Sang Mantan

Sang Mantan
MILIK KITA


__ADS_3

Selama beberapa minggu terakhir, Rafael terus memikirkan niatnya yang ingin memisahkan kepemilikan saham antara milik dirinya dan juga milik sang istri. Rafael ingin saham mereka di pisah agar posisi Nindy sebagai pemilik LJ Grup di akui dengan jumlah saham yang di milikinya. Sebelum mengambil sebuah keputusan itu, Rafael selalu meminta pendapat dan saran dari pak Rudi selaku penasehat hukum dari LJ Grup.


Tentu bukanlah suatu hal yang mudah bagi pak Rudi untuk mengambil keputusan di dalam perselisihan yang terjadi antara Rafael dan Nindy, karena beliau harus memikirkan perasaan dari tuan dan nona mudanya tersebut. Untuk kesekian kalinya pak Rudi harus menjadi penengah dari perdebatan yang terjadi antara sepasang suami istri itu.


Perdebatan Rafael dan Nindy di mulai pada saat Rafael mengemukakan keinginannya untuk mengalihkan kepemimpinan LJ Grup atas nama Nindy sedangkan Nindy sendiri tidak menyetujuinya. Nindy ingin agar sang suami yang tetap memimpin LJ Grup.


"Aku tidak mau. Kenapa kamu harus melakukan itu?" Ucapnya seraya menatap sang suami.


"Karena perusahaan itu memang milikmu dan kamu berhak atas semua itu" Ujar Rafael.


"Kenapa kamu bicara seperti itu?" Sela Nindy.


"Kenapa kamu berbicara seperti kita ini adalah orang asing yang tidak saling mengenal. Apa kamu lupa jika aku adalah istrimu" Nindy terlihat kesal kepada suaminya.


"Aku hanya ingin memberikan kesempatan bagimu untuk memimpin LJ Grup" Ucap Rafael.


"Tapi aku tidak menginginkannya" Sahut Nindy cepat.


"LJ Grup bukan hanya milikku, tapi juga milikmu. LJ Grup adalah milik kita. Dan kita punya hak yang sama atas perusahaan ini".


"Jika kamu masih menganggap aku sebagai istrimu, maka jangan pernah coba- coba untuk mengambil keputusan apapun tanpa seizinku karena aku tidak akan pernah memaafkanmu" Ucap Nindy tegas.


Rafael menghela nafas, ia tidak menyangka jika Nindy akan menentang keputusannya.


"Saya rasa apa yang di katakan oleh nona Nindy benar pak Rafael, kita tidak perlu mengalihkan kepemimpinan LJ Grup kepada nona Nindy karena sesungguhnya andalah yang lebih pantas untuk posisi itu" Ucap pak Rudi mencoba menengahi perselisihan Rafael dan Nindy.


"Lagi pula selama ini anda mampu memimpin LJ Grup dengan sangat baik hingga perusahaan ini tumbuh dengan cepat dan berkembang pesat. Tentu saja nona Nindy tidak akan mampu untuk mengambil alih itu semua karena itu bukan keahliannya".


Nindy mengangguk setuju, ia senang karena pak Rudi membelanya.


"Lantas apa yang harus aku lakukan sekarang?" Tanya Rafael.


"Saya pikir untuk saat ini tidak ada yang perlu di ubah dari sistem pimpinan LJ Grup. Yang harus kita lakukan adalah memisahkan saham antara pak Rafael dan juga nona Nindy" Ucap pak Rudi.


"Kenapa harus di pisah paman? Bukankah posisi Rafael akan semakin kuat jika ia memiliki semua saham milikku" Sahut Nindy.


"Kita harus melindungi saham milik anda nona, karena jika hal buruk terjadi pada perusahaan maka saham anda tidak akan terdampak imbasnya" Jelas pak Rudi.


Nindy menatap Rafael, ia berharap sang suami tidak menyetujui usulan pak Rudi.


"Aku setuju dengan paman, kita harus melakukan itu" Ucap Rafael.


"Kamu tidak boleh melakukan itu?" Sanggah Nindy.


Rafael menggenggam tangan Nindy erat seraya tersemyum.


"Tenanglah, semuanya akan baik- baik saja. Posisiku akan tetap aman karena aku mendapat dukungan dari pemengang saham utama lainnya, jadi pemisahan saham kita tidak akan berpengaruh pada posisiku" Ucap Rafael menyakinkan istrinya.

__ADS_1


"Kamu yakin?" Nindy ingin memastikan.


Rafael mengangguk.


"Iya, aku sangat yakin".


"Baiklah, aku setuju. Aku harap ini adalah keputusan yang tepat.


Setelah perdebatan panjang itu, akhirnya Rafael kembali mengadakan pertemuan dengan para pemengang saham untuk membahas tentang kepemimpinannya serta mengumumkan nama- nama pemengang saham terbesar dari LJ Grup. Rafael merasa perlu melakukan pertemuan itu, untuk melindungi seluruh saham dan juga aset milik Nindy agar tidak di ganggu oleh orang lain.


Seperti biasa, perselisihan pasti selalu terjadi jika sudah membahas masalah pimpinan dan juga saham LJ Grup. Banyak orang yang tidak setuju dengan keputusan Rafael karena hal itu akan berpengaruh pada posisi pimpinan yang sedang di pegangnya. Namun Rafael berhasil menyakinkan mereka sehingga semua berjalan sesuai rencananya.


.


Nindy keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri, tangannya terangkat keatas sembari mengusap rambutnya yang basah dengan menggunakan handuk . Tanpa di sadarinya, Rafael datang dan langsung memeluknya dari belakang.


"Hem,,,! Wangi" Rafael menghirup aroma tubuh sang istri dalam- dalam.


"Ya wangi dong, kan aku habis mandi" Sahut Nindy.


"Tidak mandipun kamu tetap wangi kok" Puji Rafael.


"Gombal".


Rafael terkekeh.


Nindy tersenyum dan menurut pada ucapan Rafael.


"Memangnya kamu bisa?" Tanya Nindy terlihat ragu.


"Bisa dong, sayang. Ini mah gampang".


Rafael mengambil hairdryer dari laci nakas dan mulai menggunakannya. Nindy hanya tersenyum menikmati sentuhan lembut Rafael di kepalanya sembari memandangi wajah tampan sang suami dari pantulan cermin.


"Kenapa?" Tanya Nindy saat melihat Rafael memainkan rambutnya.


"Sepertinya rambutmu harus di rapikan sayang. Ini terlihat sedikit kering dan berantakan " Ucap Rafael.


"Benarkah!" Nindy meraih ujung rambutnya dan ikut memperhatikan bagian yang rusak.


"Iya, kamu benar. Sepertinya aku harus memotongnya" Ucap Nindy.


"Jangan di potong" Tolak Rafael.


"Kenapa? Kan ujungnya udah kering dan rusak".


"Dirawat saja, siapa tahu mungkin akan sehat kembali" Ucap Rafael.

__ADS_1


Nindy masih memandangi ujung rambutnya yang rusak.


"Memang bisa di perbaiki?" Tanyanya ragu.


"Bisa, jika kamu melakukan perawatan di tempat yang tepat".


"Besok aku akan meminta mama untuk menemanimu kesalon. Mama pasti tahu salon yang terbaik untuk perawatan rambut" Usul Rafael.


"Kamu setuju kan?".


Nindy mengangguk.


"Baiklah, aku setuju".


Rafael meletakkan kembali hairdryer di tempatnya setelah selesai mengeringkan rambut sang istri. Kemudian meraih tangan Nindy agar ikut dengannya untuk naik keatas ranjang. Keduanya duduk bersisian sambil saling memeluk. Rafael membaringkan kepala Nindy di atas pundaknya dengan sebelah tangan merangkul tubuh sang istri, sementara Nindy melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang suami.


"Bagaimana hasil meeting tadi siang? Apa semua berjalan lancar" Tanya Nindy.


"Hm, ya. Semuanya berjalan lancar" Jawab Rafael.


"Tidak ada yang melakukan protes?" Tanya Nindy lagi.


"Tidak. Mereka tidak akan berani melakukan aksi protes karena dukungan mereka tidak sebesar dengan dukungan yang kita dapatkan" Ucap Rafael.


"Syukurlah, aku ikut lega mendengar. Sebenarnya aku sempat khawatir jika mereka akan menentang keputusanmu".


Rafael tersenyum sembari mengusap pipi Nindy kemudian mengecup kening sang istri lembut.


"Kamu tidak perlu khawatir lagi, karena semuanya berjalan sesuai rencana kita" Ucapnya.


"Apapun yang terjadi aku akan tetap melindungimu".


"Aku akan melakukan apapun untuk melindungimu dan juga semua aset yang menjadi milikmu" Tegas Rafael.


"Milik kita" Sanggah Nindy sembari menatap wajah Rafael.


"Jangan pernah mengatakan jika itu milikku karena aku tidak suka".


Rafael tertawa, ia sudah menduga kalau Nindy akan marah jika ia bicara seperti itu.


"Iya sayang, milik kita. Semua itu adalah milik kita dan calon buah hati kita" Ucap Rafael.


Nindy mengangguk sembari tersenyum lalu kembali memeluk suaminya dengan erat dan Rafael membalas pelukan Nindy dengan mesra seraya mendaratkan beberapa kecupan di seluruh wajah sang istri.


Sebelum tidur, Rafael dan Nindy selalu menghabiskan waktu berdua untuk berbicara dari hati kehati dan saling bercerita tentang keseharian mereka. Hal itu mereka lakukan untuk membuat hubungannya semakin dekat dan mesra. Rafael dan Nindy sudah sepakat agar selalu berbagi cerita sebelum mereka mengakhiri harinya karena berbicara dengan pasangan memang menjadi jembatan agar hubungan antara suami istri menjadi semakin harmonis dan romantis.


__ADS_1


__ADS_2