
"Uh,,,!"
Nindy terbangun saat mendengar suara leguhan Rafael yang tidur di sisinya.
"Uh,,,! Jangan pergi! Aku mohon jangan pergi" Rafael kembali mengingau.
Dari semalam sudah beberapa kali Nindy terbangun karena mendengar sang suami yang mengingau. Meskipun suaranya tidak terlalu keras, namun tetap saja suara sang suami membuatnya terbangun.
"Tenanglah. Aku tidak pergi, aku tidak akan pergi kemana- mana" Bisik Nindy tepat di telinga sang suami.
Nindy penasaran, apa yang sebenarnya di impikan oleh Rafael, kenapa ia terus menerus mengingau.
"Sebenarnya apa yang mengganggu pikiranmu hingga kamu terus mengingau di dalam mimpi".
Nindy mengusap wajah dan rambut sang suami dengan lembut hingga akhirnya Rafael tertidur kembali.
"Tidurlah, aku tidak akan pernah pergi lagi" Ucapnya seraya mendaratkan sebuah kecupan di kening suaminya.
Nindy menatap wajah sang suami yang kini telah kembali terlelap, ia tidak tega untuk mengusik tidurnya karena ia tahu jika selama ini suaminya itu tidak bisa tidur dengan nyenyak. Semalam bu Linda menceritakan banyak hal tentang sosok Rafael selama beberapa tahun terakhir ini, salah satunya adalah jika tenyata selama ini Rafael mengidap insomnia akut hingga mengharus kannya mengkonsumsi obat dari dokter agar ia bisa tidur.
Jujur Nindy tidak tahu pasti apa yang mengganggu pikiran Rafael hingga membuatnya mengingau di sepanjang malam, namun meskipun begitu ia dapat langsung menebak jika dirinyalah yang mungkin membuat tidur sang suami tidak tenang.
Nindy tidak pernah menyangka jika bukan hanya dirinya saja yang kecewa atas takdir yang terjadi dalam pernikahan mereka tapi ternyata sang suami juga merasaka hal yang sama. Bahkan mungkin yang Rafael rasakan bukan hanya kekecewaan semata, tapi yang lebih dari itu yaitu sebuah penyesalan yang begitu dalam karena kesalahan yang telah di perbuatnya.
Hatiku memang terluka saat aku memutuskan untuk pergi, namun aku berhasil mengobati luka itu dengan mencoba membuka hatiku kembali untuk cinta yang lain. Tapi aku tidak pernah menyangka jika ternyata kamu justru menyimpan luka yang bahkan tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Kenapa kamu melakukan itu? Kenapa kamu harus mengurung dirimu sendiri dalam penjara ini? Kenapa kamu tidak mencoba untuk melupakan aku dan menjalani hidupmu dengan lebih baik?
Namun sekarang kamu tidak perlu khawatir lagi, karena aku tidak akan pernah pergi lagi.
Setelah memastikan sang suami kembali tertidur, Nindy meraih ponselnya dan melihat jam yang telah menunjukkan pukul lima pagi. Perlahan ia melepaskan genggaman tangan suaminya dari tangannya kemudian memutuskan untuk bangun dan melangkah menuju kekamar mandi.
.
Bu Linda tersenyum saat melihat kedatangan Nindy di dapur, beliau sedang menyiapkan sarapan istimewa untuk putra dan juga menantunya.
"Kamu sudah bangun?" Tanya bu Linda.
"Iya, ma" Sahut Nindy sambil tersenyum dan melangkah mendekati mama mertuanya.
Bu Linda kembali menyunggingkan senyumnya, beliau sangat senang karena bisa melihat menantunya di rumah itu lagi.
"Rafa masih tidur?" Tanya beliau lagi.
Nindy mengangguk.
"Iya, ma. Tidurnya sangat pulas, jadi aku tidak tega untuk membangunkannya".
__ADS_1
"Jangan di bangunkan" Sela bu Linda.
"Biarkan Rafa tidur, sudah lama dia tidak tidur senyenyak itu".
Nindy tersenyum tipis. Sebenarnya ia ingin menceritakan tentang Rafael yang mengingau di sepanjang malam, namun ia mengurungkan niatnya. Nindy tidak mau mama mertuanya sedih jika tahu apa yang terjadi dengan sang putra.
"Terima kasih ya sayang, karena semalam kamu mau tidur disini. Mama sangat senang saat tahu jika kalian sudah berbaikan dan mau mencoba untuk memperbaiki pernikahan kalian lagi" Ucap bu Linda tulus.
"Iya ma" Sahut Nindy.
"Mama harap ini adalah awal yang baik untuk hubungan kalian. Jangan pernah tinggalkan Rafael lagi ya, mama tidak sanggup melihat kalian menderita dan saling menyakiti seperti sebelumnya".
Nindy mendekati bu Linda dan mengusap lengannya dengan lembut.
"Do'a kan kami agar bisa melewati ujian ini, Ma. Nindy harap mama akan selalu mendukung kami dan membimbing kami agar dapat menjalani pernikahan ini dengan lebih baik" Ucap Nindy.
"Tentu saja sayang, mama akan selalu mendo'akan kebahagiaan kalian" Sahut bu Linda.
"Do'a mama tidak akan pernah putus untuk kebahagiaan kalian berdua".
Bu Linda merentangkan tangan untuk memeluk tubuh sang menantu dan Nindy tersenyum menyambut uluran tangan mama mertuanya itu. Keduanya saling berpelukan untuk sesaat hingga akhirnya pelukan tersebut terlepas.
"Mama sedang menyiapkan sarapan apa?" Tanya Nindy kemudian
"Hanya sarapan sederhana saja kok, karena Rafael tidak suka sarapan yang berat- berat" Jawab bu Linda.
"Apa saja ma, aku bisa sarapan dengan apapun kok" Sahutnya.
Bu Linda mengangguk kemudian kembali pada pekerjaan yang sempat tertunda tadi.
Nindy melihat seluruh bagian dapur yang ternyata sudah banyak berubah, beberapa perabotan juga banyak yang sudah diganti dan berpindah tempat. Nindy juga melihat ada dua orang pelayan dengan wajah yang asing di matanya terlihat sedang membantu bu Linda di dapur.
"Bik Nur sudah tidak kerja di sini lagi, ma?" Tanya Nindy.
"Tidak sayang, bik Nur sudah tidak kerja disini lagi sejak tiga tahun yang lalu" Sahut bu Linda.
"Bik Nur memutuskan untuk berhenti bekerja dan kembali kekampungnya".
"Mmmm,,,!" Nindy mengangguk.
"Kenapa? Apa kamu kangen sama bik Nur?" Tanya bu Linda.
"Hanya ingin bertemu saja ma" Sahut Nindy.
"Nindy juga rindu masakan bik Nur" Lanjutnya.
"Masakan apa yang kamu rindukan? Katakan saja. Biar mama masakan khusus untukmu" Ucap Bu Linda.
__ADS_1
"Ah, tidak usah ma. Aku tidak mau merepotkan mama".
Bu Linda menghentikan aktifitasnya dan kembali menatap sang menantu.
"Jangan pernah bicara seperti itu lagi. Mama tidak pernah merasa direpotkan. Justru mama senang karena akhirnya mama bisa menyiapkan makanan yang kamu suka".
"Sekarang katakan sama mama, kamu mau sarapan apa?" Tanya bu Linda.
"Emm,,,! Bubur ayam" Jawab Nindy.
"Bubur ayam!" Bu Linda mengulang ucapan sang menantu.
"Iya, ma. Aku kangen bubur ayam buatan bik Nur" Ucap Nindy.
Setelah terdiam sesaat, akhirnya bu Linda tersenyum.
"Baiklah, mama akan siapkan spesial untukmu. Kebetulan mama tahu resep bubur ayam bik Nur".
Nindy menyunggingkan senyumnya, ia begitu senang karena mama mertuanya mau mengabulkan keinginannya.
"Terima kasih ma" Nindy langsung memberikan sebuah pelukan untuk sang mama.
"Sama- sama sayang, sekarang kamu tunggu di meja makan ya. Mama akan siapkan bubur ayam spesial untuk menantu mama yang paling cantik ini" Ucap bu Linda.
Nindy mengangguk, ia tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya saat ini. Di terima sebagai menantu saja sudah membuat Nindy senang apalagi kalau mama mertuanya memperlakukannya dengan begitu manja. Tentu hal itu menjadi suatu anugrah yang patut untuk Nindy syukuri.
"Ma!" Nindy kembali memanggil mama mertuanya itu.
"Bisa buatkan bubur ayamnya untuk dua porsi?".
"Dua porsi?" Bu Linda mengerutkan keningnya, beliau tidak percaya jika porsi makan menantunya dua kali lipat dari postur badannya.
"Iya, ma. Satu untuk aku dan satu lagi untuk kak Rafael" Jawab Nindy.
Bu Linda tersenyum saat tahu maksud dari sang menantu.
"Tapi Rafa tidak suka sarapan dengan makanan yang mengandung banyak karbo" Ucap beliau.
"Kali ini kak Rafa pasti akan suka ma, karena aku yang menyuapinya" Sahut Nindy.
Bu Linda kembali tersenyum.
"Baiklah, bubur ayam spesial siap OTW" Ucap bu Linda seraya tersenyum lebar.
Sungguh kebahagiaan ini terasa begitu indah jika kita mau menerima takdir Tuhan dengan hati yang tulus. Tidak ada yang salah dengan semua takdir yang telah Tuhan gariskan, yang salah hanyalah kita manusia yang tidak bisa menerima garis takdir itu.
☆
__ADS_1