
Hatiku tertampar mendengar kata-katanya. Aku malu. Sangat malu dengannya. Begitu besar pengorbanan Vino untuk wanita yang tak tau diri ini. Wanita yang tak pernah bisa menghargai ketulusannya.
Langkahku terasa mati. Bahkan lututku seketika tak kuat menahanku berdiri. Aku tersungkur lemah. Menangisi diriku yang penuh dengan dosa. Sejenak, Aku terdiam. Menyeka airmata yang terlanjur tumpah. Ku balikkan tubuhku menghadap Vino, Ku hampiri Dia.
"Kamu kenapa mau lakuin ini? Itu sama aja Kamu korbanin rumahtangga Kita,Yah. Harusnya Kamu biarin aja. Ini semua salah Aku. Jadi biarin aja Aku yang nanggung semuanya. Nggak peduli kalo Aku harus menanggung malu seumur hidup!"
"Kamu pikir dengan membiarkan videomu disebar, itu jalan yang terbaik? Pikiranmu sangat pendek, Bun. Di sini Maya yang akan Jadi korban. Maya juga akan menanggung malu dan hinaan seumur hidupnya, kalau saja Aku membiarkan videomu bersama Rey tersebar dan viral. Kamu paham?!"
"Terus menurutmu, bercerai jalan terbaik dan nggak akan ada yang jadi korban? Begitu? Nggak, Yah. Justru Maya juga akan jadi korban di sini. Dia akan sangat terpukul. Akupun akan tersiksa jauh darinya."
Vino berkacak pinggang dan menengadahkan wajahnya ke langit-langit kamar. Beban pikiran yang sangat sulit di lebur. Serasa menumpuk di kepala menjadi satu.
"Beri Aku waktu untuk memikirkan semua. Aku janji akan pecahin masalah ini. Sebisa mungkin tak akan ada perceraian, dan videoku juga akan aman." kataku lagi.
"Gimana caranya, Bun. Mereka semua menginginkan Kita bercerai. Kalau tidak, Kamu akan menanggung malu seumur hidup. Begitu juga Maya. Dia akan membencimu seumur hidupnya jika Ia tahu nanti. Aku tak rela orang-orang yang Aku cintai akan terpuruk. Bahkan akan selamanya terpuruk."
Aku tersenyum. Jiwaku semakin kuat. Apapun caranya, Aku akan berusaha mempertahankan pernikahanku. Tak akan lagi Ku biarkan Mereka menjadi duri dalam rumah tanggaku.
"Ini semua salahku. Ini semua terjadi karena Aku. Aku janji, Aku akan berusaha bikin keluarga Kita utuh seperti dulu. Bahagia seperti dulu. Demi Kita. Demi Aku, Kamu, dan Maya."
Vino mendekat. Meraih jemariku dengan lembut. Kemudian menariknya perlahan hingga Aku terjerembab dalam pelukannya. Jantungku berdegub kencang. Nafasku memacu lebih cepat, berhembus hangat mengenai wajahnya. Sungguh, suatu momen yang sangat Ku rindukan.
"Temani Aku malam ini, Aku merindukanmu." kata Vino berbisik lirih dengan bibir menyentuh telingaku.
Aku tersenyum. Malam ini Ku rasa begitu indah. Cinta antara Aku dan Vino bersemi dan kembali mekar. Aku terlena.
__ADS_1
*****
Setelah malam itu. Aku dan Vino bersandiwara agar seolah terlihat tetap ada pertengkaran. Kami tak mau Mama Renata tahu kalau Kami akur kembali. Jika Mama Renata sampai tahu, Aku sudah mengetahui rencana mereka dan mencoba melawan, bisa-bisa Indri akan gelap mata dan nekat melakukan hal yang bisa merugikan Kami. Sementara Kami mengalah.
Maya yang masih selalu menampakkan wajah muramnya, tak mau bersekolah. Aku mengerti perasaannya. Tak mungkin Ia bersekolah dengan hati yang terpukul seperti ini.
'Aku akan coba bicara dengan Maya, dan memberi pengertian padanya nanti sepulang dari kantor' batinku saat melihat Maya hanya diam saat Ku tanya keadaannya.
Jam makan siang di kantor sudah waktunya. Tapi Aku tak juga beranjak dari meja kerjaku. Kata-kata Vino yang mengejutkanku soal videoku dengan Rey kembali terngiang.
'Gimana kalo pernikahanku tetap berakhir perceraian? Gimana kalo Indri nekat menyebar videoku bersama Rey? Tunggu, Rey! Ya, Rey. Aku harus temui Dia.' Aku membatin dengan mata tetap menatap layar PC.
Kemudian Ku ambil ponselku. Menscroll pesan masuk di whattsapp. Mencari namanya. Ketemu. Segera Ku ketik pesan untuknya.
['Assalamualaikum. Gimana keadaan Kamu Rey? Udah pulih? Bisa Kita bertemu sekarang? Di kafe biasa. Ada hal penting yang ingin Ku bicarakan.'] isi pesan yang Ku kirim ke Rey.
['Oke. Aku akan tiba dalam 15 menit.'] balasan pesan dari Rey.
Aku pun bergegas, menuju kafe yang ada di belakang kantor. Ku pilih meja favorit Kami. Dekat jendela.
"Udah lama, Sya?" sapa Rey yang langsung duduk berhadapan denganku.
"Baru kok. Baru nyampe. Gimana keadaan Kamu?"
"Alhamdulillah, Sya. Berkat Kamu, Aku kembali sehat. Bisa ngelanjutin hidup. Aku berhutang nyawa sama Kamu, Sya."
__ADS_1
Rey menggenggam jemariku. Meremasnya dengan lembut. Tatapannya kembali menghipnotisku.
'ciihh! Apa-apaan ini? Kenapa Aku diam, Rey memegang tanganku? Bahkan Aku membalas tatapannya yang menatapku.'
Ku tarik tanganku dan Ku alihkan pandanganku yang sejak tadi menatap matanya.
"Maaf, Rey. Aku cuma mau minta dan memohon sama Kamu. Tolong, relain Aku bahagia sama keluargaku. Aku mohon Rey."
Airmataku memang tak bisa lama bertahan tinggal di pelupuk. Mudah sekali keluarnya. Rey dengan cepat mengusapnya. Lembut.
"Tasya ... Kamu tahu? Sejak Aku tahu Kamu yang donorin darah untukku. Kamu yang nyelametin nyawaku. Aku udah nggak mau gamggu kehidupanmu lagi. Aku udah bertekad ngerelain kamu bahagia dan kembali dengan keluargamu, sepenuhnya. Meskipun cinta ini akan tetap melekat di hati."
Aku menggelengkan kepala. Rasa kecewaku menjalar. Semakin rimbun.
"Kamu udah relain Aku? Terus apa maksudnya dengan Kamu menyuruh Indri mengancam Vino? Mengancam menyebarkan video Kita?" kataku dengan menekankan nada bicaraku.
"Video kita? Dari mana Indri tau dan dapat video itu? Sumpah, Sya. Aku sama sekali nggak tau soal ancaman Indri ke Vino. Bahkan Indri punya video itu pun Aku nggak tau."
"Udah lah Rey. Nggak usah berkelit lagi. Darimana Indri dapetin video itu? Ya jelas dari Kamu, Rey. Dari siapa lagi?"
"Tapi Aku serius, Sya. Aku sama sekali nggak ada sangkut pautnya sama rencana Indri dengan video kita! Aku berani sumpah!"
"Sulit untukku bisa percaya sama Kamu, Rey. Karena video itu hanya Kamu yang punya. Aku perlu bukti. Bukan kata-kata elakkan darimu. Buktiin kalo Kamu nggak terlibat dengan semua ini!"
"Oke, Sya. Biar Kamu percaya kalo Aku nggak terlibat dengan rencana Indri soal ancaman itu. Aku akan coba bantu Kamu untuk nyelesaiin masalah ini. Aku akan coba menghilangkan semua copy'an video Kita di manapun Indri menyimpannya. Tolong, percaya sama Aku."
__ADS_1
Aku mengangguk. Mengiyakannya. Aku berharap Rey memang benar-benar tak terlibat dengan Indri. Aku ingin Rey benar-benar bisa membantuku keluar dari masalah ini. Aku yakin, Cahaya terang di luar sana akan Ku temukan untuk menerangi jalanku menuju kebahagiaan.