
Klik
Lampu di lantai dua tiba- tiba menyala.
"Apa kamu sedang mencariku, sayang?"
Deg
Rafael terkejut saat mendengar sebuah suara yang tidak asing di telinganya, ia langsung memutar tubuhnya dengan cepat untuk melihat rupa dari pemilik suara tersebut. Dan seketika Rafael ternganga di tempat saat menatap sesosok wanita cantik dan anggun yang sedang tersenyum padanya. Rafael mencoba untuk mempertajam penglihatannya agar dapat melihat rupa dari wanita cantik yang sedang berdiri tepat di ujung tangga lantai dua.
Meskipun berada dari jarak yang cukup jauh dan dengan pencahayaan yang temaram, namun Rafael masih dapat mengenali sosok wanita cantik bergaun putih itu. Rafael mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri bahkan wanita itu adalah istrinya. Keyakinan Rafael semakin kuat saat ibu dan tante Yuni memanggil wanita dengan nama istrinya.
"Nindy!" Seru bu Linda dan tante Yuni secara bersamaan.
Wanita cantik itu tampak tersenyum manis mendengar namanya disebut. Ya, wanita itu adalah Nindy, sosok yang telah membuat Rafael dan seluruh keluarganya kalang kabut mencari keberadaannya selama seharian ini. Dengan langkah pelan Nindy mulai menutuni anak tangga di depannya satu persatu dan sangat hati- hati. Menuruni tangga dengan memakai dress panjang serta heels tinggi tentu bukanlah hal yang gampang untuknya.
Rafael terpaku di tempat saat melihat Nindy dengan penampilan yang tampak sangat berbeda dari sebelumnya. Nindy terlihat begitu cantik hingga membuat Rafael enggan untuk berkedip karena terlalu terpesona dengan penampilan istrinya.
Rafael menatap Nindy yang mulai menuruni tangga dengan perasaan was- was, ia memperhatikan setiap langkah kaki sang istri dengan seksama karena khawatir jika tiba- tiba kaki istrinya tersandung. Dan ternyata kekhawatiran Rafael benar- benar terbukti, tanpa sengaja kaki Nindy terlilit gaun hingga membuat tubuhnya oleng dan hampir jauh.
"Nindy!"
Refleks Rafael berlari menaiki anak tangga dan menghampiri Nindy yang masih berdiri di pertengahan tangga. Rafael menaiki tangga dengan cepat dan langsung meraih tubuh Nindy yang hampir jatuh kedalam pelukannya.
"Ssss!" Desis Nindy saat menyadari tubuhnya di rangkul erat oleh Rafael.
"Hati- hati" Ucap Rafael.
Rafael memeluk tubuh sang istri dengan erat seolah egan untuk melepaskannya kembali. Seharian ini ia begitu mengkhawatirkan Nindy yang tiba- tiba menghilang tanpa kabar. Nindy melepaskan pelukan Rafael lalu menatap suaminya sembari tersenyum.
"Akhirnya kamu berhasil menemukanku" Ucap Nindy sambil tersenyum manis.
Rafael tidak menjawab, ia hanya menatap mata sang istri dengan tatapan tajam. Kini Rafael sadar jika saat ini dirinya sedang di permainkan oleh Nindy. Perasaannya sulit untuk di jelaskan, Rafael sangat senang karena akhirnya Nindy telah berhasil ditemukan dalam keadaan baik- baik saja namun di sisi lain ia juga marah karena merasa telah di dibodohi. Dalam sekejap perasaan Rafael langsung berubah dari senang dan bahagia menjadi kecewa dan terluka.
__ADS_1
Tanpa sepatah katapun, Rafael mulai menuntun Nindy untuk menuruni anak tangga dengan perlahan. Meskipun hatinya sakit namun Rafael mencoba untuk tenang dan tidak ingin meluapkannya kekesalannya saat itu. Setidaknya ia harus membawa sang istri turun dari tangan dengan selamat terlebih dahulu.
Sementara itu perasaan Nindy mulai tidak tenang, ia merasa aura sang suami tampak jauh berbeda dari sosok suami yang dirinya kenal selama ini. Awalnya Nindy berharap Rafael akan senang mendapat kejutan darinya, tapi keyataannya reaksi Rafael justru terlihat tidak seperti yang Nindy harapkan.
Sampai di anak tangga terakhir, bu Linda dan tante Yuni langsung menyambut kedatangan menantunya dengan sambutan yang hangat.
"Nindy".
"Sayang".
"Kamu baik- baik sajakan sayang. Kamu tidak apa- apakan?" Tanya bu Linda pada menantunya.
"Kami begitu mengkhawatirkanmu sayang. Apakah kamu tahu sejak tadi siang Rafael kalang kabut mencarimu, dia begitu mengcemaskan keadaanmu sayang" Ucap tante Yuni.
Keduanya menarik tubuh Nindy lalu satu persatu memberikan pelukan hangat pada menantu kesayangannya. Mereka tidak menyadari jika saat ini Rafael sedang marah bahkan Rafael terlihat enggan untuk menatap Nindy lebih lama. Nindy berusaha untuk tersenyum di hadapan kedua ibu mertuannya itu namun tatapan matanya tidak terlepas memandang sang suami yang memalingkan wajah darinya. Detik itu juga Nindy tersadar jika Rafael sedang marah padanya.
Klik
Lampu lantai satu menyala. Ruangan yang sebelumnya temaram karena sebelumnya hanya satu lampu yang menyala dan kini sudah jauh lebih terang.
Beberapa suara ledakan petasan terdengar dari sudut ruangan.
"Surprise,,,!".
Beberapa orang yang sebelumnya bersembunyi, satu persatu mulai bermunculan sambil meneriakkan kata kejutan itu. Mereka muncul dengan memakai atribut pesta yang bertuliskan happy birthday lengkap dengan birthday cake yang besar.
Rafael, bu Linda dan tante Yuni terkejut melihat segerombolan orang yang tiba- tiba mulai memenuhi ruangan besar itu hingga akhirnya mereka menyadari jika semua ini adalah sebuah pesta kejutan. Pesta kejutan yang di persembahkan spesial untuk Rafael.
"Happy birthday!" Ucap mereka secara bersamaan.
Bu Linda dan tante Yuni terlihat tersenyum kegirangan melihat kejuta yang di persiapkan untuk Rafael, mereka begitu bahagia mendapat pesta kejutan tersebut seolah merekalah yang sedang berulang tahun. Berbeda dengan kedua ibunya, Rafael justru memperlihatkan ekspresi yang berbeda. Rafael terlihat menatap seluruh orang yang hadir di ruangan itu dengan tatapan mata yang dingin seolah ingin menelan mereka satu per satu dan sayangnya hanya Nindy seorang yang menyadari hal itu.
"Happy birthday, Rafael!" Ucap Ronald sembari tersenyum padanya.
__ADS_1
Rafael menatap tajam pada beberapa orang yang sangat di kenalinya yaitu Ronald- kakak kandungnya, Shella- kakak iparnya serta Yuda dan Yuri yang merupakan saudara tirinya. Nindy yang tahu jika Rafael sedang marah melangkah mendekat, mencoba untuk meredam emosi sang suami agar tidak lepas kontrol.
"Sayang!" Nindy mendekati Rafael lalu mencoba menggenggam jari tangan suaminya itu.
Rafael membalas menggenggam tangan Nindy dengan genggam yang sangat erat hingga membuat istrinya mendesis pelan.
"Ssss!" Desis Nindy saat merasakan genggaman tangan Rafael yang terasa begitu kuat.
Suasana hening sesaat, mereka diam untuk menantikan respon Rafael yang terlihat tenang tanpa ekspresi apapun. Semua orang sedang menantikan reaksi Rafael atas pesta kejutan yang mereka rencanakan dan berharap Rafael senang dengan kejutan itu. Namun sayangnya harap mereka pupus saat melihat Rafael tertawa terbahak- bahak.
"Ha ha ha ha ha,,,,!" (Tertawa seperti gaya seorang mafia).
Rafael menatap wajah saudaranya itu satu per satu lalu berakhir dengan menatap Nindy dengan tajam seraya berucap:
"Jadi seharian ini kamu menghilang tanpa kabar hanya untuk menyiapkan pesta konyol seperti ini!" Ucap Rafael dengan tatapan mata tajam.
"Hah! Kamu pikir aku kecil yang akan kegirangan karena mendapatkan sebuah pesta ulang tahun!"
Rafael menyeringai tipis.
"Sekarang, apakah kamu sudah puas?" Tanya Rafael
"Apakah kamu sudah puas karena telah mempermainkan aku" Teriak Rafael pada Nindy dengan suara yang lebih tinggi dari sebelumnya.
"Rafael!" Seru bu Linda yang terkejut mendengar teriakkan sang putra.
"Pelankan suaramu. Kamu sedang berbicara dengan Nindy, istrimu" Ucap bu Linda lagi.
Rafael kembali menyeringai
"Iya, dia memang istriku ma. Istri yang dengan sengaja bekerja sama dengan mereka untuk mempermainkan aku" Ucap Rafael sembari menatap Nindy tajam.
"Apa kalian semua sudah puas mempermaikan hati dan perasaanku hari ini? Puaskah kalian!" Teriak Rafael dengan kencang.
__ADS_1
Semua orang terkejut melihat reaksi Rafael, mereka tidak menyangka jika Rafael akan marah dengan pesta kejutan yang telah mereka rencanakan.
☆