
Satu bulan berlalu, Rafael dan Nindy telah menghabiskan waktu bersama dengan merajut kembali hubungan diantara mereka. Keduanya begitu menikmati waktu kebersamaan mereka dengan saling berbagi kasih dan juga sayang. Banyak hal telah mereka lalui selama satu bulan itu, diantaranya adalah memperbaiki hubungan Rafael dengan keluarga Nindy.
Rafael mengupayakan segala cara untuk mendapatkan kembali restu dari keluarga sang istri yaitu paman Abu dan bibi Rasti. Rafael ingin menebus semua kesalahannya dengan meminta maaf kepada orang yang telah merawat istrinya itu. Rafael sadar jika perbuatannya telah membuat banyak hati yang terluka, jadi ia harus memperbaiki kesalahannya dengan meminta maaf secara langsung pada paman dan bibi istrinya.
Pada awalnya paman Abu dan bibi Rasti tidak ingin Nindy kembali kepada Rafael karena sudah tahu semua permasalahan yang terjadi dalam pernikahan keponakannya. Namun Rafael tidak menyerah begitu saja, ia berusaha untuk menyakinkan paman dan bibi sang istri hingga akhirnya mereka luluh dan kembali memberi restu untuk mereka berdua.
Saat ini Rafael bisa bernafas lega karena sedikit demi sedikit masalahnya telah berhasil terselesaikan dengan baik dan sesuai dengan harapannya. Kini tidak ada lagi yang harus di khawatirkannya karena sang istri telah kembali ke pangkuannya dan hidup bahagia bersamanya.
Rafael mengandeng mesra tangan Nindy memasuki gedung LJ Grup, ia seolah tidak ingin jauh- jauh dari istrinya, dan perlakuannya itu menarik perhatian semua karyawan.
"Pak Rafael sweet banget sih, istrinya di gandeng terus".
"Takut hilang kali, hehehe,,,".
"Gimana bisa hilang, jika pak Rafael ngintilin bu Nindy terus setiap saat".
"Aku nggak nyangka jika pak Rafael bisa sebucin itu".
"Iya, sekarang pak Rafael bucin parah. Nggak bisa jauh- jauh dari bu Nindy".
"Mau dong di bucinin juga,,, hahahaha".
Begitulah percakapan yang terjadi antara para karyawati di perusahaan, mereka begitu iri melihat kemesraan yang selalu Rafael dan Nindy perlihatkan di hadapan mereka.
Tidak jauh berbeda dengan para karyawan lainnya, Ardi sang asisten juga merasakan hal yang sama. Jika yang lain merasa iri, Ardi justru merasa kasihan pada dirinya sendiri karena harus melihat kemesraan atasannya yang tidak mengenal tempat. Kadang- kadang Ardi harus berpura- pura menjadi patung saat Rafael tiba- tiba mencium Nindy di hadapannya. Sungguh ujian yang sangat berat bagi seorang jomblo seperti dirinya.
Sebagai seorang asisten, Ardi di tuntut untuk selalu siap siaga di samping atasannya. Hampir setiap waktu ia habiskan dengan berada di samping Rafael, seperti yang saat ini ia lakukan. Saat ini Ardi harus menyaksikan pasangan suami istri itu berdebat di hadapaannya.
"Sayang, bagaimana dengan ini?" Rafael menunjukkan sebuah gambar kepada Nindy.
"Bagus, aku suka" Ucap Nindy.
"Kalau yang ini, bagaimana?" Rafael menunjukkan gambar yang lainnya.
"Bagus, aku suka" Nindy memberi jawaban yang sama.
Rafael kembali mengambil gambar yang lainnya dan menunjukkan kepada Nindy lagi.
"Kalau gambar ini gimana, apa kamu juga menyukainya? Tanyanya.
Nindy melihat gambar di tangan Rafael kemudian mengangguk.
"Mm, aku suka" Jawabnya.
Rafael menghela nafas lalu melempar gambar itu diatas meja, ia memijit keningnya yang tiba- tiba terasa pusing.
"Aku harus memilik salah satu dari semua gambar ini, sayang. Tapi bagaimana aku bisa memilihnya jika semua yang aku tunjukkan padamu, kamu bilang bagus" Keluh Rafael.
"Tapi semua gambar itu memang baguskan, dan aku hanya menjawabnya dengan jujur" Ucap Nindy.
"Walaupun semuanya bagus, tapi kita tetap harus memilih salah satu dari semua gambar ini" Sela Rafael.
"Kenapa kita harus memilih salah satu, kita bisa memakai semua gambar itu kan!".
"Proyek kita cuma satu sayang, untuk apa kita memakai semua gambar ini. Mau kita gunakan dimana?" Rafael mulai kesal.
"Itu salah kamu sendiri, kenapa proyek kita hanya satu? Kenapa kamu tidak merencanakan dua, tiga, lima atau jika perlu sepuluh proyek sekaligus. Jadi kita bisa memakai seluruh gambar ini tanpa harus pusing memilihnya" Ucap Nindy tidak ingin kalah dari suaminya.
__ADS_1
"Ya Tuhan" Rafael menghempaskan tubuhnya kesandaran sofa sambil memijit kepalanya yang semakin pusing.
Sementara itu, Ardi hanya bisa menghela nafas. Sepertinya keputusannya untuk meminta pendapat dari atasannya adalah sebuah keputusan yang salah. Bukannya jawaban yang Ardi dapatkan, namun kini ia harus ikut pusing menyaksikan perdebatan tuan dan nona muda tersebut.
"Jadi desain yang mana yang ingin bapak gunakan untuk proyek ini?" Ardi mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
"Kenapa kamu harus bertanya Ardi. Dan kenapa kamu harus membawa begitu banyak gambar hingga membuat kepalaku pusing" Sergah Rafael kesal.
"Maaf pak, saya tahu bapak sedang pusing. Tapi bapak harus segera menentukan pilihan karena saya harus menyerahkan desain ini kepala kepala proyek di lapangan" Ujar Ardi.
Rafael kembali bangkit dan duduk seperti semula, lalu menatap Ardi.
"Kamu sudah mulai berani Ardi, apa aku harus memberikan SP satu untukmu".
"Maaf pak, maaf atas kelancangan saya" Ucap Ardi sambil tertunduk.
"Kenapa kamu marah pada Ardi, dia hanya melakukan pekerjaannya" Sela Nindy.
"Dia sudah berani memerintahku sayang" Kilah Rafael.
"Bukan memerintah, tapi Ardi hanya meminta jawaban darimu" Sambung Nindy.
Nindy meraih tiga gambar yang tadi di tunjukkan oleh Rafael padanya.
"Kenapa kamu harus pusing, kamu hanya perlu memilih satu dari tiga gambar ini sajakan" Ucap Nindy sembari menunjukkan tiga gambar kepada suaminya.
Rafael menatap gambar itu sekilas lalu meraihnya dari tangan Nindy.
"Aku tidak akan sepusing ini jika aku bisa memilihnya sendiri".
Nindy terdiam sejenak, sepertinya suaminya memang sengaja menginginkan dirinya untuk memilih gambar itu. Nindy mencoba untuk membandingkan ketiga gambar itu hingga akhirnya pilihannya jatuh pada gambar yang pertama.
"Aku pilih gambar ini" Nindy menunjuk satu gambar.
"Kamu yakin?" Tanya Rafael ingin memastikan.
Nindy mengangguk cepat
"Iya, aku yakin" Ucapnya.
Rafael tersenyum lalu mengusap rambut hitam sang istri dengan lembut.
"Akan aku pastikan proyek ini sesuai dengan gambar yang kami pilih" Ucapnya.
Nindy kembali mengangguk sambil tersenyum.
Rafael kembali menatap Ardi.
"Kamu sudah dengar sendirikan, gambar mana yang di pilih oleh istriku" Tanyanya.
"Iya pak" Sahut Ardi.
"Serahkan gambar ini pada kepala proyek dan pastikan proyek ini sesuai dengan gambar tersebut" Perintah Rafael.
"Baik pak, akan saya pastikan semuanya sesuai dengan perintah pak Rafael" Ucap Ardi.
"Kalau begitu, saya permisi pak" Ardi langsung bangkit dan pergi untuk melaksanakan titah dari pimpinannya.
__ADS_1
Rafael dan Nindy menatap kepergian Ardi hingga menghilang dari balik pintu.
"Sebenarnya proyek apa yang sedang kamu bangun?" Tanya Nindy pada suaminya.
"Itu adalah proyek spesial sayang" Sahut Rafael.
"Proyek spesial?" Nindy mengerutkan keningnya.
"Iya, spesial" Lanjut Rafael sembari mencubit hidung sang istri.
Nindy menatap Rafael penuh curiga, seperti ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh suaminya itu.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Rafael.
"Kamu tidak sedang merencanakan sesuatu kan?" Nindy balik bertanya.
"Hahaahaha!" Rafael tertawa saat menyadari Nindy mencurigai dirinya.
"Memangnya apa yang sedang aku rencanakan?".
"Lalu kenapa kamu tertawa?".
"Karena aku suka menggodamu" Jawab Rafael.
"Itss,,,,! Jadi kamu tidak mau mengatakan proyek apa yang sedang kamu bangun itu?" Tanyanya sekali lagi.
"Aku ingin mengatakannya, tapi tidak sekarang ya. Karena aku ingin memberikan kejutan untukmu" Ucap Rafael.
"Tadi proyek spesial sekarang kejutan. Sebenarnya kamu niat nggak sih untuk memberitahukannya padaku" Ketus Nindy.
Rafael menyeringai lalu mendekatkan posisi duduknya dengan Nindy kemudian langsung memeluk sang istri.
"Sabar ya. Nanti kamu juga pasti akan tahu sendiri karena proyek itu adalah proyek untuk kita" Ucap Rafael.
"Maksudmu?" Nindy belum mengerti.
"Proyek itu adalah proyek masa depan kita".
"Masa depan aku, kamu dan calon buah hati kita" Ucap Rafael sembari mencium rambut Nindy.
Nindy mengangkat wajahnya menatap wajah suami.
"Calon buah hati?" Ulangnya penuh haru.
"Iya, calon buah hati kita" Ucap Rafael.
Tangan Rafael terangkat mengelus perut Nindy.
"Aku harap usaha kita setiap malam secepatnya membuahkan hasil. Aku sudah tidak sabar untuk menantikan buah hati kita" Ucap Rafael.
"Aku juga" Sahut Nindy.
Nindy tersenyum, ia begitu terharu mendengar ucapan suaminya. Nindy tidak menduga jika Rafael sudah menyiapkan semuanya untuk masa depan mereka.
Rafael menunduk dan mengecup kening Nindy dengan lembut dan mesra, sementara itu Nindy memejamkan matanya merasakan curahan kasih sayang yang Rafael limpahkan untuk dirinya.
☆
__ADS_1