
Rafael menundukkan kepalanya mendengarkan setiap kata yang di sampaikan oleh Nindy, tidak ada sanggahan maupun bantahan darinya, ia mendengarkan semua cerita sang istri dengan seksama. Nindy menceritakan awal mula rencana kejutan yang di rancang oleh dirinya bersama Yuda dan juga Shella.
Semuanya bermula pada saat pertemuan yang tidak di sengaja antara Yuda dengan Nindy dan Shella beberapa hari yang lalu di sebuah pusat pembelanjaan. Pada saat itu Yuda melihat Nindy yang sedang menghabiskan waktunya bersama bu Linda dan juga Shella. Mereka terlihat begitu bahagia dengan tertawa dan bercanda bersama. Entah mengapa Yuda merasa iri melihat kedekatan Nindy bersama bu Linda dan ia ingin sekali melihat maminya juga merasakan hal yang sama seperti yang ibu tirinya itu rasakan.
Sudah lama Yuda ingin membuat mami Yuni bisa menjalin hubungan baik dengan Nindy dan juga keluarga besar Mahendra namun sayangnya ia tidak tahu bagaimana caranya. Hingga pada akhirnya sebuah ide tiba- tiba muncul di otaknya pada saat melihat Nindy hari itu. Yuda berusaha mengikuti Nindy saat itu dan mencari kesempatan untuk bisa berbicara langsung dengan istri saudara tirinya itu. Beruntung, Nindy juga menyambut baik gagasan rencana yang Yuda sampaikan tersebut, dan Nindy bersedia untuk terlibat dalam rencana Yuda.
"Ok, aku setuju. Mari kita buat pesta kejutan untuk Rafael serta keluarga Mahendra dan keluarga Hutama" Ucap Nindy dengan mantap.
Setelah menceritakan rencananya pada Nindy, keesokkan harinya Yuda mulai mengumpulkan saudaranya Yuri, dan Nindy mengumpulkan saudara Rafael yaitu Ronald serta Shella untuk membicarakan rencana mereka tersebut. Dan ternyata mereka semua menyambut baik rencana Yuda dan Nindy.
Nindy menceritakan semua rencana yang di susun olehnya bersama Yuda dan juga keluarga besar mereka, tidak ada satupun yang ia tutup- tutupi. Nindy ingin Rafael mengerti dan paham maksud dari rencana yang telah Yuda persiapkan untuk dirinya. Yuda ingin menyatukan keluarga Mahendra dan juga keluarga Hutama yang selama ini terlibat perang dingin semenjak pak Harun menikah dengan tante Yuni.
"Mungkin papa salah karena tidak pernah menceritakan alasannya menikahi tante Yuni pada kamu dan juga mama. Tapi ketahuilah jika salah satu alasan papa menikahi tante Yuni selain untuk melindungi keluarga Mahendra adalah untuk melindungi tante Yuni dari incaran laki- laki hidung belang yang mencoba untuk menggoda tante Yuni".
"Papa hanya berusaha menjaga istri dari sahabat masa kecilnya dari niat buruk para laki- laki yang ingin menguasai harta keluarga Hutama".
"Percayalah, Yuda hanya ingin membuat keluarga kita bersatu kembali" Ucap Nindy di akhir ceritanya.
Rafael menarik nafasnya dalam- dalam kemudian menghembuskannya dengan kasar, pikirannya kembali mumet setelah mendengarkan cerita dari istrinya. Ya, Rafael sadar jika selama ini hubungan keluarga Mahendra dan juga keluarga Hutama memang tidak baik- baik saja. Semua itu bermula sejak papanya menikah dengan tante Yuni yang pada saat itu tanpa persetujuan mamanya.
"Apakah kamu pikir hubungan kami akan baik- baik saja setelah semua yang terjadi dengan keluarga kami?" Tanya Rafael sembari menatap Nindy.
Nindy meraih tangan Rafael lalu mengusapnya lembut.
"Semua akan baik- baik saja jika kamu dan juga mama mau memaafkan kesalahan papa dan mau menerima tante Yuni serta keluarga Hutama" Sahut Nindy.
"Papa ingin menyatukan keluarga kita dengan keluarga Hutama, lalu kenapa kita justru menolaknya padahal keluarga Hutama mau menerima keluarga kita" Sambungnya.
Rafael terdiam, ia sedang memikirkan ucapan sang istri.
"Sayang" Nindy meraih tubuh Rafael kedalam pelukannya.
"Kamu tahukan jika tante Yuni dan keluarganya adalah orang yang baik, jadi tidak ada salahnya kan jika kita mencoba untuk menerima mereka dan memperbaiki hubungan keluarga kita" Ucapnya seraya mengusap punggung sang suami.
__ADS_1
Rafael membalas pelukan Nindy dengan erat sebagai tanda jika emosinya sudah terkendali dan amarahnya sudah mereda. Lama keduanya saling berpelukan hingga akhirnya Rafael melepaskan pelukan Nindy lalu menatap wajah istrinya dengan lekat.
"Jadi, seharian ini kamu sengaja menghilang dan mempermainkan hatiku hanya untuk membuat hubungan keluargaku dan keluarga tante Yuni membaik? Kamu sengaja mengerjai suamimu hanya untuk menyenangkan hati orang lain" Ucap Rafael.
"Lalu bagaimana dengan hatiku? Apa kamu tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan suamimu ini? Apa kamu tidak tahu aku hampir gila karena begitu mencemaskan keadaanmu? Aku tidak sanggup membayangkan jika hal buruk terjadi padamu. Aku takut kamu celaka dan aku takut jika kamu pergi meninggalkan aku seperti yang pernah kamu lakukan dulu. Tidakkah kamu tahu begitu banyak ketakutan yang aku rasakan hari ini hingga aku hampir kehilangan kewarasanku" Rafael mengungkapkan seluruh isi hatinya.
"Sayang!" Lirih Nindy sendu.
Hati Nindy langsung terenyuh saat mendengar ungkapan hati sang suami, ia merasa bersalah dan menyesal karena telah mengerjai suaminya. Nindy melihat binar mata Rafael yang mengembun sebagai tanda jika sang suami sedang menahan tangis. Tak ingin membuat perasaan Rafael semakin bersedih, Nindy kembali meraih tubuh suaminya dan memeluknya erat.
"Maafkan aku sayang. Maafkan aku" Ungkap Nindy penuh sesal.
"Jangan pernah berpikir seperti itu lagi. Percayalah, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku janji" Ucapnya.
Rafael membenamkan wajahnya di pundak Nindy dan menghirup aroma tubuh sang istri yang seharian ini begitu ia rindukan. Bukan hanya menghirup aroma, Rafael juga beberapa kali mencium pundak dan leher istrinya itu.
Nindy melepaskan pelukannya kemudian menatap mata Rafael seraya bekata :
"Hari ini aku menghabiskan waktu selama berjam- jam di salon untuk menyiapkan penampilan terbaikku di hari ulang tahun suamiku, tapi sayangnya bukan pujian yang aku dapatkan melainkan kemarahan yang aku terima" Ucap Nindy sembari cemberut.
"Hah!" Tawa Rafael seketika pecah saat mendengar pertanyaan istrinya.
"Pertanyaan konyol apalagi itu? Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Rafael balik bertanya.
"Lantas kenapa kamu tidak memujiku, kenapa justru kamu pergi bahkan tambah tanpa melirikku sama sekali".
"Apa kamu sudah tidak sayang lagi pa,,,,,!".
Muach
Rafael membungkam bibir Nindy karena tidak tahan mendengar ocehan sang istri yang tidak akan pernah ada habisnya. Hanya dengan cara seperti itu, Nindy akan berhenti bicara. Rafael menye sap kuat bibir sang istri dan terus menerus meneguk manisnya madu seakan enggan untuk melepaskannya hingga pukulan Nindy membuatnya berhenti.
Nafas keduanya saling memburu saat ciuman itu terlepas dengan pandangan mata saling menatap.
__ADS_1
"Aku akan menghukummu malam ini" Ucap Rafael sambil mengusap bibir Nindy yang basah.
"Ya, silahkan hukum aku dan lakukan apapun yang kamu mau. Aku akan menerima hukumanku dengan senang hati" Balas Nindy dengan nafas yang masih terenggah- enggah.
"Kamu sedang menantangku, sayang!" Sambung Rafael.
"Bukan menantang tapi menyerahkan diri, sayang" Sahut Nindy lagi.
Rafael menyeringai, ia tidak menyangka jika istrinya sudah berani menantangnya. Tanpa di duga, Rafael menarik tengkuk Nindy dan kembali menciumnya dengan mesra. Rafael menye sap kuat dan mengu lumnya dalam- dalam seolah ia begitu kehausan dan ingin menuntaskan semua dahaganya. Bukan hanya mulutnya yang bekerja, saat ini tangan Rafael juga tidak tinggal diam, ia mulai menggera yangi tubuh sang istri dan bermain di tempat faforitnya. Keduanya kembali terhanyut dan mulai terbawa suasana hingga mereka lupa di mana mereka berada saat ini.
"Emm,,, Stop" Nindy melepaskan ciumannya sembari menghentikan tangan Rafael yang sudah tidak bisa di kondisikan.
"Kenapa?" Rafael menatap wajah Nindy dengan tatapan mata yang sayu, nampak jelas di matanya jika ia sedang sangat menginginkan istrinya saat itu.
"Jangan sekarang" Jawab Nindy.
"Mereka sedang menunggu kita" Ucapnya.
"Hah!" Rafael mendesah kesal, bagaimana mungkin ia bisa berhenti di saat gairahnya sudah memuncak.
Nindy tahu jika Rafael kecewa atas penolakannya, tapi tidak mungkin jugakan mereka melakukannya saat itu juga dan di dalam mobil pula. Nindy mengusap wajah Rafael lembut sembari berkata:
"Kita lanjutkan di rumah saja ya. Aku tidak mau kamu membuat bibirku bengkak sekarang. Nanti mereka akan menertawakanku" Ucap Nindy.
"Hah!" Rafael menyeringai mendengar ucapan istrinya.
"Tunggu saja, sampai di rumah nanti aku akan membuat bibirmu bahkan seluruh tubuhmu membengkak" Ancam Rafael.
Mata Nindy melotot saat mendengar ancaman Rafael, ia tidak bisa membayangkan akan seperti apa pergulatan mereka nanti. Pasti suaminya itu tidak akan bermain dengan gaya yang sopan dan anggunly melainkan dengan gaya liar dan bar bar. Nindy menarik nafas panjang, ia harus mulai mempersiapkan dirinya untuk menghadapi pertarungan sengit yang akan terjadi antara dirinya dengan sang suami nanti.
☆
.
__ADS_1
.
.