
"Lepasin Gue!" kataku yang masih tak percaya Dimas menyimpan rasa untukku.
Dimas. Dia memang sahabat yang selalu ada di setiap kesulitanku. Sejak dulu, Aku tahu Dimas sayang padaku. Hanya sayang sebagai sahabat. Tak lebih. Tapi kini Dimas menyatakan cinta. Kata yang seharusnya tak Dia ucapkan.
"Dengerin Gue dulu, Sya." Dimas menarik tanganku lagi.
"Gue bilang lepas!"
Aku menangis. Airmataku tak bisa ku tahan.
"Oke. Tapi tolong tetep di sini. Dengerin Gue dulu."
"Apalagi, Dim? Jangan hanya karena rumah tangga Gue sama Vino lagi bermasalah, Lo dengan gampang ngomong begitu, terus Lo bisa masuk ke hati Gue? Nggak, Dim. Justru pernyataan cinta Lo ke Gue, bikin Gue kecewa sama Lo!"
Aku berbalik membelakangi Dimas. Ku usap airmataku dengan kasar. Aku melangkah, pergi. Di kejauhan Ku dengar samar suara Dimas yang berteriak.
"Gue yakin itu semua manipulasinya Vino, Sya. Percaya sama Gue!" kata Dimas dengan teriak.
Aku tak mempedulikannya. Langkahku justru lebih Ku percepat menuju parkir mobil.
*****
"Kamu darimana?"
Belum sempat Aku memberi salam, Vino sudah ada di teras menyambutku dengan tanya. Kali ini Aku merasa muak melihat Vino. Vino yang begitu tega memanipulasi surat perjanjian itu. Vino yang lebih memilih mendengarkan keinginan Mama Renata. Vino yang sekarang hatinya berpaling ke Indri. Vino yang tak lagi Ku kenali.
"Bukan urusanmu!"
Ku lewati Vino dengan terus melangkah masuk ke dalam rumah. Bahkan untuk mencium tangannya Aku enggan. Aku langsung menuju ke Kamar. Ternyata Vino membuntutiku.
"Aku tanya Kamu darimana?" katanya yang sembari menutup pintu dan menguncinya, tatapannya terlihat begitu mengkawatirkanku.
"Apa pedulimu?"
Ku tinggalkan Vino yang berdiri di pintu kamar. Aku menghempaskan tubuh ke ranjang. Rasanya hari ini hatiku begitu lelah.
"Jangan begitu, Bun. Biar gimanapun saat ini Aku masih Suamimu. Tak pantas Kamu bicara begitu. Selama Kamu masih Istriku, Aku peduli. Kamu masih tanggung jawabku!"
"Tanggung jawabmu? Peduli? Bahkan Mamah menyuruhmu untuk menyakitiku saja, Kamu lakukan! Tanggung jawab dan peduli seperti apa yang Kamu maksud?" kataku yang langsung berdiri mendengar Vino bicara.
Vino melangkah. Menghampiriku yang berdiri menangis. Wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu. Matanya menerawang ke langit-langit. Berembun. Aku tak tau apa yang Vino pikirkan. Aku tak tau perasaan apa yang ada di hatinya saat ini. Yang Ku tahu, Dia ingin menceraikanku.
"Kamu mencintai Indri?" tanyaku yang tiba-tiba.
__ADS_1
"Kenapa Kamu tiba-tiba membahas Indri?"
"Kamu jawab aja."
"Untuk apa Aku jawab pertanyaanmu yang ngawur itu? Kamu tau sejak dulu perasaanku ke dia seperti apa?"
Aku tertawa mendengarnya. Mendengar pengakuan Vino yang Aku tahu Ia berbohong menutupinya.
"Kamu tau? Selama Aku hidup denganmu. Kebohongan dan kelicikan apa lagi yang Kamu sembunyikan? Selain perasaan cintamu ke Indri."
"Aku cinta dengan Indri? Kamu ngawur, Bun. Aku sama Indri nggak ada perasaan apapun. Aku cuma menganggapnya teman. Hubunganku dengan Dia sudah berakhir lama. Kamu pun tau itu. Kenapa Kamu bisa berpikiran seperti ini?"
"Kenapa Aku bisa berpikiran seperti ini? Kamu tanya dirimu. Untuk apa Kamu menyuruh Indri terlibat dengan semua ini? Memanipulasi surat perjanjianku!"
Vino kemudian duduk di pinggir ranjang. Ia menunduk. Pundaknya Kulihat berguncang. Naik turun.
'Vino menangis? Menangis buat apa?' batinku bertanya.
Tiba-tiba Vino berdiri. Memelukku. Aku tak kuasa menolak. Aku ikut memeluknya. Tanda tanya di kepalaku teramat banyak. Aku bingung dengan semua ini. Aku bingung dengan Vino. Ku lepaskan segera pelukannya.
"Kenapa menangis?" tanyaku ketus.
Vino tak menjawab. Ia kembali memelukku. Kali ini sangat erat. Ku biarkan Ia berlama-lama memelukku. Mungkin setelah ini Ia mau bicara.
"Video? Bu iyem?" kataku menyipitkan mata.
Vino menceritakan apa yang terjadi.
-----
"Permisi Pak," ucap Bu Iyem dengan secangkira kopi di tangannya, menemui Vino yang ada di ruang kerja.
"Oh. Iya Bu. Taro sini aja. Makasih Bu."
"Maaf Pak kalo Saya lancang."
"Lancang? Emang Bu Iyem ngapain?"
"Ini Pak," Bu Iyem menyerahkan ponselnya ke Vino.
"Apa ini, Bu. Buat apa?" kata Vino mengambil ponsel yang di kasih Bu Iyem.
"Dibuka aja pak. Itu udah Saya taro depan. Bapak tinggal buka aja." kata Bu Iyem sambil menunjuk ke layar ponselnya yang sudah di pegang Vino.
__ADS_1
Vino mengusap layar ponsel milik Bu Iyem. Ada file video yang di letakkan di layar depan ponsel. Tanpa buang waktu Ia pun mengklik file itu. Hening. Tak lama Vino yang serius menatap layar ponsel pun terbelalak. Wajahnya berubah merah dan marah.
"Kurang ajar! Mereka mempermainkanku!" kata Vino yang langsung berdiri meremas ponsel milik Bu Iyem.
"Tolong kirim Ke Saya, Bu. Videonya," kata Vino lagi dan mengembalikan ponsel ke Bu Iyem.
"Saya nggak punya whatsapp, Pak. Nggak tau kirimnya lewat mana. Bapak pegang aja hape Saya," kata Bu Iyem menyodorkan kembali ponselnya.
"Jangan. Nggak usah, Bu. Lewat bluetooth aja, sini Saya yang kirim."
Video pun tak lama tercopy ke galeri ponsel Vino.
"Bu Iyem Kok bisa ...?"
"Iya Pak. Kebetulan pas Saya mau mandi, Saya lupa, obat Ibu kebawa di tas Saya. Jadi sebelum mandi, Saya buri-buru mau nemuin Ibu dulu. Mau ngasih obat. Takut mau diminum. Sampe depan kamar, Saya liat ada Bu Renata. kirain jengukin Ibu yang baru pulang. Nggak taunya lagi debat. Saya rekam aja takut ada hal yang nggak diinginkan. Tapi pas Maya dateng, Saya langsung sudahin videoinnya. Ngumpet di samping bupet deket Kamar. Nggak lama Maya kaget, terus jatohin gelas. Maaf ya Pak."
"Justru Saya berterima kasih sekali sama Bu iyem. Saya jadi tau, mereka telah mempermainkan keluarga Saya!"
-----
"Aku nggak nyangka Mamah sama Indri bersekongkol mempermainkanku," kata Vino.
"Terus Kamu mau apa setelah ini? Percuma Kamu nangis. Percuma kamu nyesel. Apa bedanya Kamu sama mereka?"
"Apa bedanya? Maksud Kamu apa?"
"Sandiwaramu selama ini. Hingga Kamu begitu keji membuat surat perjanjian palsu itu atas namaku! Apa bedanya?"
Vino terdiam. Berusaha menarik nafas yang begitu sesak.
"Kenapa? Nggak bisa jawab kan? Karena Kamu memang mengharapkan Indri! Sudahlah. Aku sangat lelah. Lagi nggak mau ngebahas hal yang menyakitkan ini," kataku sembari melangkahkan kaki.
"Mau kemana Kamu?"
"Tidur di kamar Maya. Toh sebentar lagi kita juga akan pisah. Aku mau menghabiskan banyak waktu yang tersisa dengan anakku."
Tanganku ditarik. Kini, Kami saling berpandang. Ku buang pandanganku ke arah lain.
"Aku masih cinta Kamu, Bun," kata Vino memegang tanganku.
Ku tepis tangannya. Aku merasa risih.
"Bulshit!" kataku yang kemudian melangkah membelakanginya.
__ADS_1
"Sandiwara itu tak pernah ada. Aku tak pernah bersandiwara mencintaimu, membahagiakanmu. Termasuk memalsukan surat perjanjianmu. Aku melakukan semuanya di atas ancaman Indri! Ancaman Video syur Kamu dengan Rey!" teriak Vino dengan lantang.