
"Maya ... Sayang ..." kataku teriak mamanggil Maya yang pergi dengan menangis.
Maya tetap berlari. Tak mendengar panggilanku.
"Mamah lihat? Maya jadi korban Mah. Mamah kenapa jahat banget sih?"
Aku mengejarnya. Melewati Mama Renata yang berdiri di hadapanku. Ku susul Maya yang berlari menuju kamarnya.
"Maya ..." kataku teriak lagi.
"Bruuugggg" suara pintu yang ditutup kencang.
Aku mendekatkan wajahku ke daun pintu. Mencoba bicara dengan Maya.
"Sayang ... Kamu jangan begini. Buka. Bunda mau bicara!"
Kutunggu. Pintu tak juga dibuka. Aku tak sabar.
"Tok tok tok" ku ketuk pintu kamar Maya.
"Maya ... Bunda mohon. Buka ya, Sayang."
Lagi. Ku tunggu beberapa saat. Tapi tetap, tak dibuka. Maya tak mau menemuiku. Ku langkahkan kaki untuk kembali ke kamar.
"Ceklek" suara pintu dibuka kudengar.
Kuhentikan langkahku. Aku menoleh. Maya berdiri di pintu.
"Maya?" kataku dengan berjalan menghampirinya.
Ku peluk tubuhnya yang mungil. Sakit ... sekali rasanya. Melihat Maya menangis seperti ini. Aku menuntunnya untuk mengikutiku masuk ke kamarnya. Ku dudukkan Ia di ranjang berseprai hellokitty.
"Bunda. Apa betul semua yang di omongin Nenek? Apa betul Bunda sama Ayah mau pisah?" kata Maya dengan tatapan mata yang penuh harap padaku.
Aku tak sanggup melihat tatapannya. Maya masih terlalu kecil untuk bisa mengerti dengan keadaan ini. Yang di inginkan setiap anak, sudah pasti keluarga yang utuh. Sementara barusan, Ia dikejutkan dengan masalah yang seharusnya tidak Ia ketahui.
"Maya ... Kamu nggak usah dengerin apa kata Nenek, ya. Nenek cuma lagi marah sama Bunda. Makanya Nenek ngomong begitu." kataku yang membalas hangat tatapannya.
__ADS_1
Ku pegang tangannya yang dingin tapi berkeringat. Ku genggam erat. Maya menangis lagi.
"Bunda nggak usah bohong. Aku tau, Bun. Nenek mau pisahin Ayah sama Bunda. Nenek juga mau pisahin Aku sama Bunda. Nenek jahat, Bun! huhuhuhuhu ..." kata Maya sambil menangis.
Ku peluk lagi Maya. Aku tak ingin bicara apapun lagi. Aku tak ingin Maya semakin terlarut dalam masalah ini. Semakin Aku terus bicara, pikirannya akan semakin terus terseret. Ku peluk Maya semakin erat.
Lama Aku dan Maya terdiam. Ku pikir Maya tertidur di pelukanku. Tapi ternyata Dia hanya berusaha menenangkan hatinya.
"Aku sayang sama Bunda. Bunda jangan tinggalin Aku ya, Bun." katanya lirih.
"Iya, Sayang. Bunda janji akan terus bersama Maya. Bunda nggak akan ngebiarin siapapun pisahin Kita. Bunda janji!"
"Aku juga janji. Nggak akan ninggalin Bunda. Aku mau sama Bunda terus. Aku nggak mau jauh dari Bunda."
Kuciumi wajah Maya yang basah dengan airmata.
'Bunda akan berjuang. Demi Kamu nak.'
*****
Di kursi sebuah taman yang selalu Aku datangi tiap akhir pekan dengan Vino dan Maya, Aku tertunduk memainkan ponsel. Sesekali Kulihat sekitar. Belum datang.
Aku menunggu seseorang. Seseorang yang dulu selalu jadi penghibur dan penolongku saat sedang terpuruk. Tapi saat ini Dia begitu keji di mataku. Buruk. Sangat Buruk. Rasanya ingin sekali Kutendang wajahnya saat Dia muncul nanti di depanku. Rasa kecewa dan marahku sudah tak bisa di redam.
"Sory telat, Sya. Ada urusan ngedadak tadi. Ini aja Gue ngebut. Demi Lo nih Sya. Biar bisa sampe ke sini sebelum Lo pergi." kata Dimas yang masih sama seperti dulu.
'Apa-apaan Dia? Bikin muak. Serigala berbulu domba!' umpatku dalam hati.
"Dih. Diem aja. Ada masalah apa lagi sih? Sinis amat liat Gue nya."
"Cukup, Dim! Udah basa-basinya! Nggak usah sok baik dan perhatian sama Gue! Munafik!"
Aku benar-benar muak dengannya. Muak dengan kenyataan bahwa orang yang Ku percaya, sahabatku, justru menghianatiku. Ku lihat, Dimas hanya menganga dengar kata-kataku.
"Maksud Lo apa sih, Sya? Sok baik? Munafik? Ini maksudnya apa? Serius Gue nggak paham!"
"Gue yang nggak paham sama jalan pikiran Lo, Dim. Nggak usah belaga Sok nggak tau apa-apa!"
__ADS_1
"Sya. Serius Gue, Sya. Gue beneran nggak ngerti apa yang Lo maksud. Sumpah, Gue nggak ngerti!"
Dimas semakin membuatku Muak.
'Dasar serigala!' umpatku yang sudah mencapai puncak emosi.
Ku ambilkan selembar kertas terlipat di tas kecil yang sengaja Ku bawa untuknya.
"Nih!" kataku menyodorkannya kertas.
Dimas membuka lipatan kertas yang Ku berikan. Mulai membacanya.
"Masih mau bilang nggak paham?" kataku lagi.
Dimas menggaruk kepalanya. Ia seperti baru tahu soal kertas yang Kutunjukkan. Raut wajahnya terlihat bingung.
"Astaga Sya. Ini apaan? Lo serius sama yang Lo tandatanganin? Kenapa bisa Lo bikin surat perjanjian kaya gini?"
"Kan Lo yang nyuruh Gue tandatangan. Nggak salah? Malah nanya Gue!"
"Gue? Nyuruh Lo? ini apa sih. Nggak ngerti Gue jadinya."
Dimas masih saja berkilah. Masih berpura-pura, seolah Ia tak tau hal ini.
"Parah Lo ya, Dim. Udah kaya gini masih aja pura-pura nggak tau. Lo anggep Gue bodoh? Wanita bodoh yang mau-maunya percaya penuh sama Laki-laki yang mengaku sahabatnya. Iya?"
"Ya Allah Sya. Gue beneran Nggak tau apa-apa soal ini. Gue juga bingung kenapa bisa ada surat perjanjian ini yang Lo tandatanganin. Gue Nggak tau! Percaya, Sya. Lo tau Gue!"
"Justru karena Gue tau Lo. Gue kecewa! Lo sahabat Gue, Dim. Sepenuhnya Gue percaya. Tapi apa?"
"Sya. Lo harus percaya sama Gue. Nggak mungkin Gue ngelakuin semua ini. Ngeliat Lo sedih aja, hati Gue terpukul. Apalagi misahin Lo sama anak Lo."
"Oke. Kasih alesan buat Gue percaya sama Lo!"
Ku hentak Dada Dimas dengan tanganku, seakan mendorongnya. Tiba-tiba Dimas memegang erat tanganku, menghentikan hentakkanku. Matanya yang sendu. Mambuat siapapun yang memandang seperti terhipnotis masuk ke dalam. Ku alihkan wajahku segera.
"Gue sayang sama Lo, Sya. Gue cinta sama Lo! Nggak mungkin Gue lakuin hal jahat itu sama Lo."
__ADS_1
'Blaammm' hatiku seperti disambar petir.
Aku tertegun sejenak. Kata-kata Dimas barusan terngiang di telingaku. Berulang-ulang.