Sang Mantan

Sang Mantan
SEBUAH KEJUTAN


__ADS_3

Mobil mewah berwarna hitam milik Rafael berhenti tepat di depan sebuah rumah. Rafael menatap kedepan memandangi rumah besar dan megah yang tampak asing baginya. Rumah itu berada tidak jauh dari kantornya yaitu sekitar tiga puluh menit dari gedung LJ Grup.


"Kamu yakin disini alamatnya, Raf?" Tanya tante Yuni.


Tante Yuni tampak ragu saat melihat rumah itu dalam keadaan gelap dan sepi. Tidak ada satu orangpun yang terlihat di sekitar rumah tersebut.


"Iya tante, alamat rumah ini sesuai dengan alamat yang Yuda kirimkan tadi" Sahut Rafael.


"Benarkah! Tapi kok sepi sih?" Gumam tante Yuni.


"Kamu yakin jika Yuda mengirimkan alamat yang benar?" Bu Linda ikut menyahut.


"Aku yakin mbak, Rafael sendiri yang membaca alamat yang Yuda kirimkan tadi kan" Jawab tante Yuni.


"Jika alamat ini benar, kenapa Yuda tidak keluar dan menyambut kita di sini" Protes bu Linda.


"Coba kamu hubungi Yuda dan pastikan jika alamat ini sudah benar. Jangan- jangan putramu itu sedang mengerjai kita" Sambung beliau lagi.


Tante Yuni mengikuti saran bu Linda dan langsung menghubungi sang putra tapi ternyata Yuda tidak menjawab panggilannya. Tidak ingin menyerah begitu saja, tante Yuni kembali mencoba untuk menghubungi Yuda namun sayangnya hingga panggilan yang ketiga Yuda tidak juga menjawab panggilan tersebut.


"Tidak ada jawaban?" Tanya bu Linda.


Tante Yuni menggelengkan kepalanya.


"Gimana nih Raf? Yuda tidak menjawab panggilan tante" Tanya tante Yuni mulai gelisah.


Ketiga saling memandang, mereka mulai ragu jika Yuda dan Nindy ada di dalam rumah itu.


"Kita coba turun dulu tante, mungkin mereka ada didalam" Ajak Rafael.


Rafael membuka self belt- nya dan berniat untuk keluar.


"Tunggu dulu Rafa" Cegah tante Yuni.


"Bagaimana jika ini adalah jebakan".


Rafael dan bu Linda menatap tante Yuni secara bersamaan.


"Maksud tante apa?" Tanya Rafael.


"Kamu tidak boleh keluar dulu sebelum kita bisa memastikan jika tempat ini aman. Bagaimana jika semua ini adalah jebakan seseorang untuk kamu" Ucap tante Yuni.


"Tidak mungkin tante" Sanggah Rafael.


"Memangnya siapa yang ingin menjebakku?".


"Tante tidak perlu khawatir, karena aku tidak akan masuk kerumah itu sendirian. Mereka akan ikut bersamaku" Rafael menunjuk kearah beberapa mobil yang mengikuti mereka.


Ternyata Rafael sudah meminta Ardi menyiapkan anak buahnya untuk ikut bersamanya. Rafael hanya ingin berjaga- jaga jika nanti terjadi sesuatu hal yang tidak terduga.


"Mama dan tante tunggu disini dulu, biar Rafa dan Ardi yang memeriksa kedalam rumah itu" Ucap Rafael.


"Kamu yakin sayang?" Tanya bu Linda.


"Iya ma, Rafa yakin" Sahutnya.


Rafael membuka pintu mobilnya dan langsung keluar. Sementara itu Ardi dan anak buahnya sudah menunggu Rafael di luar.

__ADS_1


"Tunggu. Tante ikut, Rafael" Ucap tante Yuni.


"Jangan gila kamu, bagaimana jika di dalam sana bahaya" Sergah bu Linda pada tante Yuni.


"Terus mbak mau tetap berdiam di sini dan membiarkan putra kita masuk kedalam rumah itu sendiri?" Balas tante Yuni.


Bu Linda kaget saat mendengar balasan tante Yuni.


"Bukan seperti itu, tapi!" Ucapan bu Linda terjeda.


"Jika mbak ingin disini, silahkan. Tapi jangan menghalangi aku untuk ikut bersama dengan putraku" Ucap tante Yuni lantang lalu langsung membuka pintu mobil dan bergegas keluar.


"Putraku?" Gumam bu Linda.


"Hei, Rafael itu putraku bukan putramu" Teriak bu Linda dari dalam mobil.


"Mulai malam ini, Rafael menjadi putraku" Sahut tante Yuni tidak mau kalah.


Bu Linda terlihat kesal, beliau tidak suka jika putranya memiliki ibu lain selain beliau.


"Enak saja perempuan itu mengaku- ngaku Rafael sebagi anaknya. Tidak bisa aku biarkan" Bu Linda yang tidak terima atas klem yang di ucapkan oleh tante Yuni terhadap putranya, akhirnya memutuskan untuk ikut keluar juga.


Rafael menghampiri ibu kandung dan ibu tirinya yang ikut keluar dari mobil.


"Kenapa mama dan tante keluar dari mobil? Aku kan susah bilang untuk menungguku di dalam mobil saja" Ucap Rafael.


"Tante akan ikut bersamamu Rafa" Sahut tante Yuni.


"Mama juga" Sahut Bu Linda juga.


"Mama juga" Sambung bu Linda.


"Ta tapi,,,,!" Ucapan Rafael terputus.


"Kami akan tetap ikut, Rafael" Ucap bu Linda dan tante Yuni secara bersamaan.


Rafael menghela nafas saat mendengar keinginan dua perempuan baruh baya itu.


"Baiklah, tapi aku minta mama dan tante tidak melakukan apapun tanpa seizinku dan aku minta agar kalian tetap berada di belakangku" Ucap Rafael.


Bu Linda dan tante Yuni saling memandang satu sama lain lalu keduanya mengangguk secara bersamaan.


"Baiklah. Ayo kita masuk" Ucap Rafael.


Ardi dan anak buahnya langsung membuat garis pertahanan, mereka membentuk lingkaran dengan posisi Rafael bersama ibu- ibunya berada didalam lingkaran tersebut. Hal itu lakukan untuk memudahkan mereka melindungi Rafael dan juga kedua ibunya itu dari bahaya.


Ardi mengambil posisi paling depan bersama tiga orang anak buahnya. Ia bertugas sebagai pembuka jalan untuk memudahkan Rafael masuk sekaligus sebagai tameng jika bahaya menyerang keluarga pimpinannya.


Krekk,,,


Perlahan pintu mulai terbuka, dan kedatangan mereka langsung di sambut dengan ruangan yang gelap. Tidak setitik cahayapun yang muncul dari ruangan itu, semuanya tampak gelap gulita dan hening tanpa suara.


Ardi dan anak buahnya mengeluarkan senter dari saku mereka dan langsung menyalakannya. Seketika ruangan tersebut menjadi terang dengan bantuan cahaya senter itu.


"Ada orang di dalam?" Ardi berteriak dengan suara yang cukup keras.


Hening

__ADS_1


Tidak satu suarapun yang terdengar menyahut panggilan Ardi. Ardi memutar tubuhnya memandang Rafael, ia ingin melihat reaksi bosnya.


Rafael melangkah mendekati Ardi.


"Sepertinya tidak orang di dalan rumah ini pak" Ucap Ardi.


Rafael menepuk pundak Ardi seraya berkata:


"Suruh mereka berpencar dan cari istriku sampai ketemu" Ucapnya tegas.


Ardi dapat merasakan aura yang berbeda dari ucapan Rafael dan tanpa bantahan sedikitpun ia langsung memberi perintah kepada anak buahnya untuk berpencar keseluruh ruangan di dalam rumah tersebut.


"Mama dan tante tunggu disini, aku akan memeriksa ke dalam" Ucap Rafael.


"Tapi raf!" Ucapan tante Yuni terjeda.


"Tante please. Kali ini, tolong ikuti perintahku".


Rafael menatap ibunya dan ibu tirinya beberapa saat, kemudian ia membalikkan tubuhnya dan langsung melangkah menyusuri rumah tersebut.


Rafael mengarahkan senter di tangannya ke beberapa sudut ruangan, tujuannya adalah mencari sakelar untuk menyalakan lampu agar ia dapat memandang seluruh ruangan di dalam rumah tersebut. Setelah lama berjalan akhirnya Rafael menemukan sebuah sakelar dan ia langsung mencoba untuk menyalakannya. Namun sayangnya, ternyata sakelar itu rusak sehingga lampu tidak dapat menyala seperti yang ia harapkan.


"Sial!" Umpat Rafael dengan kesal.


"Shitt!"


Klontang!!!!


Rafael menendang sebuah kaleng minuman hingga terpental jauh, ia mulai terlihat emosi karena merasa jika dirinya sedang di bodohi. Rafael terus mengumpati dirinya sendiri yang langsung percaya pada ucapan Yuda sebelum memastikan sendiri kebenarannya.


"Hei! Siapa lo? Tunjukkan wujud lo" Teriak Rafael penuh emosi.


"Kalau lo nggak mau memperlihatkan wujud lo, maka gua akan menghancurkan rumah ini" Ancam Rafael.


Hening


Masih belum ada yang menyahut.


"Jadi lo mau bermain- main sama gua? Ya! Ok".


Rafael mengambil sebuah kaleng minuman kosong dan melemparkannya pada sebuah cermin dan


Prangg,,,,


Cermin itu pecah dan hancur hingga pecahannya berhamburan di atas lantai. Semua orang terkejut mendengar pecahan cermin tersebut.


Klik


Lampu tiba- tiba menyala bersamaan dengan munculnya seseorang dari ujung tangga.


"Apa kamu sedang mencariku, sayang?"


Deg


Rafael terpaku di tempat saat mendengar sebuah suara yang tidak asing di telinganya, ia langsung memutar tubuhnya dengan cepat untuk melihat rupa dari pemilik suara tersebut. Dan seketika Rafael ternganga di tempat saat menatap sesosok wanita cantik dan anggun yang sedang tersenyum padanya.


__ADS_1


__ADS_2