
Nindy berulang kali menatap layar ponselnya yang masih terdiam sejak tadi, ia sedang menunggu telpon itu berbunyi dan berharap orang yang sedang di tunggunya menghubungi dirinya. Sejak pagi, ia terus bertanya kepada Ardi kapan Rafael akan pulang dan untuk kesekian kalinya Ardi memberikan jawaban yang sama yaitu :
'Saya tidak tahu bu, pak Rafael tidak mengatakan apapun tentang kepulangannya pada saya'.
Ingin rasanya Nindy memberikan bogem mentah kepada asistennya itu, sudah tahu jika dirinya sedang menunggu kepulangan suaminya tapi kenapa asistennya itu tidak berinisiatif untuk menghubungi Tuan mudanya tersebut untuk bertanya kapan dia akan pulang. Nindy menarik nafasnya dan membuangnya perlahan, ia harus bisa menahan diri karena saat ini ia masih sangat membutuhkan bantuan Ardi untuk menyelesaikan semua tugasnya.
"Kenapa perasaanku jadi tidak nyaman seperti ini ya, apakah ada sesuatu yang terjadi?"
Nindy mengusap dadanya beberapa kali berharap bisa memberikan sedikit ketenangan di sana.
Drrrr drrrrrr
Setelah lama menunggu, akhirnya ponsel Nindy bergetar pertanda sebuah pesan masuk. Nindy langsung meraih ponselnya dan seketika ia kaget saat melihat pesan yang masuk dari Haikal. Ia begitu kaget saat menyadari jika dirinya telah melupakan pacarnya itu selama beberapa hari ini. Nindy terlalu fokus dengan pekerjaannya dan juga masalahnya dengan Rafael sehingga ia melupakan Haikal yang ternyata sudah beberapa hari tidak di temuinya.
Nindy membaca pesan yang Haikal kirimkan, ternyata pesan tersebut berisi ajakan untuk bertemu. Haikal meminta Nindy untuk menemuinya di salah satu kafe yang berada di dekat apartemennya dan Nindy pun menyetujui ajakan tersebut.
"Aku juga harus bicara dengan mas Haikal. Masalah ini tidak bisa aku biarkan terus berlarut- larut seperti ini".
"Aku harap ini adalah keputusan yang terbaik".
Nindy meletakkan kembali ponselnya sambil menghela nafas panjang, keputusan memang sudah di ambilnya meski Nindy masih sedikit ragu apakah ini adalah keputusan yang terbaik.
Ujung tombak dari semua permasalahan ini sebenarnya ada di Nindy, jadi dialah yang harus mengambil keputusan untuk menyelesaikan perselisihan itu. Rafael dan Haikal hanya bisa berusaha untuk menyakin Nindy, tapi semua keputusan tetap berada di tangannya.
Siapakah yang akan Nindy pilih suaminya atau kekasihnya!
.
Sudah tiga hari Rafael pergi keluar kota untuk menyelesaikan pekerjaannya. Selain untuk urusan bisnis, kepergiannya keluar kota juga atas saran dari sepupunya, yaitu dr Yulia. Rafael ingin mengikuti saran yang di berikan oleh sepupunya itu yaitu untuk memberikan waktu kepada Nindy sendiri agar dia bisa berpikir tenang sehingga dapat menentukan pilihan.
Dan setelah tiga hari berlalu, kini Rafael memutuskan untuk kembali ke ibu kota dan tujuan utamanya adalah ingin bertemu dengan sang istri. Menurutnya, waktu tiga hari pasti sudah cukup untuk Nindy berpikir dan sekarang istrinya itu pasti sudah punya jawaban. Saat ini Rafael ingin bertemu dengan sang istri karena ia harus segera menyelesaikan masalah diantara mereka. Rafael tidak mau menunda- nundanya lagi dan membiarkan masalah ini terus berlarut- larut tanpa penyelesaian yang pasti.
__ADS_1
Rafael harus bicara langsung pada Nindy dan menanyakan keputusannya, ia harus segera tahu apakah sang istri masih memberikan kesempatan kedua untuknya atau justru kesempatan itu sudah tidak ada lagi untuk dirinya.
Rafael mengarahkan mobilnya menuju kearah apartemen milik istrinya dan kedatangannya langsung di sambut oleh dua pengawal yang berjaga di sana.
"Selamat sore pak!" Sapa seorang pengawal saat Rafael keluar dari mobilnya.
"Sore! Bu Nindy ada di tempatkan?" Tanya Rafael.
"Bu Nindy sedang tidak berada ditempat pak" Jawab pengawal itu.
"Istriku tidak ada di apartemennya?" Rafael mengulang pertanyaannya.
"Iya pak, tadi bu Nindy sempat pulang keapartemen tapi kemudian bu Nindy pergi lagi".
"Kemana dia?" Tanya Rafael.
"Apa ada pengawal yang mengawasinya" Rafael tampak khawatir.
'Seorang pria'! Rafael langsung bisa menebak siapa pria yang di maksudkan oleh pengawalnya tadi, siapa lagi pria itu jika bukan Haikal.
"Baiklah, terima kasih. Kalian terus awasi tempat ini" Titah Rafael yang langsung mendapat anggukan dari pengawalnya.
Rafael kembali masuk kedalam mobil dan bergegas menuju ke kafe yang di sebutkan oleh pengawalnya tadi. Rafael merasa inilah saat yang tepat untuk mereka bicara, ia ingin bicara secara langsung dengan sang istri dan juga kekasih istrinya itu.
Rafael keluar dari mobil dan menyerahkan kuncinya pada salah satu satpam untuk di parkirkan, ia tidak sempat untuk memarkirkan mobilnya lagi karena saat ini ia sangat buru- buru. Rafael mengedarkan pandangannya keseluruh kafe untuk mencari keberadaan sang istri dan langkah kaki Rafael terhenti saat ia menangkap sosok wanita yang tampak sedang berbicara serius dengan seorang pria.
"Ternyata kamu disini?" Lirih Rafael pelan.
Untuk kesekian kalinya, Rafael harus melihat secara langsung interaksi sang istri bersama dengan pacarnya. Bukankah ini sudah tidak benar! Bagaimana mungkin mereka bisa bertahan dalam hubungan yang serumit itu. Jika Nindy tetap tidak bisa menentukan pilihannya maka salah satu di antara mereka harus ada yang mengalah.
Setelah memantapkan hatinya, Rafael kembali mengayun langkah kakinya untuk menemui sepasang kekasih yang sedang terlibat pembicaraan serius namun langkah kakinya kembali terhenti saat melihat Haikal memeluk Nindy dengan mesra. Hatinya begitu hancur ketika mengetahui sang istri yang ingin ditemuinya tampak bermesraan bersama kekasihnya.
__ADS_1
Rafael terpaku di tempat, kakinya tidak sanggup untuk melanjutkan langkahnya lagi ketika sayup- sayup ia mendengar kata yang keluar dari mulut pasangan kekasih itu.
'Aku mencintaimu'
'Iya, aku tahu'
Bak petir yang menyambar di siang bolong, Rafael merasakan hatinya seolah meledak dengan sangat kencang akibat dari sambaran petir itu. Sebuah pernyataan cinta yang membuatnya seolah tertampar dan membuatnya sadar jika posisinya memang tidak berarti lagi.
"Apakah ini adalah jawaban dari semua permasalahan yang terjadi diantara kita?".
"Apakah kamu telah menentukan pilihanmu?"
"Sssss,,,,! Ternyata aku bukan pilihanmu".
Rafael mendesis pelan, hatinya begitu sakit saat mengetahui semua kenyataan ini. Sebenarnya Rafael sempat menduga jika Nindy mungkin akan memilih Haikal, tapi meskipun begitu kenapa saat ini rasanya jauh lebih sakit dari apa yang ia bayangkan.
Sebelumnya Rafael telah bertekad akan menerima apapun keputusan yang akan Nindy berikan padanya, tapi kini kenyataannya berbeda. Ternyata ia tidak sanggup untuk menerima kenyataan itu.
Sakit! Iya hatinya terasa begitu sakit.
Terluka! Sudah pasti.
Impian untuk merajut kembali pernikahannya kini telah pupus, dan Rafael harus bisa berlapang hati menerima kekalahannya. Kini ia harus mengakui, jika Haikallah yang telah memenangkan hati sang istri dan ia harus menerima itu.
"Apakah ini adalah akhir dari hubungan kita? Haruskah aku menyerah dan melepaskanmu bahagia bersamanya?".
Rafael berbalik, ia tidak mau Nindy maupun Haikal mengetahui keberadaannya. Satu tangannya terangkat untuk menyusap sudut mata yang basah, ia menangisi nasib pernikahannya yang harus berakhir tragis. Pernikahan yang ia mulai dengan sebuah kebohongan dan kepalsuan, kini harus berakhir. The end!
Dan akhirnya, Rafael memutuskan untuk menyerah dan memiih untuk melepaskan Nindy bersama haikal. Meskipun hatinya sakit, namun ia berusaha untuk tetap kuat dan berlapang dada merelakan wanita yang ia cintai bahagia bersama laki- laki lain. Tidak yang perlu di salahkan karena sejatinya kesalahan memang bermula dari dirinya sendiri. Tidak ada yang perlu di sesalkan lagi karena ia sudah sangat menyesali perbuatannya yang dulu. Nindy berhak bahagia meski bukan bersama dengannya dan Rafael juga harus berbahagia untuk istrinya meski kebahagiaan sang istri diatas luka hatinya.
☆
__ADS_1