
Aku masih menangisi keadaan. Mengunci diri di kamar. Hingga Maya memanggilku untuk makan siang.
"Tok tok tok"
"Bun ... Lagi ngapain? Kok nggak keluar? Ini udah jam makan siang. Semua udah kumpul."p
'Astaga. Maya. Dia nggak boleh melihatku menangis."
Ku seka air mataku. Tarik nafas agar tak sesegukan ketika bicara.
"Iya ... Kamu duluan. Bunda bentar lagi nyusul Sayang." kataku lantang.
"Ya udah, Bun. Jangan lama-lama. Nenek bawel."
Kudengar langkah Maya yang semakin menjauh dari pintu kamarku. Segera Ku basuh wajahku. Berkaca. Tetap saja mataku sembab. Aku ragu untuk keluar dari kamar. Apalagi berkumpul di meja makan dengan wajahku yang seperti ini. Maya pasti akan sangat mengkawatirkanku.
'Tapi kalo Aku sampe nggak keluar makan, Maya akan semakin kawatir,' batinku cemas.
Aku pun keluar. Ke ruang dapur untuk ikut makan siang bersama.
"Bunda. Cepet, Aku laper." kata Maya.
Aku duduk di sisi kanan Vino dan sisi kiri Maya. Sedangkan Mama Renata tepat berada di depanku. Tapi ada yang kurang, Bu Iyem tak ada di meja makan.
'Kemana Bu Iyem?' gumamku.
Mataku menyusuri semua sudut ruang ini.
"Bu Iyem kemana, May?"
"Nggak tau. Tadi sih, ada." kata Maya yang sedang menyendok nasi ke piringnya.
Setelah Maya. Giliranku untuk menyendokkan nasi ke piring Vino. Ku ambil piring yang ada di hadapannya. Tapi ditampik.
__ADS_1
"Nggak usah, biar Aku aja." kata Vino yang langsung mengambil piring di tanganku.
Maya dan Mama Renata melirik ke arah Kami. Aku merasa canggung.
"Tasya. Mamah perhatiin, mata Kamu bengkak. Abis nangis?"
Aku semakin cemas. Ucapan Mama Renata membuat Maya menoleh ke arahku. Langsung Ku tepis ucapannya dengan berbohong.
"Ahh. Mamah ini, teliti banget perhatiin Aku. Tadi Aku coba pake soflen. Udah lama nggak pake. Tapi pas udah ke pasang, perih. Sampe keluar airmata. Langsung Aku lepas lagi. Nih, jadi bengkak merah begini."
Aku melirik ke Vino. Dia hanya diam. Melanjutkan suapan ke mulutnya.
"Itu bisa sakit mata nanti jadinya. Buruan di obati. Nanti malah jadi nular kalo bener sakit mata." kata Mama Renata.
'Sakit mata! yang sakit itu hati, bukan mata!' kataku membatin.
"Makanya, Bun. Nggak usah pake-pake itu lagi. Kacamata aja yang praktis." kata Maya membuatku lega karena percaya dengan ucapanku.
Suasana meja makan, siang ini terasa begitu hambar. Tak ada obrolan, bahkan candaan setelahnya.
Di kamar.
"Tuh, baca. Kamu mau tau kan alasan kenapa Aku menyuruh Indri untuk melaporkanku?"
Vino tiba-tiba menyodorkanku kertas. Copy'an kertas bermaterai. Ku sipitkan mataku, penasaran. Ku baca sesuai perintah Vino.
"Deggg"
Jantungku serasa mau copot. Vino tega melakukan ini padaku. Beberapa kertas yang Ku tandatangani saat perjanjian dengan Indri, salah satunya ini. Berbeda dengan isi perjanjian di lembaran pertama yang Ku tandatangani.
Ku baca ulang lagi.
'Saya yang bertanda tangan di bawah ini. Atas nama Tasya Dira Agustina. Menyatakan bahwa Saya bersalah telah Menghianati pernikahan dengan perselingkuhan yang berlarut-larut. Kemudian dengan ini, Saya bersedia bercerai dengan Suami saya, yang telah Saya hianati, Vino Respati Manggala. Dari Kesemuanya, Saya bersedia melepas tanggung jawab terhadap anak perempuan Saya, Maya Putri Manggala, dengan menyerahkan hak asuh sepenuhnya pada Ayah kandungnya, Vino Respati Manggala. Dan apabila setelah ini ada suatu hal yang membuat surat ini tidak Saya patuhi. Maka, Saya bersedia untuk di tuntut pidana maupun perdata. Demikian Surat Perjanjian ini Saya buat dan Saya tandatangani dengan tanpa paksaan dari pihak manapun. Hormat Saya. Tertanda, Tasya Dira Agustina."
__ADS_1
Aku kembali menangis. Membaca Surat Perjanjian yang sama sekali tak Ku harapkan. Tubuhku seperti tak bertulang. Lunglai terduduk di lantai. Vino yang dulu tak pernah kuat melihatku menangis, saat ini nyata membuatku menjerit dalam tangisan.
Dengan cepat Ku usap airmataku. Ku kuatkan tubuh ini untuk berdiri mendekat ke Vino.
"Plaaakkk"
Vino melotot dengan tangan memegangi pipi merahnya yang mungkin panas akibat Ku tampar keras.
"Licik Kamu! Aku udah memilih pertahanin rumah tangga ini. Kembali ke Kamu dan coba lupain Rey. Tapi Kamu tipu Aku dengan sandiwaramu yang melebihi ********. Memalsukan perjanjian demi memisahkan seorang Ibu dengan Anaknya! Apa Kamu nggak liat kesungguhanku? Tega Kamu Vin. Tega!"
Bibirku bergetar saat bicara lantang dan keras di depan wajah Vino. Nafasku tersendat karena tangis yang begitu terasa sakit mendalam.
"Mengatasi wanita sepertimu memang harus dengan cara ini. Kamu tak pantas mendapatkan hak asuh Maya."
"Kamu di racuni siapa? Ini bukan Vino! Bukan Vino yang Ku kenal. Kita bisa bicarakan ini lagi. Kamu jangan terlalu cepat mengambil keputusan. Aku mohon. Pikirkan hati dan perasaan Maya."
Ku lihat mata Vino yang mulai berembun. Wajahnya ikut terlihat sedih. Tapi Vino langsung membuang wajahnya dariku.
"Keputusanku sudah bulat. Sudah tak bisa di ubah. Mau nggak mau, Kamu harus menerimanya."
Meski Vino belum menalakku secara langsung. Aku sangat merasa terpukul. Dia yang begitu mencintaiku, bisa setega dan selicik ini menjebakku. Yang membuat Aku semakin yerpuruk. Dimas, sahabatku. Juga ikut bersekongkol dengan Indri dan Vino.
'Kenapa Lo tega ngelakuin ini, Dim? Kenapa?' batinku.
Tangisku semakin tak terkontrol. Aku lepas kendali. Berlari keluar, dan langsung masuk ke mobil yang terparkir di garasi depan rumah. Aku melanjutkan tangisku di mobil. Tak buang waktu, Ku lajukan mobil. Aku menyetir dalam kecepatan tinggi. Wajah Dimas yang terlintas, membuatku marah. Aku benci Mereka. Aku benci diriku yang bodoh. Terlalu bodoh, percaya dengan sandiwara yang mereka buat.
Setan merasuki pikiranku. Kalau saja Dimas ada di hadapanku. Sudah Ku bunuh Dia. Ku gelengkan kepala untuk mengontrol emosiku. Tak boleh gegabah. Seketika wajah Maya yang tersenyum terlihat jelas dalam bayangku.
'Maya ... Maafin Bunda Sayang ... Bunda nggak bisa pertahanin semua ini untuk Maya. Maafin Bunda ...!'
Aku kembali menangis. Membayangkan wajah kecewa Maya jika nanti Dia tau Ayah dan Bundanya akan bercerai. Aku tak sanggup. Tangisku semakin pecah. Aku menyetir dalam kondisi yang sangat mengkawatirkan.
"Tiiiiiinnnnnnnnnnnn" suara klakson truk yang menyadarkanku dalam bahaya.
__ADS_1
Hanya beberapa senti lagi. Begitu dekat. Ku buang setir.
"BRAAAKKKK"