Sang Mantan

Sang Mantan
Part 23


__ADS_3

Sangat jelas terdengar hantaman truk yang menabrak mobil di sebelahku. Kalau saja Aku telat mengambil langkah. Aku juga pasti akan terkena hantaman truk itu.


Sementara bagian depan mobilku remuk menghantam trotoar. Aku bersyukur tak ada luka. Hanya syok yang membuat sesak dadaku, hingga serasa sulit untuk bernafas.


Kepalaku terasa pusing. Pandanganku gelap. Dunia mulai ku rasa berputar. Aku pingsan.


*****


"Alhamdulillah. Bunda sadar. Bunda nggak kenapa-kenapa kan Bun?" kata Maya.


Ketika Aku membuka mata, Aku sudah terbaring di ranjang pasien. Ada Maya yang menemaniku duduk di sisiku yang terbaring.


"Bunda nggak papa kok. Kamu sama siapa ke sini?" kataku pelan.


"Sama Ayah. Tapi lagi ke toilet."


'Vino di sini? Apa itu artinya Dia masih peduli?'


Aku mencoba mengangkat kepalaku. Ingin duduk. Tapi kepalaku terasa sakit. Seperti habis terhantam benda keras. Mungkin waktu kecelakaan tadi, Aku tak sadar kepalaku terbentur bagian dalam mobil yang keras. Hingga kepalaku sakit seperti ini. Kupegangi kepalaku. Tertunduk. Menahan rasa sakit.


"Kamu mau ngapain? Jangan dipaksain buat duduk dulu. Kondisimu masih belum stabil, Bun."


Vino tiba-tiba sudah di sisiku. memegang dan mendorong pelan bahuku, agar Aku terbaring kembali. Aku manut.


'Ini bener Vino kan? Ini Vino, Suamiku?' batinku yang tak menyangka Vino ada bersamaku.


Aku tersenyum. Sakit yang tadi Ku rasa, tiba-tiba dengan sekejap hilang.


"Kamu ..." kataku yang langsung dipotong Vino.


"Udah. Jangan banyak gerak dan bicara. Istirahat."


Aku kembali tersenyum. Seperti ingin Ku hentikan waktu sekarang. Melihat Vino yang seperti ini, membuatku terlena.


'Vino betul-betul peduli denganku. Atau karena ada Maya, Ia seperti ini?' tiba-tiba hatiku gundah.


"Bun. Emang Bunda tadi mau kemana? Aku ada di ruang depan loh Bun, lagi baca komik. Aku panggil nggak nyaut malahan pergi."


"Tadi Bunda ada meeting dadakan. Bos Bunda nyuruh cepet-cepet datengnya, makanya Bunda jadi nggak liat dan nggak denger Kamu. Maafin Bunda ya. Bunda buru-buru."


Aku berbohong lagi. Aku tak mau Maya tau Aku sedang ribut dengan Ayahnya. Kalau Maya tau, Aku dan Vino akan cerai, yang kesalahan semua ada padaku, karena Aku, pasti Maya akan lebih sangat terpukul dan kecewa.


Aku yang cengeng ini tak bisa menahan airmata yang tiba-tiba saja sudah menetes.


"Bunda kok nangis? Bunda kenapa? Bunda kesakitan?" tanya Maya dengan ikut menangis juga.

__ADS_1


Melihat Maya yang menangis karena kawatir denganku, membuatku semakin sesak.


"Bunda nggak papa, Sayang. Bunda cuma bersyukur, masih dikasih kesempatan hidup. Bunda nggak kenapa-kenapa."


Vino yang sedang memainkan ponselnya, Kulihat melirik ke arahku. Hanya melirik.


*****


Esoknya.


Aku dibolehkan pulang. Ku pilih waktu sore hari agar Maya bisa ikut Pak Dadang menjemputku pulang.


"Assalamualaikum," ucapku ketika memasuki rumah.


"Waalaikumsalam," kata Bu Iyem yang langsung menyambut kedatanganku.


"Ayah udah pulang belum, Bu Iyem?" tanya Maya.


"Loh. Kirain nyusul dari Kantor langsung jemput Bunda Neng Maya."


"Enggak. Ayah bilang nanti ketemu aja di rumah. Kirain udah nyampe. Soalnya tadi di rumah sakit lama nunggu surat pulang dari dokternya."


"Ya udah, Neng. Bunda nya suruh ke kamar aja, istirahat. Jangan kelamaan berdiri. Ayo Bu, Saya antar."


"Iya, Bun. Langsung istirahat di kamar aja yuk."


"Ibu. Neng Maya. Kalo gitu Saya permisi ya. Mau Mandi. Tadi baru selesai beres-beres, belum sempet mandi."


"Iya, Bu Iyem. Makasih ya Bu." kataku dan Bu Iyem keluar kamar.


"Bunda mau teh anget? Biar Aku bikinin."


"Boleh May. Bunda pingin yang anget-anget."


"Ya udah Aku bikinin ya. Bunda tiduran aja."


Aku mengangguk. Ku lihat Maya melangkah keluar kamar. Perhatian Maya sungguh menyayat hati ini. Airmataku tak henti-henti memaksa untuk keluar setiap kali teringat akan perceraian dan hak asuh.


'Aku harus bagaimana ya Allah. Sungguh, Aku nggak akan sanggup bila harus jauh dari Maya. Gimana caranya agar Vino mau memaafkanku. Aku harus Bagaimana ya Allah ... Ampuni Aku ...'


Tangisku tak bersuara. Hanya nafas yang sesegukan. Menangis seperti ini membuatku semakin sesak. Rasanya Aku ingin berteriak. Kencang. Tapi tak mungkin. Aku tak akan sanggup jika Maya tahu Aku sedang terpuruk. Maya tak boleh tau.


"Ceklek" pintu kamarku terbuka.


Buru-buru Ku usap airmataku cepat dan kasar. Ku tengok. Kupikir Maya, ternyata Mama Renata.

__ADS_1


"Mamah?"


"Kamu kenapa? Kemarin habis bertengkar dengan Vino?"


"Mamah tau Aku lagi ada masalah dengan Vino?"


"Mamah itu kan Mamahnya Vino. Ya pasti tau lah tentang Dia. Apalagi masalah Kamu sama Dia!"


"Kalo Mamah tau, kenapa Mamah nggak cegah Vino ngelakuin ini ke Aku?"


"Ngapain Mamah harus cegah Vino melakukan hal yang memang Mamah yang nyuruh?"


"Apaaaa? Maksud Mamah ...?"


"Ya! Mamah yang menyuruh Vino. Kamu tau Indri siapa? Indri keponakan Mamah. Kebetulan saat Mamah menikah dengan Papah, Indri ada di Belanda. Di rumah Orangtuanya. Perkenalan Mamah dengan Papah pun atas campur tangan Indri."


Aku benar-benar tersentak dibuatnya. Ini gila. Benar-benar gila.


"Tapi Indri nggak bilang apa-apa saat masih sering ketemu denganku, saat Aku sudah berstatus Istri Vino. Apa semua itu bagian dari rencana Mamah?"


"Ya. Betul. Mamah ingin Indri yang bersama Vino. Agar Mamah nggak terbuang di keluarga ini. Tapi sayangnya bertahun-tahun Mamah berusaha pisahin Kamu dan Vino. Tak ada hasil. Vino terlalu cinta. Cinta mati sama Kamu dan Maya."


"Indri bukannya sudah tunangan dengan Rey? Kenapa masih berharap dengan Vino?"


"Awalnya memang Indri capek. Dia mencoba melupakan Vino. Akhirnya Indri bertemu Rey, Dia memutuskan untuk bertunangan. Tapi lagi-lagi Kamu penghalangnya."


"Ya. Aku tau. Indri udah cerita ke Aku. Karena Aku, Rey memutuskan untuk tidak menikahi Indri. Tapi ketika Aku bersama Rey, Aku nggak tau kalo Rey udah tunangan, apalagi dengan Indri."


"Tapi Indri terlanjur sakit hati untuk kedua kalinya dengan orang sama, yaitu Kamu."


Kepalaku sakit. Mendengar cerita Mama Renata membuat kepalaku kembali sakit. Tak Ku sangka, bertahun-tahun rumah tanggaku dan Vino menjadi incaran orang-orang jahat yang selama ini ada di dalamnya. Bahkan Aku dan Indri berteman baik.


Kini, bulan depan tepat 10 tahun pernikahanku dengan Vino. Mereka menghadiahkanku perceraian. Dan yang paling menyakitkan, memisahkanku dengan anakku.


"Sekarang Indri sudah bisa mengambil hati Vino. Dan kini, tinggal menunggu waktu Kamu cerai dengan Vino dan jauh dari Maya selama-lamanya." katanya lagi.


"Jahat! Kalian benar-benar jahat!"


Aku teriak. Menangis. Tangisku pecah. Memecahkan seisi kamar. Tak peduli lagi akan ada orang yang mendengar.


"Praaaannnggg" suara benda pecah.


Aku menoleh. Tangisku langsung terhenti ketika melihat Maya menjatuhkan gelas berisi teh untukku.


"Nenek Jahat! Nenek udah bikin nangis Bunda!"

__ADS_1


Maya berteriak sambil menangis. Ia berdiri terpaku di pintu kamarku.


__ADS_2