Sang Mantan

Sang Mantan
Part 27


__ADS_3

"Ceklek"


Kubuka pintu kamar Maya yang tak terkunci. Di ranjang, dengan seprai motif hellokitty kesukaannya, Maya menelungkupkan tubuhnya dengan tangan menopang dada dan kepala terangkat. Dari kejauhan Ia seperti sedang membaca. Tapi ketika Ku dekati, ternyata tidak. Maya sedang asik melihat potretnya di album. Potret semasa Ia masih bayi, bahkan saat dalam kandungan. Ya, potret ketika Aku sedang mengandung Maya. Tak terasa hidungku mendadak bindeng, dan mataku mulai berembun.


"Sayang ... Kamu ngapain? Udah pada nungguin di meja makan. Yuk, keluar!" kataku yang tiba-tiba sudah duduk di pinggir ranjang.


Maya yang melihatku sudah di sampingnya, sedikit terkejut. Ia segera menutup album lawasnya. Kemudian, duduk.


"Ngapain Aku ikut makan bareng? Palingan juga Ayah sama Bunda nanti diem-dieman terus berantem deh."


"Kamu salah paham. Bunda sama Ayah udah baik-baik aja sekarang. Tapi Bunda harus berpura-pura untuk mengecoh Nenek. Karena masih banyak yang harus Bunda selesaikan dengan cara ini. Kamu masih belum ngerti, belum paham. Bunda janji, setelah makan, Bunda akan ceritain semua kesalahpahaman ini,"


Aku memberikan pinky promise (janji kelingking) di akhir kalimat yang Ku katakan. Berharap, Maya mau mengaitkan jari kelingkingnya itu. Maya tak langsung membalas. Tapi tak lama, Ia pun tersenyum.


"Oke. Promise!" katanya dengan mengaitkan jari kelingkingnya padaku.


Di ruang makan sudah ada Vino, Bu Iyem, dan Mama Renata. Kami pun mempercepat langkah agar Mereka tak terlalu lama menunggu.


"Kalian ini! Kaya nggak punya etika! Kalo memang enggan makan malam, yasudah. Tapi jangan buat Kami di sini lama menunggu," kata Mama Renata yang membuatku ingin sekali mengusirnya dari rumah ini.


Aku dan Maya saling melirik, mengecutkan bibir, dan kemudian duduk dengan dibarengi tawa terkekeh.


"Lihat, Istri dan Anakmu Vin. Sama sekali nggak ngehormatin Mamah. Kalo nanti Kamu dan Dia pisah, suruh tinggal aja Maya sama Bunda nya."


Vino yang tengah meminum pun tersedak ketika mendengar ucapan Mama Renata.


"Ayah sama Bunda nggak akan pisah. Mereka baik-baik aja. Nenek hang seharusnya pergi dari rumah ini. Aku benci Nenek. Nenek jahat!"


Maya berlari meninggalkan meja makan. Ku susul dengan langkah cepatku. Tapi terlambat. Maya sudah menutup pintu kamarnya.


"Tok tok tok"


"Buka pintunya, May! Jangan begini. Kasian Ayah, nanti malah kepikiran dan makin sedih. Kamu harus makan. Nggak usah dengerin omongan Nenek. Anggep aja Nenek nggak ada."


"Aku nggak mau. Bunda aja yang makan. Aku nggak laper. Semua jahat. Nggak ada yang pedùli sama Aku. Nggak Nenek, Ayah, bahkan Bunda. Semuanya jahat!"


"Maya ... Jangan ngomong gitu nak. Cepat buka pintunya. Bunda mau masuk."


"Aku ngantuk mau tidur. Jangan ganggu Aku!"

__ADS_1


Aku tak bisa memaksa Maya yang emosinya belum stabil. Semakin Aku paksa, Ia pasti akan semakin berontak. Mungkin Maya butuh waktu untuk sendiri.


"Ya udah. Tapi kalo Kamu nanti laper, ke dapur aja ya. Jangan ditahan-tahan."


Aku berlalu meninggalkan Maya dengan perasaan cemas.


*****


"Drrrttt ... Drrrttt ..." suara ponselku berdering.


Aku yang tengah bersantai duduk di lobi kantor dengan memegang secangkir kopi di tanganku, cepat-cepat meletakkannya di meja saat tahu ada pesan masuk untukku.


['Gimana, Sya? Problem Lo sama Vino? Gue kepikiran, Sya! Bisa kita ketemu? please!']


Ku baca pesan dari Dimas. Aku masih marah dengannya, masih kecewa. Untuk sekedar membalas pesannya saja, Aku enggan. Apalagi jika harus bertemu dengannya. Ku abaikan pesannya. Aku hanya tak mau, ada masalah baru lagi yang akan timbul.


"Drrrttt ... Drrrttt ..." suara ponselku kembali berdering.


Kali ini panggilan masuk. Tertulis di layar dengan nama 'Dimas'. Rupanya Dimas tak menyerah untuk bisa menghubungiku. Ku geser dial merah di layar ponselku. Aku menolak panggilannya.


'Sory, Dim. Bukan maksud Gue untuk menghindar. Tapi menurut Gue, ini yang terbaik. Gue nggak mau perasaan Lo semakin berlebih buat Gue. Lo harus buang jauh-jauh rasa itu.' gumamku lirih.


['Gue nggak papa. Cukup dengan Lo nggak ngehubungin Gue lagi, itu akan jauh bikin Gue lebih nggak kenapa-kenapa!']


Aku terpaksa membalas pesannya. Agar Dimas tak lagi mengganggu pikiranku.


Hari semakin terang. Lalu-lalang karyawan kantor pun semakin banyak. Ku ajak diri ini untuk segera kembali ke meja kerjaku. Baru saja masuk ruang kerja, Aku dikejutkan dengan mereka yang sedang berkumpul dan berbisik sambil melihatku dengan tatapan yang aneh.


'Ada apa ini? Kenapa mereka melihatku seperti melihat hantu? Sebenarnya apa yang terjadi?' batinku bertanya.


Ingin sekali Aku bertanya, dan berteriak kenapa mereka seperti itu. Tapi lidahku kelu, seperti tak ingin bicara apapun. Aku menepis semua prasangka buruk yang ada di pikiranku. Ku hempaskan tubuhku di kursi kerja kesayanganku. Tombol PC segera Ku tekan. Menyala.


"Gila. Bu Tasya ... hot bener, Bu. Saya juga mau Bu kalo pemainnya Ibu!" Arya menghampiriku dengan tiba-tiba berucap tak sopan.


"Maksud Pak Arya apa ya? Kalo bicara yang sopan, Pak! Jangan seenak jidat keluarnya!"


"Nggak usah munafik, Bu. Saya bicara sesuai fakta. Seperti yang barusan Saya lihat di film hot Bu Tasya dengan selingkuhannya."


"Deeegggggg!"

__ADS_1


Seperti dijatuhkan batu besar dari ketinggian dan langsung menimpa tubuhku. Seketika tubuhku lemas. Apa yang Ku kawatirkan benar-benar terjadi. Sebuah video yang direkam dengan diam-diam oleh Rey, kini sudah menyebar dan viral. Aku tak tau harus apa. Apa yang akan terjadi setelah ini pun, Aku tak mampu membayangkannya.


Aku kembali menangis. Mendengar umpatan yang mereka ucapkan padaku. Aku malu. Malu di cap seperti *******.


"Ih. Nggak nyangka Bu Tasya begitu."


"Porno banget tu orang! Kaya pecun bayaran. Sampe ada videonya!"


"Begituan sama selingkuhan. Di videoin pula. Ckckckck!"


"Gile ... Hot banget Bu Tasya di ranjang!"


"Cantik sih. Tapi sayang hatinya nggak secantik wajahnya."


"Kasian suami dan anaknya. Pasti sangat malu liat kelakuan bejatnya!"


Dan masih banyak lagi. Rasanya telinga ini tak mampu menampung bertubi-tubi cacian yang di utarakan padaku. Aku pergi, melarikan diri dari bisingnya gunjingan untukku.


Aku menyendiri dalam mobil yang terparkir. Ku buka ponselku untuk memastikan seberapa viralnya videoku yang sudah tersebar. Aku menangis, merasa jijik dengan diriku sendiri. Hidupku seakan tamat. Tak ada lagi yang bisa Ku perbuat.


'Gimana kalo sampe Maya tahu? Maya pasti akan sangat kecewa. Maya ... Maafin Bunda, Sayang.!'


Airmata ku semakin deras. Tangisku tak tertahan lagi. Aku menangis, sangat histeris. Hidupku seketika tak berarti. Rasanya ingin sekali Ku akhiri hidup ini.


"Drrrttt ... Drrrttt ..." suara dering ponselku lagi.


Ku lihat nama yang memanggil di depan layar ponsel. 'Rey'. Ku diamkan ponselku hingga berhenti berdering. Tak lama panggilan telepon dari Vino pun masuk. Segera Ku jawab panggilannya.


"Halo, Bun. Assalamualaikum?"


"Waalaikumsalam."


Aku terdiam sehabis menjawab salam dari Vino. Bibirku tak kuat untuk bicara. Semakin Aku mencoba untuk bicara, semakin tangisan yang Aku keluarkan. Akhirnya, tangisku pun pecah di telinga Vino.


"Bunda ... Jangan nangis lagi. Udah. Kita hadapain sama-sama. Orang kantor ada yang bilang Kamu pergi. Kamu di mana? Aku jemput ya?" suara Vino terdengar sangat lembut.


Perhatian Vino semakin membuatku merasa bersalah. Aku tak pantas dipertahankan. Aku hanya membuat Vino susah dan malu. Suami mana yang mampu bertahan dengan semua ini.


"Bun ... Kamu sedang apa? Kenapa diam? Bunda ... Ja,"

__ADS_1


Belum selesai Vino bicara. Kutekan dial merah mengakhiri panggilannya. Ku nyalakan mobilku. Ku genggam erat setir yang Ku pegang. Aku meremasnya. Sangat kencang. Wajah Indri yang tersenyum menyeringai melintas di bayanganku. Aku membencinya. Ku lajukan mobilku, yang Aku pun tak tau kemana arah tujuanku.


__ADS_2