
Mobil mewah berwarna hitam terparkir sempurna di halaman depan sebuah rumah besar yang megah. Tidak berselang lama kemudian, tampak sepasang suami istri turun dari dalam mobil tersebut dengan penampilan yang terlihat begitu rapi dan elegan. Keduanya saling bergandengan tangan sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam rumah. Dan kedatangan mereka langsung mendapatkan sambutan hangat dari sang pemilik rumah.
Tante Yuni yang mengetahui kedatangan Rafael bersama Nindy langsung melangkah keluar untuk menyambut tamu spesial yang sudah lama di tunggu- tunggu.
"Kalian sudah sampai" Tante Yuni menyambut kedatangan putra dan menantunya dengan ramah.
"Iya mam, kami baru sampai" Sahut Rafael sembari meraih tangan tante Yuni dan menciumnya.
Setelah Rafael bersalaman dengan tante Yuni, Nindy juga melakukan hal yang sama.
"Selamat datang di rumah mami" Ucap tante Yuni pada Rafael dan Nindy.
"Terima kasih mam" Balas Rafael dan Nindy bersamaan.
Tante Yuni tersenyum, beliau begitu senang karena akhirnya Rafael bersedia datang kerumahnya. Dan ada satu hal lagi yang membuat tante Yuni merasa sangat bahagia Yaitu panggilan yang Rafael sematkan padanya. Setelah hubungan keluarga Hutama dan Mahendra berbaikan, Rafael memutuskan memanggil tante Yuni dengan panggilan mami sama seperti yang di lakukan Yuda dan Yuri.
Tidak ingin membuat putra dan menantunya berdiri terlalu lama, tante Yuni langsung meraih tangan Nindy lalu merangkulnya sembari berkata
"Ayo sayang, kita masuk kedalam" Ucap tante Yuni yang langsung mendapatkan anggukan dari Nindy dan juga Rafael.
Tante Yuni menggandeng tangan Nindy sementara Rafael mengikuti mereka dari belakang. Tanpa di duga ternyata bu Linda sudah lebih dulu sampai dan sedang menunggu kedatangan mereka di dalam rumah, hal itu membuat Rafael dan Nindy terkejut. Mereka tidak menyangka jika ibunya sudah sampai lebih dulu di bandingkan mereka.
"Mama sudah sampai" Tanya Rafael saat melihat ibunya yang sedang asyik menyiapkan makanan diatas meja makan.
"Iya sayang, mama sengaja datang lebih awal untuk membantu Yuni menyiapkan makan malam" Sahut bu Linda.
"Bukan hanya menyiapkan saja Raf, tapi mamamu juga ikut membantu mami masak di dapur" Sela tante Yuni.
"Benarkah?" Rafael sungguh tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya, sepertinya hubungan mama Linda dan mami Yuni sudah semakin membaik, pikirnya.
Bu Linda tersenyum sembari mengangguk pelan
"Tentu saja sayang, mama mau menunjukkan pada mamimu kalau masakan mama jauh lebih enak dari pada masakannya" Ucap bu Linda sembari melirik tante Yuni.
Dan seketika tante Yuni langsung tertawa mendengarnya.
"Iya iya, masakan mbak Linda memang jauh lebih lezat dari pada masakanku" Puji tante Yuni sembari mendekati bu Linda.
"Lain kali mbak harus sering- sering datang kemari untuk memasakan makanan yang lezat, karena aku pasti akan ketagihan dengan masakan mbak" Sambungnya lagi.
"Oh kalau itu kamu tidak perlu khawatir, mbak dengan senang hati akan memasak makanan yang enak untukmu. Bahkan kalau perlu kamu bisa tinggal di rumah mbak agar kamu bisa menikmati masakan mbak setiap hari" Ucap bu Linda.
"Wah, itu ide yang bagus" Seru tante Yuni kegirangan.
Keduanya tertawa bersama karena merasa jika mereka sudah sefrekuensi. Sementara itu Rafael dan Nindy saling berpandangan sambil tersenyum, mereka senang melihat kedekatan bu Linda dan tante Yuni yang semakin hari menjadi semakin lengket.
"Sayang, sebaiknya kita pulang saja deh, sepertinya kehadiran kita tidak di butuhkan disini" Ucap Rafael pada istrinya.
"Iya sayang, Kamu benar. Kita seperti nyamuk yang tidak dianggap" Sambung Nindy.
Tawa bu Linda dan tante Yuni langsung senyap mendengar ucapan Rafael dan Nindy.
"Kalian bicara apa sih, jangan mulai lagi deh" Protes bu Linda pada putranya.
__ADS_1
"Sudah mbak, jangan di marahi. Kan kasihan. Lagi pula mereka hanya iri pada kita" Sahut tante Yuni.
"Iya, kamu benar. Mereka hanya iri pada kebahagiaan kita" sambung bu Linda.
Dan tanpa menghiraukan Rafael dan Nindy lagi, keduanya melangkah pergi menuju dapur dengan suara tawa yang masih terdengar. Sementara itu Rafael hanya bisa menghela nafas, sekian lama menjadi anak kesayangan baru kali ini ibunya mengacuhkan dirinya.
"Mereka lucu ya sayang" Ucap Nindy.
"Iya, lucu dan aneh. Siapa yang akan menyangka jika mama dan mami akan menjadi bestie" Sahut Rafael.
"Kenapa mereka tidak berbaikan saja dari dulu jika ternyata mereka bisa sekompak itu" Ketus Rafael yang sedikit kesal.
Nindy tertawa mendengar protes sang suami.
"Sudah sayang, tidak apa- apa. Biarkan mama dan mami menikmati masa- masa kebahagian mereka untuk saat ini. Lagi pula sudah terlalu lama mama dan mami hidup sendiri sehingga mereka begitu bahagia saat menemukan orang yang cocok dan sefrekuensi".
Rafael menatap Nindy dengan mata sendu.
"Kamu jangan seperti itu ya sayang. Kamu jangan pernah mengacuhkanku meski nanti setelah kita punya baby. Aku mau kamu selalu ada dan tetap ada untuk ku, dan hanya untuk ku" Pinta Rafael.
Nindy membalas ucapan sang suami dengan senyum manis.
"Tentu saja sayang. Aku milikmu dan akan tetap menjadi milikmu hingga kita menua bersama".
Rafael membalas senyuman Nindy, lalu perlahan meraih tubuh sang istri kemudian memeluknya dengan mesra sembari mengecup kening dan pipinya. Rasanya tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain berada di dalam pelukan sang istri tercinta. Rafael melepaskan pelukannya dan perlahan mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir istrinya, namun niatnya harus gagal saat sebuah suara merusak moment romantis itu.
"Ehem,,,!"
Nindy dan Rafael jadi salah tingkah, mereka tidak menduga jika Yuda akan memergoki mereka.
"Kalau kalian butuh kamar, kalian bisa pakai kamarku. Tuh yang pintunya berwarna hitam" Tunjuk Yuda pada kamarnya yang terletak di lantai atas.
"Sialan lu" Sela Rafael kesal.
"Gua nggak butuh kamar. Kalau gua mau, gua bisa melakukannya disini" Balasnya lagi.
"Hah!" Yuda kaget mendengar jawaban Rafael.
"Serius! Lu yakin mau melakukannya disini?" Tanyanya.
"Iya, kenapa? Lu mau lihat".
Belum sempat Yuda membuka mulutnya untuk membalas ucapan Rafael, ia di buat terkejut saat melihat Rafael menarik pinggang Nindy mendekat dan tanpa basa- basi langsung mencium bibir istrinya tepat di hadapan Yuda.
Refleks Yuda langsung menutup matanya dengan tangan sambil mengumpat kesal
"Sialan, beren**ek lu".
Nindy mencoba untuk melepaskan diri dan menghentikan aksi Rafael dengan memukul dadanya namun Rafael tidak bergeming, ia masih ingin menikmati bibir lembut yang sudah membuatnya kecanduan. Sudah kepalang basah jadi sekalian mandi saja, pikir Rafeal.
"Rafael!" Suara teriakan bu Linda membuat Rafael menyudahi aksinya.
"Apa- apaan kamu ini" Bu Linda menghampiri Rafael dan Nindy.
__ADS_1
"Apa kamu sudah begitu kebelet hingga tidak bisa melihat tempat. Apa kamu tidak sadar saat ini kamu sedang berada dimana. Apa kamu tidak malu sama Yuda" Bu Linda memukul lengan Rafael beberapa kali.
Yuda tertawa puas melihat Rafael di marahi oleh mamanya.
"Hahaha,,,, Pukul terus ma, Rafael memang nggak tahu tempat dan tidak ada malu- malunya" Kompor Yuda.
"Kalau kalian begitu ingin, kalian bisa pergi kekamarkan. Dirumah ini ada banyak kamar dan kalian bisa pilih kamar mana yang kalian suka. Ya kan Yun!" Bu Linda meminta persetujuan dari tante Yuni dan tante Yuni langsung mengangguk.
"Iya" Sahut tante Yuni.
"Ma, jangan salah paham dulu. Rafael nggak ada niat yang aneh- aneh kok. Lagi pula apa salahnya jika Rafa mencium Nindy, toh Nindy adalah istri Rafa sendirikan" Sela Rafael.
"Justru yang salah itu adalah Yuda, ngapain dia lihatin orang yang lagi ciuman" Kilah Rafael tidak mau mengalah.
"Loh kok jadi gua yang salah sih" Protes Yuda.
"Memang kamu yang salah, ngapain kamu lihatin Rafael dan Nindy ciuman. Nanti kalau kamu mau, gimana?" Sela tante Yuni.
"Mam! Kok mami jadi belain Rafael sih. Di sini, aku adalah korbannya" Yuda kembali protes.
"Korban! Korban apa? Sudah tahu Rafael dan Nindy sedang bermesraan, ngapain kamu gangguin mereka" Balas tante Yuni.
Kali ini giliran Rafael yang tertawa melihat tante Yuni memarahi Yuda.
"Kalian juga salah" Ucap Tante Yuni sambil melihat Rafael dan Nindy.
Tawa Rafael seketika menguap, ia langsung menutup mulutnya namun masih bisa terdengar suara tawanya yang tertahan.
"Apa kalian tidak kasihan melihat Yuda yang hingga saat ini hanya menjadi penonton. Nanti kalau dia pengin gimana? Kan kasihan karena dia tidak bisa mempratekkannya langsung. Kalian kan tahu jika Yuda jomblo akut".
Ucapan tante Yuni seketika membuat Rafael, Nindy dan bu Linda tertawa girang. Siapa yang akan percaya jika tante Yuni bisa berkata seperti itu tentang putranya.
"Mami!" Protes Yuda.
Yuda tampak kesal karena dirinya di jadikan bahan olok- olokan oleh mami dan keluarga barunya.
"Selamat malam semuanya".
Semua orang langsung terdiam saat mendengar sebuah suara dan refleks mereka segera berbalik badan untuk melihat kearah suara yang baru saja terdengar. Dan mereka kembali di buat terkejut saat melihat dua orang yang sedang berdiri di hadapan mereka sambil saling melempar senyum dan bergandengan tangan.
"Dia!"
"Mas Haikal!"
☆
Lah, ngapain Haikal disana?
Kira- kira ada hubungan apa Haikal dengan keluarga Hutama?
Author jadi pinisirin,,,!
Kalian pinisirin juga nggak???
__ADS_1