Sang Mantan

Sang Mantan
Part 5


__ADS_3

"Aku mau ngomong penting Rey, bisa minta waktunya sebentar?" kataku membuat Rey menghentikan suapan kue yang mau disuapkan ke mulutku.


"Mau ngomong apa? Tumben banget Kamu mau ngomong bilang-bilang dulu. Biasanya langsung aja ngomong mau nya apa." tanya Rey heran.


"Aku mau Kita akhirin hubungan ini!!" ucapku singkat dan sedikit tegas.


Rey langsung menatapku. Seolah mencari jawaban dimataku atas apa yang Ia dengar barusan. Sulit untukku bertahan membalas tatapan Rey, kualihkan wajah dengan menunduk, mataku sedikit berembun. Memang tak bisa dipungkiri, hubungan Kami sudah teramat dalam. Dua tahun bukan waktu yang sebentar menjalani hubungan yang sangat menyiksa batin jika rindu mendekat. Rey menggenggam tanganku dengan lembut.


"Kamu apa-apaan sih? Nggak usah becanda, apalagi ngeprank." kata Rey yang menganggap ucapanku hanya guyonan.


Rey berlalu, meninggalkanku. Kulihat Ia menuju ke dapur. Kemudian Rey kembali mambawa minuman kaleng di kedua tangannya.


"Nih, minum dulu." ujar Rey menyodorkan minuman ke arahku.


Ku tepis tangannya, menolak minuman itu. Rey mengernyitkan matanya, bingung.


"Aku Serius. Aku mau kita putus!! Aku mau kita putus!!" kataku dengan sedikit penekanan diakhir kalimat.


"Nggak! Aku nggak mau! Kamu milik Aku!" kata Rey sedikit teriak.


Rey terlihat marah dengan ucapanku. Raut wajahnya seperti menahan emosi. Aku tahu ini memang tak mudah untuk Rey, juga Aku. Tapi Aku harus segera menyelesaikannya.


"Aku punya keluarga Rey, Aku mau semua kembali normal seperti saat Kita belum ketemu. Aku nggak mau ngorbanin mereka Rey, Aku mohon. Lepasin Aku, relain Aku." ucapku mencoba memberi pengertian ke Rey agar Ia mau mendengarkanku.


Rey hanya diam. Menaruh minuman di meja. Dan duduk terpaku. Aku menengadahkan wajah ke langit-langit rumah, mencoba menahan air mataku yang terasa sudah ingin tumpah. Aku tak mau Rey melihatnya.

__ADS_1


"Masa depanmu masih panjang Rey, dan masa depanku ada di keluargaku. Kita nggak bisa gini terus." kataku berusaha melemahkan hati Rey.


Rey langsung memelukku, erat. Membisikkan kata yang terdengar lembut ditelingaku.


"Udah, jangan ngomong lagi, jangan bicara apapun lagi, Aku tau kamu cinta sama Aku, itu udah cukup membantah keseriusan ucapanmu." bisik Rey tepat ditelingaku.


Ku dorong tubuh Rey yang memelukku. Aku tak ingin Rey meluluhkan hatiku lagi. Aku hanya ingin menyudahi semua ini. Aku hanya ingin Rey mau mendengarkanku, dan menerima keputusanku. Walaupun Aku tau, ini sulit, sangat sulit.


"Sayang ... ayolah ... jangan begini, ini bukan Kamu, ini bukan Tasya yang ku kenal. Jangan bikin Aku bingung Sya. Kamu kenapa? Kalo Aku ada salah, Kamu omongin, jangan begini." kata Rey pelan dan cemas.


"Bukan hanya kamu yang salah Rey. Aku!! Aku juga salah. Bahkan Aku lebih bersalah lagi kalo kita tetap ngelanjutin semua ini." ucapku penuh penekanan dan suara sedikit gemetar.


"Aku yang salah ... hiks ... hiks ... hiks." tangisku pecah. Memecahkan kesunyian di Rumah megah ini.


Rey semakin cemas melihat keadaanku sekarang. Baru kali ini Dia melihatku seperti ini. Rey mendekatiku, berusaha menenangkanku. Tangannya mulai menyentuh tanganku yang Kupakai untuk menutupi wajahku yang terisak.


"Cukup!! Jangan sentuh Aku!" kataku ketus dan menyingkirkan tangannya dengan kasar.


Aku berdiri, berusaha kuat dengan menghapus air mataku. Aku ingin Rey melihat kesungguhan perkataanku, kesungguhan bahwa Aku benar-benar ingin lepas darinya. Rey terlihat marah dengan perlakuanku tadi. Wajah putihnya kini memerah. Membuatku sedikit merasa cemas akan apa yang Rey lakukan. Tapi itu tak membuatku mundur, tekadku sudah sangat matang. Semua demi keluargaku, demi Mereka yang sangat Aku cintai.


Rey menarik paksa tanganku, mendekapku, dan menciumku dengan kasar. Kulihat Rey yang seperti kesetanan, membuatku semakin takut dan berusaha melepaskan diri dari dekapannya. Tapi sulit. Cukup lama Rey menciumku. Air mataku semakin tumpah, tak terbayang Rey akan melakukan hal kasar ini padaku. Walau kami sudah terbiasa melakukannya, namun kali ini Rey membuatku takut. Ini bukan Rey yang Aku kenal, bukan Rey yang Aku cintai. Tak lama, Rey melepaskan dekapannya. Menatapku penuh makna.


'PLAAAKKKK'


Sebuah tamparan yang cukup kencang Ku hempaskan di pipi Rey. Tanganku terasa panas, tapi masih kalah dengan panasnya hatiku. Rey menarik kembali tanganku, menggendongku paksa, dan membawaku ke salah satu kamarnya. Tenaga Rey yang sedang marah sungguh tak bisa ku lawan. Rey semakin menggila. Tangisku memecah.

__ADS_1


'Bruuukkkkk'


Pintu kamar ditutup dan dikunci. Kini Aku dan Rey berada di kamar. Dibantingnya Aku ke ranjang. Perasaanku tak karuan, saat Rey memandangku penuh hasrat. Meski ini bukan pertama aku seranjang dengan Rey, tapi kali ini aku begitu takut. Ini bukan Rey yang ku kenal. Rey tak pernah kasar denganku, Rey tak pernah memaksaku. Aku benci Rey yang sekarang. Tapi Aku tak bisa berbuat apa-apa.


*****


Rey memperkosaku. Kali ini bukan atas dasar cinta, tapi nafsu. Rey telah memperkosaku.


Sakiiiiittt rasanya. Laki-laki yang Aku cintai, memperlakukanku seperti ini, hanya karena Aku memintanya menjauh dan melupakanku. Aku masih menangis. Rasa cemas dan takutku semakin menjadi, bagaimana kalo rey tak mau mengakhiri hubungan ini?


Andai saja waktu bisa kuputar, akan Ku jaga hati ini hanya untuk suamiku. Sesalku sudah terlambat, dan tangisku pun sia-sia. Selama hampir dua tahun, Aku memang selalu melakukan hubungan layaknya suami istri dengan Rey. Tapi baru sekarang Aku menyesalinya, ketika Rey memaksaku dengan kasar.


"Bre*gsek Kamu Rey!! Bre*gsek!!" umpatku sambil menangis kencang.


Terasa hening dan sunyi rumah ini.


'Dimana Rey? Apa Dia masih di sini?' batinku bertanya.


Tanpa buang waktu lagi, Aku segera beranjak. Melihat sekeliling rumah, mencari di mana Rey. Ternyata Rey sudah tak ada.


'Mungkin Dia sedang keluar membeli makan,' gumamku.


Kulihat jam di tanganku, menunjukkan pukul 16.00 WIB. Berarti sekarang pukul 17.00 WIT. Aku bergegas, meninggalkan rumah Rey. Ku pesan taksi online menuju hotel So*ri Bali.


Di dalam taksi Aku terus melamun, membayangkan kejadian yang baru Aku alami. Karena tak mau Aku meninggalkannya, Rey nekat memaksaku, memperkosaku. Isakku semakin keras, saat bayangan Rey yang memperlakukanku dengan kasar kembali berputar. Aku takut, Rey akan kembali mencariku.

__ADS_1


'Gimana kalo Rey nanti nekad datang ke Vino? Gimana kalo Rey kasih tau ke Vino hubungan kami? Gimana kalo Rey.... Aargghhhhhhh.' batinku menerka-nerka, sangat cemas.


__ADS_2