Sang Mantan

Sang Mantan
GUGATAN KEDUA


__ADS_3

Tok tok tok


"Masuk" Sahut Rafael dari balik pintu.


Pintu terbuka dan Diana muncul dari balik pintu itu. Diana adalah sekretaris Rafael.


"Maaf pak Rafael, ada pak Rudi yang ingin bertemu anda" Ucap Diana.


"Pak Rudi" Gumam Rafael.


"Baiklah. Persilahkan pak Rudi masuk dan buatkan teh untuk beliau" Perintah Rafael.


"Baik pak" Sahut Diana.


Diana keluar dari ruangan Rafael dan tidak lama kemudian pak Rudi tampak muncul dari balik pintu yang di tinggalkan oleh Diana tadi.


"Pak Rudi!" Rafael bangun dari kursinya kemudian menyambut kedatangan pak Rudi.


"Apa kabar tuan muda?" Tanya pak Rudi sambil mengulurkan tangannya.


"Baik pak" Jawab Rafael menyambut uluran tangan pak Rudi.


"Silahkan duduk" Ucap Rafael.


"Terima kasih" Balas pak Rudi.


Keduanya pun duduk bersama dan saling berhadapan.


"Tuan muda sedang sibuk?" Tanya pak Rudi mengawali katanya.


"Tidak pak. Hanya kesibukan biasa dan masih sewajarnya" Jawab Rafael.


Pak Rudi menatap Rafael dengan seksama dan beliau dapat melihat jika keadaan tuan muda yang sedang duduk di hadapannya itu sedang tidak baik- baik saja.


"Tuan muda baik- baik saja?" Tanya pak Rudi lagi


Rafael tersenyum.


"Seperti yang bapak lihat, saya baik- baik saja" Dustanya.


Tentu saja Rafael berdusta, karena keadaannya memang tidaklah baik- baik saja. Tapi begitulah Rafael, ia begitu pandai menyembunyikan perasaannya hingga tidak ada satu orang pun yang dapat menebak isi hatinya. Baginya, semua masalah dan luka yang di rasakannya cukup dirinya saja yang tahu dan orang lain tidak perlu mengetahuinya. Rafael harus tetap menjaga wibawanya sebagai seorang pimpinan agar para musuhnya tidak dapat menjatuhkan kepemimpinannya meski ia harus membohongi hati dan juga perasaannya.


"Ada angin apa yang membuat pak Rudi datang kemari?"


"Apa ada sesuatu yang sangat penting?" Tanya Rafael.


Bukan tanpa alasan Rafael bertanya seperti itu, karena sekarang pak Rudi memang bukan asisten pribadinya lagi. Tiga tahun yang lalu pak Rudi memilih untuk mengundurkan diri sebagai asisten pribadi Rafael di karenakan kondisi kesehatannya yang mulai menurun. Namun meskipun begitu, hingga saat ini pak Rudi masih menjadi penasehat hukum LJ Grup dan beliau hanya datang di waktu rapat- rapat penting saja.


Pak Rudi menarik nafas dalam- dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Beliau belum menemukan kata yang tepat untuk menyampaikan maksud kedatangannya menemui Rafael.


Melihat pak Rudi yang masih terdiam, membuat Rafael semakin penasaran dengan maksud dari kedatangan mantan asisten pribadinya itu.


"Sebenarnya ada apa pak?" Rafael kembali mengulang pertanyaannya.


Pak Rudi menatap Rafael.


"Sebelumnya saya mau minta maaf jika kedatangan saya telah mengganggu waktu anda tuan muda"

__ADS_1


"Maksud kedatangan saya kemari adalah ingin menyampaikan pesan yang di titipkan oleh nona Nindy kepada saya" Ucap pak Rudi.


"Bapak sudah bertemu dengan Nindy?" Tanya Rafael.


"Iya tuan. Nona Nindy meminta saya untuk bertemu dengannya".


Rafael terdiam dan perasaannya mulai tidak nyaman, ia khawatir jika Nindy meminta sesuatu kepada pak Rudi, sesuatu yang sejak kemarin terus menghantui pikirannya.


"Nona Nindy ingin melanjutkan gugatan cerai yang pernah tertunda tujuh tahun yang lalu, tuan muda" Ucap pak Rudi hati- hati.


"Hah!"


Seketika Rafael membeku. Apa yang ia takutkan kini akhirnya terjadi.


"Nindy ingin melanjutkan proses perceraian kami?" Ulang Rafael seolah tidak percaya.


"Maaf tuan muda. Saya gagal untuk meyakinkan nona Nindy" Sesal pak Rudi.


Rafael menjatuhkan tubuhnya ke sandaran sofa sambil mengusap wajahnya. Sungguh bukan ini maunya. Rafael sungguh tidak ingin bercerai dari sang istri.


"Saya sudah mencoba membujuk nona Nindy agar memikirkan kembali keinginannya itu, tapi sepertinya tekad non Nindy sudah bulat tuan. Non Nindy benar- benar ingin bercerai".


Suasana hening sesaat, baik Rafael maupun pak Rudi, tidak ada seorangpun yang bersuara.


"Apa tuan muda akan mengabulkan permintaan nona Nindy?" Tanya pak Rudi akhirnya.


Rafael mengangkat wajahnya dan menatap pak Rudi seraya berucap:


"Bolehkah saya mengajukan sebuah permintaan?" Rafael balik bertanya.


"Bisakah pak Rudi menunda gugatan yang diajukan oleh Nindy?".


"Saya ingin mempertahankan pernikahan ini pak, maka dari itu tolong tunda gugatan itu untuk sementara waktu".


"Saya mohon pak, tolong bantu saya" Pinta Rafael penuh harap.


Pak Rudi membalas tatapan tuan muda yang tampak sedang putus asa itu. Melihat tekadnya, beliau bisa langsung tahu jika tuan mudanya itu memiliki perasaan khusus terhadap nona Nindy. Perasaan yang menurutnya lebih dari sekedar rasa tanggung jawab atas amanah yang di titipkan tuan besar kepada putra bungsunya itu.


.


Anin meraih tas selempangnya dan bergegas keluar dari kamar, ia berniat untuk pergi keluar guna bertemu dengan Indah dan Bram. Setelah dua hari absen dari pekerjaannya, hari ini Anin berencana untuk membahas tugas kantor bersama dengan anggota timnya.


Klek


Anin membuka pintu apartemen, namun seketika ia terkejut saat melihat seorang pria yang sedang berdiri tepat di hadapannya dan tersenyum manis padanya.


"Mas Haikal!" Seru Anin.


"Hai! Apa kabar sayang, maaf aku baru bisa mengunjungimu hari ini".


Haikal langsung memeluk kekasihnya dengan erat untuk melepas rasa rindunya.


Setelah meluapkan rasa rindunya, Haikal melepaskan pelukannya kembali kemudian menatap Anin yang terlihat masih terkejut itu.


"Kamu tidak kangen sama aku?" Tanya Haikal.


"Eh, ya. Kangen, aku juga kangen sama mas Haikal" Balas Anin terbata- bata.

__ADS_1


"Benarkah?" Haikal seolah tidak percaya.


"Tapi sepertinya kamu tidak suka dengan kedatanganku" Goda Haikal.


Anin mencoba mengendalikan diri dan kembali fokus, ia memang merindukan Haikal tapi entah mengapa ia merasa belum siap untuk bertemu dengan kekasihnya itu. Masalahnya dengan sang mantan suami belum juga selesai hingga saat ini, dan kini bagaimana caranya ia menjelaskan situasi saat ini kepada Haikal.


Anin berusaha tersenyum untuk menutupi rasa gugupnya.


"Aku senang melihat mas Haikal datang kemari" Ujar Anin kemudian.


Haikal tersenyum, ia senang melihat calon istrinya baik- baik saja.


"Kamu tidak mengajakku untuk masuk?" Ucap Haikal.


"Eh maaf, aku lupa".


"Silahkan masuk mas" Balas Anin mempersilahkan Haikal masuk.


Anin kembali masuk kedalam apartemennya yang ikuti oleh Haikal.


"Wah, apartemen kamu bagus banget sayang" Puji Haikal yang tampak kagum dengan tempat tinggal Anin.


"Kamu pasti betah banget tinggal disini ya hingga kamu lupa untuk mengabari aku".


Anin tersenyum kecil, andai Haikal tahu jika tempat ini adalah milik suaminya pasti dia tidak akan sesenang ini. Haikal sudah pasti akan meminta Anin untuk meninggalkan tempat itu dan mencari tempat tinggal lain, atau mungkin saja dia akan membawa Anin untuk kembali ke kota asalnya.


"Mas Haikal kapan datang? Kenapa tidak mengabari aku terlebih dahulu?" Tanya Anin mengalihkan pembicaraan.


"Aku baru saja sampai, bahkan koperku masih berada di dalam mobil" Ucap Haikal.


"Aku sangat merindukanmu dan ingin segera bertemu, makanya aku datang kesini dulu sebelum chehk in hotel".


"Kenapa? Apa kamu tidak suka melihat kedatanganku?" Tanya Haikal.


"Bukan, bukan seperti itu. Aku hanya kaget melihat mas Haikal yang tiba- tiba" Sahut Anin.


"Untung saja aku belum terlanjur pergi, coba kalau mas Haikal datang sedikit terlambat. Pasti kita tidak akan bertemu".


"Kamu mau pergi?" Tanya Haikal lagi.


"Kamu mau pergi kemana?".


"Aku ada janji dengan rekan kerjaku mas, kami ingin membalas masalah kerjaan" Jawab Anin.


Haikal menatap Anin, ia mencoba mencari kebenaran dari ucapan kekasihnya itu.


"Benar rekan kerja?" Tanya Haikal masih belum percaya.


"Bukan mantan suamimu kan?"


Anin terdiam.


Kenapa mas Haikal bisa berpikir seperti itu, apa dia tahu jika aku sudah bertemu dengan kak Rafael.


Akhirnya Anin kembali membatalkan niatnya untuk bertemu dengan Indah dan Bram, ia tidak mungkin meninggalkan Haikal sendirian di apartemen itu karena khawatir jika Rafael datang untuk menemuinya dan ia juga tidak ingin mengajaknya untuk bertemu dengan teman- temannya.


__ADS_1


__ADS_2