
"Ceklek" suara pintu kamarku yang terbuka.
Aku yang sedang asik dengan laptopku, menoleh ke pintu yang membelakangiku. Melihat siapa yang masuk. Saat Ku tahu Vino, Aku langsung berdiri menghampirinya.
"Eh. Ayah ... Udah pulang?"
Ku cium tangannya. Aku melihat jam. Baru jam 10.
"Kebetulan pagi-pagi sekali kerjaanku udah beres. Jadi pas abis sarapan, meeting sebentar, pulang. Mamah gimana? Udah dateng kan?"
"Udah. Tadi pagi sehabis Aku dan Maya selesai sarapan. Sekarang lagi di kamar, istirahat mungkin."
Vino menganggukan kepalanya.
"Ya udah. Bagus lah kalo udah dateng."
Setelah meletakkan tas kerjanya di meja. Vino langsung menuju Ke toilet dalam kamar. Padahal Aku mau langsung bertanya perihal kata-kata Indri dan juga Mama Renata. Tapi Ku tahan sampai Vino selesai mandi.
Tak lama, Vino pun sudah rapi. Melihatnya sehabis mandi yang terlihat segar, dan wangi parfumnya yang menyengat, membuat hidungku candu untuk terus menciumnya. Aku seperti jatuh hati kesekian kali saat memandangnya.
"Sayang. Kamu bikin kangen deh." kataku yang langsung memeluknya. Lupa dengan kata-kata Indri dan Mama Renata.
Vino tak membalas pelukanku. Ia justru melepaskan tanganku dari pelukannya. Aku tersentak. Mundur.
"Kamu kenapa?" tanyaku.
"Nggak papa. Aku cuma lagi capek aja."
Tak biasanya Vino seperti ini. Dia seperti orang asing. Seperti tak menganggapku ada. Buru-buru Ku sadarkan diriku. Ku lupakan pikiran buruk tentangnya. Tiba-tiba Aku langsung kembali teringat Indri dan Mama Renata.
"Aku minta waktu sebentar. Mau bicara hal yang penting." kataku mendudukan diri di ranjang.
Kutarik Vino untuk ikut duduk juga di sebelahku. Harus sekarang. Biar selesai rasa penasaranku.
__ADS_1
"Ya udah. Kamu mau ngomong apa," katanya pelan.
"Maksud Indri apa?"
"Indri? Ada apa dengan Indri?"
"Kamu ada urusan apa dengan Indri?"
"Loh. Yang seharusnya bertanya itu Aku. Kamu memang ada urusan apa dengan Indri? sampe nanya-nanya maksud Indri apa? Maksud apa yang Kamu maksud?"
"Duhh. Kamu gimana, malah muter belibet begini."
"Ya terus maunya gimana? Kamu yang jelas. Tiba-tiba nanya maksud Indri apa? Gimana Aku mau paham kalo pertanyaanmu saja separo-separo gitu."
"Ok. Langsung aja. Indri bilang Kamu di penjara karena Kamu nyuruh Indri untuk menjarain Kamu! Benar begitu?"
Aku sama sekali tak berharap Vino mengiyakan ucapan Indri. Aku ingin Dia membantahnya. Membantah semua kata-kata Indri.
"Indri pasti sangat emosi karna melihatmu. Memang Kamu di mana dan sedang apa bisa bertemu dengan Indri?"
"Aku cuma nanya, Kamu kemana kemarin, kenapa bisa ketemu Indri?"
"Loh. Aku udah kasih tau Kamu kemarin. Aku ke rumah sakit, jenguk temanku. Kamu lupa?"
Vino menggelengkan kepala. Wajahnya terlihat kecut.
"Teman atau selingkuhan?" katanya.
Suara Vino sudah mulai naik. Mimik wajahnya seperti sedang bicara dengan berteriak. Tapi tertahan. Aku terkejut dengan hentakan Vino.
"Aku sama Rey udah selesai! Dia bukan selingkuhanku lagi! Kita udah nggak ada apa-apa. Percaya sama Aku Yah!"
"Setelah semua yang terjadi. Aku harus percaya? Sama Kamu? Hebat sekali Kamu Tasya! Aku bertahan karena Maya. Karena Maya!"
__ADS_1
Vino semakin tak bisa Ku kendalikan. Matanya berembun dan memerah. Aku masih penasaran dengan kata-kata Indri. Vino belum menjawabnya.
"Cukup! Aku cuma mau tau kebenaran kata-kata yang Indri ucapkan. Kamu yang nyuruh Dia untuk menjarain Kamu. Iya, atau tidak!?"
"Kalo iya, kenapa?"
Kalimatnya sangat sederhana. Tapi hatiku rasanya seperti di cabik. Bukan kalimat itu yang ingin Ku dengar.
"Maksud Kamu lakuin semua ini tuh apa? Kamu mainin Aku Yah! Penjara bukan untuk mainan! Apa maksudnya semua ini!" kataku dengan suara teriak yang tertahan.
"Penjara memang bukan untuk di permainkan. Tapi permainanmu yang membuat Aku terpenjara! Nanti juga Kamu akan tahu, untuk apa Aku lakukan semua ini."
"Enak Kamu ya Yah ngomongnya. Aku mati-matian supaya bisa ngeluarin Kamu dari penjara!"
"Mati-matian berkorban untuk selingkuhanmu itu, iya?" kata Vino dengan berteriak membuatku spontan melangkah mundur.
"Nggak seperti itu! Kamu salah paham!"
"Ya. Aku memang salah paham! Pemahamanku tentangmu sangat salah. Aku rela mati untukmu, tapi Kamu rela mati untuk yang lain!"
Baru kali ini Ku lihat Vino marah dengan perkataan yang mendalam. Vino tak lagi bersikap lembut padaku. Rasanya Aku tak seperti sedang berhadapan dengan Vino. Aku seperti tak menemukan jiwanya di raga yang ada di depanku ini.
Aku menatap matanya yang sudah Kulihat berembun. Tapi Vino membuang muka. Aku semakin takut. Vino sudah tak bisa Ku lunakkan hatinya.
"Ayah ... Semua ini masih bisa Kita omongin. Jangan seperti ini. Kamu bikin Aku sedih Yah."
"Sudah lah, Bun. Aku tak bisa lagi berpura-pura untuk terus bersikap manis di depanmu. Seolah tak ada apa-apa. Ku akui Aku sangat mencintaimu. Tapi cinta yang Ku punya tak akan berarti jika yang di cintai sama sekali tak menghargainya."
Tangisku menyeruak seketika. Mendengar kata-katanya yang membuat dada ini terasa sesak. Melihat Vino yang tak lagi mempedulikan rengekanku. Aku semakin cemas dengan sikapnya ke diriku. Rasanya tak sanggup. Hanya seperti ini saja Aku sudah tak kuat. Aku terbiasa di manjakan dengan kelembutan dan perhatiannya. Tapi kali ini, Vino berbeda. Sangat berbeda!
"Ayah ..." kataku mencoba menahannya yang hendak berlalu.
Tak dihiraukan. Rengekan manjaku yang berharap Vino mau kembali bersikap lembut ternyata sudah tak mempan. Vino menampik tanganku yang mencoba memeluk dan menahannya. Tatapannya tak bersahabat. Bukan rasa iba, Ia justru seperti muak melihatku.
__ADS_1
"Simpan saja airmatamu untuk nanti." kata Vino sembari berlalu.
Vino pergi meninggalkanku keluar kamar. Padahal Ia melihatku menangis. Aku semakin kalut mendengar kalimat terakhirnya. Tumpah sudah airmataku.