
Rafael menatap dirinya dari pantulan cermin, sebelah tangan terangkat keatas mengusap sudut bibir yang tampak terluka dan sedikit bengkak. Pertempuran bibir yang terjadi semalam ternyata meninggalkan sebuah kenangan yang tidak akan pernah di lupakannya, yaitu sebuah luka di bibirnya akibat perbuatan sang istri. Semalam Rafael benar- benar seperti orang yang sedang kesurupan, ia meluapkan segala rasa yang selama ini menyesakkan dada. Rasa sayang, rasa rindu, rasa cemburu serta rasa amarah menyeruak keluar menyatu menjadi satu.
Andai semalam Rafael tidak bisa mengendalikan nafsu dan gairahnya, mungkin saja malam tragedi itu akan terjadi. Namun ia patut bersyukur karena logikanya masih mampu menyelamatkannya hingga ia sadar atas semua perbuatannya dan menghentikannya sebelum terlambat. Jika tidak, ia tidak akan bisa membayangkan apa yang akan terjadi saat itu dan yang pasti Nindy akan semakin membencinya.
Rafael mengusap wajahnya dengan kasar saat mengingat perbuatannya kepada sang istri. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan semua perbuatannya itu, karena mereka adalah suami istri. Tapi Rafael tidak mungkin melakukannya di saat hubungannya dengan sang istri sedang tidak baik- baik saja, terlebih Nindy sendiri tidak mengizinkannya.
"Kenapa rasanya masih membekas hingga saat ini" Gumamnya sambil menyapu bibirnya sendiri.
"Bahkan sekarang aku ingin mengulanginya lagi".
Rafael menggelengkan kepalanya untuk membuang semua pikiran buruk yang memenuhi otaknya. Bagaimana mungkin ia bisa berpikir mesum terhadap istrinya sendiri.
"Shittt! Aku benar- benar sudah gila" Umpat.
"Kenapa aku begitu menginginkannya".
Munafik jika Rafael mengatakan jika ia tidak menginginkan istrinya saat ini. Ia adalah pria dewasa yang sudah pasti membutuhkan pasangan untuk menyalurkan hasratnya. Tapi sayangnya Rafael tidak bisa melakukannya karena hubungan pernikahannya berbeda dengan pernikahan orang lain.
Rafael masih sibuk memeriksa luka di bibirnya ketika ponselnya berdering. Ia melirik sekilas kemudian langsung meraih dan menjawab panggilan tersebut.
Telpon itu berasal dari pengawal yang sedang berjaga di loby apartemen.
"Ya!"
Seseorang di seberang sana sedang menyampaikan sebuah informasi penting padanya.
Rafael tersenyum sinis saat mendapat informasi jika kekasih sang istri sedang berada di loby apartemen.
"Jangan biarkan ia lolos. Tahan dia sampai aku keluar dari apartemen ini" Perintah Rafael pada pengawalnya.
Rafael menutup telponnya setelah memberikan perintah penting pada bawahannya.
"Kamu pikir aku akan membiarkanmu bertemu istriku dengan leluasa!"
"Heh! Tidak semudah itu".
Rafael melempar ponselnya ke atas ranjang dan bergegas memakai pakaiannya karena hari ini ia harus menghadiri pertemuan penting dengan para pemengang saham LJ Grup. Dan tentu saja pewaris sah LJ Grup akan ikut serta dalam pertemuan tersebut.
.
Sama seperti yang dilakukan oleh suaminya, Anin juga sedang berdiri di depan cermin dan menatap tubuhnya yang hanya di tutupi oleh selembar handuk. Anin terpaku di tempat saat melihat beberapa tanda merah terpampang nyata di leher dan di bawah dagunya. Ternyata perbuatan Rafael semalam meninggalkan banyak bekas dan juga kissmark di tubuhnya.
Anin mengusap tanda itu satu persatu dan seketika ingatannya kembali memutar semua kejadian yang terjadi semalam. Anin ingat saat Rafael membungkam bibirnya dengan ganas dan tanpa ampun, bahkan Ia ingat betul bagaimana suaminya itu mengukungnya diatas ranjang.
Berulang kali Anin mengusap dadanya, ia patut bersyukur karena Rafael tidak sampai bertindak melebihi batas.
"Kenapa kamu melakukan itu?" Lirihnya
"Kenapa kamu harus kembali di saat aku sudah? berhasil melupakan semua luka yang pernah kamu torehkan?"
"Apa kamu tahu, jika sikapmu saat ini semakin membuatku bingung".
"Kamu tidak menginginkanku dan juga tidak menginginkan pernikahan ini tapi kenapa kamu terus menjeratku dalam lingkaran ini".
"Kenapa kamu tidak membiarkan aku untuk hidup bebas dan lepas dari semua masa lalu? Kenapa kamu melakukan ini padaku?".
__ADS_1
Anin terisak, hatinya terasa begitu sakit saat mengingat hubungan pernikahan yang dulu dijalaninya.
Tes.
Tanpa di duga bulir air mata terjatuh, Anin mengangkat tangannya mengusap air mata yang mengalir dari pelupuk matanya, situasi ini sungguh membuatnya dilema.
"Aku harus bicara padanya".
"Aku ingin tahu apa maunya".
Anin meraih ponselnya berniat untuk menghubungi Rafael, tapi di saat yang bersamaan sebuah pesan masuk ke ponselnya dan nama 'mantan suami' muncul di layar itu.
"Bersiaplah. Lima belas menit lagi aku akan datang menjemputmu".
Anin membaca isi pesan itu berulang kali.
"Cihhh! Berani sekali dia memerintahku seperti itu tanpa rasa bersalah sedikitpun".
"Kamu pikir kamu siapa? Hah!" Maki Anin pada ponsel yang telah mati.
Anin menggeretakkan gigi dengan kesal.
"Aku tidak akan mau mengikuti perintahmu sebelum kamu meminta maaf padaku".
Anin kembali menatap lehernya yang penuh tanda merah.
"Apa yang harus aku lakukan dengan semua tanda merah ini?"
"Aku harus menutupinya pakai apa?".
Lima belas menit kemudian.
Sesuai dengan pesan yang di kirimnya, Rafael pun datang untuk menjemput sang istri. Jika ada yang bertanya bagaimana bisa Rafael datang secepat itu dalam waktu lima belas menit, maka jawabannya adalah karena Rafael bermalam di apartemen yang sama dengan Anin. Semalam Rafael tidak pulang kerumahnya dan memilih untuk bermalam di apartemen yang sama dengan sang istri dan di lantai yang sama tapi di unit yang berbeda.
Mungkin Anin tidak pernah menyadari jika selama ini dia hanya tinggal seorang diri di lantai itu tanpa ada tetangga di sekitarnya. Hal itu sesuai dengan perintah Rafael yang memang segaja meminta agar unit di sebelah sang istri di kosongkan untuk memudahkannya memantau istrinya itu. Dan kini salah satu dari dua unit apartemen yang kosong itu di tempati oleh dirinya sendiri.
Ting ting
Suara bel berbunyi pertanda seseorang yang sejak tadi di makinya telah datang. Anin tak bergeming, ia tetap duduk diam di sofa sambil menikmati sarapan paginya.
Ting ting
Bel kembali berbunyi dan Anin masih tetap pada pendiriannya yaitu tidak akan membukakan pintu untul suaminya itu. Rafael harus tahu jika ia sedang marahnya.
Suasana hening sesaat, suara bel sudah tidak terdengar lagi. Anin tersenyum lega karena ia berpikir jika Rafael menyerah dan akhirnya memutuskan untuk pergi. Namun ternyata dugaan Anin salah, Rafael tidaklah pergi justru ia memiliki cara lain untuk masuk kedalam apartemen sang istri meski tanpa sandi.
Klek
Pintu terbuka dan Rafael langsung menyelonong masuk. Sementara itu Anin terkejut saat melihat sang suami muncul di balik pintu.
"Kamu!"
"Bagaimana kamu bisa masuk?" Tanya Anin tidak percaya jika pintu apartemennya bisa di terobos dari luar.
"Tentu saja aku bisa. Apa kamu sudah lupa siapa suamimu ini" Sahut Rafael sambil melangkah mendekati sang istri.
__ADS_1
"Mungkin kamu belum tahu jika aku adalah pemilik apartemen ini, jadi aku memiliki akses untuk semua unit di apartemen ini".
Rafael menatap penampilan Anin yang sama sekali belum rapi, bahkan istrinya itu hanya menggunakan hoddie dan celana pendek selutut.
"Kenapa kamu belum bersiap- siap? Apa kamu tidak membaca pesan dariku?" Tanyanya lagi.
Anin membuang wajahnya tidak ingin menjawab pertanyaan dari suaminya.
"Kenapa diam? Jawab pertanyaanku".
Anin memutar wajahnya kembali menghadap Rafael.
"Apa jawabanku saat ini lebih penting untukmu dari pada masalah kita?"
"Bukankah seharusnya ada hal yang lebih penting untuk kita bicarakan".
Rafael tersenyum kecil.
"Kamu benar, memang ada banyak hal yang harus kita bicarakan terutama tentang kejadian semalam. Tapi sayangnya saat ini aku tidak punya banyak waktu untuk membahas masalah itu karena ada hal yang lebih penting yang harus kita selesaikan sekarang" Ucap Rafael.
"Hah! Jadi menurutmu kejadian semalam tidaklah penting?" Anin menatap Rafael tajam.
Rafael menghela nafas, sepertinya kali ini ia harus kembali memaksa sang istri agar menuruti perintahnya.
"Ganti pakaianmu sekarang juga" Perintahnya.
"Aku tidak mau dan kamu tidak bisa memaksaku" Balas Anin.
Rafael melangkah semakin mendekat.
"Aku bisa".
"Aku bisa memaksamu, bahkan jika perlu aku bisa membantumu untuk berganti pakaian".
"Apa itu yang kamu inginkan? Apa kamu ingin jika aku yang mengantikan pakaianmu?" Godanya.
Anin langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku beri waktu sepuluh menit. Segera ganti pakaianmu, jika tidak,,,,,"
"Maka aku yang akan mengganti pakaianmu".
Anin langsung berdiri dan menatap Rafael dengan tajam.
"Kamu,,,,!" Anin sudah tidak bisa berkata- kata. Kenapa sekarang ia menjadi begitu lemah jika berhadapan dengan suaminya itu.
"Turuti perintahku sayang. Kamu tidak mau jika aku memaksamu seperti semalam kan?".
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri" Anin bergegas pergi dan masuk kedalam kamarnya dengan mulut yang terus mengumpat suaminya.
Sementara itu Rafael menatap kepergian sang istri dengan hati yang di penuhi rasa bersalah.
Sebenarnya Rafael ingin meminta maaf kepada Anin atas perbuatannya semalam, tapi ia tidak bisa melakukan itu. Karena saat ini ia harus bersikap lebih tegas terhadap sang istri untuk menutupi kelemahannya. Rafael tidak mau Nindy mengetahui kelemahan seorang suami yang begitu takut kehilangan istrinya.
☆
__ADS_1