Sang Mantan

Sang Mantan
WANNA TO TOUCH


__ADS_3

Beberapa detik berlalu, akhirnya ciuman itu terlepas karena keduanya mulai kehabisan oksigen. Rafael melepaskan pangutan bibirnya perlahan dan dengan sangat lembut, ia tidak ingin menyakiti istrinya.


Rafael tersenyum sembari mengusap bibir sang istri.


"Rasanya lebih manis dari sebelumnya" Ucap Rafael dengan nafas yang terenggah- enggah.


"Karena sebelumnya kamu menciumku tanpa izin" Kilah Nindy.


"Jadi, aku harus meminta izin terlebih dahulu sebelum menciummu?" Goda Rafael.


"Emm,,, ya terserah kamu. Kenapa kamu harus bertanya seperti itu?" Nindy memutar tubuhnya menghadap ke arah lain, tiba- tiba ia merasa malu karena tadi ia lah yang mencium sang suami tanpa izin.


Nindy kembali memandangi lantai apartemennya yang tampak seperti laut bunga mawar, ia tidak mengira jika Rafael bisa menyiapkan kejutan yang seromantis itu. Namun Nindy di buat penasaran semua kejutan itu, bagaimana Rafael bisa menyiapkan semuanya padahal ia hanya meninggalkan ruang tamu sebentar.


"Bagaimana caranya kamu menyiapkan semua ini?" Tanya Nindy sembari menatap suaminya kembali.


Rafael menyunggingkan senyum.


"Kamu lupa siapa aku?".


"Hanya dengan menjentikkan jari seperti ini, maka semuanya beres" Pamernya sambil menjentikkan jari.


Nindy memutar bola matanya


"Cih, dasar sombong".


Rafael kembali terkekeh.


"Tapi sepertinya bukan hanya aku saja yang ingin memberikan kejutan untukmu. Ternyata kamu telah menyiapkan kejutan yang jauh lebih indah, yang tak pernah aku bayangkan" Ucap Rafael sembari menelisik penampilan sang istri.


Rafael menatap sang istri tanpa berkedip, matanya terfokus pada pemandangan yang kini tersaji indah di hadapannya. Tubuh putih mulus yang hanya di tutupi oleh selembar selimut tipis itu telah membuat kesadarannya seakan menghilang. Berulang kali ia menenguk ludahnya dengan susah payah untuk menahan gejolak di dalam tubuhnya.


"Kenapa menatapku seperti itu? Apa penampilanku terlihat aneh" Tanya Nindy sambil menelisik penampilannya sendiri, dan seketika ia tersadar dengan apa yang sedang di pakainya.


"Aaaaaaa!" Nindy langsung menyilangkan kedua tangannya di depannya, berusaha untuk menutupi tubuhnya yang terbuka.


"Aku tidak menyangka jika istriku akan menyabut kedatanganku dengan penampilan seperti itu. Apa kamu sengaja ingin menggodaku?" Goda Rafael.


"Jangan menatapku seperti itu" Protes Nindy.


"Kenapa kamu tidak mengatakannya sejak tadi? Kamu sengaja ya!".


"Balik. Putar balik badanmu" Perintahnya.


Bukannya membalikkan badan seperti perintah Nindy, Rafael justru melangkahkan kakinya untuk mendekati sang istri.

__ADS_1


"Kenapa kamu malah maju mendekat? Aku kan sudah bilang untuk berbalik" Nindy tidak bisa menyembunyikan kegugupannya.


Rafael tidak menyahut, langkah kakinya terus mendekat hingga akhirnya ia berdiri tepat di hadapan sang istri.


"Jangan mendekat. Mundur" Nindy mencoba untuk mendorong tubuh Rafael namun suaminya tidak bergeming sama sekali.


Rafael menangkap tangan Nindy yang terus mendorong tubuhnya.


"Kenapa kamu memintaku untuk mundur?" Tanyanya.


"Ka,,,, karena aku malu" Sahut Nindy tertunduk.


Rafael mengangkat dagu sang istri.


"Kenapa harus malu, aku kan suamimu. Lagi pula ini sudah kepalang tanggung, sayang. Aku sudah melihat semuanya".


Nindy melototkan matanya.


Rafael menyeringgai kemudian mendekatkan bibirnya di samping telinga sang istri seraya berbisik :


"Dan aku sangat penasaran dengan pemandangan yang berada di balik kain ini".


Plak. Sebuah pukulan mendarat di lengan Rafael.


"Buang jauh- jauh pikiran mesum itu dari otak anda pak Rafael, kalau tidak -------!".


"Kalau tidak, aku akan ------"


Ucapan Nindy terjeda karena Rafael kembali mencium bibirnya, Rafael menarik pinggang Nindy semakin mendekat agar memudahkannya mencium sang istri. Nindy merasa aneh dengan ciuman yang Rafael berikan kali ini, ciuman yang awalnya lembut kini semakin lama menjadi semakin liar dan penuh tuntutan, ia bisa merasakan deru nafas yang memburu serta hawa tubuh yang mulai memanas.


"Mmhh,,,,!" Suara erang** terdengar dari bibir keduanya namun ciuman itu belum juga terlepas.


Rafael mendorong tubuh Nindy hingga menyentuh dinding kemudian kembali menciumnya. Ia begitu candu dengan sang istri hingga seolah tidak rela untuk melepaskannya. Detik berganti menit, akhirnya Rafael melepaskan pangutannya saat menyadari Nindy mulai kesulitan bernafas.


"Ah,,,,!" Nafas Nindy memburu, ia mencoba untuk menghirup udara sebanyak- banyaknya.


"Kamu ingin membun*hku ya" Umpatnya kesal.


Rafael tersenyum menyeringai, ia menggigit bibir bawahnya dengan satu tangan mengusap bibir sang istri.


"Jangan menyalahkan aku, salah dirimu sendiri kenapa kamu harus memiliki bibir yang semanis ini" Kilah Rafael.


Bibir Nindy sedikit terbuka karena ulah tangan Rafael dan hal itu sontak membuatnya kembali mencium bibir sang istri dengan lembut. Nindy cukup terkejut karena Rafael kembali menciumnya padahal ciuman mereka baru saja selesai, tapi ia tidak ingin protes justru kini Nindy membalasnya bahkan ia sengaja mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya.


Merasa mendapat balasan dari sang istri, Rafael semakin memberanikan diri untuk melakukan hal yang lebih terhadap istrinya. Dengan bibir yang masih saling menyatu, sebelah tangan Rafael terangkat meraih kain tipis yang melilit tubuh sang istri dan dengan cepat ia menariknya kemudian menghempaskan kain itu begitu saja hingga luruh kelantai. Rafael dapat merasakan tubuh Nindy yang tegang sama seperti yang ia rasakan saat ini.

__ADS_1


"Bolehkah?" Tanya Rafael dengan suara yang terdengar parau.


Nindy membalas tatap mata Rafael.


"Untuk apa kamu meminta izin? Bukankah kamu berhak atas diriku" Jawabnya dengan nafas yang memburu.


"Karena aku tidak akan melakukannya jika tanpa izin dari mu" Sahut Rafael.


Kedua saling menatap untuk menyelami hati masing- masing.


"Kamu menginginkanku?" Nindy balik bertanya.


Rafael menelan ludahnya dengan susah payah, kemudian mengangguk pelan.


"Ya. Aku sangat menginginkanmu".


Nindy mendekatkan wajahnya dan tanpa di duga langsung memberikan sebuah ciuman pada bibir sang suami dan menciumnya dalam- dalam.


"Lakukanlah" Bisiknya setelah melepaskan ciumannya.


"Kamu berhak atas semua yang ada pada diriku".


Rafael menyunggingkan senyum, lampu hijau telah sang istri berikan dan ia tidak mungkin menyia- nyiakan kesempatan itu. Ia menarik tengkuk sang istri lalu mencium bibir manis yang kini membuatnya candu itu dalam- dalam, semakin lama ciuman itu menjadi semakin dalam dan semakin penuh tuntutan.


"Ah,,,!" Keduanya saling mendesah saat ciuman itu terlepas.


Rafael menggendong tubuh sang istri kemudian membawanya kedalam kamar, sesampainya di di sana ia langsung membaringkan sang istri perlahan diatas ranjang. Sejenak Rafael terdiam, ia begitu terpesona melihat sang istri. Di hadapan Nindy, Rafael membuka seluruh pakaiannya hingga memperlihatkan bentuk tubuh yang kekar. Refleks Nindy langsung menutup matanya dengan kedua tangan, ia merasa malu melihat tubuh Rafael yang terlihat benar- benar menggoda.


Rafael menyeringai melihat kelakuan Nindy yang tampak mengemaskan. Tanpa menunggu lama Rafael menyusul Nindy untuk naik keatas ranjang, ia menarik kedua tangan sang istri yang masih menutup matanya.


"Kenapa harus ditutup, apa kamu tidak ingin melihatnya?" Goda Rafael.


Nindy cemberut, saat ini ia sangat malu. Rafael terkekeh geli melihat wajah merona sang istri.


"Apa kamu sudah siap?" Godanya lagi.


Nindy mencubit lengan Rafael karena tidak tahan digoda terus, tanpa sadar ia menggi git bibir bawahnya karena merasa gugup. Rafael tertawa sembari menyusap bibir Nindy hingga bibir itu terbuka. Tak tahan melihat bibir sang istri, Rafael kembali menciumnya. Rafael diseluruh wajah sang istri mulai dari kening, kedua pipi, kedua kelopak mata hingga terus turun. Tidak ingin menunda lebih lama lagi, akhirnya Rafael melakukan penyatuan.



Hufffff


Kipas- kipas


mana kipas?

__ADS_1


Tolong,,,,


Author perlu kipas nih?


__ADS_2