Sang Mantan

Sang Mantan
Part 11


__ADS_3

"Tuuutt ... tuuutt ..." suara panggilan yang tersambung dengan ponselku.


Aku yang masih di area parkir kantor polisi mencoba menelepon seseorang. Hanya Dia yang Kuharapkan. Sebenarnya banyak sekali temanku yang berprofesi sebagai pengacara. Tapi entah kenapa, Aku lebih mempercayakan ini pada-nya.


"Ya. Haloo," ujarnya menjawab panggilanku.


"Halo Dim. Ini Gue, Tasya," kataku memperkenalkan diri.


"Heyy ... Tasya! Gonta-ganti nomer terus ya, kaya *******. Ada apa nih, tiba-tiba calling Gue? Ngurus cerai? Astaga ..." ucap Dimas asal nyeletuk.


Dimas temanku semasa SMP dan SMA. Kami sangat dekat, bisa dibilang sahabat. Banyak yang mengartikan persahabatan Kami itu seperti sepasang kekasih. Tapi hal itu tak membuat kami merubah status. Karena memang tak ada perasaan apapun selain rasa persahabatan. Karena pertemanan Kami teramat dekat, Dimas juga sempat menjadi bulan-bulanan Rey sewaktu Aku masih berpacaran dengan Rey.


"Huss! Sembarangan!" kataku sedikit kesal.


"Hahaha. Selow Sya, nggak pake ngegas kali. Terus kalo bukan perceraian ada perlu apa sama Gue?" kata Dimas cengengesan.


"Ada kasus yang mesti Lu tanganin. Bisa minta waktu buat ngomongin ini?" ujarku pada Dimas.


"Kayanya serius nih. Okeh, kebetulan Gue lagi di Klanting Kafe, Lu ke sini aja. Atau, Gue yang nyamperin Lu? Lu dimana?" kata Dimas yang sudah mulai serius.


"Gue di kantor polisi! Emang Lu mau ngobrol di sini? Udah Gue aja yang susulin Lu," kataku sedikit tertawa.


Aku menghampiri Pak Dadang yang sudah stand by di mobil. Meminta-nya menunggu sebentar, karena panggilan untuk buang air kecil tak bisa ku tunda.


"Pak Dadang, sebentar ya. Saya mau ke toilet dulu," ucapku sambil berlalu cepat kembali masuk ke kantor polisi.

__ADS_1


"Siap Bu!" kata Pak Dadang berteriak agar terdengar olehku yang sudah berlalu.


Sekitar 5 menit, Aku sudah kembali dan masuk ke mobil. Segera ku suruh Pak dadang untuk cepat mengantarkanku ke tempat Dimas berada. Seperti biasa, tak banyak tanya dan bicara, Pak Dadang hanya memanggut.


Tak butuh waktu lama, hanya 20 menit perjalanan, Kami telah tiba di tempat yang Aku dan Dimas sepakati. Pak Dadang menurunkanku di depan pintu masuk kafe. Pandanganku menyebar, mencari sosok yang ingin ku temui. Ku dapati Pria bertopi dan berkacamata melambaikan tangan ke arahku. Ya, itu Dimas. Tak ada sedikit pun yang berubah darinya. Walau sudah mapan, memiliki istri dan baru saja menjadi seorang Ayah, Ia memang selalu cuek dengan penampilannya. Tak terlihat seperti pengacara pada umumnya.


Ku balas lambaian tangannya dan berjalan menghampirinya. Dimas yang saat tadi tengah asik berkutat dengan laptop, kini menutupnya ketika Aku menghampirinya.


"Duh ... Tasya, dah 2 tahun nggak ketemu makin kinclong aje Lu. Gimana nggak kinclong, karir terus meroket!" ujar Dimas cengengesan.


Kami memang jarang bertemu. Terakhir kali ketemu saat acara reuni SMA dulu. Walau jarang bertemu, kami masih selalu aktif dalam berkabar melalui sosmed. Tapi Dimas tak tahu tentang hubungan ku dengan Rey..


"Ahh bisa aja Lu," kataku sembari duduk memilih kursi di hadapannya.


"Gila Lu, bersyukur Laki Lu nggak kenapa-kenapa. Masih dikasih umur panjang. Coba kalo lewat. Jadi janda Lu Sya. Orang Kok dikasih Laki baek begitu disia-siain," kata Dimas menyalahkanku.


Aku hanya menunduk. Sebenarnya Aku malu menceritakan aibku di depannya. Tapi Dimas harus tau semuanya. Karena Dia yang akan mengurus masalah ini. Benar kata Dimas, kalau saja Vino tak bisa melawan. Mungkin Aku sudah menjanda sekarang. Air mataku tak bisa terkontrol. Aku menangis. Entah sudah berapa kali Aku menangis, sejak tadi pagi polisi ke rumah menjemput Vino, yang tengah asik menikmati sarapan dengan keluarga yang Ia cintai.


"Ehh ... dia malah nangis. Udah Sya, bukan tangisan yang bisa bikin Laki Lu keluar dari tahanan. Elu nya juga harus kuat. Jalan kita masih panjang. Proses nya masih panjang Sya, apalagi nggak ada saksi satu orangpun kalo Laki Lu bener-bener cuma lagi ngebela diri dari serangan," kata Dimas lagi membuatku mengusap kasar airmataku.


"Tolong Dim, please. Bantu Gue bebasin Vino. Gue nggak sanggup Dim, ngeliat Maya yang nangis terus di rumah. Gue yakin Lu Lawyer yang bisa di andelin. Gue yakin Dim!" ucapku sambil memegang tangan Dimas, memohon.


"Pasti Sya. Pasti Gue bantu. Gue bakal pelajarin kasusnya, dan Gue juga bakal usahain Vino bebas," kata Dimas meyakinkanku.


Setelah Dimas menjelaskan langkah apa yang akan Ia ambil dan apa saja hal-hal yang diperlukan untuk mempelajari kasus Vino. Itu membuatku takjub, Dimas memang bukan Lawyer sembarangan. Dia sangat teliti, dan merinci. Penjelasan demi penjelasan dijabarkannya. Aku yang awalnya memang tak mengerti sama sekali di dunia hukum. Menjadi begitu mudah memahami apa yang Dimas jelaskan secara rinci.

__ADS_1


Cukup lama kami berbincang. Bertukar pikiran. Mencari solusi, langkah apa yang akan diambil kedepannya untuk menangani kasus Vino. Aku mempercayakan semuanya ke Dimas. Berharap akan ada titik terang untuk kebebasan Vino.


"Cukup sampe sini dulu Sya. Gue juga ada janji nih sama orang. Sementara Gue pelajarin, besoknya kita temuin Vino. Ada beberapa hal yang mau Gue tanyain ke Vino menyangkut kasus ini," kata Dimas sambil memasukkan Laptop ke ranselnya.


"Ok Dim. Gue juga kepikiran sama Maya. Pas Gue tinggal masih dalam keadaan nangis soalnya. Thanks banget ya Dim buat waktu dan kesediaannya. Salam buat Nayla sama Baby Nadim," kataku pamit meninggalkan Dimas yang masih membereskan berkas-berkas di meja tempat Kami tadi berbincang.


*****


"Assalamualaikum," ucapku memberi salam saat memasuki rumah.


Tak ada jawaban. Keadaan rumah begitu sunyi. Sepi. Dari ruang depan, ruang tamu, ruang keluarga sampai dapur, Bu Iyem yang ku cari tak ada. Kuputuskan segera ke kamar Maya untuk melihat kondisi Maya.


"Ceklek ..." suara pintu yang tak terkunci ku buka.


Kudapati Maya yang sdang tertidur di pangkuan Bu Iyem. Wajah Maya terlihat lelah, dan matanya sedikit bengkak. Mungkin karena tangisannya yang cukup lama tadi.


"Ternyata Bu Iyem di sini. Aku nyariin. Kirain kemana, sepi banget rumah," kataku sambil menghampiri Maya yang tertidur pulas.


"Neng Maya nggak diem-diem nangisnya Bu. Ini aja baru merem, kecapean kali langsung pules jadinya," kata Bu Iyem sembari mengangkat pelan kepala Maya dari pangkuannya dan menaruhnya kembali di kasur.


"Ya udah. Bu Iyem istirahat sana. Biar Maya Aku yang temenin," ujarku ketika Bu Iyem sudah berdiri dari ranjang kasur Maya.


Ku hampiri Maya dengan duduk di sebelahnya yang sedang tertidur pulas. Ku amati wajahnya. Semakin lama semakin membuatku terenyuh.


'Maafin Bunda, sayang. Gara-gara Bunda, Kamu hampir saja menjadi anak yatim. Nggak bisa Bunda Bayangin gimana jadinya kalo Ayah Kamu nggak bisa melawan waktu itu. Bunda janji nak, akan bawa Ayahmu pulang segera ke rumah. Apapun caranya. Bunda janji!' gumamku yang tanpa terasa airmata ini menetes di wajah cantik Maya.

__ADS_1


__ADS_2