
Rooftop menjadi pilihan Nindy untuk melepaskan penat diotaknya setelah lelah mempelajari banyak berkas yang di berikan oleh Ardi padanya. Sejak sampai di kantor tadi pagi, Nindy langsung di suguhi dengan puluhan berkas yang sudah menumpuk di atas meja kerjanya. Ardi mengatakan jika ia harus mempelajari semua berkas- berkas itu karena dalam beberapa bulan kedepan perusahaan akan melakukan kerja sama dengan klien yang sangat besar jadi ia harus tahu segala hal yang berhubungan dengan kerja sama tersebut.
Meskipun kesal namun Nindy tidak bisa meluapkan kekesalannya kepada Ardi karena tugas itu bukanlah berasal dari dirinya melainkan dari Rafael. Dan yang membuat Nindy makin kesal adalah karena sejak pagi ia tidak juga bertemu dengan suaminya itu. Tidak dapat di pungkiri jika sesungguhnya Nindy begitu mengkhawatirkan keadaan sang suami perihal kejadian semalam.
Dengan di temani oleh satu cup es jeruk kesukaannya Nindy menikmati pemandangan ibu kota dari ketinggian lantai gedung LJ Grup, dalam hati Nindy masih mempertanyakan kenyataan yang saat ini terjadi di hidupnya. Benarkah jika gedung ini dan seluruh isi di dalamnya adalah miliknya? Benarkah jika ia memiliki kuasa penuh terhadap seluruh peraturan perusahaan bahkan seluruh karyawan yang berada di perusahaan ini.
"Jadi begini ya rasanya menjadi seorang pewaris" Gumam Nindy.
"Ternyata sama sekali tidak menyenangkan".
"Aku harus menghabiskan seluruh waktuku hanya berada di dalam ruanganku dan tidak punya kesempatan untuk bertemu dengan orang lain. Bahkan aku hanya memiliki satu orang patner kerja saja yaitu pak Ardi"
"Ah! Benar- benar membosankan".
Nindy menatap seluruh pemandangan yang berada di hadapannya, ia menatap dengan tatapan mata yang kosong karena seluruh pikirannya sedang menerawang jauh memikirkan hidupnya, hubungan asmaranya dan juga kejadian semalam.
Nindy terus memikirkan kenapa Tuhan menggariskan sebuah takdir yang penuh liku untuk dirinya, bahkan kini takdir seolah bukan hanya sedang mempermainkan hidupnya tapi juga hati dan perasaannya. Berada di dalam lingkaran hubungan asmara antara sang suami dan sang kekasih tentu bukanlah hal yang mudah baginya, ia seperti seorang pemain yang sedang mempermainkan hati dua orang pria sekaligus.
"Aaaaahhhh! Tahu ah, pusing gua".
Nindy berteriak kencang sembari mengacak- ngacak rambutnya. Ia berada di dalam pusaran dilema, dilema yang tidak berujung.
"Pusing kenapa?" Sebuah suara mengangetkan Nindy.
Nindy memalingkan kepalanya menghadap ke sumber suara, ia melihat seorang wanita cantik yang memakai jas putih sedang berdiri menatapnya.
"Ternyata kamu disini ya" Ucap dr Yulia sambil tersenyum manis.
Dr Yulia melangkah mendekat dan memilih untuk duduk di kursi yang berada tepat di samping Nindy.
"Pemandangan disini sangat indah bukan? Aku juga suka nongkrong di sini, tempat ini memang sangat cocok untuk di jadikan tempat releksasi setelah seharian bekerja".
Nindy tidak menjawab, ia hanya mendengar ucapan wanita itu sembari mengangguk setuju.
"Apa yang kamu rasakan saat ini?" Tanya dr Yulia.
"Heh! Maksudnya apa?" Nindy balik bertanya karena ia tidak mengerti.
Dr Yulia kembali tersenyum
"Perasaanmu! Bagaimana perasaanmu saat ini? Apa kamu baik- baik saja? Atau kamu sedang mempunyai masalah?".
Nindy tersenyum getir, ia merasa sepertinya wanita ini tahu banyak tentangnya. Tapi siapa wanita ini? Pikirnya.
__ADS_1
Seolah seperti dapat membaca pikiran Nindy, dr Yulia mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.
"Perkenalkan, aku dr Yulia. Aku bekerja sebagai dokter di unit kesehatan LJ Grup. Dan aku adalah sepupu Rafael" Ucap dr Yulia memperkenalkan diri.
Nindy terkejut saat mengetahui ternyata wanita itu adalah sepupu suaminya.
"Oh iya, hai dr Yulia. Aku Nindy, aku ---------".
"Kamu istri Rafael kan?"
Nindy tersenyum kecil sambil mengangguk pelan.
"Pantas saja Rafael begitu tergila- gila padamu, ternyata istrinya memang sangat cantik" Puji dr Yulia.
"Ah, anda bisa saja" Nindy tersipu malu.
"Yulia, panggil aku Yulia saja. Aku adalah sepupu Rafael berarti aku juga sepupumu".
"Ya, baiklah" Nindy mengangguk.
Keduanya terdiam sesaat.
"Bagaimana hubungan kalian? Apa kalian akan memutuskan untuk rujuk?" Tanya dr Yulia to the point.
Nindy sedikit risih karena sepupu suaminya terlalu to the point saat bertanya. Yulia memang orang yang blak blakan, ia tidak suka berbasa basi. Ia juga tidak suka menunda- nunda pekerjaan dan selalu cepat dalam mengambil tindakan. Yulia begitu kesal saat mengetahui hubungan Rafael dan Nindy masih jalan di tempat, sehingga ia memutuskan untuk melibatkan diri dalam permasalahan suami istri itu.
"Kenapa? Apa kamu tidak ingin rujuk kembali dengan Rafael? Bukankah kalian saling mencintai?".
"Cinta! Aku bahkan tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini".
"Apa kamu masih meragukan perasaanmu sendiri? Atau kamu justru meragukan perasaan Rafael padamu?" Tanya dr Yulia
"Aku tidak mengerti maksudmu?" Sahut Nindy.
"Aku yakin kamu tahu pasti kemana arah pembicaraanku".
Dr Yulia melirik Nindy sekilas kemudian kembali menatap kedepan.
"Tujuh tahun".
"Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat bagi pria untuk menjalani hidupnya seorang diri. Tidak akan ada seorangpun yang mampu melakukan itu jika bukan untuk orang yang mereka cintai" Ujar dr Yulia mengawali katanya.
"Apa kamu tidak berpikir jika Rafael adalah pria yang bodoh. Dia sangat bodoh karena masih setia menunggu istri yang menghilang selama tujuh tahun padahal dia sendiri tidak tahu pasti bagaimana hidup istrinya saat itu. Bisa saja istrinya sudah menikah lagi atau mungkin istrinya sudah ----- ah maaf! Mungkin saja sudah meninggal. Tapi Rafael dengan bodohnya masih begitu yakin jika suatu hari nanti Tuhan pasti akan mempertemukan kalian kembali. Dan ternyata Tuhan memang Maha Adil, akhirnya setelah sekian lama kalian bertemu kembali".
__ADS_1
Nindy menyimak setiap kata yang keluar dari mulut dr Yulia.
"Aku tidak tahu apa yang kamu rasakan saat ini, tapi satu yang pasti, Rafael sangat mencintaimu. Jika Rafael tidak mencintaimu, dia tidak akan mungkin mengorbankan tujuh tahun umurnya hanya untuk menunggumu tanpa kepastian dan selama itu pula ia tidak pernah berniat membuka hati untuk wanita lain".
Nindy tersenyum getir, kenapa ia merasa terganggu mendengar ucapan dr Yulia.
"Kenapa harus kamu yang mengatakan semua itu, kenapa dia tidak mengatakannya sendiri?".
Nindy menatap dr Yulia.
"Dia punya banyak kesempatan untuk mengatakan semuanya padaku, tapi kenapa dia tidak mengatakan apapun tentang perasaannya itu. Apa dia pikir aku cenayang yang punya kemampuan untuk mengetahui seluruh isi hatinya" Nindy mulai tersulut emosi.
"Cinta! Heh,,,".
"Aku bahkan tidak tahu cinta seperti apa yang sedang kamu bicarakan".
Dr Yulia membalas tatapan mata Nindy, seketika ia bisa langsung menebak jika istri dari sepupunya itu menyimpan kekecewaan yang teramat dalam kepada sepupunya, Rafael.
"Aku tahu kamu kecewa padanya, kamu pasti kecewa dengan semua perbuatannya di masa lalu dan juga sikapnya di saat kalian bertemu kembali. Tapi tidakkah saat ini kamu bisa melihat kesungguhan di matanya. Dia sudah berubah, Nindy dan kamu adalah satu- satunya orang yang mampu merubahnya".
"Kamu ingat kejadian beberapa minggu yang lalu saat kamu pingsan karena alergi makanan! Saat itu akulah yang menanganimu. Dan apa kamu tahu, saat itu aku melihat sosok Rafael dari sisi yang tampak sangat berbeda dari Rafael yang aku kenal sebelumnya. Dia tampak begitu panik dan frustasi saat melihatmu terbaring tidak sadarkan diri. Andai saja kamu bisa melihat wajahnya saat itu, pasti kamu tidak akan pernah mengira jika dia adalah Rafael yang selama ini kita kenal".
Nindy ingat kejadian itu, saat itu Rafael memang terlihat berbeda dari biasanya. Penampilan yang berantakan serta tatapan mata yang penuh penyesalan.
Dr Yulia meraih tangan Nindy dan menggenggamnya erat.
"Nindy. Bisakah kamu memberikan kesempatan kedua untuk Rafael?".
Nindy terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Aku ------!".
"Setiap orang punya kesempatan kedua, dan aku harap Rafael juga bisa mendapatkan kesempatan kedua itu".
"Rafael memang salah dan dia sudah mengaku salah, tidakkah kamu bisa memaafkannya".
Nindy dan dr Yulia saling menatap, mereka mencoba untuk saling memahami perasaan satu sama lain.
"Cinta! Maaf! Kesempatan kedua!".
"Haruskah aku mempertimbangkan hal itu kembali? Tapi apakah kami bisa bersatu lagi setelah semua yang telah terjadi?".
☆
__ADS_1