
Rafael tertunduk lesu dengan pikiran yang kalut, berkali- kali Rafael mengusap wajahnya dengan kasar dan menjambak rambutnya sendiri karena kesal. Rafael begitu marah dan kecewa pada dirinya sendiri karena merasa tidak mampu untuk menjaga dan melindungi Nindy hingga membuat sang istri menghilang tanpa kabar. Sejak tadi Rafael memikirkan beberapa nama yang mungkin ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa Nindy, tapi dari semua nama itu tidak satu pun yang mengarah kesana.
Sempat terbesit di dalam pikiran Rafael jika kejadian ini ada sangkut pautnya dengan para saingan bisnisnya, namun Rafael mencoba untuk menampiknya. Ia tidak mungkin menuduh para pesaingnya itu jika tanpa bukti yang kongkrit karena hal itu akan berpengaruh pada nama baik LJ Grup.
Di saat pikiran Rafael sedang kalut, tiba- tiba pintu ruangannya terbuka hingga membuatnya terkejut. Rafael melihat tante Yuni masuk kedalam ruangannya dengan wajah yang terlihat sangat panik, saat itu juga Rafael bisa menebak jika ibu tirinya itu pasti sudah mendengar berita tentang menghilangnya Nindy.
"Rafael!" Tante Yuni berjalan mendekati Rafael.
"Apa benar jika Nindy menghilang? Bagaimana itu bisa terjadi Rafael? Apa yang terjadi?" Tante Yuni menghujani Rafael dengan beberapa pertanyaan.
Rafael tidak langsung menjawab, ia terlihat menarik nafas dalam- dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Silahkan duduk tante" Akhirnya kata itu yang keluar dari mulut Rafael.
"Jawab pertanyaan tante dulu, Rafael. Bagaimana bisa kamu setenang ini?" Ucap tante Yuni.
"Perasaanku sedang tidak tenang tante, aku hanya berusaha bersikap tenang agar aku bisa berpikir jernih" Sanggah Rafael.
"Bagaimana mungkin aku bisa tenang, tante. Sedangkan hingga saat ini aku tidak tahu di mana istriku berada".
Rafael dan tante Yuni saling menatap untuk beberapa saat. Ingin rasanya tante Yuni mendekat dan memberikan sebuah pelukan untuk putra sambungnya itu agar Rafael bisa sedikit lebih tenang, namun beliau tidak berani untuk melakukannya karena hubungan mereka tidak sedekat itu. Tante Yuni tidak ingin menjadi orang yang tidak tahu diri, beliau sudah sangat bersyukur karena Rafael mengizinkannya masuk kedalam ruang kerjanya.
"Silahkan duduk tante" Ucap Rafael lagi.
Tante Yuni duduk di sofa yang juga di ikuti oleh Rafael.
"Sebenarnya apa yang terjadi Rafael? Bagaimana bisa Nindy menghilang?" Tanya tante Yuni lagi.
"Dari mana tante mendengar kabar ini?" Tanya Rafael.
"Dari Yuda" Jawab tante Yuni.
"Yuda mengatakan jika dia mendengar percakapan Ardi dan anak buahnya yang berbicara bahwa Nindy menghilang" Ucap tante Yuni.
Rafael mengusap wajahnya. Sepertinya sebentar lagi semua orang akan tahu tentang masalah ini.
"Jadi benar jika Nindy menghilang?" Tanya tante Yuni.
Rafael mengangguk pelan.
__ADS_1
"Iya tante. Nindy memang menghilang".
"Hah!"
Tante Yuni menutup mulutnya seolah tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Sejak mendapat kabar dari Yuda, tante Yuni berusaha untuk menampik kabar tersebut dan menganggap jika itu adalah berita bohong. Namun saat ini beliau tidak bisa menampiknya lagi karena Rafael sendiri yang mengatakan jika kabar itu adalah benar.
"Aku tidak tahu harus berkata apa, tapi yang pasti saat ini aku begitu mengkhawatirkan Nindy dan berharap jika istriku bisa segera di temukan" Ucap Rafael.
Rafael dan tante Yuni tertunduk, keduanya sibuk dengan pikirannya masing- masing hingga tiba- tiba pintu ruangan Rafael kembali terbuka.
"Rafael!" Bu Linda yang baru masuk langsung berhamburan dalam pelukan Rafael.
"Mama" Lirih Rafael menyambut pelukan sang mama.
"Apa yang terjadi sayang? Apa yang terjadi dengan menantu mama? Bagaimana bisa Nindy menghilang padahal dia sudah berjanji akan pulang ke rumah mama" Bu Linda terisak di dalam pelukan Rafael.
"Ma, tenang ma" Rafael mencoba untuk menenangkan ibunya.
Bu Linda melepaskan pelukannya, lalu menatap Rafael tajam.
"Bagaimana bisa kamu menyuruh mama tenang, sedangkan mama tidak tahu di mana menantu mama saat ini" Ucap bu Linda marah.
"Kalau kamu khawatir, kamu seharusnya tidak akan hanya berdiam diri di sini tanpa melakukan apapun Rafael. Seharusnya kamu mencari Nindy, Rafael. Seharusnya kamu mencari menantu mama" Sengah bu Linda.
"Aku sedang berusaha untuk mencari Nindy, Ma. Aku tidak hanya berdiam diri disini" Sanggah Rafael.
"Bohong" Bantah bu Linda.
"Jika kamu memang sedang mencari Nindy, kenapa kamu masih berada disini? Kenapa kamu tidak mencari Nindy sendiri tapi malah menyuruh orang lain untuk mencari istrimu" Bu Linda begitu marah pada sang putra.
"Mbak" Tante Yuni bangkit dan mendekati bu Linda lalu mengusap lengannya perlahan.
"Mbak tenang dulu, jangan menghakimi Rafael seperti itu. Kasihan Rafael. Pikirannya juga sedang kalut bahkan mungkin perasaan Rafael lebih kalut dari apa yang kita rasakan".
Bu Linda menghela nafas perlahan mengikuti saran tante Yuni, untuk beberapa saat bu Linda tidak sadar jika orang yang sedang menenangkannya adalah madu- nya, hingga lambat laun akhirnya beliau tersadar dan langsung menghempaskan tangan tante Yuni dari tubuhnya.
"Sejak kapan kamu berada disini?" Tanya bu Linda dengan tatapan mata yang tidak bersahabat.
"Untuk apa kamu datang kemari? Apa kamu ingin menghinaku atau kamu ingin menertawakan putraku?" Tuduh bu Linda.
__ADS_1
"Tidak mbak, aku tidak pernah bermaksud seperti itu" Bantah tante Yuni.
"Aku datang kesini karena khawatir. Aku khawatir pada Nindy dan juga mengkhawatirkan Rafael" Jelas tante Yuni.
"Alah, alasan kamu".
"Khawatir! Kamu pikir aku percaya. Kamu pasti senangkan melihat perasaan putraku yang kalut seperti ini. Kamu pasti senang melihat kekhawatiran dan kesusahan kami, iya kan!" Tuduh bu Linda lagi.
"Tidak mbak. Mbak jangan salah paham" Sanggah tante Yuni lagi.
"Justru aku ikut prihatin dengan musibah ini. Biar bagaimana pun kita tetap keluarga mbak, terlepas mbak mau mengakuinya ataupun tidak" Ucap tante Yuni.
"Cih, keluarga. Aku tidak pernah punya keluarga sepertimu" Sahut bu Linda.
Bu Linda memalingkan wajahnya karena tidak ingin melihat wajah wanita yang telah menghancurkan rumah tangganya. Meski waktu telah lama berlalu, namun rasa sakit hati yang pernah beliau rasakan tidak akan pernah terhapus begitu saja. Sampai kapanpun bu Linda akan tetap membenci wanita yang menjadi madu- nya itu.
Sementara itu tante Yuni tampak sedih melihat perlakuan bu Linda yang masih membencinya, beliau sedih karena hingga saat ini bu Linda tidak mau menerima kehadirannya.
"Sudahlah ma, mama tenang ya. Rafael minta jangan memancing keributan di sini. Saat ini pikiran Rafael sedang pusing ma, tolong jangan buat pikiran Rafael semakin pusing karena perdebatan mama dan tante Yuni" Pinta Rafael.
"Maafkan mama, sayang. Mama hanya terbawa emosi" Ucap bu Linda.
"Apa kamu akan tetap membiarkan wanita itu berada disini?" Tanya bu Linda pada sang putra.
Tentu saja Rafael tahu apa maksud ucapan ibunyan itu, bu Linda sedang melakukan protes karena ia membiarkan tante Yuni untuk masuk ke dalam ruangannya. Rafael menatap tante Yuni dan ternyata tante Yuni yang juga sedang menatapnya, tatapan keduanya saling bertemu untuk beberapa saat hingga kemudian Rafael berkata :
"Jika tante Yuni mau, tante boleh tetap disini. Tempat ini akan selalu menerima kehadiran tante" Ucap Rafael.
"Tapi Rafa,,,,,!" Protes bu Linda.
"Tidak apa- apa ma. Aku justru senang mendapat kan banyak dukungan dari kalian, karena saat ini hanya itu yang aku butuhkan".
"Terima kasih, Rafael" Ucap tante Yuni tulus.
Rafael mengangguk pelan seraya tersenyum kecil, ia tahu jika tante Yuni adalah orang yang baik sehingga tidak salahkan jika ia memberikan peluang kepada ibu tirinya itu.
Tante Yuni begitu terharu mendengar ucapan dari Rafael, beliau senang karena Rafael mengizinkannya tetap di sana untuk memberikan dukungannya. Setidaknya, ini adalah langkah awal untuk menjalin hubungan dengan keluarga Mahendra.
☆
__ADS_1