Sang Mantan

Sang Mantan
MENEGANGKAN


__ADS_3

Rafael mengandeng tangan Nindy dengan mesra lalu melangkah memasuki rumah, keduanya terlihat saling melemparkan senyum bahagia setelah adegan in*im kilat beberapa saat yang lalu. Dengan langkah tenang dan gagah Rafael masuk kedalam rumah tersebut untuk menemui seluruh anggota keluarganya. Kedatangan Rafael dan Nindy langsung mengundang perhatian dari semua orang yang sudah menunggu mereka sejak tadi.


Langkah kaki sepasang suami istri tersebut berhenti tepat di hadapan bu Linda dan tante Yuni yang kebetulan berdiri bersebelahan. Rafael melirik Nindy sekilas yang langsung mendapat anggukkan dari istrinya sebelum akhirnya ia mulai membuka kata. Setelah itu Rafael mengalihkan pandangannya menatap bu Linda dan tante Yuni secara bergantian.


"Rafa" Seru bu Linda pada putranya.


"Sekarang katakan dengan jujur, apa kalian sudah tahu rencana ini sejak awal?" Tanya Rafael pada kedua wanita paruh baya dihadapannya.


Meskipun Nindy sudah mengatakan jika bu Linda dan tante Yuni tidak terlibat dalam rencana ini, tapi Rafael tetap ingin mengintrogasi kedua ibunya itu untuk mengetahui jawaban dari mereka.


"Mama tidak tahu sayang, mama baru tahu tentang rencana ini tadi, setelah Shella menjelaskan semuanya pada mama" Sahut bu Linda.


"Sayang, mama mohon kamu jangan marah sama Ronald dan Shella ya, mereka hanya ingin memberikan kejutan untukmu" Sambung bu Linda lagi.


Rafael menatap ibunya sekilas tanpa menyahut sepatah katapun, kemudian ia mengalihkan matanya menatap tante Yuni.


"Mungkin kamu tidak akan percaya pada ucapan tante, tapi satu hal yang harus kamu tahu bahwa tante juga baru mengetahui rencana kejutan ini tadi setelah Yuda mengatakan semuanya pada tante" Ucap tante Yuni saat Rafael menatapnya.


"Rafa, tolong maafin Yuda. Yuda melakukan semua ini hanya untuk tante" Sambungnya lagi.


Rafael mengangguk pelan, entah mengapa hatinya merasa lega karena tante Yuni tidak terlibat dalam rencana konyol ini. Setidaknya ia tidak akan merasa bersalah jika ingin melampiaskan kekesalannya hanya pada Yuda, si biang kerok yang menjadi dalang dari semua kejadian yang di alami Rafael hari ini.


Pandangan Rafael kemudian beralih pada kakak dan kakak iparnya, Ronald dan Shella. Rafael mendekati keduanya dan menatap mereka dengan tatapan yang tajam.


"Jadi, sekarang kalian sudah mulai berkomplot dengan laki- laki ini untuk mengerjaiku ya. Sejak kapan kalian menjadi antek- antek ba**gan ini?" Sebelah tangan Rafael menunjuk wajah Yuda yang berdiri tidak jauh darinya.


"Apa kalian sudah bosan untuk hidup tenang dengan lebih memilih berkhianat padaku?" Ucapnya lagi.

__ADS_1


"Tenanglah Raf, kamu hanya salah paham. Kakak bisa jelasin semuanya" Sahut Ronald.


"Penjelasan apa? Penjelasan jika kakak sudah berpindah haluan" Balas Rafael.


"Rafa ------" Ucapan Ronal terputus karena Shella menyelanya.


"Rafa, kamu bicara apa sih. Memangnya sejak kapan kami mengkhianati kamu. Sampai kapun kami akan tetap berpihak padamu, Raf. Lagi pula kami kan hanya merencanakan kejutan kecil untukmu" Sela Shella.


"Dan yang harus kamu ketahui adalah kami tidak terlibat secara langsung dalam merancang rencana ini, kami hanyalah sponsor sekaligus pendukung. Justru istrimu lah yang merencanakan semua ini dengan Yuda dan mereka menyeret kami untuk ikut memeriahkan kejutan ini" Sambung Shella tanpa rasa bersalah karena telah mengerjai adik iparnya itu.


"Hah!" Rafael mendesah pelan, ia kembali kesal mendengar jawaban yang di lontarkan oleh kakak iparnya itu, sejak dulu Shella memang tidak pernah serius jika diajak bicara.


"Its, kamu bisa diam nggak sih. Kamu jangan memancing emosi Rafa lagi" Ucap Ronald pada istrinya.


"Memangnya kenapa sih, aku kan hanya bicara jujur. Lagi pula memang benarkan jika kita hanya mengikuti rencana Nindy dan Yuda saja" Sambung Shella lagi.


"Mereka semua tidak salah Raf, aku lah yang merencanakan semua ini. Jadi jika kamu mau marah, kamu bisa marah padaku bukan pada mereka" Sahut Yuda.


Yuda melangkah mendekati Rafael dan berdiri tepat di depan saudara tirinya itu.


"Jika kamu ingin marah, maka marahlah padaku. Tapi ku mohon jangan menyalahkan mami dan juga keluargamu karena semua ini adalah rencanaku" Ucap Yuda.


"Aku memang marah padamu dan aku rasa aku berhak untuk memberikan pelajaran lebih untukmu. Jadi bersiaplah, karena tanganku mulai terasa gatal dan ingin segera menghajarmu" Balas Rafael sembari mengepalkan tinju tangannya.


Rafael menatap Yuda tajam dan Yuda juga membalas tatapan mata saudara tirinya itu dengan tatapan yang sama. Tatapan keduanya saling bertemu dalam diam hingga suasana seketika berubah menjadi dingin mencekam. Semua orang mulai was- was dan khawatir melihat situasi yang semakin menengangkan, mereka takut jika Rafael dan Yuda akan kembali terlibat berbaku hantam.


Rafael meraih kerah baju Yuda dan menariknya dengan kuat sementara itu Yuda hanya diam tanpa memberikan perlawanan apapun. Yuda siap jika Rafael ingin kembali memukul dan menghajarnya, karena Yuda tahu jika perbuatannya sudah sedikit keterlaluan pada saudara tirinya itu.

__ADS_1


Tidak ingin melihat situasi yang semakin menanas, Nindy akhirnya memberanikan diri untuk mendekati Rafael berusaha untuk membujuk sang suami agar menahan emosinya.


"Sayang" Nindy mendekati Rafael dan langsung merangkul lengan suaminya sembari meraih jemari Rafael yang masih terkepal untuk di genggamnya.


Kepalan tangan Rafael terbuka dan ia menyambut genggaman tangan Nindy serta ikut membalasnya sementara tangan yang satunya lagi masih mengenggam kerah baju Yuda dengan kuat. Rafael melirik Nindy sekilas dan lirikkannya langsung di sambut oleh senyuman manis milik sang istri hingga mampu meluluhkan hatinya.


Nindy mendekatkan mulutnya di telinga Rafael lalu membisikkan sesuatu yang hanya mampu di dengar oleh suaminya itu.


"Jangan membuang- buang waktu terlalu lama sayang, karena malam sudah semakin larut. Apa kamu lupa jika kita masih memiliki pekerjaan penting. Dan saat ini, aku sudah sangat tidak sabar untuk melaksanakan pekerjaan itu" Bisik Nindy tepat di telinga Rafael.


Rafael mangeram saat merasakan hembusan nafas yang menyapu telinga dan lehernya, bulu kuduknya seketika meremang memikirkan setiap kata yang Nindy ucapkan tadi. Tentu saja ia ingat akan pekerjaan yang sedang menantinya malam ini, pekerjaan yang akan membuat dirinya dan sang istri lembur sepanjang malam.


"Mundurlah, sayang. Aku harus menyelesaikan pekerjaan ini terlebih dahulu" Sahut Rafael pada istrinya.


Nindy mengangguk dan langsung mundur, ia berjalan mendekati bu Linda dan tante Yuni yang terlihat sangat khawatir.


"Tenanglah ma, semua akan baik- baik saja" Ucap Nindy menenangkan ibu mertuanya.


Bu Linda dan tante Yuni saling berpandangan, mereka tidak mengerti dengan kode yang Nindy berikan untuk mereka.


Sementara itu Yuda masih berdiri diam, ia sudah pasrah jika Rafael akan kembali menghajarnya. Yuda rela mengorbankan tubuhnya jika hal tersebut dapat membuat Rafael puas dan mampu meredam amarahnya. Setidaknya ia berharap setelah malam ini hubungan keluarga mereka akan membaik dan mereka bisa menjadi satu keluarga yang bisa saling menerima satu sama lain.


Rafael mengangkat kepalan tangannya dan bersiap mengarahkannya ke wajah Yuda, dan seketika itu juga Yuda langsung memejamkan matanya bersiap menantikan tangan Rafael menghampiri wajah tampannya.


Plakk


__ADS_1


__ADS_2