Sang Mantan

Sang Mantan
Part 15


__ADS_3

"Maaf Sus. Dokter yang menangani Pasien atas nama Rey Vandinata, Dokter siapa ya? Bisa Saya bertemu? Saya mau konsultasi soal donor darah untuk Rey," kataku pada suster di meja informasi.


"Sebentar ya, Bu. Biar Saya cek dulu," katanya yang langsung sibuk menatap monitor yang ada di depannya.


"Pasien atas nama Rey Vandinata, usia 35 tahun. Beliau pasien Dokter Ilham. Kebetulan Dokter Ilham sedang ada tamu, keluarga dari pasiennya. Jadi Ibu bisa menunggu terlebih dahulu di depan ruangannya," kata suster sambil sesekali matanya melihat ke monitor.


"Ruangan Dokter Ilham sebelah mana ya sus?" kataku masih bertanya.


"Oh iya. Ruangan Dokter Ilham nggak jauh dari lorong ini. Setelah Ibu lurus, pertigaan lorong Ibu ke kanan, ruangan Dokter Ilham ada di sisi kiri, papan namanya ada kok di pintu," kata suster menjelaskan dengan tangan ikut mengarahkan.


"Ya, oke. Baik sus, terima kasih," kataku mengangguk paham.


Ku susuri lorong yang tak begitu panjang ini. Tak jauh untukku sampai di persimpangan lorong. Karena lokasiku berdiri ada di meja informasi yang letaknya di tengah lorong. Di persimpangan lorong, Ku belok kanan sesuai arahan suster tadi. Ada beberapa ruangan yang Ku lihat. Ku pastikan di mana ruangan Dokter Ilham dengan memperhatikan papan nama yang menempel di daun pintu. Dapat. Ruangan Dokter Ilham sekarang berada persis di depanku. Sesuai amanat dari suster, Aku di minta untuk menunggu di depan ruangan. Tapi jiwa penasaranku datang menyuruhku untuk mengintip dari balik pintu, mencari tahu siapa keluarga Rey yang datang ke sini. Setahuku, setelah Rey lulus kuliah, Orangtua nya langsung pindah dan menetap di Belanda.


'Keluarga Rey? Siapa yang datang? Papa Mama nya? Atau siapa?' batinku penasaran.


Aku mulai mengintip. Ya, terlihat. Sesosok wanita berperawakan mirip seseorang yang Ku kenal. Ku pertegas penglihatanku untuk fokus mencari tahu siapa wanita yang duduk didepan dokter dan membelakangiku. Betapa terkejutnya Aku, saat Ku tahu wanita itu Indri, orang yang sedang Ku cari. Pikiranku mulai menebak-nebak.


'Indri? Keluarga Rey? Kenapa Aku baru tau kalo Indri punya hubungan keluarga dengan Rey?' gumamku bingung.


Tiba-tiba pintu di buka dan Indri sudah berada di belakangku yang sedang berfikir keras untuk mencoba mengerti dengan apa yang baru saja Ku ketahui.


"Tasya? Ngapain Lo di sini?" tanya nya ketus.


Aku yang tiba-tiba baru menyadari Indri sudah di belakangku, sontak kaget. Tak perlu waktu lama untuk Aku memulihkan diri yang sempat melongo karena kaget.


"Gue? Ngapain? Elo yang ngapain? Ngapain di sini? Ada hubungan apa Lo sama Rey? Apa maksudnya semua ini? Kenapa Lo kasih laporan dan kesaksian palsu? KENAPAAAAA?" kataku dengan banyak pertanyaan dan teriak di akhir kata.

__ADS_1


Indri hanya diam. Saat Ku hujami dengan berbagai pertanyaan, Dia hanya diam, seperti menahan airmata yang tiba-tiba sudah membendung di pelupuk mata nya. Aku mengernyitkan mata, semakin bingung.


"Gue tunangan Rey! Rey calon suami Gue! Dan Lo ... karena Lo, sampai saat ini Rey nggak mau nikahin Gue! Puas?" katanya dengan menekan setiap kata yang Ia keluarkan. Telunjuknya menunjuk ke wajahku.


Aku seperti terkena tamparan keras di wajah. Mendadak seluruh tubuh terasa lemas. Ucapan Indri serasa cambukan yang mengenai tepat di dada. Aku terduduk. Meredam segala rasa yang berkecamuk. Tak percaya, Rey membohongiku selama ini. Rey selalu bilang, Ia tak punya kekasih. Jangankan untuk menikah, mempunyai pacar saja enggan. Tapi kini Indri membuka fakta baru yang tak pernah Ku tahu.


Awalnya Aku tak percaya dengan semua kata-kata yang Indri ucapkan. Aku berfikir Indri hanya ingin membuatku semakin kalut. Tapi dengan tegas dan percaya diri, Ia membenarkannya. Indri pun langsung memperlihatkan foto-foto saat mereka melangsungkan pertunangan. Tepat 2 tahun yang lalu, satu bulan sebelum Aku dan Rey bertemu di acara reuni SMA.


"Seharusnya Rey udah nikahin Gue. Seharusnya Rey udah jadi suami Gue. Tapi Lo, ngancurin semua mimpi Gue. Lo ngancurin masa depan Gue! dan sekarang, Rey koma karena Vino. Karena mereka berseteru. Dua laki-laki yang Gue sayang, yang Gue cinta, tega ninggalin Gue cuma karena Lo Sya, karena Lo!" katanya menangis penuh dengan tatapan dendam.


Aku pun ikut menangis mendengar Indri berkata seperti itu. Aku tak tau harus apa. Ucapan Indri membuatku semakin merasa Aku wanita jahat. Wanita yang hanya Mementingkan kepuasan cintaku saja. Ku remas kepalaku dengan kedua tanganku. Menangisi keadaan. Menangisi kenyataan. Karena egoku, Aku tak sadar telah menyakiti banyak orang. Aku berlari. Ku tinggalkan Indri yang sedang menangis.


Sampai di parkiran, setelah masuk ke mobil, Aku tak langsung pergi. Melanjutkan tangisanku yang tertahan. Aku menangis , cukup histeris. Cukup lama tangisku pecah di dalam mobil. Hingga dikagetkan dengan suara dering ponselku.


"Drrrtttt ... drrrttt ..." suara ponsel berdering.


'Dimas?' Gumamku. Tanpa berlama-lama segera Ku terima panggilannya.


"Halo Dim," kataku mengawali obrolan.


"Lo di mana Sya? Masih di Rumah Sakit?" tanya Dimas di seberang telepon.


"Udah di jalan ini mau ke sana," kataku berbohong agar Dimas tak banyak bicara lagi.


"Oh. Ya udah. Hati-hati Sya!" katanya dan menutup panggilan.


Ku usap airmataku dengan kasar. Vino tak boleh tau, Vino tak boleh melihatku habis menangis. Segera Ku lajukan mobil.

__ADS_1


*****


"Gimana Dim? Vino nya mana?" tanyaku langsung ketika tiba dan menghampiri Dimas yang tengah duduk memainkan ponselnya.


"Udah masuk lagi ke sel. Tapi kalo Lo mau ketemu, minta di panggilin lagi aja sama petugas," jawabnya.


"Nanti aja deh Dim, Gue mau ngomong dulu sama Lo. Penting. Udah selesai kan pembahasannya, Lo sama Vino?" kataku serius.


"Udah. Udah kelar semua. Tinggal Gua siapin berkas buat ngajuin banding di persidangan pertma nanti, jaga-jaga kalo Vino makin ke pojok sama kasusnya. Ngomongin masalah apa emang? Penting banget gitu?" kata Dimas yang jari tangannya terlihat lincah tengah mengetik di layar ponselnya.


Ku ajak Dimas untuk berbincang di kafe yang ada di seberang kantor polisi. Di sana, Aku pun menceritakan fakta baru yang baru saja Ku ketahui. Juga kondisi Rey yang semakin kritis. Dimas terkejut dengan apa yang Ku ceritakan. Selain itu Aku juga memberitahu Dimas, mengenai niatku yang ingin mendonorkan darah untuk Rey.


"Golongan darah Lo sama? Lo serius mau donorin darah buat Rey?" tanya Dimas menatapku dengan heran.


"Ya Gue tau, Vino nggak bakal ngijini Gue. Tapi harus Dim, masa Gue harus diem aja ngeliat Rey yang lagi kritis butuh pertolongan. Ini semua nggak bisa di tunda-tunda. Nggak bisa nunggu harus dapet ijin dari siapa-siapa. Ini menyangkut nyawa seseorang Dim!" kataku sedikit menjelaskan.


Dimas hanya tersenyum. Tersenyum setelah mendengar omonganku. Aku tak paham apa maksudnya. Senyumnya yang seperti menemukan ide hebat. Aku pun ikut tersenyum, bukan karena Aku tahu apa yang membuatnya bisa tersenyum seperti itu. Melainkan karena bingung bercampur lucu melihat tingkah Dimas.


"Lo kenapa senyam-senyum gitu Sya?" tanya Dimas begitu sadar melihatku tengah tersenyum memperhatikannya.


"Harusnya yang nanya itu, Gue. Ngapain Lo tiba-tiba senyum-senyum kaya orang gila!" kataku menimpali.


"Gue punya ide Sya. Ini harus dijadiin peluang. Harus!" katanya yakin.


"Maksudnya? Apa sih Dim, peluang apa? Kurang paham Gue," kataku bertanya, bingung.


"Heuh! Nggak nyampe emang kalo otak pebisnis ngomongin ginian," ujar Dimas yang langsung memukul kepalaku dengan gulungan kertas di tangannya.

__ADS_1


Aku semakin penasaran. Tak mengerti peluang apa yang di maksud. Ku coba untuk memahaminya. Tetap saja tak paham.


__ADS_2