
Sambil menunggu mama mertuanya menyiapkan sarapan, Nindy memutuskan kembali ke dalam kamar untuk melihat apakah Rafael sudah bangun atau belum. Ia takut jika sang suami akan mencarinya saat terbangun nanti. Tapi saat ia sampai kamar ternyata sang suami masih tertidur dengan sangat pulas.
"Ternyata masih tidur" Gumamnya.
Nindy menatap Rafael yang masih terlelap di balik selimut tebal yang menutupi tubuhnya, bibirnya tersenyum dengan mata yang terus menatap wajah tampan milik sang suami tanpa kedip.
"Tampan banget sih" Nindy kagum melihat wajah tampan milik Rafael.
Setelah puas memandangi wajah suaminya, Nindy meraih ponselnya kemudian berjalan keluar kamar. Ia kembali menghampiri bu Linda yang sedang menyiapkan sarapan.
Tanpa Nindy ketahui, selepas kepergiaannya ternyata Rafael langsung terbangun dari tidurnya. Rafael terbangun tepat saat Nindy menutup pintu kamar dan hal itu membuat Rafael seolah melihat bayangan sang istri yang keluar dari kamarnya. Refleks hal itu membuat Rafael syok, ia mengira jika sang istri akan pergi lagi dari sisinya terlebih ia tidak menemukan wujud sang istri di sampingnya.
"Nindy!" Seru Rafael sembari bangkit dari tidurnya.
Rafael terduduk diatas ranjangnya dan mencoba untuk memutar kembali memorinya tentang kejadian semalam. Ia mengingat jika Nindy menemaninya tidur di kamar ini semalam, tapi kenapa pagi ini istrinya tidak berada di kamarnya lagi? Kemana istriku? Pikirnya.
"Aku yakin kejadian semalam adalah nyata, itu semua bukanlah mimpi" Rafael menepis pikirannya yang mengatakan jika semua itu adalah mimpi.
"Tidak. Itu bukan mimpi. Aku yakin istriku memang disini" Rafael menyikap selimutnya dan bergegas turun dari atas ranjang.
"Nindy" Panggil Rafael sembari keluar dari kamarnya dan bergegas turun.
"Nindy!" Rafael berteriak kencang hingga membuat seisi rumah terkejut mendengar suaranya.
"Nindy! Sayang!" Panggilnya lagi dengan suara yang lantang.
Sementara itu Nindy, bu Linda dan para pelayan yang sedang sibuk di dapur, benar- benar di buat terkejut mendengar suara Rafael yang menggema.
"Sepertinya itu suara Rafa" Ucap bu Linda pada menantunya.
Nindy menatap mama mertuanya sambil mempertajam pendengarannya.
"Kak Rafa sudah bangun?" Nindy balik bertanya.
"Sepertinya begitu" Sahut bu Linda.
"Dan dia pasti sedang mencarimu".
Nindy berjalan menuju keruang tengah dengan pandangan mata terus menatap kelantai atas dan saat itu matanya langsung dapat menangkap wujud sang suami yang baru saja keluar dari kamar dan berjalan menuruni anak tangga dengan tergesa- gesa.
"Nindy!" Teriak Rafael masih dari lantai atas.
Rafael bergegas menuruni anak tangga ketika melihat wajah sang istri yang menatapnya dari lantai bawah. Nindy terkejut saat melihat sang suami yang baru saja turun dan langsung berlari menuju kearahnya.
"Sayang!" Rafael langsung menarik tubuh sang istri kedalam pelukannya.
Nindy terpaku di tempat dengan tubuh yang sudah tenggelam dalam pelukan sang suami.
"Aku pikir kamu sudah pergi" Lirihnya sambil menenggelamkan wajahnya di bagian leher sang istri.
"Tahukah kamu betapa takutnya aku saat melihat kamu tidak berada di sampingku" Rafael semakin menggeratkan pelukannya.
"Jangan pergi. Jangan pernah tinggalkan aku lagi" Lirihnya yang terdengar parau.
Nindy bisa mendengarkan suara Rafael yang serak, ia mengangkat kedua tangannya menepuk punggung sang suami untuk menenangkannya.
"Tenanglah. Aku disini kok. Aku tidak akan pergi kemana- mana" Ucap Nindy lembut.
Rafael melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi sang istri kemudian menatap dalam- dalam seraya berucap :
"Kamu tidak akan pergi lagi kan?" Tanyanya penuh harap.
"Nindy tersenyum sembari mengangguk.
"Janji, jika kamu tidak akan pernah pergi. Janji, jika kamu tidak akan pernah meninggalkan aku lagi" Pintanya.
__ADS_1
Nindy kembali mengangguk
"Iya, aku janji" Sahutnya.
"Uhff,,,,!" Rafael kembali memeluk sang istri sembari memberikan sebuah kecupan di kening, ia begitu lega karena ketakutannya tidak terbukti.
"Aku begitu syok saat melihatmu menghilang dari sisiku, aku pikir kamu sudah pergi" Lirihnya.
Nindy kembali tersenyum di dalam pelukan sang suami, ia tidak pernah menduga jika reaksi Rafael akan seperti ini. Siapa yang akan menduga jika pria yang selama ini terlihat begitu berkarisma, gagah dan tangguh itu ternyata bisa menjadi orang yang begitu rapuh.
"Aku tidak menghilang kok, aku hanya ingin membantu mama menyiapkan sarapan" Sahutnya.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku" Ucap Rafael sembari melepaskan pelukannya dan kembali menatap sang istri.
"Aku hampir gila karena tidak melihatmu di kamarku".
"Aku harus mengatakan pada siapa? Kamu kan masih tidur" Ucap Nindy sambil terkekeh.
"Kamu bisa menunggu hingga aku terbangun, atau kamu bisa membangunkan aku".
Rafael terlihat seperti anak kecil yang baru saja kehilangan ibunya, ia terus merengek meminta agar sang istri tidak pergi dari sisinya. Sementara itu Nindy terus berusaha untuk menenangkan sang suami yang mulai manja berlebihan, ia merasa sedikit risih karena tahu bu Linda dan para pelayan menyaksikan mereka saat ini.
Sedangkan Rafael sendiri tidak sadar jika kelakuan manjanya menjadi tontonan oleh semua orang seisi rumah. Tanpa ia sadari adegan dirinya yang merengek manja kepada sang istri membuat semua orang tertawa geli.
"Jangan menyalahkan istrimu, Rafa. Mama yang minta Nindy untuk tidak membangunkan kamu" Ucap Bu Linda.
Rafael memalingkan wajahnya menatap sang mama yang berdiri tidak jauh darinya.
"Mama" Gumam Rafael.
Rafael mengedarkan pandangannya menatap para pelayan yang berada di ruangan itu, ia tahu pasti jika mereka semua telah menyaksikan kelakuannya tadi. Namun ternyata Rafael tidak perduli, bahkan ia semakin menggeratkan lingkaran tangannya di pinggang sang istri.
"Sudah lama kamu tidak tidur senyenyak itu, jadi mama meminta pada Nindy agar tidak membangunkanmu hingga kamu terbangun sendiri" Jelas bu Linda.
"Benarkah seperti itu?" Tanyanya.
"Mmmm" Angguk Nindy.
"Ah, syukurlah. Aku bisa gila jika kamu benar- benar pergi lagi" Ucap Rafael seraya memeluk tubuh Nindy kembali.
"Ehem,,,!" Bu Linda berdehem.
"Rafa" Panggil bu Linda.
Rafael tidak menyahut, ia justru semakin menenggelamkan wajahnya di pundak sang istri.
"Rafa" Bu Linda menepuk pundak sang putra.
"Apa sih ma" Sahutnya tanpa menoleh.
Sementara itu Nindy hanya bisa tersenyum, ia tidak bisa memberontak karena Rafael memeluknya dengan erat.
"Lepaskan memantu mama Rafa, kamu bisa menyakitinya" Ucap Bu Linda lagi.
Mendengar kata 'menyakitinya' dari mulut sang mama, refleks Rafael langsung melepaskan pelukannya dari sang istri.
"Kamu tidak apa- apa kan sayang?" Tanyanya sembari mengecek tubuh Nindy.
"Aku tidak apa- apa" Sahut Nindy.
Rafael menghela nafas lega.
"Jika kamu terus- menerus memeluk Nindy seperti itu, dia pasti tidak akan tahan berada di sisimu" Ucap bu Linda pada sang putra.
"Kenapa? Apa aku telah melakukan kesalahan" Tanyanya.
__ADS_1
"Tentu saja salah. Dia pasti -------!" Ucapan bu Linda terputus saat Nindy mulai menyahut.
"Tidak apa- apa ma" Sela Nindy.
"Mama tidak usah khawatir, aku tidak apa- apa kok" Sambungnya sembari tersenyum.
Bu Linda membalas ucapan sang menantu dengan senyum.
"Plak, kamu lihat itu" Bu Linda kembali menepuk pundak Rafael.
"Menantu mama memiliki hati yang sangat baik, jika kamu berani menyakitinya lagi ,,,,,".
"Kamu akan berhadapan dengan mama. Ingat itu" Ucap bu Linda sambil berlalu pergi.
Bu Linda melangkah melewati para pelayan seraya berucap :
"Ayo kita kembali kedapur, biarkan saja mereka berpelukan seperti itu hingga siang hari".
Para pelayan mengangguk sembari tersenyum, kemudian merekapun mengikuti nyonya besarnya untuk kembali kedapur.
"Kamu membuat mama marah" Ucap Nindy pada suaminya.
Rafael tersenyum
"Tidak apa- apa. Asal bukan kamu yang marah" Sahutnya sambil mencubit hidung sang istri.
"Sekarang, aku tidak peduli jika seluruh dunia marah padaku. Yang terpenting bagiku adalah kamu".
"Aku sanggup kehilangan apapun di dunia ini, tapi tidak dengan kamu. Aku tidak akan bisa hidup jika harus kehilangan kamu".
"Its,,, Gombal" Sela Nindy.
"Itu bukan gombal sayang, tapi itu adalah kejujuran. Kejujuran dari hatiku yang paling dalam".
Nindy menatap mata sang suami dan melihat kesungguhan dari sinar mata itu.
"Aku percaya" Sahutnya.
"Dan aku harap kali ini kamu tidak menyia- nyiakan kepercayaannku, karena aku tidak akan memberi maaf untuk yang kedua kali".
Rafael memberikan sebuah kecupan di kening sang istri.
"Percayalah, aku bukan laki- laki yang suka mengobral janji" Ucapnya.
Nindy tersenyum bahagia.
"Cepatlah mandi, setelah itu kita sarapan. Aku harus segera pulang" Ucap Nindy.
"Pulang? Untuk apa kamu pulang. Inikan rumahmu" Rafael tidak suka ketika Nindy mengatakan akan pulang.
"Aku harus pulang untuk berganti pakaian, apa kmau tidak lihat jika aku masih memakai baju yang kemarin" Nindy menunjuk pakaiannya.
Akhirnya Rafael sadar jika sang istri tidak memiliki pakaian ganti di rumahnya.
"Astaga aku lupa" Rafael menepuk keningnya.
"Maafkan aku sayang, aku tidak ingat jika kamu tidak memiliki pakaian ganti di rumah ini".
"Baiklah, aku mandi dulu ya. Setelah itu kita akan pulang ke apartemen" Ucapnya.
Nindy mengangguk setuju.
Sebenarnya Rafael bisa saja meminta asistennya agar mengirimkan baju dari butik ternama untuk sang istri, tapi ia tidak ingin melakukan itu. Rafael tidak mau Nindy merasa tidak nyaman berada di dekatnya dengan semua perlakuan yang ia berikan.
☆
__ADS_1