Sang Mantan

Sang Mantan
DEBAT SUAMI ISTRI


__ADS_3

Mobil berhenti tepat di basemen kantor yang memang di khususkan untuk pimpinan LJ Grup. Melalui basemen itu, pimpinan LJ Grup bisa langsung menaiki lift yang lagi- lagi hanya di khususkan untuknya, lift tersebut akan membawanya langsung ke lantai paling atas tempat singgasananya berada.


Rafael melepaskan selfbelt dari tubuhnya kemudian menatap sang istri tak bergeming dengan wajah yang masih di tekuk. Setelah perdebatan panjang, akhirnya Anin mengikuti perintah Rafael untuk berganti pakaian dan ikut bersamanya.


"Kamu tidak mau turun?" Tanya Rafael.


"Mau sampai kapan wajahmu di tekuk seperti itu? Apa kamu pikir aku akan membawamu kembali jika kamu melakukan protes seperti ini?".


Anin masih terdiam.


"Kamu masih marah karena kejadian semalam?" Tanya Rafael lagi.


Anin membuang nafasnya dengan kesal sembari melirik Rafael sekilas kemudian kembali menatap kedepan.


Rafael mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dengan wajah Anin dan hal itu membuat Anin sedikit kelabakan saat melihat wajah Rafael yang berada tepat di hadapannya.


"Aku minta atas kejadian semalam" Ucap Rafael tulus.


"Heh!" Anin bingung harus berkata apa.


"Maaf karena aku menciummu tanpa izin" Ucapnya lagi.


Rafael menatap Anin lekat.


"Tapi aku tidak menyesal karena aku memang berhak atas dirimu. Benarkan?"


"Itss,,,! Untuk apa kamu minta maaf jika ujung- ujungnya hanya untuk membela diri" Ketus Anin.


Rafael tersenyum.


"Sudahlah, aku tidak ingin membahas masalah itu lagi. Lagi pula tidak ada yang terjadi bukan".


"Tidak ada yang terjadi katamu! Terus ini apa?" Anin membuka syal kemudian menunjukkan bekas ciuman di lehernya.


"Kamu pikir ini semua karena ulah siapa? Hah!".


Rafael tertawa geli saat melihat mahakaryanya di leher sang istri.


"Wah! Aku tidak menyangka jika karyaku ternyata terlihat sangat indah" Ucapnya.


Anin berdecak kesal.


"Ini bukan mahakarya, tapi karya dari seorang pria mesum" Bantahnya.


"Mesum juga butuh keahlian. Apa kamu tahu tidak semua pria bisa berbuat mesum?" Kilah Rafael.


"Iya, dan salah satu pria itu adalah kamu".


"Berarti aku hebat dong" Rafael terkikik senang.

__ADS_1


"Seharusnya kamu senang karena pria hebat sepertiku yang menciummu".


"Hebat! Nggak salah? Bukankah kamu pernah bilang tidak menginginkanku, terus kenapa kamu melakukan ini pada-----!"


Cup


Rafael melabuhkan sebuah kecupan di bibir sang istri.


"Berhentilah protes, karena aku tidak bisa menjamin jika aku bisa menahan diriku untuk saat ini" Ucap Rafael.


Anin melotot, ia langsung memperbaiki posisi duduknya dan memakai kembali syal yang tadi sempat di lepasnya.


"Dan asal kamu tahu, aku tidak akan mempertahankan pernikahan kita jika aku tidak menginginkanmu. Aku melakukan ini semua karena aku sangat sangat menginginkanmu".


"Dasar pembohong!" Gerutu Anin pelan.


Rafael tersenyum melihat Anin yang patuh pada perintahnya, sekarang ia tahu bagaimana harus mengendalikan istrinya itu.


"Kenapa kamu membawaku kesini?" Anin memberanikan diri untuk bertanya.


"Karena kita punya urusan penting di sini" Sahut Rafael.


"Jika ini menyangkut dengan pekerjaanmu maka seharusnya kamu datang sendiri, kenapa malah membawaku ikut serta bersamamu?".


"Karena kamu adalah objek terpenting dalam urusanku hari ini" Ucap Rafael lagi.


"Sudahlah, sebaiknya kamu diam dan turuti perintahku".


"Padahal sejak awal sudah aku katakan jika hari ini aku punya janji dengan pak Surya, tapi kamu malah memaksaku untuk mengikuti perintahmu" Ucapnya lagi dengan kesal.


"Kamu tidak perlu khawatir, aku sudah membatalkan janjimu dengan pak Surya" Sahut Rafael enteng.


"Apa?" Anin terkejut mendengar ucapan Rafael.


"Kenapa kamu lakukan itu? Apa kamu tidak tahu jika pak Surya ingin membicarakan hal yang penting denganku"


"Apa hak mu membatalkan janjiku dengan pak Surya? Bagaimana jika nanti beliau marah?".


Rafael tersenyum kemudian mengambil sebuah amplop dari dashboard mobilnya dan menyerahkannya kepada Anin.


"Pak Surya menitipkan surat ini untukmu" Ucapnya seraya menyerahkan amplop itu kepada sang istri.


Anin menatap surat itu dengan rasa penasaran, perasaannya mulai tidak enak.


"Surat apa ini?" Tanyanya sambil menerima surat itu.


Rafael mengangkat kedua bahunya seolah tidak tahu menahu.


"Bacalah, agar kamu tahu" Ucapnya.

__ADS_1


Anin membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya, dengan perlahan ia mulai membaca kata demi kata dari tulisan yang tertera di lembaran kertas putih itu hingga akhirnya Anin memelototkan mata ketika memahami makna dari surat tersebut.


"Nggak mungkin!"


"Ini pasti bohongkan?" Anin menunjuk surat itu kepada Rafael.


"Mana ku tahu, kamu yang lebih paham tentang bosmu itu" Sahut Rafael.


Anin menggelengkan kepalanya seolah tidak percaya, bagaimana mungkin pak Surya memutuskan hubungan kerja dengan dirinya tanpa penjelasan sebelumnya.


"Bagaimana ini bisa terjadi. Kenapa pak Surya mengambil tindakan ini tanpa pemberitahuan dan memberikan penjelasan terlebih dahulu" Protes Anin.


"Lantas bagaimana dengan perkerjaanku? Bagaimana dengan tugas yang sedang kami kerjakan?"


Anin masih bergelut dengan pikirannya sendiri, hingga akhirnya ia menatap tajam pada pria yang sejak tadi cengengesan di sampingnya.


"Ini semua pasti ulahmu kan? Kamu pasti telah mengadukan hal yang tidak- tidak tentang aku, iya kan? Jawab!"


"Jika kamu ingin aku menjawab dengan jujur, maka jawabannya adalah iya. Memang benar jika aku yang meminta pak Surya untuk memecatmu" Jawabnya santai.


Plak


Anin memukul lengan Rafael dengan keras.


"Kenapa kamu melakukan itu? Apa kamu tidak tahu jika pekerjaan ini adalah hidupku".


"Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana perjuanganku untuk mendapatkan pekerjaan ini. Tapi sekarang dengan mudahnya kamu meminta pak Surya untuk memecatku. Sebenarnya apa sih maumu? Apa yang sedang kamu rencanakan padaku? Kenapa kamu semua ini?".


Anin begitu marah karena memganggap Rafael telah terlalu jauh mencampuri urusannya dan juga hidupnya.


"Kamu mau tahu jawabannya?" Tanya Rafael.


"Karena kamu tidak cocok bekerja di tempat itu. Kamu lebih cocok bekerja di perusahaan ini" Rafael menunjuk perusahaannya.


"Lagi pula kamu aneh, kamu punya perusahaan sendiri tapi malah bekerja di perusahaan orang lain".


"Aku tidak punya perusahaan, semuanya sudah aku berikan padamu. Apa lupa?" Bantah Anin.


"Dan aku akan mengembalikannya kembali kepadamu" Ucap Rafael.


"Hah!" Anin terkejut, tapi kemudian ia tertawa karena menganggap ucapan Rafael adalah sebuah lelucon belaka.


"Hahahhaha,,,,,! Anda sangat lucu pak Rafael. Aku tidak pernah menyangka jika anda adalah orang yang sangat lucu".


"Anda akan memberikan perusahaan ini padaku? Benarkah itu? Hahahha,,,! Aku tidak percaya itu".


Anin terus terkikih sambil memengang perutnya. Ia tidak pernah tahu seberapa seriusnya Rafael dengan ucapannya tadi.


Rafael menyunggingkan senyum, akhirnya ia bisa melihat senyum itu lagi dari wajah sang istri, senyum yang telah lama menghilang. Rafael tidak perduli apa yang di fikirkan oleh Anin tentang dirinya, tapi yang pasti saat ini ia akan melakukan apapun agar sang istri tetap bertahan di sisinya dan tidak akan membiarkan seorangpun merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya.

__ADS_1



__ADS_2