
Setelah Dimas pergi karena harus mengurusi urusan yang lain, Aku kembali ke kantor polisi untuk menemui Vino. Kebetulan sekarang sudah mendekati jam makan siang. Sekalian saja Ku belikan makan untuk Vino.
['Ayah. Sebentar lagi Aku ke sana ya. Kamu jangan makan dulu, Aku bawa makan untukmu. Kita makan bareng ya'] pesan Ku kirim ke Vino.
['Iya sayang, Aku tunggu. I miss you'] katanya lewat balasan pesan yang Ku baca.
Kurang dari 30 menit Aku pun tiba dengan dua kotak nasi di tanganku. Jam besuk dan makan siang sudah di buka oleh petugas. Ku lihat Vino yang duduk sendirian di meja yang disediakan untuk tahanan menemui keluarga yang membesuk. Ku hampiri dan Ku cium tangannya. Wajahnya berubah ceria. Senyum yang selalu Ku rindukan saat tak bersamanya menghiasi wajah tampannya.
"Kamu dari mana Bun? kenapa tadi nggak bareng sama Dimas ke sini nya?" tanya Vino saat Aku sedang menyiapkan makan yang tadi Ku beli.
"Oh. Tadi pas abis anter Maya sekolah, Aku mampir ke rumah temen yang kebetulan rumahnya nggak jauh dari sekolah Maya. Saking udah lama banget nggak pernah ketemu, pas ketemu keasikan ngobrol sampe lupa kalo ada janji sama Dimas mau ke sini," kataku berbohong.
Aku tak ingin Vino tahu kalau Aku baru saja ke rumah sakit tempat Rey di rawat. Apalagi soal Indri yang menjadi tunangan Rey. Rasanya tak tega melibatkannya tahu semua ini, karena hanya akan menjadi beban pikiran Vino. Saat Vino mengetahui siapa yang melaporkan nya saja, Dia cukup terkejut. Apalagi Kalau Dia sampai tahu Indri itu tunangan Rey. Tak bisa Ku bayangkan bagaimana Reaksinya.
Vino makan sangat lahap. Tak sedikitpun makanan yang Ku bawakan tersisa. Bahkan setelahnya Ia menyuapiku agar Aku memakan habis makananku. Kami pun bersenda gurau, memanfaatkan waktu yang hanya sebentar untuk bertemu. Sampai akhirnya, raut wajah Vino kembali Ku lihat murung.
"Maya gimana, Bun? Aku di sini kepikiran sama Maya. Dia pasti kecewa karena Ayahnya masuk penjara. Dia pasti malu punya Ayah seperti ku," ujarnya membuatku sedih.
"Nggak Yah. Ayah bukan penjahat. Jadi buat apa Maya malu? Justru Maya akan bangga sama kamu Yah. Bangga punya Ayah yang kuat. Aku sama Maya malah bersyukur Yah, Kalo aja Kamu pasrah, nggak ngelawan, Kamu yang terluka, atau bahkan lebih dari itu, Kita pasti udah sangat terpukul," kataku menenangkan hatinya.
Vino menatapku. Matanya nanar. Ku pindah posisi dudukku di sampingnya, Ku peluk. Ku rasakan nafasnya yang terengal, menahan tangisan.
"Ayah ... Kalo mau nangis, nangis aja. Keluarin semuanya. Jangan ditahan. Biar setelahnya Kamu lebih tenang," kataku berbisik di telinganya.
__ADS_1
Tubuh Vino yang Ku peluk terasa berguncang, Vino menangis. Mendengarnya menangis, membuatku ikut hanyut ke dalam tangisannya. Ku peluk Vino semakin erat.
"Maafin Aku Yah ... Gara-gara Aku, semua jadi begini ... Aku jahat. Aku istri dan Ibu yang jahat. Seharusnya Aku yang dihukum karena dosa-dosaku. Bukan Kamu. Bukan Kamu ..." tangisku semakin kencang.
Vino melepaskan pelukan. Kedua tangannya memegang bahuku. Mata Kami yang penuh airmata, saling menatap. Aku semakin tak bisa membendung tangisanku. Hingga Vino mengusap lembut airmataku dengan kedua ibu jarinya.
"Kamu jangan nangis, jangan ngomong gitu, Bun. Jangan kaya gini. Nggak usah lagi saling nyalahin sekarang. Ini udah takdir. Ayah bersyukur, semua ini ada hikmahnya. Hikmah buat keluarga kecil kita," kata Vino dengan senyum tipisnya.
"Ya udah Yah. Aku mau jemput Maya. Takut telat, kasian kalo Maya harus lama nunggu. Kamu baik-baik ya di sini. Aku sayang Kamu," kataku mencoba pamit.
"Hati-hati Bun. Sampaikan salamku untuk Maya. Aku juga sayang Kalian," katanya sembari memberikan tangannya ke arahku.
"Ya. Assalamualaikum," ucapku setelah mencium tangannya.
"Waalaikumsalam," katanya tersenyum.
Sesampainya di rumah. Maya langsung masuk kamar. Ku perhatikan memang dari keluar sekolah Maya terlihat murung. Bahkan saat Ku tanya apa saja kegiatannya hari ini di sekolah, Ia hanya diam. Tak biasanya. Aku pun khawatir. Segera Ku susul Maya ke kamarnya.
"ceklek ..." suara pintu Ku buka.
Ku lihat Maya tertelungkup di ranjangnya dengan seragam masih lengkap Ia kenakan. Aku semakin cemas, melihat tingkah tak biasa Maya saat ini. Ku hampiri, untuk tahu apa yang terjadi padanya.
"Maya ... Kamu kenapa? Kamu sakit?" kataku mengawali pertanyaan.
__ADS_1
Maya tetap saja tak bergeming dari posisinya. Dia tetap diam tanpa suara. Hingga isakkan tertahan yang justru Ku dengar dari balik wajah yang Ia benamkan di bantal hellokitty kesayangannya. Hatiku berdesir, membuatku semakin khawatir dengan keadaannya.
"Maya ... Heiyy ... Kamu kenapa? Sayang ... ngomong sama Bunda, Kamu kenapa?" kataku dengan mengelus lembut kepala Maya.
"Aku benci Ayah! Aku benci sama Ayah!" katanya teriak dengan posisi masih seperti awal.
"Sebenarnya ada apa Maya? Kenapa Kamu ngomong begitu? Kamu nggak boleh begitu!" kataku mencoba membalikkan tubuhnya.
Maya pun akhirnya duduk. Kedua matanya sudah bengkak. Ku geser duduknya menghadapku. Ku palingkan wajahnya yang menunduk agar menghadap wajahku.
"Maya ... Kamu kenapa? Cerita sama Bunda, ada apa? ada masalah apa?" kataku sambil memegan kedua pipinya.
"Aku nggak mau sekolah lagi. Aku benci Ayah. Aku benci Ayah yang jahat. Aku nggak mau punya Ayah di penjara. Aku nggak mau punya Ayah yang jahat," katanya dengan tangisan semakin memecahkan ruang kamar.
Aku langsung memeluknya. Ikut menangis. Rasanya sakit sekali, mendengar Maya bicara seperti itu. Aku tak rela. Vino yang tak bersalah sama sekali menjadi dibenci oleh Maya. Harusnya Aku yang Ia benci. Seorang Ibu yang tega menghianati anak dan suaminya. Seorang Ibu yang menjadi sebab kekacauan semua ini. Aku mengutuk diriku sendiri.
"Maya, Sayang ... Kamu salah nak. Ayah nggak seperti yang Kamu fikir. Ayah cuma korban di sini. Ayah nggak salah sayang. Ayahmu orang baik. Sangat baik," kataku yang sudah mulai bisa mengendalikan tangisku.
"Terus kenapa semua teman-teman Maya bilang kalo Ayah itu jahat. Kata mereka semua orang-orang yang masuk penjara itu jahat, Bun," kata maya masih menangis.
Ku peluk lagi Maya. Tanpa suara beberapa saat. Hanya pelukan yang Ku berikan. Dengan harapan Maya sedikit tenang dan bisa kembali mendengarkanku. Setelah agak tenang, Ku lepaskan pelukannya dan mulai berbicara lagi.
"Ayah itu cuma korban. Ayah melakukannya untuk membela dirinya. Kalau aja Ayah nggak melawan. Bisa-bisa Ayah yang akan terluka atau bahkan lebih dari yang kita bayangkan. Kamu harus ngerti posisi Ayah saat ini. Itu bukan murni kesalahan Ayah. Kamu harus percaya dan support Ayah. Bukan malah marah sama Ayah dengan lebih mendengarkan apa kata teman-temanmu. Maya kan anak pintar. Pasti tau apa yang harus Maya lakukan untuk Ayah," kataku berupaya menjelaskan agar Maya mengerti.
__ADS_1
"Aku tau kok Bun. Harusnya Aku doain Ayah biar Ayah cepet bebas. Bukan malah kehasut sama omongan temen-temen. Maafin Aku ya Bun," ujarnya memelukku.
"Bunda janji. Ayah nggak akan di penjara. Ayah pasti bebas. Ayah pasti kembali ke rumah ini. Kita pasti Akan kumpul lagi. Bunda janji Sayang," kataku mengusap-usap kepala Maya yang masih Kupeluk dengan menahan airmata yang sudah tak terbendung.