Sang Mantan

Sang Mantan
Part 10


__ADS_3

"Selamat Pagi. Kami dari kepolisian, ingin menangkap Pak Vino dengan tuduhan penganiayaan atas nama Pak Rey. Ini surat penahanannya." kata Polisi sembari menyerahkan surat tugas penangkapan Vino.


Aku menoleh ke Vino. Vino mengerti maksudku, mataku seakan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Vino hanya menggeleng ke arahku saat Polisi memborgolnya. Maya menangis melihat apa yang terjadi dihadapannya, mengguncang-guncang tubuhku seakan tak terima Ayahnya di bawa oleh Polisi.


"Bunda ... cepet tahan ayah, Bun ... kasian Ayah di bawa Pak Polisi ... Bunda kenapa diem aja ... hiks ... hiks ... Ayah ..." kata Maya menangis histeris.


Aku pun menangis. Tapi Aku tak berdaya. Aku tak bisa memaksa Polisi untuk tidak membawa Vino. Mereka menangkap Vino pasti bukan tanpa alasan. Aku berlari, menghampiri Vino yang mau masuk ke mobil bersirine di atapnya. Memeluknya.


"Ayah ... sebenernya ada apa? Kenapa Kamu begini?" tanyaku dengan suara lirih menahan tangis.


"Kamu harus percaya sama Aku, Bun. Nanti Ayah ceritakan di Kantor Polisi." jawabnya meyakinkanku.


Mobil Polisi yang membawa Vino sudah menghilang di pertigaan jalan. Aku mencoba menenangkan Maya sebelum menyusul Vino ke Kantor Polisi.


"Pak Dadang ikut ya. Tolong setirin. Saya takut nggak fokus kalo nyetir sendiri." kataku buru-buru dan masuk ke dalam mobil.


Pak Dadang hanya memanggut dan langsung sigap berlari ke mobil. Keadaan di Rumah terasa mencekam. Ditambah Maya yang tak mau berhenti dengan tangisannya.


Di Kantor Polisi Aku langsung menghampiri Vino yang sedang di interogasi. Aku duduk di sampingnya. Pikiranku semakin kalut melihat wajah Vino yang seperti tertekan dengan masalah ini. Ku usap punggung Vino agar Ia lebih tenang dalam menjawab semua pertanyaan Polisi.


Interogasi pun selesai. Aku diberi waktu untuk berbicara dengan Vino, sebelum Vino masuk ke ruang tahanan. Wajah Vino seperti sedang memikul beban yang sangat berat. Ku ambil air mineral botol di tasku. Lalu menyodorkannya ke Vino yang terlihat sangat lelah.


"Yah ... ini diminum dulu airnya. Biar Ayah lebih tenang." kataku memberikannya minum yg Ku pegang.


Vino meminumnya. Hampir habis. Setelah Vino sudah sedikit tenang, Aku baru memulai pertanyaanku.


"Sebenernya Kamu kenapa Yah? Kenapa Polisi sampe nuduh Kamu yang nganiaya Rey? Ayah kemarin nemuin Rey?" tanyaku sedikit menyelidik.

__ADS_1


Vino hanya diam, menunduk. Segera Ku angkat wajahnya dengan tanganku memegang dagunya. Ku tatap matanya yang selama ini selalu meneduhkanku.


"Ayah ... cerita, biar Aku tau permasalahannya. Aku percaya Kamu. Nggak mungkin Kamu tau-tau nganiaya Rey. Aku tau Kamu Yah ... Kamu nggak seceroboh ini." kataku meyakinkannya agar mau segera bercerita.


"Huuffhhh"


Vino menghela nafas yang Ia rasakan sangat berat.


"Jadi begini Bun ..." kata Vino mengawali ceritanya.


Matanya terlihat nanar. Vino mencoba mengingat kejadian kemarin yang Ia alami. Aku pun menggenggam tangannya dan dibalas dengan genggamannya yang lebih erat.


-----


"Sekarang katakan apa maumu? Masih banyak urusan yang lebih penting ketimbang berlama-lama denganmu" kata Vino kepada Rey yang Ia temui di sebuah taman dekat dengan apartemen pribadi milik Rey.


Rey tersenyum menyeringai. Wajah licik penuh kebencian tak bisa Ia sembunyikan. Berbeda dengan Vino. Wajahnya datar, tak ada sirat dendam dengan lelaki yang tengah berdiri di hadapannya, lelaki yang telah merebut kebahagiaan rumah tangganya. Tak banyak yang Vino mau. Harapannya, Ia hanya ingin Rey melupakan Istrinya. Melupakan perselingkuhan itu.


"Terus, hanya karena Dia mau berselingkuh denganmu, itu membuat kamu berfikir Kamu sudah menang? Nggak!" kata Vino dengan nada bicara yang masih tenang.


"Anda bodoh atau memang sudah nggak waras? Perempuan ****** kaya Dia masih Anda pertahanin? Anda gila?" kata Rey pongah.


Vino tetap pada pendiriannya. Tak mau termakan omongan Rey. Ia berusaha agar tetap mendinginkan hati dan kepalanya. Ia tak mau mengotori tangannya hanya karena laki-laki ******** seperti Rey.


"Kamu bilang Istri Saya perempuan ******? Lalu kenapa Kamu begitu menginginkannya? Apa Kamu anggap Dia emas? Berlian? Yang ingin Kamu rampas dari pemiliknya? Yang bodoh dan nggak waras itu Kamu atau Saya???!!" ucap Vino yang akhirnya sedikit teriak di akhir kalimatnya.


Rey mulai terlihat marah. Wajahnya merah padam menahan emosi. Vino yang sejak tadi tenang juga sedikit terlihat gusar. Ia berbicara lagi.

__ADS_1


"Kamu pikir Saya akan meninggalkan Tasya begitu saja? Tasya seperti itu karena salah Saya. Salah Saya yang mungkin sudah mulai kurang memperhatikannya. Sialnya lagi, Dia bertemu dengan pecundang sepertimu! Pecundang yang nggak bisa berusaha menemukan berliannya sendiri!" kata Vino lagi sambil tersenyum ketus membuat Rey semakin marah.


"Apa katamu? Sini lebih dekat bicaranya bren*sek!" ujar Rey tak mau kalah.


"Selain gila ternyata Kamu juga tuli ya? Dasar Pecundang!!" ucap Vino membuat Rey naik pitam.


Tanpa diduga, Rey mengeluarkan pisau lipat dari sakunya. Vino tersentak. Ia mundur. Tapi Rey tanpa belas kasihan mengayunkan pisaunya ke dada Vino. Vino pun dengam sigap menahan tangan Rey. Pisau runcing dan tajam itu tertahan 5 centi di atas dada Vino. Sekuat tenaga Vino berusaha menahannya. Dorongan Vino semakin kuat, hingga Rey terjerembab. Melihat Rey yang sedang lengah. Vino pun segera berlari meninggalkan Rey. Ia tak mau sesuatu terjadi padanya. Tapi Rey mengejarnya. Mau tak mau, Vino pun harus melawan dan menghadapinya dengan tangan kosong. Tatapan Rey tajam, Ia semakin kesetanan. Rey segera mengayunkan kembali pisau yang akan di hujamkan ke dada Vino.


"Braaggggg"


Sebuah batu besar Vino hantamkan ke kepala Rey. Seketika Rey tersungkur. Darah segar mengalir dari kepala dan pelipisnya. Rey begitu sangat kesakitan.


"Aahhhh ..." ringis Rey menahan sakit dengan memegangi kepalanya yang berlumuran darah.


Hanya beberapa detik, Rey tak sadarkan diri. Vino terpaku menyaksikan apa yang baru saja terjadi. Ia sangat menyesal. Memukul-mukul kepalanya. Kemudian berlutut dan kembali meremas kepalanya dengan kedua tangannya. Ia membayangkan apa yang akan Ia hadapi setelah ini.


'Ya Allah ... apa yang Aku lakukan?' gumam Vino menyesalinya.


-----


Aku menangis mendengarkan cerita Vino. Ku tatap wajahnya yang terlihat cemas. Ku usap airmatanya yang mulai menitik. Mencoba menguatkannya dan meyakinkan semua akan baik-baik saja.


"Jangan takut Yah. Aku akan berusaha keluarin Kamu dari sini. Aku akan sewa pengacara yang bisa Kita andalkan. Kamu nggak salah, Ayah. Kamu cuma ngebela diri." kataku memberi kekuatan pada Vino.


Vino tersenyum tipis. Berusaha menenangkan dirinya. Ia tak mau Aku ikut terlarut dalam kesedihan ini. Vino menghapus airmataku yang sedari tadi menyeruak. Ia memelukku, erat. Sangat erat.


"Titip salam buat Maya ya Bun. Bilang jangan khawatir. Ayah akan segera pulang." ucapnya tenang.

__ADS_1


Aku semakin tak bisa menahan airmataku yang serasa terus mendorong dan ingin menumpahkannya segera. Airmataku menetes. Membasahi bahu Vino.


'Maafin Aku Yah ... ini semua salah Aku. Aku janji akan ngeluarin Kamu dari sini. Aku janji!' batinku yang tengah memeluk Vino.


__ADS_2