
Nindy selesai membereskan semua bungkusan makanan yang sudah ia pindahkan di piring, ia menatap jam di dinding sekilas kemudian menatap pintu. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam tapi suaminya belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Sebenarnya dia pergi kemana sih? Kenapa jam segini belum datang juga" Gumamnya.
Perasaan Nindy tiba- tiba saja menjadi tidak tenang, ia takut jika terjadi sesuatu pada sang suami.
"Semoga semuanya baik- baik saja" Harapnya sembari mengusap dadanya.
Tidak ingin pikiran buruk terus menghantui otaknya, Nindy memutuskan untuk berganti pakaiannya karena pakaian yang di pakainya telah kotor saat membereskan makanan tadi. Nindy masuk kedalam kamar, ia membuka seluruh pakaiannya dan hendak mengantinya dengan pakaian yang bersih lainnya. Namun pada saat Nindy sedang mengambil pakaian, tiba- tiba saja lampu di kamarnya mati.
"Aaaaaa! Apa yang terjadi?" Nindy berteriak kaget.
"Kenapa lampunya mati?" Nindy memandangi seluruh sudut kamar namun pandangan matanya terbatas karena kamarnya gelap.
Nindy melangkah menuju ke arah jendela dan menyingkap gorden jendela untuk memandang keluar. Cahaya Rambulan langsung masuk kedalam kamar hingga membuat pandangannya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Sadar jika dirinya belum berpakaian, Nindy langsung menarik sebuah selimut tipis dan melilitkan di tubuhnya karena ia belum sempat mengambil pakaiaannya.
Pandangan mata Nindy menangkap cahaya dari luar, ia mendekat dan melihat keluar. Seketika ia merasa aneh saat melihat lampu di gedung lain menyala sedangkan lampu di kamarnya mati.
"Sepertinya ini bukan pemadaman listrik biasa. Tidak mungkin hanya gedung apartemen ini saja yang mati lampu kan?".
"Apa mungkin bolam lampu ini terputus?" Ucap Nindy sambil memandangi bolam lampu di kamarnya.
Setelah terdiam sejenak, Nindy mencoba mengingat di mana ia meletakkan ponselnya hingga beberapa saat kemudian ia kembali bersuara:
"Oh iya, ponselku di atas meja makan".
Meskipun ia tidak takut kegelapan, namun Nindy tetap saja merasa was- was karena harus berada sendirian di gedung itu. Perlahan Nindy melangkah ke arah pintu dan membukanya dengan hati- hati. Nindy mencoba untuk mengintip keluar dan tentu saja ia tidak bisa melihat apa- apa karena gelap.
Nindy menarik nafas dalam- dalam kemudian menghembuskanya perlahan sembari mengingat letak dapur dan meja makannya. Setelah yakin posisi dapur dan meja makan berada di sisi kiri kamarnya, Nindy langsung melangkahkan kaki perlahan menuju ke tujuannya tersebut dengan tangan yang meraba dinding.
Beberapa langkah berhasil Nindy lewati tanpa kendala dan tinggal beberapa langkah lagi untuk bisa sampai ke tempat tujuannya. Tapi karena kegelapan membuat ruang gerak Nindy menjadi sulit hingga tanpa sengaja ia menabrak sebuah meja kecil dan
Prang
Bunyi benda jatuh seperti pecahan kaca memekakkan telinga.
"Aaaaaa!" Nindy berteriak kencang karena kaget.
Bersamaan dengan kejadian itu, lampu apartemennya kembali menyala. Nindy tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat vas bunga yang jatuh dengan pecahan kaca yang bertebaran dilantai.
"Jangan mendekat" Ucap sebuah suara di belakang Nindy.
Nindy kembali terkejut saat mendengar suara laki- laki di apartemennya.
"Tetap diam disana" Ucap suara itu lagi.
Nindy mencoba menebak siapakah orang itu? Mungkinkah itu suaminya?
Tapi kenapa suaranya berbeda, pikirnya. Atau,,, mungkinkah jika orang itu adalah pencuri?
Nindy menggelengkan kepalanya untuk menampik pikiran buruk yang baru saja muncul di otaknya.
Hening sesaat, tidak ada lagi yang bersuara. Namun Nindy masih bisa mendengarkan langkah kaki yang berjalan menuju kearahnya. Entah mengapa seketika itu juga ia merasa merinding hingga tiba- tiba akhirnya sebuah tangan kekar meraih pinggangnya dari belakang dan mengangkat tubuhnya.
"Aaaaaaa!" Nindy kembali berteriak histeris saat menyadari tubuhnya melayang dan berada dalam pelukan seseorang. Nindy tidak bisa mengenali pria itu karena matanya terpejam.
"Aaaaa! Lepaskan aku. Siapa kamu? Turunkan aku?" Nindy memberontak, ia memukul pria itu dimana saja ia bisa dengan mata yang masih terpejam karena takut.
"Hentikanlah. Kamu bisa membunu* ku" Ucap Rafael.
__ADS_1
"Hah!" Nindy langsung membuka matanya saat menyadari suara suaminya.
"Kamu!" Nindy terkejut saat melihat tubuhnya berada dalam pelukan sang suami.
"Iya, ini aku" Sahut Rafael.
"Haaaaaaaa!" Tiba- tiba Nindy menangis.
Nindy melingkarkan kedua tangannya di leher Rafael sambil menangis.
"Jahat" Isaknya dalam pelukan sang suami.
"Kenapa kamu meninggalkan aku sendiri, apa kamu tidak tahu jika aku takut".
Rafael tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan membiarkan sang istri meluapkan kekesalannya.
Setelah puas menangis dan meluapkan kekesalannya, Nindy kembali mengangkat wajahnya dan menatap wajah sang suami yang masih menggendong tubuhnya.
"Apa kamu tidak lelah?" Tanya Nindy.
Rafael mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Apa kamu akan terus menggendongku seperti ini?"
"Ah iya, aku lupa" Sahut Rafael yang kembali sadar jika ia masih menggeondong tubuh sang istri.
Rafael menurunkan tubuh Nindy perlahan kemudian menelisik penampilan sang istri yang terlihat sangat berbeda dari biasanya. Ia tidak menyangka jika istrinya akan menyambut kedatangannya dengan penampilan yang sangat- sangat h o t. Seketika penampilan sang istri membuat Rafael menjadi panas dingin, bagaimana ia tidak panas dingin saat melihat pemandangan indah yang disaji oleh sang istri hadapannya. Tubuh tinggi langsing yang hanya di tutupi oleh selembar selimut tipis hingga membuat lekukan tubuhnya tercetak dengan sempurna ditambah lagi rambut hitam panjang yang tergerai indah terlihat begitu kontras dengan kulitnya yang putih bersih.
"Kamu kemana saja, kenapa perginya begitu lama?" Tanya Nindy yang belum menyadari penampilannya saat ini.
"Hah! Heh!" Rafael menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal, dia bingung harus menjawab apa karena pikiran mulai tidak sejalan dengan otaknya.
"Aku,,,," Rafael masih belum menemukan kata yang tepat untuk bicara.
"Bahkan tadi aku hampir saja mat* karena berpikir jika kamu itu adalah pencuri atau penjahat yang ingin membun*hku".
Rafael merasa bersalah, ia tidak menyangka jika kejutan yang ingin di berikannya justru membuat sang istri ketakutan.
Rafael menarik tangan sang istri dan membawanya kedalam pelukan seraya mengecup keningnya.
"Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud untuk menakutimu" Sesalnya.
"Aku hanya ingin memberikan kejutan untukmu".
"Kejutan?" Tanya Nindy seraya melepaskan pelukan sang suami.
"Iya, kejutan" Angguk Rafael.
"Maksudmu?" Nindy belum mengerti.
"Lihatlah sendiri".
Rafael menyunggingkan senyum, kemudian memutar tubuh sang istri untuk melihat ke belakang. Nindy hanya pasrah mengikuti perintah suaminya dan seketika ia terkejut saat melihat kejutan yang di berikan oleh sang suami.
"Hah!" Nindy menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia sungguh tidak menyangka jika suaminya akan memberikan sebuah kejutan untuknya.
Lantai apartemennya telah di penuhi ratusan atau bahkan ribuan kelopak bunga mawar berwarna merah.
__ADS_1
Sebuah buket bunga mawar besar terlihat berdiri indah diantara kelopak bunga mawar itu.
"Kamu menyiapkan ini semua untukku" Tanya Nindy dengan penuh rasa haru.
"Iya, spesial untukmu, istriku" Bisik Rafael tepat ditelinga sang istri.
Nindy memutar tubuhnya untuk melihat wajah sang suami, ia begitu senang mendapatkan kejutan itu.
"Terima kasih" Ucapnya penuh haru.
Rafael tersenyum.
"Aku punya satu kejutan lagi" Ucapnya.
"Ada lagi?" Nindy kembali penasaran.
Rafael mengangguk kemudian melangkah menuju meja makan dan meraih sebuah buket bunga lainnya untuk di berikan kepada sang istri.
"Aku harap kamu mau menerimanya" Rafael memberikan buket bunga itu kepada sang istri.
Nindy menatap buket bunga mawar pemberian Rafael untuk sesaat kemudian meraihnya. Di pandangi bunga itu dengan seksama hingga pandangan matanya tertuju pada sebuah kotak perhiasan yang di letakkan diantara bunga- bunga mawar. Nindy meraih kotak perhiasan itu kemudian menatap sang suami.
"Ini apa?" Tanyanya.
"Bukalah" Pinta Rafael.
Perlahan Nindy membuka kotak perhiasan itu dan ia langsung melihat sebuah cincin bertahta berlian di dalamnya.
"Hah! Ini indah sekali" Puji Nindy terharu.
"Kamu masih mengingat cincin ini?" Rafael mengeluarkan sebuah kalung dari balik kaos hitam yang di pakainya dan menunjukkan sepasang cincin yang pada sang istri.
"Cincin yang berada di tanganmu sama persis dengan cincin yang berada di kalung ini, hanya saja ukurannya berbeda" Ucap Rafael.
Nindy menatap cincin di kalung milik suaminya kemudian menatap cincin yang berada di tangannya dan ternyata memang benar, cincin itu terlihat sama persis. Ia mencoba untuk mengingat sesuatu tentang cincin yang di bicarakan oleh suaminya, tapi sayangnya ia tidak terlalu mengingatnya.
"Mungkin kamu tidak mengingatnya. Ini adalah cincin pernikahan kita" Ucap Rafael.
Nindy menutup mulutnya, ia tidak percaya jika sang suami masih menyimpan cincin itu.
"Kamu masih menyimpannya?" Tanya Nindy.
Rafael mengangguk.
"Bukan hanya menyimpannya, tapi aku selalu membawanya bersamaku".
"Aku ingin cincin ini menjaga hatiku agar tidak berpaling pada wanita lain" Ucapnya jujur.
Nindy menangis terharu, ia benar- benar merasa di cintai oleh sang suami. Siapa yang tidak akan terharu saat dirinya ternyata dicintai dengan begitu sangat oleh suaminya.
Nindy menjatuhkan buket bunga di tangannya kemudian memeluk sang suami dengan erat dan menangis di dalam pelukan tubuh kekar itu. Setelah itu Nindy melepaskan pelukannya dan tanpa di duga, ia langsung mengecup bibir sang suami dan melu*atnya dengan rakus . Rafael terkejut saat menyadari ciuman yang diberikan oleh sang istri untuknya. Untuk beberapa saat Rafael terdiam, ia membiarkan sang istri mengecup bibirnya hingga puas.
Sadar jika ciuman sang istri mulai melemah, Rafael langsung mengambil alih ciumannya itu. Rafael tidak ingin ciuman itu terlepas begitu saja karena ia belum puas menikmati manisnya bibir seksi milik istrinya itu. Rafael menarik pinggang Nindy agar semakin mendekat, ia ingin memperdalam ciumannya dan bermain dengan benda kenyal di dalamnya.
"Mmmmhhhhh" Suara ******* keluar dari bibir seksi yang sedang di bungkam itu. Nindy mulai kewalahan menyeimbangi ciuman panas suaminya, ia tidak sanggup untuk melanjutkan juga tidak mampu untuk melepaskan karena Rafael mengis*pnya dengan kuat.
__ADS_1
☆
.