
"Bun, Maya udah tidur ya..?" tanya Vino sambil celingak celinguk dengan netra berpencar kesegela arah sudut Rumah.
Vino lelaki pekerja keras, selarut ini Ia baru saja menutup laptopnya. Berusaha mengejar target laporan yang harus Ia rampungkan, demi menghabiskan akhir pekan bersama Anak dan Istrinya.
Sebelumnya Vino sudah menghubungiku tadi siang di Kantor. Memberitahu bahwa schedule yang ia lihat hanya minggu yang libur. Sabtu dijadwalkan meeting dengan Klien salah satu Perusahaan terbesar di Kota Bandung. Perusahaan tempat Vino bekerja memang tak jauh dari marketing, karena bergerak dibidang Jasa, Advertising.
Kalau dibilang Aku bekerja karna ekonomi yang kurang, itu salah. Dari sebelum menikah, Vino sudah memiliki jabatan dan kemewahan yang lebih dari cukup untuk seusianya. Mapan, Mereka menyebutnya. Sebelum menikah, Aku membuat komitmen ke Vino, kalau Aku wanita yang ingin mengejar karir walau nanti sudah berumah tangga. Awalnya Ia tak setuju, Vino menginginkanku untuk bersantai di Rumah saja setelah Kami menikah nanti. Tapi setelah panjang dan lama berdebat, akhirnya Ia mengalah, memberikanku wewenang untuk melakukan apa yang Aku suka dan membuatku senang. Asal satu pintanya, tak mengabaikan urusan keluarga.
Schedule meeting Ayahnya dengan klien besok Sabtu, membuat Maya kecewa, membuat Maya tak bersemangat menyantap makan malamnya tadi. Hanya beberapa suap kemudian diakhiri dengan seteguk air mineral, Ia menyudahi makan malamnya dan pamit lebih awal ke kamar dengan dalih ngantuk ingin tidur. Tapi beberapa saat kemudian, Maya keluar kamar dan duduk di teras depan rumah sambil sesekali memainkan ponselnya.
"Tadi sih di teras, nyemil sambil hapean.. ngga tau masih di depan apa udah ke kamar. Emang kenapa yah..?" jawabku yang tengah mengaduk coklat panas kesukaanku. Hampir tiap malam Aku meminumnya, dengan harapan mengembalikan mood yang seharian standby depan monitor.
"Kayanya udah tidur bun.. Yasudah besok saja, pagi-pagi sekali suruh Maya beres2 keperluannya untuk ke Jogja!" serunya dengan diakhiri senyum.
__ADS_1
Aku langsung terperanjat, kaget.
'Bukannya tadi siang Dia bilang harus ke Bandung ada meeting sama Klien besar..? Kenapa tiba-tiba ngajak liburan besok ke Jogja..??' gumamku bingung.
Siang tadi setelah Vino memberi kabar kalau Dia besok harus ke Bandung, Rey langsung mengajakku untuk ikut dengannya ke Bali, merayakan ulang tahunnya berdua, bersamanya. Saat Vino menghubungiku, Kami memang sedang makan siang berdua.
Rey seusia denganku, tapi Dia masih lajang, alasannya belum menikah karena cuma Aku yang Dia harapkan. Pernah beberapa kali menjalin hubungan dengan Wanita lain sebelum acara reuni itu, tapi hanya bertahan beberapa bulan saja, dengan alasan tidak adanya kecocokan. Saat reuni pun sebenarnya Rey malas dan enggan untuk hadir, bukan malas dengan acaranya, melainkan malas dengan mulut usil teman-teman lainnya yang selalu menanyakan kapan melepas lajang. Hingga Rey mendapat kabar dari panitia yang memang sahabat dekatnya, bahwa Aku ikut hadir dalam acara reuni tersebut, seperti angin segar Rey merasa seluruh tubuhnya terasa sejuk mendapat kabar yang Dia nantikan. Rey pun akhirnya ikut mendaftar sebagai Alumni dan turut serta sebagai donatur dalam acara reuni SMA Kami.
"Aku minta gantiin Pak Doni, nanti Beliau yang ngehandle. Tapi tetep, laporan dan proposal Aku yang buat. Pak Bagas ngga mau kalau laporan dibuat selain Aku. Makanya barusan ngejar, selesai, langsung kirim by email ke Pak Doni." jawabnya menjelaskan.
Deggggg..!!!
Serasa ditimpuk batu besar kepalaku setelah mendengarnya. Aku segera memutar otak mencari cara bagaimana agar planning dan janjiku ke Rey berjalan dan tak mengacaukan semuanya.
__ADS_1
"Kenapa bun..?? Kayanya Kamu ngga suka. Ngga mau ya,?? Ini kan inginnya Maya.." tanya vino tiba-tiba membuyarkan semua.
"Bukan nggak suka Yah, Aku besok dapet tugas dari Bos, meeting sama Klien sekalian ninjau Lokasi yang mau di buat Anak Cabang Perusahaan, di Bali..! Gimana kalo Kamu sama Maya liburannya juga ke Bali..? Kan sekalian, Maya ngga kecewa karna liburannya tetap terlaksana, dan pekerjaanku pun ngga terlantar.." jawabku mencari alasan panjang lebar agar semua rencanaku dengan Rey bisa berjalan dan sekaligus tetap liburan dengan Keluarga.
Vino mengerutkan keningnya, mencoba berfikir sejenak kemudian menganggukan kepala nya. Tanda Ia setuju dengan usulanku. Aku pun tersenyum, lega rasanya.. Hanya tinggal memberi tahu Rey soal ini, agar seolah-olah Rey adalah Klien yang nantinya akan Aku temui di Bali.
Sampai sejauh ini, vino memang tidak mengenal Rey, apalagi sampai tahu kalau Rey adalah mantan kekasihku sewaktu SMA dulu. Jadi, kalau Aku menjadikan Rey untuk berpura-pura sebagai Klien yang akan Aku temui di Bali, Aku yakin Vino sama sekali tak akan curiga, sedikitpun. Karena kebanyakan Rekan bisnis yang Aku temui atas intruksi Atasanku itu hampir semua Laki-laki.
Rey berwajah tampan dengan hidungnya yang mancung sempurna, tubuhnya sedikit kekar, dan dipadu dengan kulitnya yang putih bersih. Sungguh, postur tubuh yang sangat ideal menurutku bahkan menurut Wanita-wanita lain. Aku heran, dengan wajah tampan, karir mapan, dan punya segalanya, seharusnya Rey mudah sekali mendapatkan Wanita yang Dia mau. Tapi lagi-lagi, setiap Ku lontarkan pertanyaan itu, Rey selalu menjawab dengan jawaban yang sama, "Cuma Kamu yang Aku mau" begitu katanya kala itu. Membuat jantungku kembali berdegub kencang, serasa terbang.
Aku memang telah mengambil jalan yang salah, jalan yang seharusnya tak Ku lalui. Aku terperangkap dengan cinta Rey yang membuatku benci dengan diriku sendiri.
'Kurang apalagi Aku? Memiliki Suami yang begitu sangat mencintaiku, memiliki Putri yang cantik dan cerdas, juga dimanjakan dengan kemewahan. Bodoh! Aku benci diriku, Aku benci perasaan ini!' hatiku seperti berbicara berupaya menyadarkanku.
__ADS_1