Sang Mantan

Sang Mantan
Part 12


__ADS_3

"Berdasarkan hasil analisa dan bukti-bukti yang ada. Dengan ini hakim memutuskan, terdakwa atas nama Vino Respati Manggala, dinyatakan bersalah dengan hukuman kurungan penjara maksimal seumur hidup dan denda satu milyar rupiah. Tok. Tok. Tok," kata hakim di persidangan dengan di akhiri ketukan palu.


Vino yang sedang duduk di kursi tersangka pun langsung menunduk menahan tangisnya.


'Deggg ...'


Hatiku seperti tertusuk benda yang sangat tajam. Begitu menusuk. Membuat tubuhku terasa lunglai. Tak bertenaga. Seakan mau terjatuh dengan pandangan yang mulai gelap.


"Nggaaaakkkkk ...," kataku berteriak di tengah-tengah ruang pengadilan.


Seketika Aku terbangun dengan keringat bercucuran. Jantungku berdegub begitu kencang. Nafas seolah hanya tersisa di ujung tenggorokan. Kucoba pelan-pelan mengatur nafasku yang terengal.


"Huffhhh ... syukurlah cuma mimpi," kataku dengan tangan yang memegang dada.


Aku menarik nafas, panjang. Ada kelegaan setelah membuang kembali nafasku. Sungguh, mimpi ini membuatku amat takut. Membuatku terus memikirkan keadaan Vino di sana.


'Gimana kalo mimpi buruk ini jadi nyata? Gimana dengan nasib Vino? Gimana dengan Maya?' batinku dengan membenamkan wajah di kedua tanganku.


Cukup lama Aku mematung. Rasanya tak kuat untuk sekedar mengangkat wajahku yang menunduk sedari tadi. Ku kerahkan semua tenaga yang tersisa untuk bangkit. Kulihat jam di dinding tepat di atas rak buku. Sudah jam 4 sore. Maya masih tertidur pulas. Ku biarkan agar nanti Ia terbangun dengan sendirinya. Tak tega kalau Aku yang harus membangunkannya. Buru-buru Ku tinggalkan kamar Maya.


Di ruang depan, Bu Iyem yang sedang sibuk dengan kegiatan rutinnya beres-beres rumah, menegurku ketika melihatku berjalan menuju kamarku. Aku hanya menoleh, mengangguk dan tersenyum. Tiba di kamar, Aku langsung segera mandi. Tak berlama-lama, karena memang Aku harus melakukan sesuatu. Meski sudah Ku percayakan kasus Vino dengan Dimas, Aku tetap bersikeras untuk ikut aktif dalam menyelesaikan kasus Vino. Mencari celah di manapun dan darimanapun, agar Aku dapat lebih cepat mengeluarkan Vino dari tahanan.

__ADS_1


'Berdiam diri tak akan membuat Vino kembali ke rumah ini,' fikirku yang sudah siap untuk keluar rumah.


"Bu Iyem, titip Maya ya Bu. Aku keluar sebentar. Masih ada urusan," kataku membuat Bu Iyem sedikit bingung.


Bu Iyem hanya menganggukan kepalanya dengan mata terus mengikutiku, seolah tak rela Aku tingal pergi. Kemudian Ia pun berlari mengejarku.


"Bu ... emangnya Ibu mau kemana? kasian neng Maya Bu, nanti kalo Dia bangun pasti nyariin Ibu. Saya takut Neng Maya tambah sedih Bu," ujar Bu Iyem mencoba melarangku pergi.


"Bu Iyem. Aku cuma sebentar kok. Ini penting banget. Nanti kalo semisal Maya nanyain Aku, bilang aja Aku lagi ngurusin kasus Ayahnya. Maya pasti paham kok Bu, Aku titip Maya ya," kataku berusaha menenangkan Bu Iyem.


"Ya udah Bu kalo itu menyangkut urusan Bapak. Ibu yang sabar ya Bu, jaga kesehatan, mudah-mudahan urusannya cepat selesai," kata Bu Iyem mengiyakan omonganku.


Aku pergi sendiri. Tanpa Pak Dadang yang biasa menemaniku dan menggantikanku menyetir di saat Aku sedang merasa tak enak fikiran. Ku beranikan membawa mobil sendiri. Karena ini memang harus Ku selesaikan sendiri. Mobil yang Ku kendarai melaju dengan kecepatan sedang. Aku memang terburu-buru, tapi soal keselamatan jauh lebih Ku utamakan.


*****


Mobil yang Kubawa sudah terparkir di Kantor Polisi tempat Vino ditahan. Aku bukan ingin mememui Vino. Melainkan menemui polisi yang tadi pagi diberi tugas untuk menahan Vino. Kebetulan polisi itu ada, Dia masih bertugas. Aku segera menghampirinya.


"Permisi Pak, Saya Ibu Tasya. Istri dari Pak Vino yang tadi pagi baru ditahan," kataku mengawali sapaan.


Polisi itu sedang asik menerima telepon, obrolannya terdengar sedikit serius. Hanya anggukan dan senyum yang Ia balas untuk menyambut sapaanku. Tak lama Ia pun menyudahi obrolannya di telepon. Yang kemudian menyapaku.

__ADS_1


"Maaf Bu, mari. Saya Pak Suroto. Silakan duduk. Ada yang bisa Saya bantu?" kata-nya ramah.


"Begini Pak. Saya mau menanyakan perihal penganiayaan terhadap Bapak Rey yang di tuduhkan kepada Suami Saya. Apa Saya boleh tau, laporannya atas nama siapa ya Pak? Apa Bapak Rey sendiri?" kataku menjelaskan.


"Boleh Bu. Sebentar Saya lihat berkasnya," ujar Pak Suroto yang kemudian mengambil berkas di dalam map berwarna hijau.


"Baik Pak," kataku menunggunya.


"Di dalam laporan, Pak Rey koma disebabkan penganiayaan yang dilakukan oleh Pak Vino. Di sini juga tertulis bahwa yang melaporkan bukan korban, melainkan teman dekat atau kerabat korban yang melihat langsung di tempat kejadian, dan merekam aksi penganiayaan tersebut," kata Pak Suroto menuturkan apa yang Dia baca.


Aku tersentak kaget setelah mendengar apa yang di jelaskan Pak Suroto. Ada fakta baru yang Ku temukan. Ternyata Rey masih dalam keadaan koma. Yang melaporkan Vino pun bukan Rey, tapi seseorang yang mengaku sebagai kerabat Rey.


'Siapa Dia? Sedang apa Dia di tempat kejadian? Setauku taman di dekat apartemen Rey sangat sepi. Bahkan tak ada orang yang mau kesana. Kalaupun ada, pasti ada janji karena sedang ada urusan penting. Lalu buat apa Dia merekam hanya di bagian akhir? Apa karena Dia baru datang dan melihat pas di bagian akhirnya saja? Ahh, entahlah ... Aku masih belum paham.' gumamku bingung.


Taman yang letaknya dekat dengan apartemen Rey memang sudah tak terlihat seperti taman pada umumnya. Sangat kotor dan tak terawat, karena berada di ujung jalan yang sudah hampir satu tahunan tidak berfungsi yang dulunya sebagai jalan alternatif. Sejak itu juga taman itu jarang sekali di jamah orang. Aku tahu, Rey pasti sengaja memilih tempat itu karena memang Ia ingin mencelakakan Vino. Tapi berbalik, karena Vino melawan, justru Rey yang celaka. Karena perlawanannya, kini Vino tersandung kasus yang bisa membuat karirnya berada di ambang kehancuran.


"Maaf Pak, boleh tau atas nama siapa yang melaporkan tuduhan pada Pak Vino?," tanyaku penasaran.


"Boleh Bu, sebentar ya. Atas nama ... Indri Thalia Putri," katanya sambil menunjuk nama di kertas laporan.


Aku terbelalak mendengar nama itu. Seolah tak percaya apa yang baru saja Ku dengar. Ya, Aku mengenal nama itu. Bahkan sangat mengenalnya.

__ADS_1


__ADS_2