
"Allahuakbar ... Allahuakbar ..." adzan subuh berkumandang, suaranya seakan mengusap wajahku agar terbangun dari tidur lelapku.
Sejak menjalin hubungan dengan Rey, kewajibanku untuk bersujud kepada Allah, Tuhan semesta alam, seringkali Ku abaikan. Padahal dulu, sebelum Dia hadir kembali, Aku termasuk Muslimah yang sangat taat dengan kewajiban yang satu itu, meski belum mampu memantapkan diri untuk berhijab. Tapi setidaknya, Aku selalu mantap dengan Sholatku. Keadaan telah berbeda, Rey meruntuhkan keimananku. Hanya beberapa waktu saja ketika Aku dirumah, sholatku mampu Ku jaga, dan saat di luar perasaan malas selalu saja hadir.
Kulihat Vino yang masih terlelap dalam tidurnya. Lelaki tampan yang tak kalah kerennya dari Rey. Aku semakin terkesima saat Ku lihat lekat-lekat wajah suamiku yang semakin menggemaskan dengan bibir sedikit tersenyum. Kupikir, mungkin sedang terbuai oleh mimpi yang indah.
"Ayah, bangun. Udah subuh." kataku sambil mengusapkan dahinya dan mencium hidung mancungnya agar Vino segera cepat terbangun.
"Hemmhhh." sahutnya seperti sedang berdeham.
Melihat Vino sudah mulai terbangun, Aku pun beranjak dari ranjangku, berjalan menuju kamar Maya sambil meregangkan otot yang terasa kaku. Sesekali Aku menguap, masih amat lelah dan mengantuk. Tapi Ku paksakan langkah untuk cepat membangunkan Maya dan sesegera mungkin memberi kabar baik untuknya.
Clek. Clek.
'Kok dikunci? Ngga biasanya Maya ngunci pintu kamarnya, pasti karena ngambek.' pikirku dalam hati.
"Tok Tok Tok"
"Maya, sayang. Bangun nak, udah subuh, ayo bangun!" seruku, mengetuk pintu kamarnya yang terkunci.
Tak lama Maya pun membuka pintu kamarnya. Rambut panjangnya yang biasa dikuncir kuda, sekarang dibiarkan terurai berantakan. Sesekali Maya mengucek matanya, menutup mulut yang spontan menguap dengan telapak tangannya.
"Hoaaammm ... kenapa bun, subuh ya? Aku lemes banget ihh, ngantuuukkk.." ucap Maya manja, berharap Aku membiarkannya kembali masuk melanjutkan tidurnya.
"Mandi sana, sholat subuh terus beres-beres baju dan keperluanmu yang lain, kita mau liburan ke Bali," ujarku mengagetkannya, hingga Maya sedikit melotot tak percaya.
__ADS_1
"Serius bun? Kita ke Bali? Hari ini? Sekarang?" tanya Maya seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Serius sayang, Ayah kamu nggak jadi ke Bandung. Udah cepetan mandi, sholat, terus beres-beres!" kataku menjelaskan.
"Yeeeesssssss ... LIBUURRRAAAAANNN ..." teriak Maya membuatku menggelengkan kepala dan tersenyum melihat tingkah putriku.
Aku segera kembali ke kamar dan Ku dapati Vino sudah tak lagi ada. Vino memang tak pernah absen untuk melaksanakan sholat subuh di Mesjid yang ada tepat di belakang Rumah. Aku pun bergegas ke dapur, membantu Bu Iyem menyiapkan sarapan untuk kami makan sebelum berangkat. Bu Iyem adalah asisten rumah tangga kami, beliau sudah lama mengabdi pada keluargaku ini. Sejak Aku baru menikah dengan Vino, Bu Iyem langsung bekerja membantuku di sini. Bu Iyem sudah Ku anggap seperti Ibuku sendiri. Sosoknya ramah dan lembut mirip mendiang Ibuku yang telah lama meninggalkanku untuk selama-lamanya.
"Bu Iyem, kenapa nggak ikut aja sih? Kan enak bisa jaga Maya sekaligus liburan. Sesampai di Bali, Aku langsung ada meeting, setelah itu langsung survey ke lokasi yang mau di buat cabang baru," kataku menjelaskan kenapa Aku memaksanya agar ikut dengan kami ke Bali.
Bu Iyem yang sedang memotong sayuran, menghentikan aktifitasnya, seperti sedang berfikir.
"Ayo dong, ikut ya. Lagian ngapain Bu Iyem sendirian disini? Soal rumah mah, biarin aja urusan Pak Dadang," rayuku pada Bu Iyem yang sedang bimbang memutuskan ikut atau tidaknya.
"Rencana sih tiga hari. Sabtu, Minggu, Senin sore nya balik." jawabku sambil berlalu membawa makanan untuk sarapan yang akan ditata di meja makan.
Rutinitasku memang seperti ini. Meski ada Asisten rumah tangga, Aku tetap ikut menyibukan diri di dapur.
Sehabis sarapan, kami langsung segera bergegas menaikan koper-koper yang sudah kami siapkan di teras rumah ke bagasi mobil. Kali ini Pak Dadang yang akan menyetir mobil dan mengantarkan kami ke bandara. Selain bertugas mengamankan rumah, Pak Dadang juga bisa diandalkan menjadi supir dadakan. Ada dua satpam di rumah kami, tapi hanya Pak Dadang yang menetap tinggal di rumah. Sedangkan Pak Ilham, hanya menemani Pak Dadang bertugas dari pagi hingga sore saja. Mereka juga sudah cukup lama mengabdi di keluargaku. Hingga Aku dan Vino sudah menganggapnya seperti keluarga.
*****
Denpasar, Bali.
1 jam 55 menit. Penerbangan memakan waktu hampir 2 jam. Kulihat jam ditanganku menunjukan pukul 10.55, itu artinya di sini, di Bali, sekarang pukul 11.55. Karena perbedaan waktu Jakarta dengan Bali itu 1 jam.
__ADS_1
'Berarti sekarang sudah jam makan siang, Rey pasti sudah menungguku,' gumamku was-was
Aku terperanjat saat mobil mercy hitam tiba-tiba berhenti di tempat kami berdiri menunggu mobil rental yang baru saja Vino telepon.
"Deeggggg,"
Perasaanku tak karuan. Vino, Bu Iyem, dan Maya saling bertatapan. Sesosok Pria tampan keluar dari mobilnya.
'Rey?' gumamku tak percaya dengan apa yang Aku lihat.
Rey nekat datang dan menemui Aku di depan keluargaku. Seketika tubuhku terasa kaku, tak dapat Ku gerakkan. Waktu seperti berhenti berputar. Sungguh, Aku tak menyangka Rey akan datang ke sini menemuiku.
'Seharusnya Aku yang ke sana, kenapa harus Dy yang ke sini,?' gerutuku kesal.
"Ibu Tasya ya?" tanyanya mendekati ku seolah tak kenal.
Vino langsung mendekati Rey. Wajahnya gusar penuh keingin tahuan. Dengan cepat dan tanpa basa basi, Vino langsung berbalik bertanya ke Rey.
"Ada apa ya Pak? Memang Bapak siapa, kok kenal dengan istri Saya?" tanyanya penuh selidik.
"Ohh.. Bapak suaminya Bu Tasya? Perkenalkan Pak, Saya Rey" ucap Rey santai memperkenalkan namanya sambil tersenyum ke arahku.
Aku semakin mengkerutkan dahi. Menatap Rey penuh tanda tanya. Aku tak tau maksud Rey apa. Aku juga tak bisa menebak apa yang mau Rey lakukan di sini, di depan keluargaku. Sebelumnya, Aku memintanya untuk menungguku di salah satu tempat yang sudah Ku beritahu, untuk nantinya Aku yang akan ke sana menemuinya. Tapi Rey sungguh nekat.
'Dasar Rey!!' gumamku menahan emosi.
__ADS_1