
Plakkk
Rafael mengeplak sisi kanan wajah Yuda pelan.
"Hah!" Yuda langsung membuka matanya saat merasakan tepukan kecil di wajahnya.
Plakkk
Rafael kembali mengeplak sisi sebelah kiri.
"Apa ini? Kenapa Rafael tidak memukul wajahku? Kenapa dia hanya menepuknya saja".
Yuda terkejut saat melihat senyum menyeringai di wajah Rafael.
"Kenapa wajahmu kaget begitu, apa kamu berharap aku memukul wajahmu dengan kuat hingga babak belur" Ucap Rafael sambil menyeringai.
"Haruskah aku memukulmu lebih kencang dari ini ?" Sambungnya lagi.
Rafael kembali memberikan beberapa tepukan di pipi saudara tirinya itu hingga aksinya itu membuat semua orang kaget karena tidak memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Bu Linda dan tante Yuni saling berpandangan begitupun dengan Ronald dan Shella, mereka terkejut melihat pemandangan yang terjadi di hadapannya. Sementara itu Nindy dan Yuri menyeringai kecil, karena dari semua orang hanya mereka berdua yang sadar dengan apa yang sedang terjadi.
Yuda mengusap pipinya dengan hati yang masih bertanya- tanya dengan apa yang baru saja Rafael lakukan. Belum usai rasa terkejut yang Yuda rasakan, ia harus kembali di buat syok saat tanpa di duga Rafael meraih tubuhnya dan memeluknya dengan erat.
"Maafkan aku saudaraku, seharusnya sejak dulu aku memelukmu seperti ini" Ucap Rafael sembari menepuk pundak Yuda.
Yuda terpaku, ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa, semua ini sungguh diluar dugaannya. Yuda tidak menyangka Rafael akan memeluk tubuhnya seperti itu. Dan ternyata bukan hanya Yuda yang di buat terkejut oleh sikap Rafael yang tiba- tiba memeluk tubuhnya, semua orang yang hadir di tempat itu juga tidak kalah terkejutnya dari Yuda. Mereka tidak pernah menyangka jika Rafael akan berbuat seperti itu dan terlihat jelas perubahan di raut wajah Rafael yang semula sangat dingin menjadi lebih hangat dengan senyum yang merekah di bibirnya.
Rafael melepaskan pelukannya dan kembali menepuk pundak Yuda dengan kedua tangannya.
"Maafkan aku, karena aku terlalu pengecut untuk menerima kenyataan ini" Ucapnya lagi.
"Mungkin hubungan kita tidak akan seburuk ini jika sejak dulu aku mau berlapang hati menerima kelurgamu".
__ADS_1
"Apa kamu mau memaafkanku?" Tanya Rafael.
Yuda masih terdiam untuk beberapa saat, ia merasa seperti mimpi hingga akhirnya ia tersadar dan menyahut ucapan Rafael.
"Tidak ada yang perlu di maafkan Raf, karena tidak ada yang salah. Keadaanlah yang membuat kita harus mengalami semua ini. Dan aku juga minta maaf karena aku tidak pernah berusaha untuk memperbaiki hubungan kita lebih awal. Sama seperti katamu tadi, aku juga perngecut bahkan mungkin aku lebih pengecut darimu" Ucap Yuda.
Rafael tersenyum sembari menganggukkan kepalanya, ternyata rasanya begitu melegakan ketika kita mau membuka hati untuk saling memaafkan.
"Jadi sekarang kita adalah saudara?" Tanya Yuda penuh harap.
"Ya, kamu menjadi saudaraku untuk sementara waktu. Aku akan mentraining- mu dan melakukan beberapa uji coba untuk melihat apakah kamu cocok menjadi saudaraku atau tidak" Ucap Rafael yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Yuda.
"Aku siap untuk menjalani masa percobaan dan aku akan berusaha untuk membuktikan jika aku pantas dan layak menjadi saudaramu" Sahut Yuda lantang.
Rafael mengangguk setuju, ia senang karena akhirnya bisa berbaikan dengan keluarga Hutama.
"Kita lihat saja nanti" Ucapnya.
Rafael kembali meraih tubuh Yuda dan membawanya kedalam pelukan, lama terdiam akhirnya Yuda memberanikan diri untuk membalas pelukan Rafael. Yuda membalas pelukan Rafael dengan perasaan senang dan lega, siapa yang akan menyangka jika ternyata Rafael akan menyambut baik niatnya yang ingin menyatukan kedua keluarga mereka.
Prokk prokk prokkk
"Yei,,,,,!" Semua orang bersuka cita menyambut perdamaian yang baru saja terjadi.
Bu Linda dan tante Yuni saling berpandangan untuk sesaat hingga akhirnya Nindy menghampiri keduanya dan menyatukan kedua tangan ibu mertuanya itu. Nindy memandangi bu Linda dan tante Yuni secara bergantian sembari menganggukkan kepalanya menyisyaratkan jika ia ingin keduanya juga berpelukan sama seperti yang Rafael dan Yuda lakukan.
"Sekarang kita adalah keluarga dan mulai saat ini sudah tidak ada lagi jarak diantara kita" Ucap Nindy.
Tante Yuni tersenyum lalu mengangguk pelan sementara itu bu Linda masih terdiam, beliau menatap wanita yang sudah sepuluh tahun lebih menjadi madunya. Rasa sakit dan kecewa karena di khianati tentu masih ada dan masih membekas sampai sekarang, namun waktu sudah lama berlalu dan sudah seharusnya bu Linda berdamai dengan masa lalu dan menerima gadir takdir yang telah Tuhan ukir untuk keluarganya.
"Ma!" Seru Nindy pelan
__ADS_1
Nindy berharap agar ibu mertuanya mau memerima tante Yuni dan keluarga Hutama.
Tante Yuni mengulurkan tangannya kearah bu Linda seraya berkata :
"Aku minta maaf atas semua kesalahanku, mbak. Aku tahu jika mbak Linda sangat terluka atas pernikahanku dengan mas Harun. Aku minta maaf karena telah menjadi duri dalam pernikahan mbak, tapi satu hal yang harus mbak tahu jika pernikahan kami adalah sebuah formalitas karena tujuan kami hanyalah untuk melindungi keluarga Hutama dan juga keluarga Mahendra" Ucap tante Yuni.
Bu Linda menghela nafas pelan dan menatap tante Yuni untuk sesaat kemudian mengangkat tangannya dan meraih uluran tangan tante Yuni dan berucap :
"Semuanya sudah berlalu dan aku sudah lelah dengan semua ini. Mungkin memang sudah saatnya aku memaafkan mas Harun dan menerima kehadiranmu di keluargaku".
"Maaf, karena aku sudah berprasangka buruk padamu" Ucap bu Linda.
"Tidak ada yang perlu di maafkan mbak, keadaanlah yang membuat kita seperti ini. Dan aku berharap agar kita bisa menjalin hubungan yang lebih baik dari sebelumnya" Ucap tante Yuni.
Bu Linda kembali mengangguk dan tanpa di duga beliau mendekat dan langsung memeluk tante Yuni erat sementara itu tante Yuni langsung membalas pelukan bu Linda. Nindy tersenyum menyaksikan pemandangan indah di depannya, ia lega melihat kedua ibu mertuanya saling berbaikan dan berpelukan.
"Ma" Bu Linda melepaskan pelukannya saat mendengar panggilan dari Rafael.
"Sayang" Bu Linda tersenyum melihat Rafael yang datang mendekat.
Rafael merangkul sang mama dan membawanya kedalam pelukannya.
"Papa ingin keluarga kita bersatu ma, dan kita harus memenuhi keinginan papa meski sudah sangat terlambat" Ucap Rafael.
Bu Linda mengangguk di iringi tangis, beliau menyesal karena masih menyimpan amarah kepada suaminya bahkan setelah sang suami tiada.
"Tante juga minta maaf Raf, karena semua ini bermula dari tante" Ucap tante Yuni saat Rafael melepaskan pelukan sang mama.
Rafael mengangguk pelan.
Nindy meraih tangan Rafael dan tangan tante Yuni agar keduanya bisa saling bersalaman dan niat Nindy mendapatkan sambutan baik dari Rafael. Bukan hanya bersalaman semata, tapi Rafael juga memeluk tante Yuni hingga keduanya saling berpelukan. Riuh tepuk tangan kembali terdengar, semua orang ikut terharu melihat perdamaian yang tercipta saat ini.
__ADS_1
Nindy mengusap sudut matanya yang berembun, ia merasa terharu melihat dua keluarga yang akhirnya bersatu. Saat ini, semua anggota keluarga Mahendra dan keluarga Hutama terlihat saling berpelukan satu sama lain, mereka seolah sedang mencurahkan semua rasa yang selama ini terpendam. Setelah penantian yang cukup panjang, akhirnya Nindy berhasil menyatukan keluarga Hutama dan keluarga Mahendra.
☆