karena tebakan mertuanya sangat tepat sasaran.
"Mama bukan orang awam yang tidak tahu apa yang pasangan suami istri lakukan di dalam kamar. Mama kan tidak sebodoh itu ya".
"Its,,, mama. Jangan menggoda Nindy terus dong, kan Nindy jadi malu" Sela Shella.
"Kenapa harus malu, itu adalah hal yang wajar di lakukan oleh pasangan suami istri. Justru mama senang jika kalian betah lama- lama di dalam kamar, itu artinya kalian sedang giat membuatkan cucu buat mama".
Bu Linda kembali mengusap perut ramping Nindy dengan lembut.
"Siapa tahu jika usaha kalian tadi pagi sedang berproses di dalam sini dan dia akan segera tumbuh. Iya kan!" Ucap bu Linda seraya tersenyum.
"Iya, semoga saja ma" Sahut Nindy.
"Aku juga berharap begitu. Aku berharap agar Nindy segera hamil, jadi kita bisa baby moon berbarengan" Sambung Shella.
"Hus, tidak boleh baby moon saat sedang hamil muda. Baby moonnya nanti saja kalau babynya sudah kuat" Sanggah bu Linda.
Nindy dan Shella saling menatap kemudian keduanya tertawa bersama, mereka tidak percaya jika ibu mertuanya bisa bicara hal yang sekonyol itu. Nindy dan Shella sangat bersyukur karena mereka di berikan mertua yang begitu pengertian dan perhatian serta menyanyangi mereka dengan sepenuh hati.
"Udah ah ma, jangan bercanda terus. Sebaiknya kita langsung makan aja. Aku sudah pesankan makanan spesial untuk kita" Ucap Shella.
"Oh iya, mama hampir lupa. Ayo kita makan sayang" Ajak bu Linda pada kedua menantunya.
Ketiganya mengangguk setuju dan langsung mengambil tempat duduk. Setelah memastikan menantunya telah duduk dengan sempurna, bu Linda langsung berinisiatif mengambilkan makanan untuk kedua menantunya. Tidak ada yang bu Linda dahulukan atau beliau prioritaskan, keduanya merupakan menantu kesayangannya jadi keduanya mendapatkan perlakukan yang sama.
☆
__ADS_1