
Pintu kamar terbuka dan Rafael masuk kedalam sambil membawa nampan yang berisi dua gelas air mineral untuk dirinya dan juga sang istri. Rafael meletakkan nampan itu diatas nakas dan setelah itu ia duduk di pinggir ranjang sambil memainkan ponselnya sembari menunggu Nindy yang masih mandi.
Selang beberapa saat kemudian Nindy keluar dari kamar mandi dengan memakai Bathrobe dan rambut yang di bungkus handuk kecil. Nindy melihat suaminya yang sedang sibuk dengan ponselnya sebentar, lalu ia melangkahkan kaki menuju ke meja hias untuk melakukan rutinitas rutin yang selalu di lakukannya sebelum pergi tidur yaitu skincare- ran. Nindy duduk di depan cermin dan mulai melakukan ritualnya yang di mulai dari wajah hingga nanti keseluruh bagian tubuhnya.
Tanpa di sadari ritual merawat tubuh sudah menjadi kebiasaan Nindy yang tidak bisa di tinggalkan, karena pada saat merawat tubuhnya ia jadi semakin bersyukur pada Tuhan atas anugerah yang di berikan padanya yaitu memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang sehat. Selesai merawat wajah tiba saatnya untuk merawat tubuh, Nindy mengambil body lotion dan mulai mengaplikasikannya di bagian tangan. Ditengah kesibukkannya, Nindy masih sempat melirik sang suami dari pantulan cermin dan ia bisa melihat jika suaminya itu seperti sedang melamunkan sesuatu.
Nindy memutar tubuhnya untuk melihat wajah Rafael secara langsung dan benar saja Rafael sedang menundukkan kepalanya seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa? Apa ada masalah?"
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Nindy pada suaminya.
"Ah, kenapa sayang? Kamu bilang apa?" Bukannya menjawab, Rafael malah mengajukan pertanyaan lainnya karena pada saat ini ia memang sedang tidak fokus dengan pertanyaan sang istri.
"Aku bertanya kamu kenapa? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" Nindy kembali mengulang pertanyaannya.
"Ah tidak. Tidak ada apa- apa sayang" Sahut Rafael bohong.
Tentu saja Nindy tahu jika suaminya sedang berbohong, namun Nindy tidak ingin menanyakan alasannya karena lambat laun Rafael pasti akan menceritakannya sendiri padanya karena Rafael adalah sosok orang yang tidak bisa menyimpan masalah di hatinya. Nindy mengambil body lotion dan bangun dari tempat duduknya lalu melangkah menuju kesebuah sofa yang terletak tidak jauh dari ranjang, setelah itu ia melihat sang suami seraya berucap:
"Sayang, bisa tolong bantu aku" Pinta Nindy sambil menjulurkan body lotionnya kearah Rafael.
Rafael melihat body lotion ditangan Nindy dan ia langsung tahu apa maksud istrinya yaitu membantu mengoleskan body lotion di tubuhnya. Tanpa bantahan, Rafael langsung bangkit dan meraih body lotion di tangan Nindy sembari duduk di samping istrinya.
"Kamu ganti body lotion lagi?" Tanya Rafael saat melihat body lotion milik sang istri beda dari yang biasanya ia lihat.
Nindy langsung mengangguk.
"Kak Shella yang memberikannya padaku. Katanya body lotion itu lebih bagus dan enak di pakenya dan setelah aku coba ternyata benar, body lotion ini sangat bagus dan wangi" Ucap Nindy sambil mencium aroma body lotion di tangannya.
Rafael terlihat mengangguk- nganggukkan kepalanya beberapa kali, ia senang karena Nindy bisa berteman baik dengan kakak iparnya itu walaupun kadang sikap kakak iparnya sedikit menyebalkan baginya. Rafael mulai menuangkan body lotion ketelapak tangannya dan mulai mengoleskannya ketangan dan bagian tubuh sang istri.
"Yuri dan mas Haikal terlihat cocok ya" Ucap Nindy memulai kata.
"Hah!" Rafael yang terlalu fokus dengan tugasnya tidak menyadari ucapan Nindy.
"Aku bilang, Yuri dan mas Haikal cocok ya" Nindy mengulang perkataan yang sama.
"Menurutmu begitu! Entahlah. Aku malah melihat sebaliknya" Sahut Rafael.
"Maksudmu?" Tanya Nindy.
"Entahlah, aku rasa mereka sama sekali tidak cocok" Ucap Rafael.
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Apa maksudmu dengan mengatakan jika mereka tidak cocok" Tanya Nindy lagi.
Rafael terdiam, ia tidak ingin menjawab pertanyaan istrinya. Sementara itu Nindy langsung bisa menebak jika alasan suaminya melamun tadi adalah karena masalah ini, Rafael sedang memikirkan hubungan Yuri dan Haikal yang tiba- tiba mengumumkan jika mereka adalah pasangan kekasih. Bahkan tadi di saat makan malam, Haikal secara terang- terangan meminta restu pada mami Yuni untuk menikahi Yuri dalam waktu dekat dan mami Yuni langsung menyambut baik akan hal itu.
"Kamu tidak setuju jika mas Haikal dan Yuri menikah?" Tanya Nindy.
"Bukan tidak setuju, hanya saja aku merasa jika mereka berdua tidak cocok. Lagi pula apa hak ku mengatakan tidak setuju, toh kami hanya saudara tiri" Ucap Rafael.
"Sayang" Nindy menghentikan tangan Rafael yang akan mengoleskan body lotion di bagian kakinya.
"Aku tahu apa maksudmu. Kamu takut jika Yuri dan mas Haikal menikah maka hubunganku dengan mas Haikal akan kembali dekatkan" Ucap Nindy.
Rafael tidak menjawab, ia hanya memandang wajah sang istri dan Nindy langsung bisa menebak jika ucapannya tadi adalah benar. Suaminya pasti menduga jika ia masih memiliki perasaan khusus terhadap Haikal.
"Apa kamu mengira jika aku masih mencintai mas Haikal?" Tanya Nindy.
__ADS_1
"Apa dugaanku salah? Kamu dan Haikal sudah saling mengenal dalam waktu yang lama, dan pasti tidak mudah bagimu untuk melupakannya" Ucap Rafael.
"Kamu cemburu!".
Rafael diam, ia tidak menjawab apapun, raut wajahnya sudah menjelaskan semuanya jika ia memang sedang cemburu dan hal itu membuat Nindy tertawa geli. Nindy senang jika Rafael cemburu karena itu artinya suaminya itu sangat mencintainya dengan tulus.
"Ih, kamu lucu banget sih" Nindy mencubit kedua pipi Rafael dengan gemas hingga membuat Rafael kesal.
"Jangan menggodaku" Protes Rafael.
Nindy kembali tertawa sembari perlahan menurunkan kakinya dari pangkuan sang suami dan tanpa di duga ia langsung memeluk suaminya dengan erat.
"Jadi benar kamu cemburu".
"Wajarkan jika aku cemburu, aku tidak suka jika istriku dekat dengan laki- laki lain apalagi laki- laki itu adalah mantan kekasihnya" Ucap Rafael.
Nindy melepaskan pelukan lalu menatap wajah suaminya.
"Sayang, dengarkan aku ya. Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadap mas Haikal. Saat ini aku sudah menganggapnya sebagai orang asing yang kehadirannya tidak akan mengusik perasaannku. Meskipun nanti Yuri dan mas Haikal menikah, itu bukanlah hal yang perlu kamu khawatirkan. Lagi pula jika di bandingkan dengan Yuri, aku tidak ada apa- apanya sayang. Mana mungkin mas Haikal masih menyukaiku sementara di sisinya sudah ada wanita cantik yang bernama Yuri" Jelas Nindy.
"Aku mohon percaya padaku, aku mencintaimu dulu, kini dan hingga nanti. Percayalah" Ucapnya.
Rafael menghela nafas panjang, sepertinya ia masih sangat takut jika ia harus kembali kehilangan istrinya.
"Aku percaya sayang, aku percaya padamu. Maaf, karena aku sudah meragukan cintamu" Ucap Rafael penuh sesal.
Nindy tersenyum lega.
"Jadi sekarang pikiranmu sudah ploong?" Tanyanya.
Rafael mengangguk.
"Kalau begitu, peluk aku dong" Rengek Nindy manja.
Tanpa bantahan lagi, Rafael langsung meraih tubuh Nindy dan memeluknya dengan erat.
"Kamu sangat wangi" Bisiknya sembari mengecup pipi dan bagian leher istrinya.
"Kamu menyukainya?" Tanya Nindy.
"Iya, aku suka. Aku sangat menyukainya" Balas Rafael.
Keduanya tersenyum dan saling membalas pelukan.
"Oh iya, aku lupa" Nindy tiba- tiba melepaskan pelukannya hingga membuat Rafael kebingungan.
"Ada apa?" Tanya Rafael.
"Aku punya sesuatu untukmu" Ucap Nindy sambil tersenyum genit.
"Apa?" Tanya Haikal penasaran.
"Tunggu sebentar" Nindy langsung bangkit dan menuju ke meja nakas untuk mengambil tasnya.
Nindy kembali ke sofa dengan bibir yang masih menyunggingkan senyum.
"Ada apa sih?" Tanya Rafael yang semakin penasaran.
"Aku punya hadiah untukmu" Ucap Nindy lagi.
__ADS_1
"Iya, apa hadiahnya? Jangan buat aku semakin penasaran" Protes Rafael.
"Hahhaha!" Nindy tertawa ngakak melihat raut wajah suaminya yang terlihat begitu penasaran.
"Ta da,,,,!" Nindy menunjukkan sebuah amplop putih ke pada suaminya.
"Ini" Nindy menyerahkan amplop itu kepada Rafael.
"Apa ini?" Tanyanya bingung.
"Buka aja"
Dengan rasa penasaran, Rafael membuka amplop putih itu dengan cepat dan langsung mengeluarkan isi di dalamnya. Rafael kaget saat melihat dua lembar kertas yang merupakan voucher paket liburan, dan tidak tanggung- tanggung ternyata voucher itu adalah paket liburan ke Maladewa atau yang lebih di kenal dengan nama Maldives.
"Apa ini?" Tanya Rafael masih belum mengerti.
"Menurutmu apa?" Nindy balik bertanya.
Rafael mengerutkan keningnya.
"Itu adalah voucher paket liburan" Ucap Nindy.
"Iya, aku juga tahu jika ini adalah voucher paket liburan tapi untuk apa?".
"Ya untuk kita, sayang. Memangnya untuk siapa lagi. Mami Yuni yang memberikannya pada kita" Jelas Nindy.
"Mami!".
"Iya, mami memberikan itu sebagai hadiah untuk pernikahan kita. Dan mami minta maaf karena beliau terlambat memberikannya".
Rafael menatap voucher yang berada di tangannya dengan hati senang, ia tidak menyangka jika ibu tirinya begitu perhatian padanya.
"Mami Yuni berpesan agar kamu segera mengambil cuti karena beliau sudah tidak sabar untuk menantikan kabar baik" Ucap Nindy.
"Kabar baik! Kabar apa?" Rafael kembali di buat bingung dengan ucapan istrinya.
"Kabar bertambahnya anggota keluarga yang baru" Jawab Nindy sembari mengusap perutnya.
Setelah lama berpikir, akhirnya Rafael tersenyum saat mengetahui maksud dari ucapan istrinya.
"Jadi mami sudah tidak sabar untuk mengendong cucu" Tanyanya.
"Hmm, sepertinya begitu" Sahut Nindy tersipu malu.
"Oooo,,,,!".
"Kalau begitu kita harus bergegas sayang, kita tidak boleh membuang- buang waktu. Kita tidak perlu menunggu hingga sampai di Maldives karena kita bisa membuatnya disini saat ini juga".
Tanpa menunggu lama, Rafael langsung mengangkat tubuh Nindy dan membawanya ke atas ranjang. Rafael membaringkan Nindy perlahan hingga keduanya berhasil naik keatas ranjang dengan sempurna.
"Kamu siap sayang?" Goda Rafael.
"Hm, aku selalu siap untukmu" Sahut Nindy.
Keduanya saling melempar senyum dan tanpa membuang- buang waktu Rafael langsung melu mat bibir sang istri dengan lembut sementara itu Nindy membalas perlakuan sang suami dengan mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya agar ciuman mereka menjadi semakin dalam dan semakin dalam. Malam itu pasangan suami istri yang sedang di mabuk cinta kembali menenguk manisnya cinta yang semakin hari tumbuh semakin besar.
☆
.
__ADS_1