Sang Mantan

Sang Mantan
KASMARAN


__ADS_3

Hubungan Rafael dan Nindy kini sudah membaik dan keduanya memutuskan untuk mencoba memperbaiki pernikahan mereka dengan melupakan segala masalah yang pernah terjadi termasuk masalah perceraian. Setelah pertimbangan panjang, akhirnya Nindy memutuskan untuk membatalkan gugatan cerainya terhadap sang suami dan Rafael menyambutnya dengan begitu bahagia rencana istrinya itu.


"Terima kasih ya, kamu telah memberikan kesempatan padaku untuk memperbaiki semua kesalahan yang pernah aku perbuat" Ucap Rafael.


Nindy tersenyum seraya menatap sang suami yang sedang fokus menyetir.


"Terima kasih juga karena kamu sudah mau berjuang untukku" Sahutnya.


"Kamu tidak perlu berkata begitu, karena kamu memang pantas untuk di perjuangkan".


Rafael menatap Nindy sekilas kemudian kembali fokus menatap kedepan, sebelah tangannya meraih tangan sang istri dan menggenggamnya erat. Keduanya terdiam untuk sesaat hingga akhirnya Rafael kembali membuka suara ketika menyadari Nindy menatapnya.


"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Rafael.


"Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh menatap suamiku sendiri?" Sahut Nindy.


Rafael menyunggingkan senyum.


"Bukan begitu, aku hanya merasa risih jika ada wanita cantik yang menatapku".


"Memangnya aku cantik?" Pancing Nindy.


"Tentu saja. Aku bahkan tidak rela jika ada laki- laki lain yang mengagumi kecantikanmu".


Blush. Nindy menyentuh pipinya yang tiba- tiba merona, ia tidak menyangka hanya dengan beberapa yang di ucapkan oleh sang suami mampu membuatnya tersipu malu.


Setelah menempuh jarak yang panjang, akhirnya mereka tiba di apartemen. Rafael keluar dari mobil terlebih dahulu kemudian membukakan pintu untuk sang istri. Kedatangan mereka langsung mendapat sambutan dari pengawal yang bertugas di sana.


"Tunggu disini sebentar, aku ingin bicara dengan mereka" Ucap Rafael pada Nindy yang dibalas dengan anggukkan oleh istrinya itu.


Rafael melangkah mendekati para pengawal itu dan mulai membicarakan sesuatu, sementara itu Nindy menatapnya dari kejauhan dengan rasa penasaran yang memenuhi hatinya. Tidak lama berselang, Rafael kembali menemui istrinya setelah selesai berbicara dengan pengawalnya.


"Ayo" Ajak Rafael.


"Sudah selesai?" Tanya Nindy.


"Sudah" Jawabnya.


Rafael menggenggam tangan sang istri kemudian melangkah menuju ke dalam lift dan Nindy pun mengikutinya. Selama di dalam lift pikiran Nindy tidak lepas memikirkan tentang para pengawal yang bertugas mengawalnya selama beberapa hari terakhir ini. Ia penasaran untuk apa Rafael mengutus para pengawal itu?


"Boleh aku bertanya sesuatu?" Nindy mencoba untuk bertanya.

__ADS_1


"Kamu ingin bertanya tentang apa?" Rafael balik bertanya.


"Kenapa kamu melakukan itu? Untuk apa kamu mengutus para pengawal itu untuk mengawal aku?" Tanya Nindy.


"Apa kamu sengaja ingin mengawasiku?".


Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Rafael tersenyum, ia memutar tubuhnya menghadap sang istri.


"Memangnya kenapa? Apa kamu merasa tidak nyaman dengan kehadiran mereka?"


"Ya, sedikit" Sahutnya.


"Aku merasa sepertinya mereka selalu memata- mataiku di setiap waktu".


"Sudahlah, jangan berpikir yang aneh- aneh. Mereka tidak pernah mematai- mataimu. Aku hanya meminta mereka untuk mengawal dan melindungimu. Aku hanya ingin memastikan agar istriku baik- baik saja" Ucap Rafael sembari mencolek hidung sang istri.


"Jadi tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, ok".


Nindy mengangguk.


Pintu lift terbuka dan keduanya melangkah keluar.


"Masuklah" Ucap Rafael saat sampai di depan pintu unit apartemen sang istri.


"Apa kamu tidak ingin masuk?" Tawarnya.


"Kamu ingin aku masuk kedalam?".


"Apa kamu tidak takut jika nanti aku melakukan sesuatu padamu?" Goda Rafael.


Nindy kembali tersipu.


"Jangan berpikir yang aneh- aneh ya. Jika kamu tidak mau masuk ya sudah, aku juga tidak ingin memaksamu".


Rafael terkekeh kemudian mendekati sang istri.


"Masuklah lebih dulu. Aku harus mengambil sesuatu di apartemenku setelah itu,,,,!" Rafael sengaja menjeda ucapannya.


"Setelah itu!" Sahut Nindy penasaran.


"Setelah itu aku akan datang menemuimu karena masih banyak urusan yang harus kita selesaikan".

__ADS_1


Rafael membungkukkan tubuhnya kemudian membisikkan sesuatu.


"Bersiaplah, karena aku akan menangih sesuatu padamu".


Nindy terpaku, ucapan sang suami mengandung banyak arti yang tidak tersirat.


"Jangan pergi kemana- mana ya, tunggu aku di dalam. Aku akan segera kembali" Ucap Rafael sambil mengusap pipi sang istri.


Nindy mengangguk, kemudian ia membuka pintu dan masuk kedalam apartemennya. Sementara itu, Rafael kembali tersenyum saat melihat tingkah sang istri yang malu- malu kucing.


"Ah,,,!" Nindy menutup pintu sambil menyandarkan tubuhnya. Kedua tangannya terangkat menyentuh dadanya yang berdebar kencang.


"Ya Tuhan, kenapa jantungku berdebar seperti ini".


Entah mengapa bisikan sang suaminya tadi terus mengganggu pikiran Nindy, ia tahu maksud dari ucapan Rafael namun ia mencoba untuk menepisnya. Nindy mencoba untuk membuang jauh- jauh pikiran kotornya dan memutuskan untuk menyibukkan dirinya dengan hal yang lebih penting.


.


Sore menjelang dan hingga sore hari tiba Rafael belum juga menampakkan wujudnya, bahkan ia tidak menelpon atau pun mengirimkan pesan untuk sang istri. Hal itu membuat Nindy kesal, ia kesal karena terus mengharapkan kedatangan sang suami yang hingga kini masih terus membuat jantungnya berdebar kencang.


"Mengingatnya saja sudah membuat jantung ku terus berdebar kencang, apa lagi jika aku bertemu dengannya nanti" Gumam Nindy sembari menyentuh dadanya.


"Tapi kemana dia? Kenapa hingga sekarang dia belum muncul- juga".


Setelah sekian lama menunggu, akhirnya sebuah pesan masuk di ponselnya.


"Aku sudah memesankan makan malam untuk kita, mungkin sebentar lagi akan sampai"


Nindy membaca pesan singkat itu dengan kening yang berkerut. Tidak lama berselang, sebuah pesan kembali muncul di layar ponselnya.


"Aku sangat merindukanmu. Tunggu aku ya!"


Seketika wajah Nindy langsung merona, ia benar- benar di buat menggila oleh suaminya itu. Nindy seolah tersihir oleh mantra- mantra yang di kirimkan oleh sang suami melalui pesan singkat itu. Bagaimana mungkin hanya dengan beberapa kata itu sudah mampu membuat jantungnya berdenyut lebih cepat dari sebelumnya.


"Ah! Aku bisa g*la" Nindy mengacak- ngacak rambutnya seperti orang kesurupan, ia seperti ABG yang sedang jatuh cinta.


Nindy mengulang baca pesan singkat yang dikirimkan oleh sang suami dan sekali lagi ia di buat menggila oleh kata- kata itu. Tidak cukup sekali, ia bahkan mengulangnya hingga berkali- kali seolah tiada kata bosan baginya.


Kasmaran. Mungkin kata itu yang tepat untuk di sematkan kepada Nindy saat ini.


Tidak lama berselang setelah pesan yang di kirimkan oleh Rafael, bel pintu apartemen Nindy berbunyi pertanda ada orang yang datang. Nindy langsung bisa menebak jika itu adalah pengantar makanan yang dipesankan oleh suaminya. Tanpa menunggu lama Nindy bergegas membuka pintu dan tepat seperti dugaannya jika itu adalah pengantar makanan namun anehnya orang itu bukan pengantar makanan yang sebenarnya melainkan pengawalnya sendiri.

__ADS_1


Rupanya Rafael sengaja meminta pengawalnya untuk memeriksa pesanan makanannya terlebih dahulu sebelum di berikan kepada sang istri. Rafael tidak ingin kecolongan sedikitpun dengan membiarkan musuhnya mendekati Nindy hingga membahayakan keselamatan istrinya.



__ADS_2