Sang Mantan

Sang Mantan
MENENTUKAN PILIHAN


__ADS_3

Haikal terlihat asyik memainkan ponselnya, ia sedang menanti telfon dari kekasih yang sudah dua hari tidak bisa di temuinya. Setelah kejadian malam itu, Haikal pernah beberapa kali ingin menemui Nindy namun usahanya selalu gagal karena para pria berseragam selalu menghalangi jalannya.


"Dia belum juga menghubungimu?" Tanya Sarah sambil meletakkan secangkir teh untuk Haikal.


Haikal menggelengkan kepalanya.


Sarah menghela nafas, ia benar- benar tidak suka berada dalam pusaran hubungan cinta segi tiga ini.


"Kapan kamu akan kembali ke kota x?" Tanya Sarah lagi.


"Besok lusa" Sahut Haikal pelan.


"Izin cutiku berakhir besok, jadi aku harus segera kembali".


"Apa kamu akan pulang dengan tangan kosong tanpa membawa hasil apapun?" Sarah kembali bertanya.


"Apa maksudmu?".


Sarah memilih duduk disamping Haikal, sepertinya ia juga harus memberikan sebuah kuliah ekstra untuk pria bodoh yang sedang duduk di depannya itu.


"Kamu datang ke ibu kota pasti punya tujuankan. Apakah tujuanmu itu sudah terwujud?".


Haikal tidak menyahut.


"Aku tahu kedatanganmu ke sini adalah demi Anin, dan sekarang aku ingin tanya apakah kamu berhasil mendapatkan apa yang kamu inginkan?".


Pertanyaan Sarah kembali mengganggu pikiran Haikal.


"Aku tidak tahu, sepertinya masalah ini lebih rumit dari apa yang aku kira" Sahutnya.


"Aku pikir, kedatanganku ke sini bisa membantu Anin untuk menyelesaikan permasalahan antara dia dan suaminya, tapi ternyata semuanya tidak berjalan seperti apa yang aku harapkan. Hingga saat ini aku belum mendapatkan kepastian apapun dari Anin, baik tentang status pernikahannya maupun status hubungan kami".


Haikal menundukkan kepalanya, pikirannya begitu kalut saat memikirkan masalahnya dengan Anin yang belum memiliki kejelasan.

__ADS_1


"Apa kamu akan tetap mempertahankan Anin disisimu padahal kamu sudah tahu jika Anin masih berstatus sebagai istri orang?" Tanya Sarah kembali.


"Apakah aku salah jika aku ingin mempertahan kan Anin di sisiku?" Jawab Haikal.


"Aku mencintainya dan dia juga mencintaiku, lantas apa salahnya jika kami memperjuangkan hubungan kami?".


Sarah menyunggingkan senyum sinisnya, ia benar- benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Haikal saat ini.


"Sekilas memang tidak ada yang salah, tapi apa kamu lupa jika wanita yang kamu cintai sudah punya suami dan apa kamu tidak bisa melihat jika Anin masih menaruh hati pada suaminya itu?" Ucap Sarah penuh penekanan.


"Aku tidak mengerti maksudmu?" Haikal tidak suka mendengar ucapan Sarah tadi.


"Hubungan kalian tidak akan serumit ini jika Anin tidak memiliki hati kepada suaminya" Ucap Sarah.


"Satu bulan lebih Anin berada di sini tapi kamu bisa lihat sendirikan hingga saat ini belum ada kejelasan pasti antara hubungan kalian. Jika Anin tidak memiliki hati kepada suaminya pasti ia sudah terlepas dari ikatan pernikahan itu. Tapi kenyataannya apa, hingga saat ini Anin masih menjadi istri pak Rafael dan dia juga menjadi pacarmmu".


"Bukankan hubungan ini gila, bagaimana bisa kalian mengesampingkan logika hanya demi sebuah ego semata".


"Cinta! Heh! Kalian berdalih atas nama cinta tapi kalian sendiri tidak bisa mengartikan makna dari cinta itu sendiri".


"Cinta memberikan kebahagiaan bukan rasa sakit yang tidak bertepi seperti ini. Cinta mengartikan sebuah hubungan kasih sayang bukan malah saling menyakiti perasaan satu sama lain".


"Coba kamu pikirkan cinta seperti apa yang saat ini kalian jalani? Cinta yang membawa kebahagiaan atau justru cinta yang membawa kalian pada kekecewaan".


Haikal terdiam.


"Hubungan kalian akan terus seperti ini jika salah satu diantara kalian tidak ada yang mau mengalah. Sampai kapanpun Anin tetap tidak akan bisa menentukan pilihannya karena dia mencintai kalian berdua di saat yang bersamaan" Ucap Sarah lagi.


"Anin masih mencintai pak Rafael karena itulah dia tidak tega untuk meninggalkannya, tidakkah kamu menyadari itu".


"Sekarang pilihannya ada di tanganmu, kamu masih ingin memperjuangkan Anin atau justru melepaskannya. Dan jika di lihat dari sisi manapun, posisimu saat ini salah karena kamu berada di antara hubungan suami istri yang masih sah secara hukum dan juga agama".


Ucapan Sarah membuat hati Haikal bergemuruh, harus ia akui jika semua ucapan Sarah adalah benar. Haikal seperti tertampar saat menyadari posisinya saat ini yang berada di dalam hubungan pernikahan antara sepasang suami istri.

__ADS_1


"Dan satu hal lagi, coba kamu pikirkan apakah kedua orang tuamu bisa menerima Anin jika mereka tahu tentang masalah ini? Mungkin saat ini mereka belum mengetahui apapun, tapi tidak menutup kemungkinan jika suatu saat nanti mereka akan mengetahui masalah ini. Kamu tahu pasti bagaimana sifat kedua orang tuamu kan? Jadi kamu juga harus mempertimbangkan masalah itu".


"Aku pulang dulu, dan pikirkan ucapanku baik- baik. Pikirkan seberapa besar peluang yang kamu miliki saat ini. Mungkin kamu bisa bertahan jika memang peluangmu adalah yang paling besar tapi kalau sebaliknya, aku sarankan sebaiknya kamu mundur baik- baik dan biarkan Anin kembali kepada suaminya".


"Ingatlah, cinta tidak selamanya harus memiliki".


Sarah meraih tasnya dan memutuskan untuk pergi, ia akan memberikan waktu kepada Haikal untuk memikirkan semua ucapannya tadi. Sarah tersenyum getir saat menyadari apa yang telah ia lakukan beberapa hari ini. Dua hari yang lalu ia baru saja menasehati Anin dan hari ini dia juga harus menasehati Haikal.


'Heh! Kenapa aku merasa seperti seorang konsultan percintaan yang sangat hebat, padahal hubunganku percintaanku sendiri tidak pernah berjalan mulus'.


Haikal menatap kepergian Sarah dengan tatapn yang sulit untuk diartikan, sebagian hatinya mengakui jika ucapan Sarah adalah benar namun sebagian egonya masih kekeh pada keinginan awalnya yaitu tetap mempertahankan hubunganya bersama Anin.


.


Sementara itu, di tempat yang berbeda, Nindy sedang mengintip keluar untuk melihat tetangga yang tinggal di sebelahnya. Sudah berulang kali ia bolak balik mengetuk pintu apartemen Rafael namun ia tidak mendapatkan jawaban.


Tadi siang, Ardi mengatakan jika Rafael sedang keluar kota untuk mengontrol sebuah proyek yang sedang ditangani oleh perusahaan sehingga ia akan berada di sana selama beberapa hari.


"Apa aku telfon aja ya" Gumam Nindy pada dirinya sendiri.


"Apa sebaiknya aku menanyakan padanya, kapan dia akan pulang? Tapi bagaimana jika dia tidak mau menjawab telfonku".


Kebimbangan mulai merasuki pikirannya, meskipun begitu Nindy tetap mencoba meraih telponnya berniat ingin menghubungi sang suami namun ia kembali membatalkan niatnya tersebut.


"Ah! Sudahlah, lebih baik aku tunggu hingga dia pulang saja. Lagi pula masalah ini tidak bisa di bicarakan di telfon, aku harus bicara langsung padanya".


"Masalah ini harus segera aku selesaikan sebelum semuanya menjadi semakin rumit".


Selama beberapa hari ini Nindy terlalu fokus pada semua berkas yang di berikan oleh asistennya, sehingga ia tidak punya waktu luang untuk menghubungi Rafael. Bahkan Nindy sendiri juga sudah lupa jika dirinya belum memberikan kabar kepada Haikal sejak kejadian malam itu.


Waktu terus berjalan dan Nindy tidak bisa terus menerus mengabaikan masalah yang sedang membelit hubungan percintaannya, ia harus segera menentukan pilihannya sebelum batas waktu yang semesta berikan habis hingga akhirnya menyisakan sebuah penyesalan dalam hidupnya. Tidak ada satu orangpun yang dapat menebak garis takdir di dalam hidupnya karena semua itu sudah di atur oleh sang pemilik semesta.


__ADS_1


__ADS_2