
Beberapa saat berlalu dan Rafael masih memeluk Nindy dengan erat serta enggan untuk melepaskannya.
"Mulai saat ini jangan pernah bicara seperti itu lagi" Ucap Nindy seraya melepaskan pelukannya.
Rafael menatap mata Nindy dalam.
"Mungkin kamu memang salah tapi apa kamu lupa jika aku ikut andil di dalamnya. Kamu salah karena telah mempermainkan pernikahan kita tapi aku jauh lebih salah karena aku kabur dari masalah tanpa memberikan kesempatan padamu untuk menjelaskan semuanya".
"Aku kabur darimu selama tujuh tahun dan aku tidak percaya jika kamu masih mau menungguku selama itu. Aku sempat berpikir, kenapa kamu tidak mencari wanita lain dan melepaskan aku saja, padahal aku sangat yakin jika banyak wanita yang mengejarmu saat itu. Iyakan!".
Rafael menyunggingkan senyum, ucapan istrinya memang benar jika selama ini banyak wanita yang mencoba untuk mendekatinya. Tapi entahlah, ia sama sekali tidak berminat dengan para wanita itu karena tanpa disadari hatinya telah ikut pergi bersama Nindy.
"Hatiku yang memintaku untuk menunggumu karena aku percaya jika takdir kita belum usai saat itu" Sahutnya.
Nindy mengangguk setuju.
"Takdir kita sangat lucu ya sayang, kita harus berpisah selama tujuh tahun sebelum akhirnya di pertemukan lagi" Ucap Rafael dengan satu tangan merangkul pinggang Nindy dan satu tangan lagi mengusap pipinya.
Nindy kembali mengangguk.
"Iya, sangat lucu".
Rafael menatap mata Nindy lekat- lekat dan perlahan wajahnya mendekat hendak mencium istrinya, namun tiba- tiba
"Oh iya, aku hampir lupa" Nindy melepaskan pelukan Rafael di pinggangnya hingga membuat sang suami heran.
"Ada apa sayang?" Tanyanya kecewa karena gagal mencium sang istri.
"Kita belum meniup lilin" Ucap Nindy sembari mengambil kembali cup cake yang sempat ia letakkan tadi.
"Yah, lilinnya hampir habis" Sesal Nindy saat melihat lilin angka delapan yang di persiapkannya ternyata sudah hampir habis terbakar.
Rafael mengusap wajahnya kasar ia tidak percaya istrinya merusak moment mereka dengan masih memikirkan lilin kecil itu.
"Yah, bagaimana ini" Nindy masih kecewa karena lilinya habis terbakar.
"Tidak apa- apa, kita tiup saja sisanya" Ucap Rafael menenangkan sang istri.
Nindy mengangguk setuju kemudian mereka meniup sisa lilin yang masih menyala.
"Sudah, jangan cemberut lagi. Nanti aku beli lilin yang lebih besar dari ini dan aku letakkan di atas cake yang lebih besar juga" Hiburnya.
"Benar ya" Ucap Nindy.
"Iya" Sahutnya.
"Kue ini terlihat enak, boleh aku mencicipinya?" Tanya Rafael sembari mengangkat tangannya untuk mencolek kue tersebut.
"Ett,,, tunggu dulu" Nindy menjauhkan kue itu dari suaminya.
"Loh kenapa? Bukahkan kue itu untukku".
"Iya, tapi tunggu dulu. Aku masih punya hadiah untukmu" Ucap Nindy sambil tersenyum manis.
"Lagi!" Rafael tidak menyangka jika istrinya benar- benar mempersiapkan kejutan untuknya bahkan sang istri sudah menyiapkan hadiah untuk dirinya. Sangat berbeda jauh dengan dirinya, bukan hanya tidak menyiapkan hadiah untuk istrinya, Rafael bahkan lupa tanggal pernikahannnya.
"Iya dong, masa ulang tahun nggak di beri hadiah" Sahut Nindy.
Nindy meletakkan kembali kue di atas meja kemudian membuka laci meja dan mengambil sebuah kotak didalamnya lalu memberikannya kepada sang suami.
"Ternyata kamu memang sudah mempersiapkan semuanya ya" Ucap Rafael yang terharu mendapat kado dari sang istri.
"Karena aku sudah lama menantikan moment ini" Sahut Nindy dengan senyum merekah.
"Maaf ya, aku belum sempat mempersiapkan apapun untukmu. Bahkan aku hampir melupakan anniversary kita" Sesal Rafael.
"Sebenarnya aku cukup kecewa karena kamu melupakan anniversary kita, tapi aku tidak marah. Andaipun jika kamu lupa, maka aku yang akan mengingatkanmu tahun ini, tahun depan dan tahun- tahun yang akan datang".
"Terima kasih sayang, kamu memang yang terbaik" Rafael sangat bersyukur karena memiliki istri yang begitu pengertian, bahkan Nindy sama sekali tidak marah meskipun ia melupakan hari ulang tahun pernikahan mereka.
__ADS_1
"Sekarang buka kadonya" Pinta Nindy penuh antusias.
Rafael membuka kotak yang di berikan oleh Nindy dengan perlahan dan hati- hati. Sebenarnya ia tidaklah seantusias istrinya saat membuka kado tersebut karena jika di lihat dari bentuk kotaknya, Rafael bisa langsung menebak isi dari hadiah pemberian istrinya itu yaitu kalau bukan dasi pastilah jam tangan, pikirnya. Selama ini Nindy memang kerap kali memberikan hadiah dasi dan jam tangan untuknya sehingga Rafael berpikir jika kali ini pun hadiahnya pasti sama.
Rafael membuka kotak itu perlahan dan seketika raut wajahnya langsung berubah saat melihat isi di dalam kotak tersebut.
"Surprise" Ucap Nindy hingga membuat Rafael terkejut.
Rafael terpaku saat melihat benda kecil pipih berbentuk memanjang yang berada di dalam kotak tersebut. Meskipun Rafael tidak pernah melihat alat itu sebelumnya tapi ia tidaklah bodoh, setidaknya ia sangat tahu jika alat itu merupakan alat test kehamilan. Dengan tangan yang gemetar Rafael meraih benda tersebut dan mengangkatnya kedepan seraya berucap
"Ka kamu hamil?" Tanya Rafael seolah tidak percaya.
Nindy mengangguk cepat "Iya, aku hamil".
"Hah! Benarkah? Kamu beneran hamil sayang?" Rafael kembali mengulang pertanyaan yang sama karena ia benar- benar tidak menyangkanya.
Nindy kembali mengangguk dengan senyum binar di bibirnya " Iya sayang, aku hamil. Kamu akan menjadi seorang ayah".
"Hah!" Tanpa di duga Rafael langsung meraih tubuh sang istri dan memeluknya erat sambil mengecup mesra.
"Ya Tuhan, terima kasih atas kado terindah yang telah engkau berikan" Lirihnya penuh haru.
Rafael tidak dapat menyembunyikan rasa harunya mendengar kabar kehamilan sang istri, kabar yang telah lama ia nanti- nantikan.
"Apa kamu bahagia?" Tanya Nindy sembari tersenyum bahagia di dalam pelukan sang suami.
"Ya, aku bahagia. Aku sangat bahagia" Sahut Rafael sembari melepaskan pelukannya dan langsung mencium perut datar Nindy serta mengusapnya lembut.
"Hello baby kesayangan papa, apa kabar sayang? Kamu baik- baik ya didalam perut mama. Jangan nakal- nakal ya".
Nindy tersenyum mendengar ucapan Rafael yang mengajak ngobrol babynya.
"Yeah. Aku akan menjadi papa, sayang".
"Terima kasih sayang. Terima kasih. Ini adalah kado terindah yang pernah aku terima".
"Kado terindah untuk kita berdua, sayang" Sahut Nindy.
"Iya, kado terindah untuk kita berdua" Balas Rafael.
Nindy melepaskan pelukannya lalu mengelus wajah Rafael lembut.
"Kapan kamu mengetahui jika kamu hamil?" Tanya Rafael.
"Tiga hari yang lalu, saat aku menyadari kalau aku sudah terlambat datang bulan sehabis pulang dari bulan madu kita ke Maldives" Jawabnya.
"Jadi baby ini hasil cetakan kita di Maldives?" Tanya Rafael penasaran.
"Ya, mungkin saja" Sahut Nindy yang tiba- tiba merona.
Mana mungkin Nindy tahu kapan cetakannya berhasil, toh bahkan sebelum bulan madupun suaminya tidak pernah absen untuk mencetak baby tiap malamnya.
"Hahahaha,,,! Aku sangat yakin jika baby ini adalah hasil cetakan kita di Maldives" Rafael tertawa girang saat mengingat perbuatannya yang mengurung istrinya di dalam kamar dan tidak membiarkan sang istri keluar saat liburan mereka di Maldives.
Nindy langsung merajuk jika mengingat kejadian itu, Rafael benar- benar membuktikan ucapannya yang akan mencetak baby setiap waktu tanpa mengizinkan dirinya menikmati liburan.
"Kita harus merayakannya, sayang" Ucap Rafael sembari mencari ponselnya.
"Aku akan mengumumkan kabar bahagia ini kepada semua orang" Rafael mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Ardi.
Tanpa menunggu lama panggilan telponnya tersambung dan Rafael langsung memberikan perintah untuk asistennya itu.
"Ardi, aku ingin kamu mempersiapkan pesta mewah untuk merayakan anniversary pernikahanku dan Nindy malam ini. Undang seluruh keluarga, rekan bisnis dan juga kolega kita, dan sekalian dengan wartawan. Aku akan menyampaikan pengumuman penting. Lakukan yang terbaik karena aku ingin pesta yang sangat meriah"
Klik.
Tanpa menunggu sahutan dari Ardi, Rafael langsung memutuskan panggilannya.
"Kamu akan membuat Ardi kelimpungan" Ucap Nindy sambil terkekeh mendengar perintah sang suami pada asistennya. Bagaimana tidak, Ardi di buat harus bekerja di saat orang- orang masih terlelap tidur.
__ADS_1
"Biarkan saja. Aku sudah membayarnya dengan mahal" Sahut Rafael.
Rafael kembali mengelus perut sang istri dan mengajak babynya bercanda.
"Biarin saja om Ardi kelimpungan ya sayang ya, karena mulai hari ini kita akan membuat om Ardi kerja ekstra, ok" Ucapnya pada baby di perut sang istri.
Nindy tertawa ngakak mendengar ucapan Rafael, sepertinya bapak dan anak ini akan menjadi pasangan yang kompak nantinya.
"Kamu boleh mengenjai Ardi sesukamu, tapi aku tidak mau jika Ardi yang memenuhi ngidamku. Aku hanya ingin kamu yang memenuhi ngidamku, ok".
Rafael mengangkat wajahnya mendengar kata ngidam.
"Kamu ngidam sayang?" Tanyanya.
Nindy mengangguk cepat.
"Iya, aku ingin nasi goreng" Ucapnya.
"Sekarang?" Tanya Rafael sembari melihat jam yang baru menunjukkan pukul lima subuh.
"Iya" Sahut Nindy.
"Tapi ini masih terlalu pagi sayang, belum ada restoran yang buka".
"Siapa bilang aku mau nasi goreng dari restoran!".
"Lalu!" Rafael tampak bingung.
"Aku mau nasi goreng buatan suamiku" Ucap Nindy.
"Hah! Nasi goreng buatanku!".
"Iya, nasi goreng buatan papa baby" Ucap Nindy lagi penuh harap.
"Tapi,,,,! Aku kan nggak bisa masak sayang" Sela Rafael.
Ekspresi Nindy seketika berubah.
"Jadi kamu nggak mau buatin aku nasi goreng" Rajuknya.
"Eh, bukan begitu sayang. Aku cuma,,,,!" Rafael tidak melanjutkan ucapannya karena wajah sang istri yang mulai sedih.
"Kamu nggak sayang lagi sama aku" Rajuknya lagi.
"Eh, tidak sayang. Eh, maksudku iya sayang. Eh, salah" Rafael menepuk mulutnya beberapa kali karena merasa jawabannya tidak tepat.
"Tuh kan, kamu udah nggak sayang lagi sama aku" Nindy mulai menangis.
"Aduh, kenapa jadi begini sih" Rafael kelimpungan menghadapi mood istri yang tiba- tiba berubah.
"Cup cup,,, sudah sudah. Sudah ya jangan nangis lagi. Sekarang aku buatin nasi goreng ya" Bujuknya.
"Benar!"
"Iya, aku akan buatkan nasi goreng" Ulang Rafael lagi.
"Benar ya!"
"Iya sayang, sekarang jangan nangis lagi ya".
"Ah, asyik" Mood Nindy seketika kembali berubah, ia langsung memeluk suaminya dan mengecup wajahnya dengan hati senang.
Sementara itu Rafael hanya bisa pasrah menghadapi mood istri yang bisa tiba- tiba berubah tidak menentu. Ini baru satu hari setelah istrinya memberitahukan kabar kehamilannya, bagaimana untuk sembilan bulan yang akan datang. Mampukah Rafael menghadapinya?
☆
.
.
__ADS_1