Sang Mantan

Sang Mantan
MINTA CUCU


__ADS_3

Sepasang tangan kekar melingkar di pinggang ramping Nindy dan memeluknya dengan erat. Nindy merasa geli saat hembusan nafas Rafael menyapu kulit lehernya karena sang suami sedang membenamkan wajahnya di pundaknya sambil memberikan beberapa kali kecupan di sana. Rafael memang sangat suka memeluk Nindy dari belakang karena tubuh ramping sang istri begitu pas jika di peluk dari belakang.


"Berhentilah menciumku" Pinta Nindy yang sedang sibuk dengan tugas dapurnya.


"Jangan memintaku untuk berhenti karena aku tidak sanggup untuk melakukannya" Sahut Rafael yang semakin menggeratkan pelukannya.


"Kalau kamu memelukku seperti ini, aku tidak bisa bergerak" Ucap Nindy.


"Jangan bergerak, karena aku tidak memintamu untuk bergerak" Kilah Rafael.


Nindy menghela nafas.


"Lepaskan dulu tanganmu, aku harus menyiapkan sarapan untuk kita".


"Aku tidak ingin sarapan, aku hanya ingin kamu" Sela Rafael lagi.


"Aku juga tidak keberatan jika kamu yang menjadi sarapanku pagi ini".


Rafael mencium pipi Nindy dan juga lehernya hingga membuat istrinya geli.


"Its,,, geli" Nindy mencoba untuk melepaskan diri dari pelukan Rafael.


Rafael tidak bergeming, ia masih ingin menikmati aroma sang istri dan menghirupnya dalam- dalam. Ia begitu menyukai wangi tubuh sang istri meskipun istrinya itu yang tidak memakai parfum.


"Sayang!" Panggil Nindy lembut.


"Hm!" Sahut Rafael.


"Sudah dulu ya, aku harus menyiapkan sarapan dulu karena aku sudah sangat lapar" Ucap Nindy.


"Baiklah sayang" Meski dengan berat hati, Rafael akhirnya mau melepaskan pelukannya.


Nindy tersenyum lega "Terima kasih".


Rafael mengusap gemas rambut sang istri.


"Butuh bantuan?" Tanya Rafael.


"Boleh" Sahut Nindy.


"Apa yang bisa aku lakukan?".


"Tolong tata piring di atas meja makan ya" Pinta Nindy.


"Baiklah sayang, dengan senang hati aku akan melakukannya untukmu".


Cup


Rafael mengecup bibir Nindy sekilas lalu melangkah menuju meja makan. Nindy menyunggingkan senyum sambil melihat sang suami yang mulai melakukan tugasnya. Kini keduanya sibuk dengan tugas masing- masing, Nindy yang menyiapkan sarapan sementara itu Rafael yang menata meja makan.


Beberapa saat kemudian sarapan selesai di hidangkan. Nindy tidak membuat sarapan yang berat- berat, ia hanya menyiapkan nasi goreng seafood spesial dengan telur ceplok di atasnya. Terlihat sederhana namun sangat bermakna karena sarapan itu di buat dengan penuh rasa cinta.


"Selamat menikmati" Ucap Nindy pada suaminya.


"Terima kasih sayang" Balas Rafael.


Rafael menatap nasi goreng yang sudah Nindy siapkan untuk dirinya, ia sudah tidak sabar untuk mencicipi masakan sang istri yang terlihat begitu menggugah selera. Rafael mengambil sendok dan mulai mencicipi masakan buatan sang istri.


"Em,,,," Gumam Rafael dengan mulut penuh makanan.


"Enak banget" Pujinya.


Nindy tersenyum melihat wajah Rafael yang tampak lucu.


"Pelan- pelan, jangan sampai tersendak" Ucap Nindy mengingatkan.


Rafael tidak menghiraukan ucapan sang istri, ia kembali memasukkan nasi satu sendok penuh kedalam mulutnya.


"Em, masakan kamu benar- benar enak. Aku bisa kalap nih".


"Syukurlah jika kamu suka, berarti tidak sia- siakan aku siapkan sarapan untuk kita".


Rafael mengangguk.

__ADS_1


Keduanya saling melempar senyum dan kembali menikmati sarapan hingga tiba- tiba mereka di kagetkan dengan suara bel pintu.


Ting ting


Rafael dan Nindy saling menatap.


"Siapa ya?" Tanya Rafael.


Nindy mengangkat kedua bahunya.


"Aku tidak tahu" Sahutnya.


Ting ting


Suara bel kembali terdengar.


"Biar aku lihat siapa yang datang" Ucap Nindy saat hendak bangun dari tempat duduknya.


"Tunggu!" Cegah Rafael.


"Kamu tunggu di sini saja, sayang. Biar aku saja yang membuka pintunya".


Rafael langsung berdiri dan melangkah menuju ke arah pintu. Tiba di depan pintu, Rafael membuka pintu secara perlahan dan ia langsung kaget saat melihat sang mama yang tersenyum kepadanya.


"Mama" Seru Rafael.


"Iya, ini mama" Sahut bu Linda.


"Kenapa kamu kaget seperti begitu? Apa kamu sedang menunggu seseorang?".


"Tidak. Aku hanya kaget saja melihat mama" Kilah Rafael.


"Memangnya kenapa? Tidak boleh. Kamu tidak suka jika mama datang kesini?" Ketus bu Linda.


"Bu bukan begitu ma, hanya saja aku tidak menyangka jika mama akan datang sepagi ini" Ucap Rafael.


"Pagi! Ini sudah hampir siang, Rafael" Ujar Bu Linda sembari menyelonong masuk kedalam.


Rafael begong saat melihat sang mama menyelonong masuk.


"Hallo sayang" Bu Linda menyambut Nindy dengan sebuah pelukan.


"Bagaimana kabarmu? Apa kamu baik- baik saja? Dia tidak menyusahkanmu kan?" Tanya bu Linda sembari melirik Rafael. Lama tidak bertemu membuat bu Linda khawatir dengan keadaan rumah tangga putranya.


Nindy tersenyum


"Aku baik- baik saja ma" Jawab Nindy.


Bu Linda berucap syukur saat melihat kehidupan sang putra dan menantunya baik- baik saja.


"Mama sudah sarapan?" Tanya Nindy.


"Sudah, sayang. Mama sudah sarapan dirumah" Sahut bu Linda.


"Sayang sekali, padahal kami ingin mengajak mama sarapan bersama" Ucap Nindy lagi.


"Sarapan?" Bu Linda kaget mendengar ucapan Nindy, lalu mengedarkan pandangannya menatap ke arah meja makan.


"Kamu belum sarapan?" Tanya bu Linda pada Nindy.


"Kami sedang sarapan ma. Tapi mama malah mengganggu kami" Jawab Rafael sambil melangkah mendekati ibu dan istrinya.


"Sarapan apa jam segini?" Sergah bu Linda.


"Ya sarapan pagi lah ma. Memangnya ada sarapan lain selain sarapan pagi" Jawab Rafael lagi.


"Mana ada orang yang sarapan pagi jam segini, Rafael? Apa kalian tidak tahu kalau ini sudah hampir siang".


"Ini sudah jam sepuluh pagi" Ucap bu Linda.


Nindy dan Rafael saling menatap, keduanya menggaruk kepala yang tiba- tiba gatal. Mereka tidak menyangka jika sekarang sudah jam sepuluh pagi. Kegiatan lembur malam yang mereka lakukan sepanjang malam membuat mereka kesiangan di pagi harinya, beruntung hari itu adalah hari minggu sehingga mereka tidak perlu pergi kekantor.


"Ehem,,," Rafael berdehem untuk mencairkan suasana yang mulai tegang.

__ADS_1


"Maaf ma, pagi ini kami terlambat bangun" Jujur Nindy.


"Harap maklum saja ma, semalam kami habis lembur" Ucap Rafael yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang istri.


Plak


Bu Linda memukul lengan Rafael karena beliau langsung tahu arah dari ucapan sang putra. Terlebih tanpa sengaja bu Linda sempat melihat ruam- ruam merah di leher Nindy yang di tutupi dengan kerah kemejanya, tentu saja beliau tahu jika itu adalah karya dari putra bungsunya tersebut.


"Pasti ini semua karena ulah kamu kan! Kamu pasti menyiksa menantu mama semalaman hingga membuat Nindy telat sarapan. Iya kan?" Tuduh bu Linda pada sang putra.


"Aku tidak menyiksa Nindy, ma. Buat apa aku menyiksa istriku sendiri. Aku bahkan selalu menyentuh Nindy dengan sangat hati- hati agar Nindy tidak terluka" Ucap Rafael membela diri.


Bu Linda menarik telinga Rafael dan menjewernya.


"Aduh, aduh. Sakit ma!" Keluh Rafael.


"Kamu membuat menantu mama lembur semalaman, apa itu namanya jika bukan sebuah penyik*saan".


Bu Linda melepaskan jewerannya lalu kembali menatap Rafael.


"Awas saja jika terjadi sesuatu pada menantu mama, mama tidak akan memaafkanmu" Ancam Bu Linda.


Rafael melotot kesal, untuk apa ia menyakiti istrinya. Bahkan ia sama sekali tidak akan membiarkan istrinya terluka sedikitpun. Sementara itu Nindy hanya bisa tersenyum, ia tidak ingin ikut campur dalam perdebatan antara ibu dan anak itu.


"Apa dia selalu melakukannya setiap malam?" Tanya bu Linda pada Nindy.


"Eh!" Nindy bingung harus menjawab apa.


"Apa suamimu selalu mengajakmu lembur setiap malam?" Bu Linda mengulangi pertanyaan yang sama.


"Ma!" Sela Rafael.


"Diam kamu" Sergah bu Linda.


"Jika kamu memang sehebat itu, pasti sekarang kalian sudah mendapatkan hasilnya bukan".


Bu Linda melihat Nindy sambil menelisik penampilannya dengan seksama dan tanpa di duga tangan beliau terangkat mengusap perut Nindy.


"Lantas, apa kalian sudah berhasil membuatkan mama seorang cucu?".


" Eh! Itu,,,. Nindy belum tahu ma" Jawab Nindy sambil tersipu malu.


"Belum ada tanda- tandanya?" Tanya bu Linda lagi.


Nindy menggelengkan kepalanya dan jawaban Nindy langsung mendapatkan murka dari bu Linda untuk sang putra.


"Dasar bodoh" Bu Linda kembali memukul lengan Rafael.


"Memangnya apa yang kamu lakukan setiap malam, hah! Main rumah- rumahan?".


"Setiap malam kamu mengajak istrimu lembur tapi hingga saat ini mama belum mendapatkan kabar baik dari kalian berdua".


"Kamu bisa tidak sih melakukannya? Atau perlu mama ajarkan sebuah gaya agar kamu berhasil".


"Ma!" Rafael tidak dapat menutupi rasa malu saat mendengar ucapan sang mama.


"Mama jangan meremehkan aku, aku tahu caranya dan aku mampu untuk melakukannya" Tegas Rafael.


"Kalau begitu buktikan pada mama jika kamu memang mampu. Berikan mama cucu secepatnya" Ucap Bu Linda tepat di hadapan Rafael.


"Awas jika kamu gagal lagi".


Setelah mengatakan hal itu, Bu Linda lalu mendekati Nindy seraya berbisik


"Jangan memikirkan ucapan mama tadi, ancaman mama hanya berlaku untuk Rafael".


"Mama sangat menyanyangimu, sayang" Ungkap bu Linda tulus sambil memeluk Nindy.


"Aku juga sayang mama" Balas Nindy.


Pelukan keduanya terlepas, kemudian bu Linda merangkul Nindy menuju ke meja makan tanpa menghiraukan Rafael lagi.


"Kamu dengar itu, jika aku tidak berhasil membuatkan cucu untuk mama, maka kamu yang salah" Ucap Rafael sambil menatap kebawah.

__ADS_1


Meskipun dengan hati kesal, Rafael memutuskan untuk menyusul istri dan ibunya ke meja makan karena ia masih sangat lapar dan ia juga butuh banyak tenaga ekstra untuk dapat membuatkan cucu bagi sang ibunda tercinta.



__ADS_2