
Semua orang terkejut melihat reaksi Rafael, mereka tidak menyangka jika Rafael akan marah dengan pesta kejutan yang mereka berikan. Awalnya mereka berharap jika Rafael akan senang dengan pesta kejutan yang mereka rencanakan, namun kenyataannya di luar dugaan, Rafael justru tampak begitu marah karena mereka telah membohonginya.
"Sayang!" Nindy mengusap lengan Rafael untuk menenangkan hatinya.
"Aku tidak pernah bermaksud untuk mempermainkanmu. Aku hanya ingin memberikan sebuah kejutan untuk kamu" Ucap Nindy jujur.
"Kejutan! Hah!" Rafael tersenyum sinis.
"Ya, ini benar- benar sebuah kejutan yang sangat hebat hingga membuatku begitu terkejut".
"Selamat ya sayang. Kejutan darimu sungguh membuat aku benar- benar terkejut. Bahkan jantungku hampir copot karena kejutan konyol ini" Ucap Rafael
Bleshh
Ucapan Rafael terasa begitu menusuk jantung.
"Sayang!" Lirih Nindy.
"Apa kamu pikir aku senang dengan pesta kejutan konyol seperti ini? Tidak. Aku tidak senang dan aku tidak suka" Ucap Rafael pada Nindy.
"Bagaimana mungkin aku bisa senang di saat hatiku tidak baik- baik saja" Rafael menunjuk hatinya yang terasa begitu sakit karena ulah sang istri.
"Apakah kamu tidak memikirkan perasaanku di saat kamu merancang rencana ini? Apakah kamu tidak tahu jika seharian ini aku hampir gila karena memikirkan keadaanmu? Aku bahkan begitu takut, aku takut kamu kembali pergi dan meninggalkan aku lagi".
Rafael mengucapkan kata- kata itu sembari memukul dadanya berulang kali, ia begitu kecewa karena Nindy tega mempermainkan hatinya. Tidakkah istrinya tahu jika ia begitu trauma jika Nindy menghilang. Rafael sangat takut jika Nindy kembali pergi dari hidupnya dan meninggalkan nya lagi seperti dulu.
"Tidak sayang, aku tidak pernah meninggalkanmu" Sanggah Nindy seraya menggelengkan kepalanya.
Nindy mulai menangis, ia tidak pernah menduga jika rencana kejutan yang di rancangnya membuat hati sang suami terluka.
"Ini semua bukan kesalahan Nindy, Rafa. Tapi aku" Ucap Yuda sembari melangkah mendekati Rafael.
Rafael menatap Yuda yang kini berdiri di depannya.
"Akulah yang merencanakan kejutan ini dan aku juga yang merancang skenarionya. Nindy tidak bersalah Rafa, karena semua ini adalah rencanaku" Sambung Yuda lagi.
Yuda tidak menyangka jika Rafael tidak menerima kejutan yang di rancangnya bersama Nindy, ia turut menyesal karena rencananya justru membuat masalah dalam hubungan Rafael dan Nindy.
"Hah!" Rafael tersenyum mengejek.
"Jadi kamu biang keroknya?".
"Jadi ternyata kamu yang telah merencanakan kejutan konyol ini".
"Ya" Sahut Yuda.
"Akulah dalang dari semua masalah ini" Ucap Yuda.
__ADS_1
Rafael menggertakkan giginya dengan tangan yang terkepal kuat dan tanpa di duga.
Plakk
Bhukk
Sebuah tampar*n dan tinju mendarat di wajah dan juga perut Yuda hingga membuat tubuh Yuda terhuyung kebelakang.
"Akh,,,!" Erang Yuda saat tubuhnya terpanting kebelakang.
"Rafael!" Teriak bu Linda.
"Yuda!" Teriak tante Yuni.
Keduanya langsung menghampiri kedua putra mereka masing- masing.
"Kamu pikir aku akan senang mendapatkan pesta kejutan seperti ini? Hah! Kamu pikir aku akan memelukmu sambil mengucapkan berterima kasih karena telah memberikan kejuta yang istimewa untukku?"
"Ah,,,! Terima kasih brother, kamu memang yang terbaik. Itu yang kamu inginkan, Hah!"
Rafael melempar senter yang berada di tangannya dengan kuat hingga terpanting dan pecah. Aksi Rafael tersebut membuat semua orang kembali terkejut.
"Fu*kk,,,,!" Maki Rafael sambil berlalu pergi.
Tanpa menghiraukan tatapa dari semua orang, Rafael melangkah cepat meninggalkan tempat tersebut. Rafael bahkan mengabaikan Nindy yang terus memanggil namanya.
"Sayang!"
"Rafael!"
"Kamu tidak apa- apa sayang?" Tanya tante Yuni pada Yuda.
"Aku tidak apa- apa mam?" Sahut Yuda.
"Tapi bagaimana dengan Rafael dan Nindy?" Tanya Yuda yang khawatir kepada saudara tirinya itu.
"Kamu tidak perlu khawatir sayang, semua akan baik- baik saja karena Rafael sudah menemukan pawangnya" Ucap tante Yuni mencoba untuk menenangkan Yuda.
Sebenarnya tante Yuni juga tidak yakin apakah Nindy bisa menenangkan Rafael atau tidak, karena kali ini Rafael terlihat begitu marah. Namun tante Yuni berharap agar semuanya baik- baik saja dan Nindy mampu membujuk Rafael.
Sementara itu, Nindy terus berlari keluar untuk menyusul Rafael yang sudah lebih dulu sampai diluar. Nindy melihat lampu mobil Rafael yang menyala dan ia langsung mendekati mobil itu mencoba untuk mencegah Rafael agar tidak pergi. Nindy berdiri tepat di depan mobil Rafael sambil merentangkan tangannya, ia yakin dengan cara tersebut suaminya tidak akan pergi dari sana.
Tin tin tin
Rafael membunyikan klakson mobilnya beberapa kali agar Nindy menyingkir di depan mobilnya, namun Nindy tidak bergeming sedikitpun, ia tetap berada di depan mobil suaminya dengan tangan yang masing terentang lebar.
"Minggir!" Teriak Rafael dari dalam mobil.
__ADS_1
Nindy menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku tidak akan pergi dari sini" Sahut Nindy.
Tin tin tin
Rafael kembali membunyikan klakson mobilnya.
"Aku bilang minggir!" Ucapnya lagi.
"Tidak. Aku sudah bilang, aku tidak akan pergi dari sini" Sahut Nindy lagi.
"Shittt!" Rafael memukul setir mobilnya dengan kuat.
Saat ini Rafael ingin segera pergi dari tempat itu karena emosinya sedang tidak terkendali, ia takut jika dirinya tidak bisa mengontrol emosinya dan akan meluapkan seluruh amarahnya pada Nindy. Biar bagaimana pun juga Rafael tidak akan mungkin meluapkan kemarahannya pada sang istri.
"Turun!" Teriak Nindy dari luar
Rafael tidak bergeming, ia masih tetap berada di dalam mobilnya.
"Aku bilang turun" Ucap Nindy lagi.
"Jika kamu tidak mau turun dan memutuskan untuk pergi, maka akan aku pastikan jika kamu tidak akan pernah melihatku lagi" Ancam Nindy.
Rafael menatap Nindy yang masih berdiri di depan mobilnya, hatinya mulai ragu untuk pergi atau justru tetap tinggal, hingga akhirnya Rafael memutuskan untuk mematikan mesin mobilnya. Nindy menghembuskan nafasnya yang sejak tadi tertahan, ia begitu lega karena Rafael membatalkan niatnya untuk pergi.
Lama Nindy menunggu namun Rafael tidak kunjung keluar dari mobilnya. Karena tidak ingin membuang banyak waktu, Nindy memutuskan untuk masuk kedalam mobil suaminya dan mencoba untuk menjelaskan semuanya kepada Rafael. Nindy menyeringai kecil saat ia membuka pintu mobil yang ternyata tidak terkunci, itu artinya Rafael mengizinkan dirinya untuk masuk kedalam mobil tersebut.
Nindy masuk kedalam mobil dan duduk disamping Rafael, ia melirik sang suami yang sedang melihat kedepan dengan tatapan mata yang dingin. Nindy tidak percaya jika Rafael akan bereaksi seperti itu, awalnya ia berpikir jika suaminya akan senang dengan kejutan yang di berikannya, namun kenyataannya justru berbeda. Bukannya senang, Rafael justru marah dan terlihat sangat emosi saat ini.
Nindy mengulurkan tangannya mencoba untuk mengusap tangga Rafael yang sedang memengang setir mobil, ia mengelus tangan suaminya dengan lembut sembari berkata :
"Apa kamu tidak mau mendengar penjelasan dariku?" Tanya Nindy.
Rafael diam.
"Sayang, lihat aku dan katakan jika kamu ingin mendengar penjelasan dariku" Ucap Nindy lagi.
Rafael masih terdiam.
Nindy menarik nafasnya dalam- dalam lalu kembali berucap :
"Lihat aku, Rafael. Tatap mataku".
Tanpa di duga, ternyata Rafael mengikuti perintah Nindy dan menatap wajah istrinya itu. Nindy tersenyum senang karena akhirnya Rafael mau melihat wajahnya.
"Sekarang dengarkan aku karena aku akan menceritakan semuanya padamu. Kamu hanya perlu diam dan mendengarkan semua ucapanku, jangan menyanggahnya sebelum aku menyelesaikan semua ceritaku. Mengerti!" Ucap Nindy.
__ADS_1
Seperti orang yang sedang terhipnotis, Rafael langsung menganggukkan kepalanya tanda menyetujui ucapan sang istri. Nindy mulai menceritakan semuanya pada Rafael dan Rafael hanya diam mendengarkan cerita sang istri. Tidak ada bantahan apalagi sanggahan dari Rafael, ia mendengarkan semua cerita Nindy dari awal hingga akhir.
☆