
Kabar tentang kemunculan pewaris LJ Grup telah menggemparkan seluruh pelosok negeri, mereka cukup kaget saat mengetahui kepemilikan LJ Grup yang sesungguhnya. Sebelumnya banyak orang yang tidak mengetahui jika LJ Grup bukanlah milik keluarga Mahendra lagi karena pak Harun memang tidak pernah menjelaskannya. Hal itu di sebabkan karena beliau khawatir akan keselamatan Nindy.
Ternyata hari itu publik tidak hanya di kejutkan dengan pengumuman tentang ahli waris LJ Grup saja, Rafael memanfaatkan moment itu sekaligus untuk go publik pernikahannya dengan Nindy. Rafael ingin semua orang tahu jika wanita yang sedang berdiri di sampingnya saat ini adalah istrinya yang sah secara hukum negara dan agama.
Pertemuan Nindy dengan para pemengang saham dan direksi LJ Grup selesai. Meski sempat terjadi perdebatan sengit antara para pemengang saham pada saat rapat tadi, tapi semuanya berakhir damai dan berjalan lancar. Rafael berhasil membungkam mulut orang- orang yang mencibir dan meragukan pewaris LJ Grup dengan memberikan bukti- bukti kongkrit yang tidak bisa terbantahkan lagi.
Rafael membuktikan janjinya bahwa ia akan melakukan apapun untuk mengembalikan LJ Grup kepada pewaris yang sah, meski tongkat kepemimpinan masih berada di bawah tangannya. Namun setidaknya keberadaan Nindy sebagai ahli waris telah mendapat pengakuan dan serta kekuatan hukum hingga tidak ada seoranpun yang dapat menggoyahkan posisinya.
Setelah pertemuan itu, Nindy mendapatkan banyak dukungan dari keluarga Mahendra dan juga keluarga Hutama. Mereka mengucapkan selamat kepada Nindy satu persatu dan menyatakan jika mereka memberikan dukungan penuh untuknya.
"Selamat Nindy, akhirnya kita bertemu juga" Ucap Tante Yuni.
Nindy mengangguk sambil tersenyum manis, ia masih mengingat wanita yang menjadi istri kedua dari papa mertuanya. Meskipun mereka tidak saling mengenal, tapi Nindy bisa merasakan jika tante Yuni adalah orang yang baik.
"Terima kasih tante" Jawab Nindy.
"Kamu juga memanggilku dengan panggilan tante!" Protes tante Yuni.
"Meskipun papa Harun sudah meninggal, tapi aku juga pernah menjadi istrinya. Jadi tidak salahkan jika tante memintamu untuk memanggilku dengan panggilan mama".
"Heh! Emm,,,!" Nindy menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia bingung harus bagaimana menanggapi permintaan tante Yuni.
"Tentu saja tidak ada yang salah. Nindy boleh memanggil tante dengan sebutan mama" Sahut Rafael yang datang menghampiri Nindy.
Tante Yuni tersenyum.
"Terima kasih Rafa" Ucap tante Yuni.
"Sekali lagi selamat ya sayang, semoga kehadiranmu bisa membawa perusahaan ini ke puncak kesuksesan".
Nindy kembali tersenyum
"Terima kasih tan, eh mama" Balas Nindy sedikit terbata.
Tante Yuni tertawa pelan melihat tingkah Nindy yang menurutnya lucu.
"Tante pulang dulu Raf, jaga istrimu baik- baik. Ingat, tante bisa menarik dukungan tante kembali jika kamu berani menyakitinya" Ancam tante Yuni.
Rafael tersenyum.
"Jangan khawatir tante, aku tidak pernah mengingkari janjiku".
Tante Yuni mengangguk.
Usai memberikan selamat kepada Nindy dan juga Rafael, tante Yuni akhirnya pamit pulang. Beliau pulang dengan di temani oleh Yuda sang putra.
"Ayo kita pulang" Ajak Rafael pada sang istri.
Nindy tidak langsung menjawab, ia malah sedang menelisik suaminya dengan ekor mata.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Rafael saat menyadari tatapan Nindy.
"Kamu tidak sedang merencanakan sesuatu yang aneh- aneh lagi kan?".
"Sesuatu yang aneh- aneh! Maksudmu?" Rafael tidak mengerti maksud ucapan Nindy.
"Ya, mungkin saja saat ini kamu sedang merencanakan sesuatu yang aneh. Beberapa hari ini kan kamu selalu melakukan hal yang aneh" Sahut Nindy.
Rafael menyunggingkan senyum.
"Kamu tidak perlu khawatir, saat ini aku masih waras. Jadi aku minta padamu jangan menguji kewarasanku jika kamu tidak ingin sesuatu yang aneh terjadi padamu" Ucap Rafael.
"Ingat, aku bisa berubah menjadi orang gila jika kamu terus menerus menguji kesabaran dan juga kewarasanku".
"Sudah kuduga, kamu memang tidak pernah bisa di percaya" Balas Nindy dengan kesal.
Rafael kembali tersenyum
"Ayo kita pulang sekarang, seseorang sudah menunggu kedatangan kita di rumah" Ucap Rafael.
"Siapa?" Tanya Nindy penasaran.
"Nanti kamu juga akan tahu sendiri" Jawab Rafael.
"Kenapa harus menunggu nanti, kamu kan bisa menjawab pertanyaanku sekarang" Protes Nindy.
"Tidak seru jika aku mengatakannya sekarang, nanti kamu tidak lagi penasaran" Balas Rafael.
Tidak ingin Nindy bertanya lebih lanjut lagi, Rafael bergegas pergi meninggalkan tempat itu yang kemudian di ikuti oleh Nindy. Mereka berdua kembali pulang bersama. Di tengah perjalanan, tiba- tiba ponsel Nindy berbunyi tanda jika ada sebuah panggilan masuk.
Nindy meraih ponselnya dan terkejut saat melihat nama Haikal yang muncul di layar ponselnya itu.
"Kenapa tidak di jawab?" Tanya Rafael.
Nindy diam, ia tidak mungkin menjawab panggilan Haikal di saat dirinya sedang bersama dengan Rafael. Bagaimana jika nanti Rafael marah dan kembali menghukumnya. Nindy memutuskan untuk mematikan ponselnya kemudian memalingkan wajahnya kearah luar, ia akan menghubungi Haikal nanti.
"Telpon dari siapa? Kenapa kamu tidak menjawabnya?" Tanya Rafael lagi.
"Aku sedang malas menjawab telpon" Sahut Nindy singkat.
Meskipun Nindy tidak menjawab pertanyaannya, tapi Rafael tahu jika panggilan itu berasal dari Haikal. Mengetahui hal itu, membuat hatinya merasa sedikit sakit. Suami mana yang tidak sakit hati jika sang istri mendapatkan telpon dari kekasihnya. Nindy adalah istrinya, tapi Nindy juga kekasih Haikal dan saat ini Nindy sedang bersama dengan dirinya yang merupakan suaminya. Apakah itu termasuk dalam kategori perselingkuhan,,,!
"Kenapa aku merasa seperti menjadi seorang selingkuhan! Benarkah jika saat ini aku sedang menjadi selingkuhan istriku sendiri".
Sungguh membangongkan ya sodara- sodara 🤦♀️
.
Bu Linda menyambut kedatangan Nindy dengan senyum yang merekah lebar, beliau begitu senang saat Rafael mengabarkan jika Nindy akan makan malam di rumah mereka. Sejak pulang dari pertemuan pemengang saham siang tadi, bu Linda tampak begitu sibuk menyiapkan berbagai keperluan untuk menyambut sang menantu yang sudah lama ia tunggu- tunggu. Bu Linda ingin memanfaatkan moment ini untuk memperbaiki hubungan sang putra dengan menantunya.
__ADS_1
Meski beliau tidak terlalu yakin jika Nindy akan memaafkannya, tapi tidak salah jika beliau mencobanya bukan! Toh dalamnya hati manusia siapa yang tahu.
Nindy masih tidak bergeming dari dalam mobil saat menyadari Rafael membawanya ke rumah keluarga Mahendra, ia tidak pernah menyangka jika Rafael telah menipunya.
"Kamu tidak mau turun?" Tanya Rafael setelah membukakan pintu mobil untuk sang istri.
"Kenapa kita kemari?" Nindy balik bertanya.
"Memang kenapa? Inikan rumahku, berarti ini juga rumahmu" Jawab Rafael.
"Bukahkan sudah lama kamu tidak pulang kerumah ini lagi. Apa kamu tidak kangen dengan kamarmu yang dulu?".
Nindy terdiam.
"Kamu tidak mau masuk kerumah ini lagi?" Tanyanya lagi.
Nindy mengangkat wajahnya menatap Rafael.
"Memangnya untuk apa aku datang rumah ini lagi, bukankah kehadiranku tidak pernah di harapkan" Balas Nindy.
Rafael menghela nafas panjang, jika ia membalas ucapan Nindy maka pembicaraan mereka akan kembali berakhir dengan perdebatan dan saat ini Rafael sedang tidak ingin berdebat dengan istrinya itu.
Tanpa menghiraukan penolakan Nindy, Rafael langsung meraih tangan sang istri dan memaksanya untuk turun. Sementara itu Nindy berusaha untuk menghempaskan tangan Rafael yang menggenggam tangannya dengan erat.
"Berhentilah memberontak jika kamu tidak ingin aku menggendongmu untuk masuk kedalam" Ancam Rafael.
"Coba saja kalau kamu berani?" Nindy menantang balik.
Rafael tersenyum sambil menghimpit tubuh Nindy ke badan mobil.
"Jangan suka menantangku nona kecil, kamu tidak akan pernah tahu apa yang bisa aku lakukan jika kesabaranku mulai habis".
"Memangnya apa bisa kamu lakukan?" Tantangnya lagi.
"Aku bisa mengendongmu untuk masuk kedalam rumah. Ah, bukan hanya kedalam rumah, tapi kita akan masuk kedalam kamar. Kamu tinggal pilih saja, mau masuk kedalam kamarku atau ke kamarmu" Goda Rafael.
Nindy seketika terdiam saat mendengar ancaman dari sang suami. Entah mengapa ia begitu takut jika mendengar ucapan Rafael yang berisi ancaman seperti itu.
Rafael kembali mundur setelah merasa puas mengerjai istrinya.
"Kita akan membahas banyak hal yang mungkin akan menguras banyak emosi, jadi kita butuh makan yang banyak agar kita punya tenaga yang cukup untuk berdebat lagi nanti".
"Marah juga butuh energikan!" Ucap Rafael sambil tersenyum penuh makna.
"Cih,," Nindy berdecak kesal.
"Sekarang kenapa malah dia yang mengatur hidupku".
Mau tidak mau akhirnya Nindy mengikuti Rafael untuk masuk kedalam rumah milik keluarga Mahendra. Rumah yang menjadi saksi bisu tentang kehidupan pernikahan singkat yang pernah ia jalani dulu. Pernikahan yang telah menorehkan banyak luka yang rasanya masih membekas hingga saat ini. Mungkinkah luka itu akan sembuh? Atau malah justru melahirkan luka yang baru.
__ADS_1
☆
Lanjut next eps ya