Sang Mantan

Sang Mantan
PERGI!


__ADS_3

Dua hari berlalu, dan selama beberapa hari itu pula Nindy belum juga bisa bertemu dengan Rafael bahkan hingga saat ini, Nindy sama sekali tidak mengetahui keberadaan sang suami. Berulang kali Nindy mencoba untuk menghubungi Rafael namun ia tidak mendapat jawaban dari suaminya itu.


"Sebenarnya kak Rafael kemana sih? Nggak biasanya menghilang sampai berhari- hari seperti ini?"


"Apa mungkin dia lagi punya masalah?".


Nindy terus memikirkan alasan kenapa suaminya menghilang tanpa ia ketahui keberadaannya.


"Apakah mungkin kak Rafael masih marah karena kejadian waktu itu? Tapi kenapa dia musti menghilang, dia kan bisa membicarakan masalah ini padaku".


Nindy mencoba menduga- duga, ia berpikir jika sang suami memang sengaja menghindarinya karena tidak biasanya Rafael bersikap seperti itu. Biasanya Rafael akan tetap memberi kabar padanya meskipun mereka tidak bertemu.


Nindy menggaruk rambutnya yang tidak gatal, ketika masalahnya dengan Haikal selesai kini ia harus kembali mendapat masalah baru dengan sang suami.


Tok tok


Ketukan dari balik pintu membuyarkan lamunannya, Nindy mencoba merapikan rambutnya kembali yang terlihat acak- acakan karena ulahnya sendiri.


"Masuk" Perintah Nindy setelah memastikan penampilannya rapi.


Pintu terbuka dan Ardi muncul dari balik pintu tersebut.


"Maaf bu, saya menganggu" Ucap Ardi sopan.


"Tidak apa- apa pak Ardi. Silahkan masuk" Jawab Nindy.


Ardi berjalan masuk dan langsung mendekati meja kerja Nindy.


"Apa apa pak Ardi?" Tanya Nindy.


Ardi terdiam sejenak, ia sedikit ragu untuk menyampaikan kabar yang baru saja di dapatnya.


"Ada apa? Kenapa anda diam? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Nindy mulai penasaran.


"Sebelumnya saya mau minta maaf bu, mungkin kabar yang akan saya sampaikan ini membuat ibu kecewa".


"Jangan bicara mutar- mutar seperti itu pak Ardi, katakan saja apa yang ingin pak Ardi katakan dan jangan membuat saya semakin penasaran" Ketus Nindy.


Ardi menarik nafas dalam- dalam


"Tadi pagi saya mendapat kabar jika pak Rafael telah mengalihkan kepemilikan LJ Grup kepada bu Nindy" Ucap Ardi pelan.


"Apa!" Nindy tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


'Mengalihkan kepemilikan' apakah itu artinya kak Rafael! Nindy menggelengkan kepalanya, ia berusaha menepis pikiran buruk yang tiba- tiba muncul diotaknya.


"Kamu bilang apa tadi?" Tanyanya lagi ingin memastikan.


"Pak Rafael telah mengalihkan semua aset dan kepemilikan LJ Grup nya atas nama bu Nindy" Ucap Ardi lebih lantang dari sebelumnya.


Nindy terpaku, ia tidak tahu harus bagaimana menanggapi masalah ini.


"Mengalihkan! Maksudmu pak Rafael menyerahkan semuanya padaku?" Nindy bertanya dengan nada suara yang bergetar.


"Iya bu" Sahut Ardi.


"Pak Rafael telah mengembalikan semua hak dan milik bu Nindy yang selama ini beliau pinjam, beliau mengembalikannya secara utuh tanpa ada yang kurang sedikitpun" Ucap Ardi lagi.

__ADS_1


Nindy terdiam, ia sungguh tidak pernah menduga jika Rafael akan melakukan semua ini. Selama beberapa hari menghilang, tiba- tiba dia muncul dengan kabar yang begitu mengejutkan. Kedua tangannya terkepal kuat, ia begitu marah saat mengetahui semuanya.


"Apa maksud dari semua ini? Kenapa dia melakukan ini padaku?" Sentak Nindy dengan emosi hingga membuat Ardi terkejut.


"Jadi dia menghilang selama beberapa hari ini untuk mengurus masalah ini! Dia lebih memilih mengurus masalah yang tidak penting ini dari pada masalah kami berdua".


Nafas Nindy memburu, ia terlihat begitu marah.


"Lantas di mana pak Rafael saat ini? Kenapa dia harus mengembalikan semua ini melalui kamu bukan oleh dirinya sendiri? Memangnya kemana dia? Kemana perginya laki- laki bereng*** itu?" Tanya Nindy dengan penuh amarah.


Ardi terkejut melihat reaksi nona muda yang di luar prediksinya. Ardi tidak pernah menyangka jika di balik sikap manis dan ramah yang selama ini di perlihatkan Nindy ternyata menyimpan sosok yang berbeda.


"Dimana laki- laki itu?" Tanya Nindy lagi.


"Maaf bu, pak Rafael telah pergi" Jawab Ardi pealn.


"Pergi?" Nindy mengulang ucapan Ardi.


"Apa maksud kamu dengan mengatakan jika dia telah pergi?" Tanyanya lagi.


"Dia pergi! Pergi kemana? Kenapa dia pergi? Jawab aku, Ardi!" Sangking marahnya hingga Nindy tidak sadar jika ia memanggil Ardi tanpa embel- embel pak.


"Maafkan saya bu, saya sendiri tidak tahu kemana pak Rafael pergi. Tadi pak Rafael datang kekantor pagi- pagi sekali untuk mengambil barang- barangnya dan sekaligus pamit pada saya, bu. Setelah beliau menitipkan semua berkas ini untuk di berikan kepada bu Nindy" Ucap Ardi lagi.


Ardi meletakkan semua berkas yang di bawanya keatas meja Nindy.


Jleb! Nindy merasakan seolah ada benda besar menghantam jantungnya saat melihat tumpukan berkas- berkas itu. Kenapa rasanya sesakit ini saat mengetahui Rafael pergi.


"Pak Rafael juga menitipkan ini pada saya" Ardi memberikan sebuah amplop berwarna putih kepada Nindy.


Nindy menatap amplop putih di tangan Atdi dengan tajam, dengan cepat ia mengambil amplop itu dan langsung membukanya. Ada selembar kertas yang terdapat di dalam amplop itu, dan Nindy tahu jika itu adalah selembar surat.


"Hai Anindya Maharani


Bocah kecil yang kini telah tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik, manis dan juga tinggi


Akhirnya kita bertemu lagi setelah terpisah cukup lama. Harus ku akui jika aku langsung jatuh cinta padamu saat pertama kali melihatmu kembali.


Aku memanglah laki- laki bodoh


Aku bodoh karena pernah menyia- nyiakan bocah kecil yang mencintaiku dengan begitu tulus.


Bocah kecil yang dulu aku anggap adalah sumber dari semua masalah yang menimpa keluargaku, *t*api aku ternyata salah besar. Ternyata bocah kecil itu bukanlah sumber masalah tapi justru sumber kebahagiaan yang pernah Tuhan kirimkan untukku.


Maafkan aku karena telah menyakitimu.


Akhirnya aku harus mengaku kalah


Aku harus mengaku kalah dari laki- laki itu


Ternyata dia lebih pantas untuk berada di sisimu di bandingkan aku. Dia lebih mampu untuk mengukirkan senyum di bibirmu di bandingkan aku yang hanya selalu memberikan luka di hatimu. Terima kasih atas kesempatan yang telah kamu berikan padaku, meski pada akhirnya aku tetap gagal untuk mendapatkan kamu kembali.


Nindy


Aku telah mengembalikan semuanya


Aku telah mengembalikan apa yang telah papamu titipkan pada papaku

__ADS_1


Dan kini aku juga mengembalikan apa yang pernah kamu titipkan padaku


Pada akhirnya aku sadar jika sejak awal semuanya hanyalah titipan


Titipan dari papamu kepada papaku


dan titipan darimu kepada diriku


Terima kasih atas kepercayaan yang telah kamu berikan selama ini dan maaf atas semua kesalahanku


Aku sudah mengabulkan gugatan cerai yang pernah kamu ajukan dulu dan aku juga sudah menanda tangani surat perceraian itu. Mungkin sebentar lagi pak Rudi akan menghubungimu.


Kini kamu telah bebas karena aku telah melepaskanmu. Aku harap kamu bisa hidup bahagia dengan laki- laki yang kamu cintai dan mencintaimu dengan tulus


Selamat tinggal


Ex Suami- mu


Tes


Setetes air mata jatuh tepat di atas kertas surat berwarna putih itu. Nindy tidak bisa membendung air matanya setelah membaca isi surat yang Rafael berikan untuknya.


"Dasar bodoh" Umpatnya dengan lantang sambil mengumpalkan surat yang di berikan oleh Rafael hingga menjadi gumpalan kecil dan melemparnya secara sembarangan.


Ardi ikut terkejut saat melihat reaksi Nindy yang terlihat sungguh berbeda dari biasanya.


"Jadi kamu menghilang selama beberapa hari hanya untuk mengurusi semua ini. Ternyata kamu sudah merencanakan semua ini selama beberapa hari ini".


"Dasar baji ngan!" Umpatnya.


"Kenapa kamu tidak pernah bilang padaku setiap kali kamu mengambil keputusan. Kenapa kamu selalu mengambil keputusan tanpa membicarakannya terlebih dahulu padaku".


Nindy mengusap sudut matanya, kemudian menatap Ardi yang sejak tadi berdiri di hadapannya.


"Sekarang aku punya wewenang untuk memberikan perintahkan?" Tanya Nindy.


Ardi mengangguk.


"Iya bu, perintah anda adalah tanggung jawab kami" Jawab Ardi mantap.


"Baiklah, kalau begitu aku ingin memberikan sebuah tugas padamu".


"Aku ingin kamu mencari keberadaan pak Rafael" Ucapnya.


"Lalukan apapun, dan temukan laki- laki itu sekarang juga" Titah Nindy pada Ardi.


"Baik bu. Saya akan segera melaksanakannya" Sahut Ardi.


Ardi memutuskan untuk pamit dan bergegas menjalankan titah dari nona mudanya itu.


Nindy menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sambil menatap tumpukan berkas yang Ardi berikan tadi, kemudian ia mengingat sesuatu. Nindy mengambil ponselnya dan melakukan panggilan.


"Hallo paman!"


"Saya ingin bertemu sekarang juga".


Sebuah keputusan telah Nindy ambil, dan ia berharap jika keputusannya kali ini tidak salah.

__ADS_1


"Sekarang, atau tidak selamanya".



__ADS_2