Sang Mantan

Sang Mantan
SUPLEMEN PAGI


__ADS_3

Pagi- pagi sekali bu Linda sudah datang ke apartemen Rafael dan Nindy untuk bertemu dengan menantu kesayangannya, beliau tidak sabar untuk menghabiskan waktu seharian bersama dengan menantunya itu. Padahal baru satu jam yang lalu Rafael menelpon ibunya untuk meminta sang mama menemani istrinya ke salon dan hanya dalam hitungan menit bu Linda sudah tiba di apartemen anak dan mantunnya itu.


Rafael begitu kaget saat melihat ibunya sudah berada di depan pintu apartemennya hanya berselang beberapa menit setelah ia menelpon sang mama.


"Mama!"


"Hai, sayang" Bu Linda langsung memeluk Rafael.


"Menantu mama dimana?" Tanya bu Linda setelah melepaskan pelukannya.


"Di dalam, lagi siap- siap" Sahut Rafael.


"Oh, ok" Bu Linda nyelonong masuk dan langsung duduk di sofa.


Rafael menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia tidak menyangka jika ibunya akan datang secepat ini.


"Loh, kok kamu bengong aja di sana. Kamu nggak pergi ke kantor?" Tanya bu Linda.


"Ganti baju sana, nanti kamu terlambat loh. Nindy biar mama yang temani".


"Ya, ma" Sahut Rafael singkat lalu langsung melangkah masuk ke kamarnya.


Nindy heran melihat Rafael yang baru masuk ke kamar dengan wajah yang di tekuk.


"Ada apa? Siapa yang datang?" Tanya Nindy.


"Mama" Sahut Rafael.


"Mama udah datang?" Nindy kaget saat tahu mertuanya sudah datang.


"Kenapa nggak bilang dari tadi sih. Sebentar, aku mau menemui mama" Nindy hendak melangkah ke luar namun Rafael mencegahnya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Rafael.


"Mau ketemu sama mama" Sahut Nindy.


"Terus, aku gimana?" Tanya Rafael lagi.


"Memangnya kamu kenapa?" Nindy malah balik bertanya.


"Kamu tega ninggalin aku seorang diri. Kamu tidak lihat jika aku belum ganti baju" Ucap Rafael.


Nindy menatap penampilan sang suami yang memang belum berganti pakaian, ia masih memakai kaos dan celana pendek.


"Ya sudah, cepat ganti baju, nanti kamu terlambat. Aku sudah menyiapkan baju untukmu" Tunjuknya pada baju yang telah ia siapkan.


Rafael merajuk, ia sangat tidak suka jika Nindy lebih memperhatikan orang lain dari pada dirinya meskipun orang itu adalah ibunya sendiri. Rafael mendekati sang istri seraya berbisik.


"Bantu aku ganti baju" Ucapnya kemudian menarik tangan sang istri untuk masuk kedalam kamar mandi.

__ADS_1


Sesampai di kamar mandi, ternyata bukan hanya Rafael yang harus di ganti baju namun Nindy juga harus melakukan hal yang sama karena Rafael telah membuat baju keduanya basah kuyup di basar guyuran air shower. Dibawah guyuran air hangat, Rafael memeluk Nindy erat dan mulai menciumnya. Ciuman yang semula lembut kemudian berubah menjadi liar penuh tuntutan dan Nindy langsung paham jika suaminya menginginkan sesuatu.


"Sayang" Nindy mencoba mencegah Rafael agar tidak melakukan hal yang lebih karena khawatir sang suami akan terlambat ke kantor dan juga merasa kasihan jika ibu mertua menunggu lama.


"Ada mama di luar" Ucapnya pada sang suami.


Rafael tidak bergeming, ia tidak peduli dengan ucapan Nindy karena saat ini ada hal jauh lebih penting dari pada kehadiran ibunya.


"Aku menginginkanmu, sayang" Ucap Rafael dangan suara yang terdengar berat.


"Tapi, ma ma---,,,,!" Suara Nindy terputus saat Rafael kembali membungkam bibirnya. Untuk sesaat, Nindy pun ikut terhanyut dalam cumbuan Rafael.


Keduanya saling menatap dengan nafas yang memburu, tangan Rafael terangkat mengusap bibir Nindy yang sedikit terbuka.


"Boleh ya!" Pinta Rafael penuh harap.


Sudah menjadi kebiasaan bagi Rafael untuk meminta izin terlebih dahulu kepada sang istri sebelum menyentuhnya. Rafael tidak ingin menjadi pria yang egois, yang hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa memikirkan perasaan istrinya. Meski gairahnya telah sampai di puncak ubun- ubun, Rafael tidak akan melakukannya jika sang istri tidak mengizinkan.


Nindy tersenyum lalu menganggukan kepalanya, bagaimana mungkin ia bisa menolak ajakan sang suami jika dirinya juga menginginkan hal yang sama. Tanpa ingin membuang- buang waktu, Rafael langsung melancarkan aksinya, ia memulainya dengan ciuman di seluruh wajah sang istri kemudian menjalar kebagian yang lain.


Setiap sentuhan kecil mampu membangkitkan gejolak di dalam tubuh sepasang suami istri itu. Mereka saling memberi dan menerima sentuhan dari pasangannya berharap sentuhan tersebut dapat memberikan kepuasan. Dinding kamar mandi akhirnya menjadi saksi bisu pergulatan panas yang terjadi di kala pagi itu, dan suara ******* yang saling bersahutan menggema memenuhi seluruh kamar mandi. Rafael dan Nindy seolah lupa jika sang ibu sedang menunggu mereka di luar.


Sementara bu Linda berkali- kali menatap pintu kamar sang putra berharap menantunya keluar dari sana, beliau sungguh penasaran sebenarnya apa yang sedang di lakukan putra dan menantunya di dalam kamar itu.


.


Rafael keluar kamar dengan senyum yang merekah, ia tampak begitu bahagia setelah mendapatkan suplemen penambah energi dari sang istri. Dengan mengandeng tangan Nindy, Rafael menghampiri ibunya yang sudah menunggu mereka sejak tadi.


"Rahasia dong ma. Mama mau tahu aja" Sahut Rafael sambil cenge-ngesan.


Nindy mencubit pinggang Rafael karena suaminya menjawab pertanyaan ibunya dengan tidak sopan.


"Aww, kok aku di cubit sih sayang" Keluh Rafael sembari mengusap pinggangnya yang sakit.


"Yang sopan jika bicara sama mama" Ucap Nindy.


"Tidak apa- apa, mama sudah biasa kok sama kelakuan anak ini" Sela Bu Linda.


"Tuh, kamu dengar sendirikan. Mama sudah biasa" Kilah Rafael.


Nindy melotot kepada Rafael.


"Jangan melotot begitu dong sayang, nanti aku cium lagi nih" Ucap Rafael.


Plakk


Bu Linda memukul lengan Rafael.


"Jangan membentak menantu mama".

__ADS_1


Rafael mengaduh kesakitan sementara Nindy tertawa ngakak melihat kelakuan ibu dan anak itu.


"Sudah, jangan begitu sama mama" Nindy mengelus pundak Rafael.


"Kamu harus pergi sekarang karena ini sudah sangat terlambat" Ucap Nindy pada suaminya.


Rafael menatap Nindy seraya berucap:


"Aku pergi dulu ya, sayang. Kamu sama mama hati- hati ya. Jangan keluyuran, ok" Ucapnya.


Nindy mengangguk " Iya".


Rafael meraih pinggang Nindy dan langsung mencium bibir sang istri dengan mesra, ia tidak peduli walaupun ibunya berada di sana. Sementara Nindy hanya bisa pasrah dan menerima perlakuan Rafael meski ia merasa tidak nyaman karena kemesraan mereka di saksikan langsung oleh ibu mertuanya.


Bu Linda hanya bisa menghela nafas saat melihat sang putra mencium Nindy di depannya.


"Ya ampun anak ini, main cium- cium aja. Apa mereka tidak bisa melihat jika mama masih berada disini. Memangnya mereka tidak punya kamar".


Meskipun kesal dengan kelakuan Rafael, tapi bu Linda tidak marah. Justru bu Linda tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya melihat kemesraan putra dan menantunya itu.


"Nanti aku telfon ya" Ucap Rafael setelah melepaskan ciumannya.


Nindy mengangguk.


"Hati- hati di jalan ya" Ucapnya.


"Iya, sayang" Sahut Rafael sembari mengusap pipi sang istri.


"Aku pergi dulu ma. Titip Nindy ya" Pamit Rafael pada sang mama.


"Iya, mama akan menjaga istrimu dengan baik" Sahut bu Linda.


"Sudah, kamu pergi sana" Bu Linda mengusir Rafael agar lekas pergi.


Dengan berat hati Rafael pergi meninggalkan sang istri untuk berangkat kekantor. Nindy dan bu Linda memandangi kepergian Rafael hingga menghilang di balik pintu.


"Kamu sudah siap sayang?" Tanya bu Linda pada Nindy.


"Sudah ma" Sahut Nindy.


Bu Linda mengangguk.


"Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang sebelum salonnya semakin ramai" Ajak bu Linda.


Nindy mengangguk.


"Iya ma, ayo kita pergi".


Nindy terlebih dulu meraih tasnya sebelum akhirnya mengikuti ibu mertuanya dari belakang. Hari ini Nindy terlihat begitu antusias, karena ia akan menghabiskan banyak waktu bersama mertuanya.

__ADS_1



__ADS_2