
Dua bulan kemudian.
Nindy masuk kedalam kamar dengan mengendap- ngendap berharap agar Rafael tidak terbangun, ia datang sambil membawa sebuah kotak kue di tangannya untuk di berikan kepada suaminya. Sebenarnya semalam Nindy ingin memberikan sebuah kejutan untuk Rafael namun karena suaminya itu pulang terlalu larut malam sehingga ia harus menundanya dan akan memberikan kejutan tersebut di pagi hari saat sang suami masih tertidur pulas.
Nindy meletakkan kotak kue di atas meja di sisi kiri ranjang, kemudian mengeluarkan isinya yang merupakan sebuah cup cake kecil yang sangat imut dan cantik. Setelah itu Nindy meletakkan sebuah lilin yang membentuk angka delapan di atasnya yang merupakan simbol usia pernikahannya. Ya, hari ini adalah anniversary pernikahan Nindy dan Rafael yang kedelapan tahun. Nindy begitu terharu melihat angka delapan yang berdiri tegak diatas cup cake kecil itu, ia tidak pernah menyangka jika usia pernikahannya sudah memasuki angka delapan tahun dan berharap agar pernikahannya bisa terus langgeng hingga mereka tua.
Usai menyiapkan kue dan lilin, kini Nindy beralih kepada suaminya yang masih tertidur pulas di balik selimut tebal dan hangat. Nindy mendekati ranjang lalu memandangi wajah tampan milik pria yang telah merebut seluruh hati dan pikirannya, pria yang telah menorehkan banyak kisah dalam perjalanan hidupnya.
"Kamu berhasil membuatku tergila- gila padamu hingga aku tidak mampu untuk menyingkirkan pesonamu yang begitu memabukkan" Ucap Nindy sembari mengusap wajah suaminya.
"Aku rasa aku tidak akan sanggup untuk kehilanganmu bahkan mungkin aku tidak akan bisa hidup jika tanpa dirimu disisiku".
"Aku mencintaimu, suamiku" Ucapnya kemudian mencium kening dan pipi sang suami.
"Uh,,," Rafael melenguh karena tidurnya mulai terganggu.
Melihat Rafael yang hanya melenguh namun tidak terbangun membuat Nindy mulai iseng, ia mulai mengerjai suaminya agar segera bangun. Nindy mengelus wajah dan leher Rafael berulang kali serta meniupkan nafasnya di telinga, sontak saja hal itu membuat Rafael kegelian hingga mengusap telinganya beberapa kali. Nindy menyeringai geli melihat tingkah suaminya itu dan ia mengulanginya lagi beberapa kali hingga akhirnya sang suami membuka matanya.
"Morning!" Bisik Nindy di telinga suaminya.
"Uh,,,,! Sayang!" Rafael mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Good morning, sayang" Ucap Nindy saat melihat mata sang suami yang mulai terbuka.
Rafael tersenyum saat melihat wajah Nindy yang tampak cantik meski tanpa make up.
"Morning" Sahutnya sembari mengangkat kedua tangannya untuk meraih tubuh sang istri namun Nindy justru menghindar.
"Kemarilah sayang, jangan menghindar. Aku ingin memelukmu" Pinta Rafael di sertai regekan.
"Hahaha" Nindy tertawa.
"Bangunlah aku punya kejutan untukmu" Ucap Nindy pada suaminya.
Rafael menggelengkan kepalanya.
"Nggak mau. Aku nggak mau bangun. Aku nggak mau kejutan apapun. Aku hanya ingin kamu" Regeknya lagi seperti anak kecil.
"Yakin nggak mau kejutan apapun?" Pancing Nindy.
Rafael tetap menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya mau kamu" Ucapnya manja sembari merentangkan tangannya meminta sang istri memeluknya.
"Kemarilah, aku sangat merindukanmu" Ucapnya.
__ADS_1
Akhirnya Nindy harus mengakui jika dirinya memang begitu mencintai suaminya, meski hanya dengan regekkan kecil yang di lakukan Rafael ternyata mampu meluluhkan hatinya. Tak ingin membuat sang suami kecewa, Nindy mendekatkan tubuhnya dan langsung memberikan pelukan hangat untuk pangeran tampannya itu. Bukan hanya pelukan, Nindy juga memberikan kecupan di kening dan seluruh wajah sang suami hingga membuat suaminya terkekeh senang.
"Sudah puas?" Tanya Nindy setelah menyudahi pelukannya.
Rafael kembali menggelengkan kepalanya.
"Belum. Masih mau di peluk. Boleh minta lagi nggak?" Ucapnya.
Kini giliran Nindy yang menggelengkan kepalanya.
"Nggak boleh" Sahutnya.
Rafael langsung menekuk wajahnya karena kecewa dengan penolakan Nindy, padahal dirinya masih ingin memeluk dan bermanja- manja dengan istrinya.
"Bangunlah. Aku punya sesuatu untukmu" Ucap Nindy sembari turun dari ranjang lalu mengambil kue yang sudah di persiapkannya tadi untuk di berikan kepada suaminya.
Sementara itu Rafael memperhatikan apa yang di lakukan oleh sang istri dan ia sedikit bingung saat melihat sebuah kue diatas meja. Rafael melihat Nindy menyalakan lilin yang berbentuk angka delapan di atas kue tersebut lalu mengambil kue itu dan membawakannya kepadanya.
"Happy anniversary, sayang" Ucap Nindy sembari memberikan cup cake kecil itu kepada suaminya.
"Hah!" Rafael tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya saat mendengar ucapan Nindy.
"Happy anniversary?" Ulang Rafael.
"Iya, happy anniversary. Hari ini adalah ulang tahun pernikahan kita yang kedelapan" Ucap Nindy girang.
"Happy anniversary!"
Ulang tahun pernikahan yang kedelapan tahun! Benarkah usia pernikahannya mereka sudah memasuki delapan tahun? Begitu cepatkah waktu berlalu hingga ia tidak pernah menyadarinya. Padahal rasanya baru kemarin ia dan Nindy menenguk manisnya mahligai pernikahan tapi kini tiba- tiba ia harus menerima kenyataan jika ternyata sudah delapan tahun usia pernikahannya, usia yang hampir mendekati satu dekade.
Seketika rekaman memory di otak Rafael berputar otomatis dan memutar kilas balik dari perjalanan pernikahannya. Rafael kembali mengingat saat- saat terburuk dalam hidupnya yaitu disaat ia menjadi laki- laki paling bodoh yang dengan begitu teganya menyia- nyiakan wanita yang paling mencintainya kala itu. Rafael berusaha keras untuk membendung air matanya agar tidak jatuh namun ternyata ia gagal karena akhirnya air matanya itu tumpah juga dari pelupuk matanya.
"Sa sayang" Suara Rafael mulai terdengar serak dan bergetar.
"Maafkan aku" Lirihnya.
Nindy ikut terkejut melihat reaksi sang suami yang di luar dugaannya. Nindy tidak percaya jika suaminya akan menangis menerima kejutan darinya. Begitu terharukah suaminya karena mendapatkan kejutan dari dirinya? Nindy tidak tahu jika saat ini Rafael sedang menyesali semua perbuatannya di masa lalu.
"Maafkan aku sayang" Rafael kembali mengulangi ucapannya.
Sadar jika reaksi sang suami terlihat sedikit aneh, Nindy meletakkan kembali kue tersebut di atas meja lalu kembali mendekati suaminya.
"Sayang! Kamu kenapa?" Nindy mengusap wajah sang suami yang basah.
"Maafkan aku sayang" Ucap Rafael lagi.
__ADS_1
"Maaf untuk apa? Kamu tidak melakukan kesalahan apapun" Sahut Nindy yang masih bingung dengan sikap suaminya.
Dengan tangis terisak, Rafael meraih tangan Nindy lalu mengecupnya beberapa kali setelah itu meletakkannya di kedua pipinya.
"Sayang, aku telah melakukan banyak kesalahan padamu. Aku telah menyia- nyiakan kamu untuk waktu yang sangat lama" Ucapnya.
"Aku tidak percaya jika usia pernikahan kita sudah delapan tahun lamanya, padahal kita baru beberapa bulan saja meraih kebahagian kita yang sesungguhnya. Aku begitu bodoh karena telah menyia- nyiakan waktu kita hingga bertahun- tahun. Begitu banyak waktu yang terbuang sia- sia karena kebodohanku. Maafkan aku, sayang! Maafkan aku".
Rafael tertunduk seraya mengecup kedua tangan sang istri secara bergantian dan enggan untuk melepaskan. Hatinya begitu terluka saat mengingat semua itu dan hanya dengan mencium kedua tangan sang istri yang mampu membuat luka di hatinya sedikit membaik.
Tes.
Tanpa terasa air mata Nindy jatuh perlahan saat akhirnya ia menyadari apa yang sebenarnya suaminya rasakan saat ini. Bohong jika ia tidak sedih saat mengingat masa lalunya, bohong jika ia tidak terluka saat itu dan bohong pula jika ia mengatakan kalau ia sudah melupakan semuanya. Namun sekali lagi Nindy sadar jika semua itu adalah bagian dari garis takdirnya, mungkin ia memang harus menangis di bawah air hujan terlebih dahulu agar ia dapat melihat indahnya pelangi di penghujung hujan.
Nindy menarik kedua tangannya dengan kasar hingga membuat Rafael terkejut, Rafael mengangkat wajahnya dan menatap mata sang istri yang memeram padam. Apakah istrinya marah, pikirnya.
Keduanya saling menatap untuk sesaat hingga akhirnya Nindy menyunggingkan senyum sembari membuka kedua tangannya lebar- lebar.
"Apa kamu tidak ingin memelukku?" Ucapnya manja.
Rafael masih terdiam.
"Hari ini adalah anniversary kita yang kedelapan dan untuk yang pertama kalinya kita merayakan bersama. Apa kamu tidak ingin memberikan kata selamat untukku? Apakah kamu tidak merasa bahagia karena setelah sekian lama akhirnya kita berhasil melewati badai dalam rumah tangga kita dan bisa merayakan anniversary kita bersama?" Ucap Nindy sembari memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Nindy sengaja berkata seperti itu untuk mencairkan suasana.
"Hah!" Seketika tawa Rafael pecah, ia tidak percaya jika istrinya masih bisa tertawa di saat suasana sedang kalut.
Tanpa di mintapun, ia pasti akan dengan senang hati memeluk istrinya. Dengan cepat Rafael meraih tubuh Nindy dan membawanya kedalam dekapannya, ia mendekapnya dengan erat seakan takut jika pelukan itu terlepas hingga Nindy bisa merasakan pelukan Rafael yang terasa lebih erat dari sebelumnya.
"Happy anniversary, sayang. Selamat ulang tahun pernikahan untuk kita" Ucapnya sarat makna.
"Happy anniversary juga, sayang" Sahut Nindy penuh haru.
Rafael mendekap erat tubuh sang istri sembari memberikan kecupan mesra di seluruh wajah istrinya, ia ingin mencurahkan seluruh rasa bahagianya untuk sang istri tercinta. Keduanya saling berpelukan untuk waktu yang lama.
☆
Happy anniversary Rafael dan Nindy
Bahagia selalu ya untuk kalian berdua.
Wah nggak terasa novel ini sudah memasuki eps- eps akhir dan sebentar lagi akan usai.
Tetap nantikan eps terakhirnya ya
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, vote dan coment
Terima kasih