
Anin tidak berhenti memainkan pena yang saat ini ada di tangannya, ia begitu penasaran kenapa Rafael membawanya kedalam ruangan pimpinan perusahaan kemudian meninggalkannya sendirian tanpa penjelasan apapun. Setidaknya sudah satu jam berlalu sejak Rafael meninggalkannya di dalam ruangan itu dan selama itu pula pikiran Anin tidak tenang.
"Cih! Jadi dia membawaku kemari hanya untuk menggurungku di tempat ini" Umpatnya kesal.
Anin mengedarkan pandangannya dan memandangi kesekelilingnya, ia begitu terpukau dengan dekorasi ruangan tersebut. Harus ia akui jika suaminya itu memang memiliki selera yang bagus, jadi tidak heran bila ruangan pimpinan tampak begitu indah dan mewah.
"Seleranya bagus juga" Puji Anin kemudian.
Pandangan mata Anin terfokus pada lambang perusahaan yang terukir indah di dalam ruangan itu, ia bangun dari tempat duduknya dan mendekati lambang itu.
"Louis Jaya Grup" Anin tidak pernah menyadari jika LJ Grup itu merupakan singkatan dari Louis Jaya Grup yang merupakan nama kedua orang tuanya.
Anin terlalu fokus pada lambang LJ Grup hingga tidak menyadari jika Ardi datang menemuinya.
"Selamat pagi bu Nindy. Maaf jika saya menganggu" Ucap Ardi dengan sopan.
"Tidak apa- apa pak Ardi" Sahut Anin.
Meskipun Anin tidak suka dengan panggilan namanya, namun ia tidak ingin protes. Baginya aksi protes itu hanya berlaku untuk satu orang, yaitu pak suami- nya.
"Ada apa pak?" Tanyanya.
"Maaf bu. Pak Rafael meminta anda untuk datang ke ruang pertemuan" Jawab Ardi.
"Ruang pertemuan!" Ulang Anin dengan sedikit bingung.
"Kenapa pak Rafael meminta saya untuk datang keruang pertemuaan? Memangnya ada acara apa?" Tanyanya penasaran.
Ardi tersenyum kecil.
"Saya kurang tahu bu, anda bisa menanyakan hal itu langsung pada pak Rafael" Sahut Ardi.
"Mari bu!" Ardi mempersilahkan Anin untuk ikut bersamanya.
Karena rasa penasaran, akhirnya Anin bersedia untuk ikut dengan Ardi. Ia ingin tahu apa yang sedang di rencanakan oleh Rafael.
Sementara itu di dalam ruang pertemuan, semua orang menatap Rafael dengan penuh tanda tanya. Mereka penasaran dengan sosok pewaris yang sebelumnya telah di sebutkan oleh Rafael.
__ADS_1
Hampir dari seluruh pemengang saham LJ Grup hadir di dalam ruangan itu, sebagian dari mereka merupakan pemilih saham yang cukup berpengaruh bagi perusahaan. Dan tentu saja keluarga Mahendra dan keluarga Hutama ikut ambil bagian dalam pertemuan penting tersebut.
Dari keluarga Mahendra ada bu Linda dan Ronald yang mewakili dan dari keluarga Hutama ada tante Yuni dan Yuda serta pak Darwin yang merupakan orang yang paling berambisi untuk mendapatkan LJ Grup.
Seperti yang di ketahui sebelumnya, hari ini Rafael mengadakan pertemuan penting dengan para pemengang saham untuk mengumumkan pewaris LJ Grup yang sudah lama mereka cari. Rafael ingin seluruh dunia tahu jika Nindy adalah ahli waris yang sah dari Bisma Sunan Jaya, pemilik LG grup. Rafael berpikir hanya dengan cara seperti ini untuk membuat sang istri tetap berada di sisinya. Ia yakin Nindy tidak akan bisa pergi dengan mudah seperti yang dia lakukan dulu.
Keinginan Rafael yang hendak mengumumkan pewaris LJ Grup sempat mendapat penolakan dari pak Rudi, beliau takut jika hal ini dapat mengancam keselamatan nona muda tersebut. Namun Rafael berhasil menyakinkan pak Rudi, ia berjanji akan menjaga dan melindungi Nindy dari para musuhnya.
"Kamu yakin jika orang yang kamu bawa itu adalah pewaris dari pak Bisma, Rafael? Bagaimana jika orang itu hanyalah penipu yang segaja ingin mengambil keuntungan dari perusahaan ini" Tanya pak Darwin.
"Saya sangat pak Darwin" Sahut Rafael lantang.
"Saya tidak akan mengadakan pertemuan ini jika saya tidak mempunyai bukti yang kongkrit".
"Bisa saja itu hanya rekayasa anda, pak Rafael. Anda sengaja merekayasa semua ini untuk mempertahankan posisi anda sebagai pimpinan LJ Grup" Tuduh pak Darwin.
"Sepertinya anda begitu berambisi untuk menjadikan LJ Grup sebagai milik anda, pak Rafael".
Pak Darwin terkekeh, ia sengaja ingin menjatuhkan wibawa Rafael di hadapan semua orang.
Rafael tersenyum, tuduhan itu sungguh tidak mempan baginya dan tidak akan mampu untuk mematahkan niatnya saat ini.
"Ya, kita lihat saja nanti" Sahut Rafael santai.
Suasana mulai memanas, sepertinya pak Darwin mulai gencar melakukan serangan. Dan situasi itu terus berlanjut hingga pada akhirnya Ardi datang. Ardi menghampiri Rafael sambil membisikkan sesuatu padanya.
"Bu Nindy sudah datang pak" Bisik Ardi.
Rafael mengangguk.
"Persilahkan bu Nindy untuk masuk" Perintah Rafael.
Ardi mengangguk dan bergegas melakukan tugasnya.
"Baiklah para hadirin semuanya, mari kita sambut kedatangan sang pewaris LJ Grup".
"Anindya Maharani" Ucap Rafael dengan lantang.
__ADS_1
Ardi membawa Nindy masuk kedalam ruangan pertemuan dan kedatangannya langsung mendapatkan sambutan yang sangat meriah dari semua orang yang berada di sana.
"Nindy!" Lirih bu Linda penuh haru.
Semua orang menatap kagum pada sosok wanita yang baru saja masuk kedalam ruangan itu. Wanita cantik dengan wajah putih bersih berjalan dengan anggun dan penuh rasa percaya diri. Sebelumnya Rafael sudah berpesan padanya jika ia harus bersikap elegan di hadapan para pemengang saham.
"Selamat datang bu Nindy. Selamat datang di LJ grup" Rafael mengulurkan tangannya untuk memberi salam selamat datang.
"Terima kasih pak Rafael" Sahut Nindy sambil tersenyum manis.
"Saya ucapkan terima kasih atas kedatangannya" Ucap Rafael lagi.
Nindy mengangguk pelan.
Nindy merasa begitu gugup saat melihat semua orang sedang menatap kearahnya. Rafael yang tahu jika sang istri sedang gugup, berusaha untuk menenangkannya.
"Tenanglah" Bisiknya sambil mengelus tangan sang istri yang terasa begitu dingin.
"Aku takut" Balas Nindy.
Rafael tersenyum.
"Santai saja. Aku ada di sini" Sahutnya.
Rafael mempersilahkan Nindy untuk duduk di kursi yang telah di persiapkan tepat di sampingnya. Ia tidak ingin sang istri merasa gugup dan takut saat mendapatkan tatapan tajam dari para peserta rapaat.
Tante Yuni menatap Nindy dengan tatapan yang sedikit berbeda dari orang lain. Mungkin orang lain akan menatap Nindy dengan sinis, tapi beliau menatapnya dengan senyum. Beliau senang karena akhirnya bisa bertemu dengan gadis yang pernah di ceritakan oleh sang suami padanya dulu.
"Jadi kamu gadis itu. Saya senang akhirnya bisa melihatmu secara langsung. Ternyata kamu sangat mirip dengan ibumu, cantik dan juga manis" Batin tante Yuni.
Berbeda dengan tante Yuni, pak Darwin justru menatap Nindy dengan tatapan tajam. Beliau sungguh tidak menduga jika pewaris Bisma ternyata masih hidup.
"Bagaimana mungkin dia pewaris LJ Grup. Bukankah semua pewaris Bisma sudah mati. Bahkan aku ikut menghadiri pemakaman mereka di kala itu. Pasti ada yang tidak beres" Gerutu pak Darwin.
Sementara itu bu Linda juga tidak melepaskan pandangannya dari wajah Nindy, beliau masih terus menelisik wajah dan penampilan Nindy yang terlihat jauh berbeda dari sosok bocah kecil yang menjadi menantunya tujuh tahun yang lalu.
"Kamu tumbuh dengan baik nak. Mama bahkan hampir saja tidak mengenalimu. Kamu sudah tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik, pantas saja jika Rafael tidak bisa melepaskan mu karena kamu telah mencuri hatinya. Kamu sungguh berbeda, bocah kecil yang dulu suka membuat mama pusing kini telah berubah menjadi cinderella yang sangat cantik".
__ADS_1
Bu Linda tidak henti- hentinya mengangumi Nindy, beliau bertekad akan melakukan apapun untuk mempertahankan pernikahan sang putra meski harus berlutut di bawah kaki sang menantu.
☆