Sang Mantan

Sang Mantan
Part 4


__ADS_3

'Dasar Rey..!!' gumamku menahan emosi.


"Saya Vino, ada keperluan apa Pak Rey..?" balas Vino memperkenalkan diri.


"Maaf Bu Tasya dan Pak Vino jika kedatangan saya membuat Ibu Bapak kaget, dan bingung. Saya asistennya Pak Hendra yang mendapat amanat dari beliau untuk bertemu dan membahas proyek dengan Bu Tasya. Kebetulan sebelumnya Saya ada meeting dengan yang lain dekat-dekat sini. Pas Bu Tasya whatsapp Saya sudah tiba di Bandara, Saya langsung saja kesini." ocehan penjelasan Rey membuat Vino manggut-manggut, tanda Ia mengerti dengan apa yang dikatakan Rey.


'Serrrrrrrrr'


Rasanya darahku yang tadinya terasa beku, mengalir lancar kembali. Nafas yang tiba-tiba seperti berhenti, bagai mendapat asupan oksigen baru. Rey membuatku panik saja, hampir mati Aku dibuatnya.


"Ohhh.. Ya ampuunnn, kirain siapa? Bikin kaget aja nih Pak Rey. Pak Hendra nya mana? Nggak ikut?" kataku mencairkan suasana dengan berpura-pura menanyakan Pak Hendra yang Aku pun tak tau Dia siapa.


"Pak Hendra sudah standby Bu di tempat," jawab Rey berbohong.


"Ohh.. ya udah ya Yah, Maya, Bu Iyem. Maaf ya, kita pisah di sini. Kalian istirahat aja dulu." kataku pamit sebelum pergi meninggalkan mereka.


"Ya sudah Bun nggak apa, jangan ngerasa ngga enak, waktu Kita kan masih panjang. Kamu sekarang fokus aja dulu sama kerjaan yang harus Kamu selesaikan." ucap Vino tersenyum memakluminya.


Sungguh sebenarnya Aku tak mau meninggalkan mereka saat liburan seperti ini. Tapi ini hari spesial Rey, laki-laki yang juga Aku cintai.


'Ahh, sudah lah, toh cuma sebentar aku bersama Rey." Batinku mencoba menepis keraguanku.


"Bunda, jangan sampe larut ya nyusul ke Hotelnya, nanti Bunda kecapean bisa sakit, yang ada bukannya seneng-seneng nanti Kita semua malah jadi sedih kalo ngeliat Bunda sakit." kata Maya memanja sambil memelukku.

__ADS_1


Dadaku langsung kembali sesak, tak terasa dan tak tau kenapa air mata keluar dengan mudah dari mataku. Entahlah, kali ini begitu berat melepas pelukkan Maya, putriku. Rasanya Aku ingin berlama-lama memeluk tubuh mungilnya.


Hati kecilku mulai goyah. Ingin sekali menyudahi semua ini, menyudahi hubungan berdosa ini.


'Akan Ku coba bicara dengan Rey nanti, mungkin Dia akan mengerti. Kalau hubungan ini, tak bisa diteruskan. Sebelum semuanya terlambat.' Batinku memantapkan niat baikku.


Kini, hanya ada kami berdua di mobil yang Rey kemudikan. Aku ingin memulai bicara dengan Rey, tapi entah jadi tertahan dan rasanya sulit sekali untuk aku ungkapkan. Lidahku terasa kelu, keringat dingin membanjiri tubuhku, padahal saat itu di dalam mobil sangat dingin. Aku pun menghela nafas.


"Huuffhhhhhh"


'Bagaimana Aku bisa memulai pembicaraan? Belum bicara saja Aku sudah mati kutu! Ya Allah, bantu Aku untuk melawan rasa ini. Bantu Aku untuk menyelesaikan ini semua.' Ucapku berdoa dalam hati dengan penuh harap.


"Kamu kenapa? Kok pucet sayang, Sakit? Kamu sakit?" tanya Rey khawatir.


"Minum dulu, biar lebih tenang." kata Rey menyodorkan air mineral yang sudah Ia buka ke arahku.


Aku pun meminumnya, hampir separuh dari botol ukuran setengah liter. Cukup membuatku sedikit tenang, dan lebih rileks.


"Kamu kenapa?" tanya Rey.


Matanya menatapku dalam. Memegang pundak kanan-kiri ku dengan kedua tangannya. Tubuhku spontan berputar menghadapnya. Wajahku masih menunduk saat itu. Hingga tangan kanannya kemudian mengangkat daguku, menjadikan wajahku sejajar dengan wajahnya. Dari tatapan matanya, Aku tau apa yang ingin Ia lakukan setelah ini. Buru-buru Ku tepis tangannya dan memutar tubuhku kembali ke arah depan.


"Ngga apa kok, cuma kecapean mungkin. Emm.. by the way selamat ulang tahun ya Rey. Doaku, selalu yang terbaik untuk Kamu. Aku juga berharap, kamu segera dapet jodoh." ucapku dengan menengokan wajahku ke arahnya.

__ADS_1


"Jodoh? Hey sayang, jodoh aku itu kamu." celetuk Rey dengan senyum tipisnya.


Rey menghidupkan mesin mobil, melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda. Aku belum berani mengatakan keinginanku untuk menyudahi hubungan ini. Hatiku terlalu lemah, sampai meminta putus agar hubungan ini berakhir pun aku tak mampu.


Entah sudah berapa lama Aku terdiam. Menikmati perjalanan tanpa bersuara. Jangankan untuk mengobrol, bicarapun Aku terasa enggan. Bayang-bayang keluargaku hadir membuyarkan lamunanku. Mereka terlihat tersenyum dalam pandanganku. Memberiku kekuatan dan tekad untuk tetap mengambil keputusan ini.


'Maav Rey. mungkin saat ini, saat terakhir Kita bersama. Semoga kamu bisa mengerti keputusanku nanti.' gumamku sambil menoleh ke Rey dan tersenyum tipis.


Mobil sudah terparkir di depan Rumah yang terlihat megah. Aku tak menyangka, Rey memiliki rumah semewah ini di Bali. Terlihat adem dan sejuk, dengan banyak pepohonan rindang di sekitaran rumah. Membuat mata dan pikiran terasa sangat dimanjakan. Tiba-tiba, Rey menarik tanganku membuat Aku sedikit berlari mengikuti langkahnya. Aku terpana, melihat salah satu ruangan di dalam rumah Rey yang dihias sangat indah. Seperti mau di adakan pesta.


"Gimana sayang, bagus nggak? Aku yang dekor sendiri loh." kata Rey menanyakan pendapatku.


Belom sempat Aku menjawab, Rey meninggalkanku. Tak lama, hanya beberapa saat, Rey kembali dengan kue tart yang terlihat enak di tangannya. Kemudian menaruhnya di meja yang telah Ia siapkan di ruangan ini. Ku lihat ada tulisan di cake cantik yang berbentuk hati.


'Happy Birthday To Me, I Love You Tasya.' ucapku dalam hati membaca tulisan itu.


Tanpa basa basi Rey memelukku dari belakang. Menciumi pipi merahku penuh cinta. Aku wanita berperawakan tinggi, langsing, berkulit putih, dan wajah yang cantik. Perawakanku tak ada yang berubah, masih sama seperti aku masih berstatus gadis. Mungkin itu yang membuat Rey tergila-gila padaku, meski aku sudah memiliki suami dan anak.


"Rey.. udah.." sergahku menolaknya.


Rey pun mengerti. Ia segera melepaskan pelukannya dan berlalu. Beberapa saat kembali dengan korek sudah berada di tangannya.


"Temenin aku tiup lilin yuk," ajak Rey yang saat itu sudah menyalakan lilin di cake nya.

__ADS_1


Setelah selesai acara yang cuma di rayakan hanya dengan Aku dan Rey, Aku sudah menyiapkan kata demi kata untuk memintanya mengakhiri hubungan kami. Hatiku sudah sangat yakin. Aku tau, ini pasti keputusan yang bisa membuat Rey kecewa. Karena bertepatan dihari yang sangat spesial untuknya. Tapi Aku tak mau kalah dengan keluluhanku. Kali ini Aku benar-benar harus mengambil keputusan. Ya, keputusan yang akan membuat Aku merasa paling beruntung, karena Allah telah menyadarkanku atas kesalahanku selama ini. Sebelum suamiku tau dan pergi meninggalkanku karena rasa kecewa.


__ADS_2