
Rafael sama sekali tidak fokus dengan meetingnya saat ini, berkali- kali ia menyeringai kecil sambil mengulum senyum hingga membuat para peserta meeting terheran- heran dengan tingkah pimpinannya hari ini. Mereka saling berbisik satu sama lain membicarakan tingkah Rafael yang terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Rafael berada di dalam ruang rapat tapi pikirannya dan jiwa seolah sedang berada di tempat lain bahkan beberapa kali jawabannya tidak nyambung dengan pertanyaan yang di tanyakan oleh asistennya pada dirinya.
Bukan hanya kelakuan Rafael yang berbeda, tapi wibawanya sebagai pimpinan perusahaan juga tampak lain dari biasanya. Rafael yang biasanya selalu menginginkan kesempurnaan dalam melakukan apapun di setiap saat, namun hari ini ia tidak memperdulikan hal itu. Salah satu hal yang berbeda itu hari itu adalah jadwal kedatangannya kekantor yang terlambat.
Meeting hari ini yang seharusnya di laksanakan di pagi hari terpaksa harus di tunda beberapa jam kemudian karena sang direktur tidak kunjung hadir di kantor. Dan begitu memasuki ruang rapat ia juga sama sekali tidak fokus dengan masalah yang sedang di bicarakan oleh karyawannya. Sudah beberapa kali Rafael menyuruh karyawannya untuk mengulangi presentasinya karena ia tidak memahami materi meetingnya hari ini.
"Kenapa hari ini kalian terlihat tidak fokus. Bukankah sudah pernah aku katakan untuk selalu fokus pada saat sedang bekerja" Sentak Rafael pada karyawannya.
Ardi dan para karyawan yang lainnya hanya bisa menunduk karena mereka tidak tahu kesalahan apa yang telah mereka perbuat hingga membuat pimpinannya marah. Padahal mereka sudah menjelaskan semuanya sesuai dengan materi yang sedang mereka bahas. Rafael sama sekali tidak sadar jika sebenarnya dirinyalah yang saat ini tidak fokus dengan meeting bukan karyawannya.
"Maaf pak Rafael, bagian mana yang menurut bapak tidak sesuai?" Ardi memberanikan diri untuk bertanya.
"Semuanya" Sahut Rafeal.
"Aku tidak mengerti dengan semua materi yang kalian jelaskan padaku tadi, dari awal hingga akhir" Ucap Rafael.
"Tapi pak kami sudah menjelaskan semuanya sesuai dengan-----!" Ucapan Ardi terpotong saat melihat tangan Rafael yang terangkat memberikan isyarat agar dia diam.
Rafeal meletakkan telunjuknya di depan bibir agar semua orang yang berada di dalam ruang rapat diam. Setelah memastikan suasana aman terkendali, Rafael langsung meraih ponselnya sembari tersemyum lebar saat melihat nama yang tampil di layarnya.
"Hallo sayang" Ucap Rafeal pada saat mengangkat ponselnya.
"Hm,,,,!".
"Aku masih meeting dan sebentar juga akan selesai"
"Kenapa? Apa kamu merindukanku?".
Rafael berbicara dengan sang istri dengan begitu mesra hingga membuatnya tidak sadar jika saat ini tingkahnya sedang menarik perhatian para karyawannya. Mereka saling berbisik dan menanyakan ada apa dengan pimpinannya itu? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa pimpinan mereka bertingkah aneh hari ini?
"Apa? Kamu mau pulang. Sekarang?"
Rafael melirik jam di tangannya sekilas sebelum kemudian kembali berucap:
"Jangan pulang dulu, tunggu aku. Aku akan segera kesana".
Rafael langsung memutuskan panggilan ponselnya kemudian menatap Ardi dan karyawannya yang lain lalu berkata :
"Kita break satu jam" Ucap Rafael yang di iringi dengan tatapan mata oleh semua karyawannya.
Tanpa sepatah katapun Rafael langsung berdiri dan bergegas keluar dari dalam ruang rapat untuk menemui sang istri yang tadi menelponnya. Sementara itu, Ardi hanya bisa memijit keningnya dengan sedikit kesal karena ia tahu jika pimpinannya sengaja meninggalkan ruang rapat untuk menemui Nindy.
Rafael berjalan cepat menuju ke ruangannya, sampai di sana ia langsung membuka pintu ruangan tersebut dengan buru- buru berharap sang istri masih di dalam sana untuk menunggunya.
__ADS_1
"Sayang!" Seru Rafael saat melihat Nindy masih berada di dalam ruangannya.
Rafael berjalan mendekati sang istri.
"Syukurlah kamu masih disini?" Ucapnya.
"Kenapa kamu datang kemari? Bukanya kamu sedang meeting" Tanya Nindy yang heran saat melihat suaminya datang menemuinya.
"Kenapa kamu mau pulang?" Bukannya menjawab pertanyaan Nindy, Rafael justru mengajukan pertanyaan yang lain.
"Apa kamu lupa! Bukankah hari ini kita akan makan malam di rumah mama" Ucap Nindy.
"Aku tidak lupa sayang, aku ingat" Sahut Rafael.
"Maka dari itu aku mau pulang sekarang, aku harus bantuin mama menyiapkan makan malam kita".
Rafael meraih tangan Nindy lalu menggenggamnya erat.
"Kan tadi aku sudah bilang, kita akan pulang bersama setelah meetingku selesai" Ucap Rafael
"Tapi aku harus kerumah mama sekarang. Mama sudah beberapa kali menghubungiku dan menanyakan kapan aku akan datang" Jelas Nindy.
"Kita bisa pergi bersama setelah meetingku selesai, sayang. Jadi aku minta kamu jangan pulang dulu dan tunggu aku di sini hingga meetingku selesai" Pinta Rafael.
"Kita punya banyak waktu sayang, kamu tenang saja. Jika perlu, malam ini kita akan menginap di rumah mama sehingga kamu punya banyak waktu untuk ngobrol sama mama. Ok" Kata Rafael lagi.
Nindy menatap Rafael beberapa saat sebelum akhirnya ia menjinjitkan kakinya agar sejajar dengan sang suami lalu memberikan sebuah kecupan di bibir suaminya itu.
Cup
"Aku pulang duluan ya, nanti kita ketemu dibrumah mama" Ucap Nindy lembut setelah mencium suaminya.
Rafael mengusap bibir Nindy kemudian membalas ciuman sang istri dengan mesra, ia menye sapnya dengan lembut dalam waktu yang lebih lama. Puas mencium Nindy, Rafael kembali menatap sang istri seraya berkata :
"Baiklah, kamu boleh pulang terlebih dahulu. Tapi sebelum itu aku punya syarat untukmu"
"Syarat! Syarat apa?" Tanya Nindy.
"Aku mau nanti malam kamu memakai baju yang kemarin kamu beli, ok" Pinta Rafael.
"Hah!" Nindy melotot
"Kenapa aku harus memakai baju itu lagi"
__ADS_1
"Karena aku menyukainya" Sahut Rafael.
"Kalau kamu menyukainya, terus kenapa kamu harus merobeknya?" Ucap Nindy kesal karena baku yang pakainya telah di robek oleh Rafael.
Rafael merangkul pinggal sang istri dengan mesra lalu menbisikan sesuatu.
"Memangnya kamu belum tahu fungsi baju itu untuk apa?" Tanya Rafael
Nindy menggelengkan kepalanya hingga membuat Rafael menyeringai.
"Sayang, baju itu memang sengaja di buat untuk memudahkan kita membuat ----------" Rafael membisikkan sesuatu di telinga Nindy hingga membuat mata Nindy melotot.
"Its,,,,!" Nindy memukul dada Rafael setelah mendengar ucapan suaminya.
"Hahahha,,,!" Rafael tertawa ngakak saat melihat raut wajah Nindy yang merona.
Akhirnya Rafael mengizinkan Nindy untuk pulang kerumah ibunya terlebih dahulu dan ia akan segera menyusul sang istri setelah menyelesaikan meetingnya.
Setelah mengantar Nindy sampai di loby serta memastikan sang istri mendapatkan pengawalan dari pengawalnya, Rafael memutuskan untuk kembali keruang meeting dan menyelesaikan semua pekerjaan yang sudah terlalu lama tertunda. Dan kali ini Rafael sudah kembali menjadi seorang pimpinan yang selama ini di kenal oleh karyawannya, yaitu pimpinan yang tegas, lugas dan cerdas.
Namun setelah tiga puluh menit berlalu, entah mengapa perasaan Rafael menjadi tidak tenang. Rafael tiba- tiba saja kembali memikirkan Nindy dan merasa sesuatu yang aneh, ia merasa cemas dan begitu mengkhawatirkan sang istri. Perasaan Rafael menjadi semakin tidak menentu pada saat mendengar dering ponsel Ardi.
Ardi menjawab panggilan ponselnya dan ia terlihat berbicara serius dengan seseorang. Samar- samar, Rafael dapat mendengarkan jika Ardi memberikan sebuah perintah pada orang yang di seberang sana.
"Ada apa?" Tanya Rafael.
Ardi terdiam, ia bingung harus bagaimana menyampaikan pesan itu kepada bosnya.
"Ada apa Ardi? Kenapa kamu jadi gugup seperti itu?" Tanya Rafael lagi.
Dengan sedikit terbata, Ardi menjawab.
"Maaf pak Rafael. Bu bu Nindy -----!"
"Kenapa dengan istriku?" Tanya Rafael cemas.
"Bu Nindy. Bu Nindy menghilang" Ucap Ardi.
"Apa?" Seketika Rafael langsung berdiri dan menatap Ardi dengan tajam.
☆
.
__ADS_1