
Satu minggu setelah Vino kembali ke rumah. Bertepatan dengan satu minggu setelah Rey di operasi.
"Bun. Lusa, Mamah mau ke sini. Katanya mau nginep beberapa hari," ucap Vino sembari duduk di sebelahku.
"Serius Yah? Tumben? Mau apa Dia?" kataku yang langsung bertanya.
"Jangan begitu. Biar gimana pun Mamah, Dia istrinya Papah. Mamah Aku," katanya mencoba melunakkanku.
"Mamah tiri! Inget, Mamah tiri! Dia bukan Mamahmu, jadi Aku nggak wajib menghormatinya," kataku ketus sembari melonjorkan kakiku dan badan setengah tiduran di sofa.
Mama Renata (ibu tiri Vino) menikah dengan Papa Adit (Ayah Vino) satu bulan setelah pernikahanku dengan Vino. Meski Vino tak merestui, tapi Papa Adit kekeh dan tetap melangsungkan pernikahan. Enam bulan setelahnya, Papa Adit Sakit dan Meninggal. Sejak mengenal Mama Renata, Aku tak punya perasaan senang sedikitpun terhadapnya. Perasaan tak sukaku terhadapnya bukan tanpa sebab. Sejak Aku menikah dengan Vino, Mama Renata yang saat itu masih sebagai tunangan Papa Adit, sudah sangat kelewatan mencampuri urusan rumah tangga Kami.
Ingatanku pun kembali membawaku ke kejadian saat di mana Vino yang begitu menghormati Mama Renata seperti Ibu kandungnya sendiri, benar-benar menyesal membawa masuk Mama Renata ke rumah Kami.
-----
"Kamu hamil, Sya? Serius Kamu hamil?" tanya Mama Renata tak percaya.
"Alhamdulillah. Iya, Tasya hamil Mah. Udah masuk minggu ketujuh usia kandungannya," kata Vino yang langsung menjawab pertanyaan Mama Renata.
Aku hanya tersenyum. Ada rasa tak suka dengan pertanyaan yang dilontarkan Mama Renata kepadaku. Memang tak aneh pertanyaannya. Tapi mimik wajahnya yang aneh. Seperti tak suka.
"Kamu yakin ini anak Kamu, Vin?" tanya Mama Renata lagi yang semakin menguji emosiku.
"Loh. Maksud Mamah apa? Apa maksudnya ucapan Mamah?" kataku sedikit menaikkan nada bicaraku.
"Kok maksud Mamah apa? Kalian ketemu aja jarang. Vino kan sebulan sekali pulang. Yakin Kamu kalo itu anaknya Vino?" ucapnya membuat Vino jadi menatapku.
Setelah menikah Vino memang di promosikan ke Hongkong untuk pelatihan kenaikan jabatan, selama satu tahun. Dengan jadwal cuti balik ke Jakarta satu bulan sekali, masa cuti tiga hari ditiap bulannya.
"Astagfirullah Mah. Jangan begitu ngomongnya. Itu sama aja fitnah," kataku membela diri.
Vino semakin mengerutkan dahinya.
"Tasya kan hampir setiap hari ketemu sama Viko. Kamu jangan main percaya begitu aja. Kok tau-tau hamil. Musti dipertanyakan lagi itu anaknya siapa!" kata Mama Renata yang terus mengompori Vino.
"Viko itu adik ipar sekaligus sahabat Aku, Mah. Lagi pula Kami ketemu tiap hari memang urusan kerja, bukan yang lain. Vicko kan adiknya Vino. Nggak mungkin Aku ada main dengan Dia, Mah. Aku masih waras!" kataku membantah tuduhan Mama Renata.
Viko, adik Vino. Viko memang sempat bekerja di Perusahaan tempat Aku dan Vino bekerja juga. Vino yang mempekerjakannya. Keakraban Kami memang sangat popular di kalangan rekan kantor. Hingga banyak desas-desus yang mengira Aku dan Vicko selingkuh. Tapi di tampik oleh Vino. Ia percaya pada Kami, bahwa tak mungkin Kami melakukannya.
"Halahh ... Mamah tuh tau sedekat apa Kamu sama Viko. Nggak usah ngelak buat mencari pembenaran," katanya membuatku semakin marah atas ucapannya.
"Aku nggak pernah ngapa-ngapain sama Viko! Kami juga nggak ada hubungan apapun selain hubungan seorang kakak dan adik! Ini murni anak Vino! Kenapa sih Mamah selalu mojokin Aku? Tega ya, Mamah ngomong gitu ke Aku? Aku salah apa?" kataku dengan teriak di antara Vino dan Mama Renata.
"Tasya! nggak sopan teriak-teriak begitu di depan Mamah! Kamu yang seharusnya tanya sama diri Kamu. Salah Kamu itu apa? Kenapa sampe Mamah ngomong begini? Pasti bukan tanpa sebab!" gertak Vino membuat nyaliku sedikit ciut.
Vino memang sangat menghormati Mama Renata. Pengganti Ibunya. Aku memakluminya. Tapi tidak untuk sekarang. Aku yang di fitnah dan di pojokan seperti ini harusnya mendapat pembelaan langsung dari Vino, suamiku. Bukan justru membentakku karena membelanya. Aku menangis. Menatap penuh marah ke hadapan mereka berdua.
"Maksudnya apa? Kamu nggak yakin ini anak Kamu? KAMU LEBIH PERCAYA SAMA FITNAHAN DIA? KAMU, auww ... akhhh ..." emosiku tak terkontrol. Tensiku seperti mendadak naik. Perutku serasa tertusuk. Sangat sakit.
"Sya. Kamu kenapa? Kenapa Sya?" kata Vino cemas dan memapahku ke sofa.
__ADS_1
"Auww ... Sakit Vin. ukhhh ..." kataku meringis kesakitan memegangi perutku.
"Kita ke dokter yuk. Kamu bisa berdiri?" kata Vino semakin khawatir dan membantuku berdiri.
Aku berdiri. Sangat lemah rasanya tubuh ini. Dibarengi dengan rasa sakit yang tak tertahan. Baru dua langkah Aku berjalan dengan dipapah Vino, darah segar tiba-tiba mengucur dari balik dress miniku. Sangat terasa darahnya yang hangat mengalir di belahan pahaku. Pandanganku mulai redup. Tubuhku seperti terbang. Hingga benar-benar gelap. Aku pingsan.
*****
Saat Aku membuka mata. Tubuhku sudah terbaring dengan tangan terpasang selang infus. Pikiranku semakin kacau. Aku tak mau terjadi sesuatu dengan calon bayiku. Tapi takdir dan kenyataan sungguh menyakitkanku.
"Vin. Aku kenapa? Bayi kita nggak kenapa-kenapa kan?" tanyaku ke Vino yang tak berhenti menciumi tanganku sejak aku siuman.
Kulihat matanya berkaca. Ada kesedihan dan sesal yang mendalam di mata Vino yang berembun, dan siap menumpahkan buliran bening yang sudah membendung di antara kelopak dan kantung mata.
"Maafin Aku, Sya. Anak kita pergi karena Aku. Karena kebodohanku. Maafin Aku," ucap Vino yang masih menggenggam erat tanganku.
Air mataku langsung tumpah ruah. Menangis. Menjerit. Sangat sesak dada ini. Sebagai pengantin baru yang belum genap setahun, Aku memang sangat mendambakan seorang anak. Walau Kami sibuk bekerja, Aku dan Vino tak ingin menunda-nunda soal anak. Sempat kosong hampir 7 bulan. Saat sudah dipercayakan calon bayi di kandunganku, Aku justru tak bisa menjaganya dengan baik. Tangisku semakin tak terkontrol. Aku marah pada diriku, pada Vino, juga orang-orang di sekitarku.
*****
Tiga hari Aku di opname. Tubuhku sudah kembali pulih. Ku lihat Vino yang sedang berbicara dengan seseorang di ponselnya. Samar Ku dengar pembicaraannya.
"Gimana kerjaan di Bandung Vik? kapan balik ke Jakarta?" kata Vino yang berbicara dengan ponselnya.
Diam mendengarkan lawan bicaranya di ponsel.
"Iya. Ini Tasya keguguran. Makanya masih di Jakarta sekarang Gue. Nemenin Tasya kasian nggak ada yang nungguin," katanya lagi.
Vino kembali diam. Wajahnya yang semula terlihat adem, kini perlahan berubah memerah. Raut wajahnya penuh emosi. Aku mengernyit, heran.
Diam sebentar seperti semula yang sedang mendengarkan seseorang bicara melalui ponselnya.
"Ok Vik, Gue percaya sama Lo. Gue tunggu. Ati-ati, jangan ngebut!" kata Vino lagi dan mematikan ponselnya.
Aku mencerna dan menyambungkan apa yang di bicarakan Vino dengan Viko. Tapi tak paham. Rasanya Aku penasaran, hingga tak tahan mulut ini untuk bertanya.
"Kamu ngomong sama Viko? Soal apa? Kayanya tegang banget. Apa soal Aku?" kataku bertanya.
"Viko cuma jelasin, kalo Mamah itu nggak suka sama Kamu. Selama Aku tinggal-tinggal Kamu di rumah, Viko katanya sengaja sering ke rumah, karena takut Kamu kenapa-kenapa. Pernah waktu itu Mamah nyuruh Viko buat deketin Kamu, biar Kita pisah. Tapi Viko dengan tegas nolak dan langsung caci maki Mamah. Dari situ Mamah mulai nggak suka juga dengan Viko. Makanya ngefitnah Kamu sama viko ada apa-apa. Trus bodohnya Aku hampir termakan omongannya," ujar Vino menerangkan apa yang di bicarakannya dengan Viko.
Aku menganga. Tak percaya Kalau Mama Renata benar-benar jahat. Vino memelukku, seperti tahu dengan perasaanku saat ini.
"Drrrttt ... Drrrttt ..." suara ponsel berdering.
Masih memelukku, Vino segera mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya dengan nomor tak di kenal.
"Ya. Betul. Dengan Saya sendiri," katanya di ponsel.
"Astagfirullah ... Baik pak. Saya segera ke sana. Terimakasih." kata Vino yang sontak membuatku kaget dan mendongakan wajah.
"Kenapa, Vin? Ada apa?" kataku penasaran.
__ADS_1
"Viko kecelakaan. Mobil yang Dia kendarai menghantam truk. Aku mau ke sana melihat kondisinya. Kamu tunggu sebentar ya," kata Vino yang mencium keningku sebelum berlalu.
Aku hanya Diam. Kaget, cemas, takut bercampur jadi satu.
'Hal buruk apalagi yang akan menimpa Vino? Ya Allah, selamatkan Viko. Cuma Dia keluarga Vino saat ini setelah Mama Papanya tiada," batinku dengan bulir bening yang tak terasa keluar dari mataku.
Beberapa waktu kemudian. Vino kembali. Matanya Ku lihat sembab. Tak sepatah katapun Ia ucapkan. Hanya memelukku erat dan sesegukkan.
"Vin ... Ada apa? Viko baik-baik aja kan, Vin?" kataku bertanya.
Vino tetap terdiam. Tangisnya semakin memecah di pelukanku. Aku ikut menangis. Dari tangisnya, Aku tau apa yang terjadi walau Vino belum bicara. Ku balas pelukannya dengan memeluknya lebih erat.
-----
"Bu ... Makan malemnya udah siap. Bapak sama Neng Maya udah nunggu di meja makan," ujar Bu Iyem yang mengagetkanku dari lamunan.
"Oh. Iya Bu Iyem," kataku singkat dan mengikuti langkah Bu Iyem menuju meja makan yang terletak di ruang dapur.
*****
Pagi-pagi sekali Vino sudah berangkat ke Bandung. Urusan kantor. Sedangkan Maya jam tujuh tadi sudah di antar Pak dadang ke sekolah mengikuti ekskul basketnya. Hari ini memang hari Sabtu, tapi hanya Aku yang libur. Sepi dan suntuk rasanya. Baru saja Aku merebahkan tubuh di sofa yang ada di ruang keluarga. Wajah Rey yang lemah dan pucat saat terakhir Ku lihat tiba-tiba saja lewat dalam bayanganku. Membuatku makin penasaran dengan keadaannya. Buru-buru Ku langkahkan kaki ke kamar untuk berganti pakaian.
Baru saja Aku menyalakan mobil. Ponselku berdering. Ku lihat layar ponselku. Ada panggilan masuk dari Vino yang segera Ku jawab.
"Assalamualaikum, Bun. Aku udah di Bandung. Langsung ke tempat klien. Belum mulai meetingnya sih, baru ngopi-ngopi sama Pak Angga. Kamu di mana? Lagi ngapain? Maya jadi ekskulnya?" kata Vino beruntun membuatku menganga mendengarnya.
"Waalaikumsalam. Syukur lah Yah, kalo udah sampe. Aku di rumah, tapi bentar lagi mau keluar. Ini udah di mobil. Maya udah berangkat tadi di anter Pak dadang," kataku menjawab semua tanyanya.
"Kamu mau ke rumah sakit? Mau ngapain, Bun? Kamu sakit?" tanya Vino cemas.
"Enggak, Yah. Aku nggak papa. Cuma mau jenguk temen kok," kataku berbohong.
"Oh, gitu. Syukur kalo Kamu nggak papa. Ya udah, Kamu hati-hati ya. Sampaikan salamku untuk temanmu. Assalamualaikum," ucapnya.
"Waalaikumsalam," kataku mengakhiri panggilan.
*****
Tiba di rumah sakit. Aku langsung menanyakan ruangan Rey di rawat. Ternyata masih sama dengan ruangan pertama Rey di rawat sebelum di pindahkan di ruang rawat khusus sebelum operasi. Dengan mudah Aku menemukannya. Saat akan mengetuk pintu. Tak sengaja pintu kesenggol tanganku dan terbuka sedikit. Ku urungkan niatku mengetuknya. Aku segera masuk. Ada Indri yang sedang duduk di samping Rey yang tertidur. Indri menoleh ke arahku.
"Tasya? Ada perlu apa kesini? Bukannya urusan kita udah beres?" kata Indri yang langsung menyergahku dengan pertanyaan.
"Nggak ada apa-apa kok, In. Gue cuma mau jenguk Rey. Cuma mau tau kondisi Rey," kataku melangkahkan kaki menghampiri Ray yang sedang tidur pulas.
Indri langsung mencegahku. Menarik tanganku dengan kasar. Ia tak mau Aku mendekati Rey.
"Stop Sya. Udah, nggak usah Lo tau lagi urusan Rey. Gue minta Lo pergi sekarang, sebelum Rey bangun dan ngeliat Lo ada di sini," katanya berusaha mengusirku.
"Maksud Lo apa, In? Apa hak Lo ngusir Gue? Apa hak Lo nyuruh Gue buat nggak nemuin Rey lagi? Cemburu boleh In, tapi nggak gini caranya," kataku membantah suruhannya.
"Iya. Gue cemburu. Gue nggak mau Rey tau kalo Lo masih peduli sama Dia. Apalagi sampe Rey tau kalo Lo yang udah donorin darah buat Dia. Gue nggak rela Rey tau semua itu!" katanya dengan wajah penuh rasa cemas.
__ADS_1
"Apa? Jadi pendonor itu Kamu, Sya?" kata Rey yang tiba-tiba sudah terbangun.
Aku dan Indri terperanjat. Tak sadar kalau Rey sudah terbangun. Entah sejak kapan.