Sang Mantan

Sang Mantan
Jalan-jalan


__ADS_3

Keesokan harinya....


Zaskia bangun dengan mata yang sembab karena tadi malam lagi-lagi Zaskia menangis karena ingat dengan Almarhum suaminya.


"Pagi Bunda, Ayah."


"Pagi, sayang."


"Ya Allah, kamu menangis lagi, sayang?" tanya Bunda Anin.


"Iya Bunda, tadi malam Kia rindu Mas Arya."


Bunda Anin mengusap punggung Zaskia dengan lembut. "Sayang, rindu itu boleh tapi jangan berlebihan. Biarkan suamimu tenang, jangan kamu tangisi terus karena Bunda yakin, Nak Arya tidak akan senang melihatmu menangis terus seperti ini," seru Bunda Anin.


"Iya sayang, apa yang dikatakan Bundamu benar, mulai sekarang kamu harus bisa merelakan kepergian suamimu itu supaya dia bisa pergi dengan tenang. Lagipula, sekarang kamu tidak sendiri lagi, ada nyawa yang harus kamu jaga dan rawat," sambung Ayah Kemal.


"Kalau kamu sedih, anak yang berada dalam kandungan kamu pun akan ikut sedih, memangnya kamu mau anakmu ikut sedih juga?" seru Bunda Anin.


Zaskia menggelengkan kepalanya sembari memegang perutnya yang sudah membuncit itu.


"Sekarang, Bunda ingin kamu janji sama Bunda dan Ayah kalau kamu tidak akan sedih lagi dan kamu harus mengikhlaskan kepergian suami kamu."


Zaskia menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, lalu Zaskia memeluk tubuh Bundanya itu.


"Kia janji, gak akan sedih lagi."


"Ya sudah, sekarang kita sarapan dulu."


Akhirnya, mereka bertiga pun sarapan bersama-sama. Zaskia begitu lahap membuat Bunda dan Ayahnya merasa sangat senang.


Zaskia menuju dapur hendak membuat susu tapi sayang, susu hamilnya sudah habis.


"Astagfirullah, ternyata susunya sudah habis," gumam Zaskia.


Zaskia berpikir sejenak. "Ini kan hari Sabtu, Nada libur kerja pasti dia mau mengantarku ke supermarket membeli susu," gumam Zaskia.


Zaskia segera menghubungi Nada, setelah Zaskia memastikan kalau Nada bisa mengantarnya, Zaskia pun segera mengganti pakaiannya.

__ADS_1


"Bunda, Ayah, Kia pergi dulu sebentar ya."


"Kamu mau ke mana?" tanya Bunda Anin.


"Kia mau beli susu dulu, soalnya susu hamil Kia sudah habis."


"Kamu pergi sama siapa?" tanya Ayah Kemal.


"Biasa, sama Nada. Sebentar lagi dia datang."


"Ya sudah, kamu hati-hati ya."


"Iya Bunda, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Zaskia duduk di kursi teras menunggu kedatangan Nada, beberapa saat kemudian mobil Nada pun datang. Zaskia segera masuk ke dalam mobil Nada.


"Kita ke Mall saja ya, sekalian jalan-jalan," seru Nada.


Nada mulai melajukan mobilnya menuju sebuah Mall ternama di kota itu, sedangkan di kediaman Adnan.


Nada sudah mandi dan tampil cantik, Nada dengan lucunya mengendap-ngendap masuk ke dalam kamar Papanya. Perlahan Nada naik ke atas tempat tidur dan menciumi seluruh wajah Adnan membuat Adnan terganggu dan menggerakkan tubuhnya.


"Papa, ayo bangun."


"Ehhmm...kenapa sayang? Papa masih ngantuk, lagipula ini kan hari libur," sahut Adnan dengan masih menutup matanya.


"Papa, Nanda ingin main ke time zone kita Mall yuk!" ajak Nanda dengan menarik lengan Adnan.


"Astaga sayang, ajak Oma saja."


"Gak mau, Nanda maunya sama Papa kalau sama Oma kan, sudah dari hari Senin sampai Jum'at dan sekarang giliran sama Papa," rengek Nanda.


"Nanti sore saja ya, Papa masih ngantuk."


"Ih Papa, Nanda inginnya sekarang."

__ADS_1


Adnan tidak mendengarkan rengekan Nanda, dia terus saja tidur hingga beberapa saat kemudian, Adnan mendengar isakan kecil. Adnan langsung membuka matanya, dan dilihat Nanda sudah menangis dengan menutup wajahnya.


Adnan menghembuskan napasnya dengan kasar. "Oke-oke, jangan nangis lagi sekarang Papa mandi dulu, ya," bujuk Adnan dengan lembut.


Nanda segera menghapus airmatanya, wajahnya kembali ceria.


"Mandinya jangan lama-lama, Pa."


"Siap, Tuan putri."


Dengan langkah gontai, Adnan pun dengan terpaksa masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Beberapa saat kemudian, Adnan keluar dari kamar mandi dan sekarang sudah terlihat lebih segar. Nanda masih setia menunggu di kamar Papanya itu, Adnan dengan cepat memakai baju dan mematut dirinya di cermin.


"Sayang, apa Papa tampan?" tanya Adnan.


"Papa Nanda, pokoknya paling tampan deh," sahut Nanda dengan mengacungkan jempolnya.


Adnan tersenyum, dia menghampiri anaknya lalu menggendong Nanda. Adnan dan Nanda masuk ke dalam mobil, kemudian Adnan mulai melajukan mobilnya ke sebuah Mall ternama.


Tidak membutuhkan waktu lama, mobil Adnan pun sampai di sebuah Mall.


"Sayang, kita sarapan dulu ya, soalnya Papa lapar banget belum makan apa-apa," seru Adnan.


"Iya, Pa."


Adnan dan Nanda masuk ke sebuah restoran, mereka memesan makanan kesukaan masing-masing. Banyak wanita yang menatap Adnan dengan tatapan kagum dan itu membuat Nanda kesal.


"Lah, kok wajahnya cemberut gitu?" seru Adnan.


"Banyak tante-tante lihatin Papa terus, Nanda gak suka," kesal Nanda.


Adnan terkekeh dengan mengusap kepala Nanda. "Memangnya Papa tidak boleh menikah lagi? kamu tidak mau punya Mama?" goda Adnan.


"Bukannya begitu Pa, pokoknya nanti Nanda yang pilihin Mama buat Nanda."


Adnan kembali tersenyum, ada perasaan kasihan kepada Nanda karena sejak lahir, dia belum pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang Ibu.

__ADS_1


__ADS_2