Sang Mantan

Sang Mantan
KATA MAAF


__ADS_3

Bu Linda mengantar kepergian Nindy dan Rafael hingga sampai di depan pintu, beliau masih berusaha membujuk Nindy agar mau menginap dan tinggal lebih lama di rumahnya. Namun sayangnya Nindy bersikeras ingin pulang ke apartemennya dengan alasan ia tidak memiliki baju ganti.


"Kamu yakin mau pulang malam ini? Apa tidak sebaiknya kamu menginap di sini saja? Kamarmu masih ada kok dan masih rapi karena Rafael suka tidur dikamar itu" Bujuk bu Linda.


"Hah!" Nindy terkejut mendengar ucapan bu Linda.


"Ma!" Rafael mengajukan protes.


"Kenapa kamu menatap mama seperti itu? Toh semua itu memang benarkan. Kamu memang sering menghabiskan waktumu di dalam kamar istrimu bahkan mama sering melihat kamu tidur di kamar itu".


Rafael memalingkan wajahnya, ia merasa malu saat sang mama membongkar aibnya di depan Nindy.


Sementara itu, Nindy menatap Rafael seolah tidak percaya dengan ucapan ibu mertuanya itu.


"Jangan mengatakan hal yang tidak- tidak pada Nindy, ma. Nanti dia bisa tambah ilfeel sama aku" Protes Rafael.


"Kamu tidak perlu mendengarkan ucapan mama, anggap saja hanya angin lalu" Ucap Rafael pada Nindy.


Nindy tersenyum kecil, ia bingung bagaimana harus menanggapi situasi ini.


"Ayo pulang, sebelum malam semakin larut" Ajak Rafael sembari berlalu pergi.


"Kamu lihat itu" Tunjuk bu Linda pada sang putra yang telah berlalu pergi.


"Begitulah Rafael yang sekarang, dia tidak sehangat dulu lagi. Bahkan Rafael sangat jarang berpamitan pada mama jika ia hendak pergi".


Nindy melihat Rafael yang sudah berlalu pergi dan masuk kedalam mobilnya.


"Mama benar. Dia sudah banyak berubah" Gumam Nindy.


Harus Nindy akui jika malam ini ia melihat sosok Rafael berbeda dari sejak mereka bertemu kembali beberapa minggu yang lalu. Benarkah jika dirinya yang telah membuat sang suami berubah menjadi pria yang lebih dingin?.

__ADS_1


"Nindy pamit, ma" Pamit Nindy dengan sopan.


Tidak sia- sia usaha bu Linda meminta Rafael untuk membawa Nindy pulang ke rumah, karena kini hubungan mereka sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Meskipun Nindy belum bisa melupakan semua kejadian di masa lalu namun setidaknya ia sedang berusaha untuk melupakan. Toh, semuanya sudah terjadi dan waktu tidak bisa di ulang kembali.


"Iya sayang, hati- hati ya. Ingatkan Rafael agar jangan mengemudi ugal- ugalan. Mama tidak mau terjadi apa- apa pada kalian berdua" Ucap bu Linda.


"Iya, ma" Sahut Nindy.


"Oh iya. Tolong kamu pikirkan pembicaraan kita tadi. Mama harap kamu bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk permasalahan ini".


Nindy mengangguk pelan, kemudian langsung melangkah pergi menyusul Rafael yang sudah menunggunya sejak tadi.


.


Sepanjang perjalanan, Nindy terus memalingkan wajahnya menghadap kesamping, pikirannya menerawang jauh sejauh pandangan matanya menyulusuri jalanan. Nindy kembali mengingat ucapan bu Linda beberapa saat yang lalu, ucapan yang hingga kini terus membuat perasaannya merasa tidak nyaman. Bu Linda menceritakan banyak hal yang terjadi pada Rafael semenjak kepergiannya tujuh tahun yang lalu.


Kepergianmu telah meninggalkan banyak perubahan dalam hidup Rafael. Kamu pasti masih ingat bagimana sosok Rafael dulu, dia memang pendiam tapi tidak pernah mendiamkan orang yang mengajaknya bicara. Meskipun tidak menyukai seseorang tapi Rafael tidak pernah bersikap acuh pada orang tersebut, sebisa mungkin dia mencoba untuk menghormati orang itu.


Mama minta maaf, nak. Maafkan atas semua kesalahan mama yang telah membawamu dan melibatkanmu dalam permasalahan keluarga kami. Andai saja mama tahu jika LJ grup bukanlah milik keluarga Mahendra lagi, pasti mama tidak akan pernah meminta Rafael untuk menikahimu. Maafkan mama sayang.


Maafkan mama.


Nindy menghela nafas panjang, beban pikirannya kini semakin bertambah berat saat mengingat permintaan bu Linda ketika dia pamit pulang.


Nindy, terlepas bagaimana pun cara Rafael menikahimu dulu, maukah kamu memberi kesempatan padanya untuk memperbaiki pernikahan kalian. Mungkin cara Rafael menikahimu memang salah, tapi kini Rafael sudah menyesali semuanya dan dia juga begitu berharap agar pernikahan kalian bisa di pertahankan.


Masa lalu tidak bisa di ulang lagi, ia hanya bisa di ingat sebagai sebuah kenangan. Tapi masa depan bisa diperbaiki jika kita mau mencoba untuk memberikan kesempatan pada orang itu.


Mama sadar jika mama dan Rafael telah menorehkan banyak luka di hatimu, tapi bolehkah mama bersikap egois dengan mengharapkan maaf darimu.


Ketahuilah satu hal sayang, semua kejadian yang terjadi di antara kita dahulu sudah merupakan takdir Tuhan. Mungkin itu salah satu cara Tuhan untuk menunjukkan pada kita bahwa kalian memang berjodoh dulu, saat ini dan hingga nanti.

__ADS_1


Pikirkan baik- baik Nindy dan mama berharap kamu bisa mengambil keputusan yang bijak.


Semua ucapan bu Linda menari- nari indah di dalam otaknya, laksana sebuah mantra yang telah di jampi- jampi sebelumnya hingga membuatnya perasaannya merasa tersentuh.


Nindy menatap Rafael yang sedang fokus dengan setir mobilnya, ia menelisik wajah dari pria yang masih berstatus sebagai suaminya.


"Kamu memang sudah banyak berubah, tapi benarkah jika perubahanmu itu karena aku? Benarkah jika kepergianku tidak hanya menggoreskan luka di hatiku tapi juga meninggalkan luka di hatimu?".


"Kenapa kamu begitu ingin mempertahankan pernikahan kita. Apakah saat ini namaku telah tertulis di dalam hatimu? Bolehkah aku merasa sedikit kegeeran dan menganggap jika kamu mulai mencintaiku?"


Nindy menggelengkan kepalanya berusaha menampik pikiran yang baru saja muncul di otaknya. Ia ingin mengingkari semua itu dan menganggap jika apa yang Rafael lakukan kini hanyalah sebagai ungkapan penyesalan dari semua perbuatan suaminya itu.


"Aku tahu jika aku tampan, tapi jangan menatapku seperti itu" Ucapan Rafael membuyarkan lamunan Nindy.


"Heh!" Nindy jadi salah tingkah karena Rafael memergokinya.


Rafael melirik istrinya sekilas kemudian kembali fokus dengan jalannya.


"Sebenarnya aku tidak keberatan jika kamu menatap wajahku seperti itu, justru aku malah menyukainya. Tapi aku merasa sedikit khawatir jika nantinya kamu akan jatuh cinta padaku" Goda Rafael lagi.


Nindy cemberut, baru saja ia mulai mengagumi ketampanan sang suami tapi kini langsung merasa ilfeel dengan gaya tengilnya itu.


Nindy kembali memalingkan wajahnya dan menatap keluar mobil hingga membuat Rafael kembali melirik kearahnya.


"Kamu jangan terlalu memikirkan ucapan mama, tidak semua ucapannya itu benar" Ucap Rafael.


"Ada kalanya kita tidak perlu terlalu mendengarkan ucapan orang lain karena hal itu bisa mempengaruhi pemikiran kita sendiri".


"Hidup kita, biar kita yang putuskan. Jangan pernah memikirkan pendapat orang lain karena tidak selamanya pendapat orang sesuai dan sejalan dengan hati kita".


Nindy meresapi setiap kata yang di ucapkan oleh suaminya. Harus di akui, ia mulai tersentuh dengan ucapan Rafael tadi.

__ADS_1



__ADS_2